3 Film Indonesia Masuk Busan International Film Festival 2021

Busan International Film Festival mengumumkan seleksinya dan tiga film Indonesia terpilih masuk di dalamnya.

Busan International Film Festival (BIFF) ke-26 akan diadakan pada 6 hingga 15 Oktober 2021. Tiga program menjadi tajuk utamanya: A Window on Asian Cinema, New Currents, dan Wide Angle.

  • A Window on Asian Cinema: Puncak dari berbagai gaya dan visi dalam sinema Asia, menyoroti film-film dari pembuat film Asia paling berbakat tahun ini serta karya sutradara yang sudah mapan dalam industri ini.
  • New Currents: Sebuah kompetisi antara fiksi panjang pertama atau kedua pembuat film Asia yang sedang naik daun yang menganugerahkan dua film dengan Penghargaan Arus Baru. Semua film harus disajikan sebagai World atau International Premiere.
  • Wide Angle: Bagian yang didedikasikan untuk menampilkan film pendek yang luar biasa, film dokumenter yang menawarkan sudut pandang sinematik yang luas dan visi yang berbeda.

BIFF telah mengumumkan seleksinya, dan tiga film Indonesia terpilih masuk ke dalam daftarnya. Ketiga film tersebut adalah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar TuntasYuni; dan film pendek Laut Memanggilku.

Ketiga film ini sama-sama menampilkan kisah manusia Indonesia, kendati masing-masing film menuturkannya dengan latar belakang dan waktu yang berbeda. Film Laut Memanggilku bertutur tentang kerinduan seorang anak kecil, Yuni bicara tentang mimpi dan batasan yang dialami perempuan di Indonesia, sementara Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas bercerita tentang toxic masculinity dan budaya pop.

“Bisakah saya membuat film yang mendefinisikan ulang dampak dari budaya populer sambil juga mengkritik ide toxic masculinity? Saya selalu mempertanyakan di mana tempat bagi para manusia sensitif di Indonesia, yang mengagungkan machismo dan kerap menggunakan bahasa kekerasan sebagai ekspresi kesehariannya,” Edwin menjelaskan motivasinya menyutradarai film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas.

Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas
Photo courtesy Palari Films

Bagi Kamila Andini, Yuni terinspirasi dari salah satu puisi terkenal karya Sapardi Djoko Damono berjudul Hujan di Bulan Juni. Hujan yang jatuh di musim yang tidak tepat. Sutradara tersebut membangun karakter Yuni sebagai seorang remaja yang dipaksa untuk dewasa tidak pada waktunya. Seorang remaja yang penuh mimpi, dengan media sosial saat ini yang menunjukkan dunia ada di genggamannya, tetapi yang harus dipikirkannya adalah menghadapi lamaran dan pernikahan. Ia mendengar begitu banyak cerita tentang gadis remaja yang punya potensi dan prestasi, tapi harus gagal meraih mimpinya karena pernikahan. Ia pun merasa perlu untuk membicarakan isu ini. 

Sementara bagi Tumpal, “Film ini lahir dari rasa kehilangan akan hal-hal sederhana yang telah dirampas dari kita oleh pandemi ini; jabat erat, rangkulan, pelukan, ciuman. Melalui film ini saya memikirkan ulang makna dari sentuhan, bagaimana selama ini sentuhan dari orang-orang dan makhluk hidup lainnya, telah membentuk, merawat, mengobati, dan menemani saya. Saya belajar bahwa saya tidak sendirian,” ujarnya tentang inspirasi dari Laut Memanggilku.

photo DOC. POPLICIST

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Edwin dan Yuni karya sutradara Kamila Andiniterseleksi masuk ke program A Window on Asian Cinema. Sementara film pendek Laut Memanggilku besutan Tumpal Tampubolon, terseleksi masuk ke kompetisi film pendek di BIFF dalam program Wide Angle.

“Saya selalu mencari-cari alasan untuk bisa kembali ke Busan International Film Festival yang sudah saya anggap sebagai ‘rumah’ untuk saya. Jadi, senang sekali tahun ini Yuni bisa Asian Premiere di Busan,” tutur Ifa Isfansyah, produser dari film Yuni.

Produser Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas memiliki nostalgia yang sama, “Busan akan selalu menempati tempat yang spesial karena film pertama kami, Babi Buta Yang Ingin Terbang (2008), sutradara Edwin dan saya sebagai produser, berkompetisi dalam program New Currents, sebuah program kompetisi untuk film pertama dan kedua yang didedikasikan untuk new discovery sutradara-sutradara muda Asia,” tutur Meiske Taurisia.

Photo DOC. Poplicist

Nada serupa juga disampaikan oleh Mandy Marahimin, produser film pendek Laut Memanggilku, “Busan International Film Festival adalah sebuah festival film yang secara konsisten mendukung film-film Asia. Kami merasa bangga bisa terpilih untuk berkompetisi di sana.”

Tahun ini ada 4 film Indonesia yang akan diputar di Busan. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain merayakan ini bersama teman-teman sineas di Indonesia. Merupakan kebahagiaan tersendiri ketika di masa krisis ini justru banyak film-film Indonesia memperoleh pencapaian yang membanggakan,” ujar Ifa.

Selain ketiga film tersebut, Penyalin Cahaya karya Wregas Bhanuteja sebelumnya juga diumumkan terseleksi masuk ke Busan International Film Festival dalam program New Currents. Film Penyalin Cahaya menjadi wakil film Indonesia ketiga yang lolos setelah karya Edwin (Babi Buta Yang Ingin Terbang) pada 2008 dan Kamila Andini (The Mirror Never Lies) pada 2011 yang berkompetisi di program yang sama. Sementara itu, film Marlina: Si Pembunuh dalam Empat Babak, karya sutradara Mouly Surya turut ditayangkan di Busan International Film festival 2021 di section Wonder Women’s Movies, sebuah program berisi film-film karya sutradara perempuan. Di Indonesia, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas diperkirakan akan tayang di bioskop-bioskop di Indonesia pada akhir 2021, sementara Yuni direncanakan tayang pada 2022 mendatang. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.