7 Buku Rekomendasi yang Mampu Meluaskan Pikiran Tentang Hidup

elle indonesia book recommendation

Dari kumpulan puisi, memoar film Indonesia, hingga buku selfhelp.

Peran buku mampu membuka pikiran dan memperluas pengetahuan di tengah keseharian Anda, terlebih saat ini. Berikut judul-judul buku yang bisa Anda jadikan pertimbangan untuk bahan bacaan.

Perjamuan Khong Guan – Joko Pinurbo

Perjamuan Khong Guan

Terinspirasi dari kaleng biskuit Khong Guan, penyair Joko Pinurbo menulis rangkaian puisi dalam buku berjudul Perjamuan Khong Guan. “Melalui ikon Khong Guan, saya ingin mengajak pembaca untuk memikirkan kembali masalah persaudaraan dan hubungan cinta kasih antarsesama. Saya melihat Khong Guan sebagai simbol pluralisme, persatuan, dan persaudaraan lintas waktu, lintas generasi, bahkan lintas agama,” ungkap Joko Pinurbo dalam acara peluncuran buku Januari silam.

Buku ini terdiri dari empat bab yang menghimpun 81 puisi di dalamnya. Masing-masing kaleng merupakan rangkaian puisi yang saling berbeda satu sama lain. Kaleng pertama sifatnya acak dengan tema yang tidak spesifik. Kaleng kedua, Joko bermain-main dengan Bahasa Indonesia. Ia berimajinasi dengan ungkapan dan kata karena Bahasa Indonesia itu memang lucu dan unik. Kaleng ketiga mengenai hubungan seseorang dengan buku. Dan bagian keempat soal Khong Guan.

Salah satu puisinya secara spesifik menulis “Jamaah Sapardi” dan menyebut salah satu pusisi Sapardi Djoko Damono berjudul Hujan Bulan Juni. Sementara puisi lainnya berjudul Ayah Khong Guan terinspirasi dari lelucon para pengguna media sosial soal sosok ayah yang hilang dari gambar keluarga di kaleng biskuit Khong Guan. Joko juga menyorot sensasi kecepatan teknologi digital serta pengalaman keterasingan yang rentan dialami manusia modern. Walau ditulis dengan bahasa yang santai, buku ini membahas persoalan identitas bangsa, nasionalisme, toleransi, hubungan dengan orangtua, dan agama.

The Nature of Nature: Why We Need the Wild – Enric Sala

The Nature of Nature - Why We Need the Wild

Sebuah manifesto yang menginspirasi dari seorang ahli kelautan yang melihat upaya melindungi alam merupakan salah satu jalan logis untuk menjaga ekonomi. Enric Sala ingin menunjukkan bahwa ketika manusia mengharga proses kerja alam, maka kita akan mengerti mengapa pelestarian lingkungan dalam hal ekonomi turut membantu keberlangsungan hidup kita. Dalam narasi yang mudah dibaca, Enric Sala (Director Pristine Seas National Geographic) menceritakan kisah dan fakta-fakta sains, menjabarkan mentor-mentor yang telah bekerja sama dan menginspirasinya, serta peralihan hidupnya dari dunia akademis menuju wilayah aktivisme. Salah satu ungkapannya adalah bahwa banyak hiu sebenarnya merupakan indikator terbaik dari ekosistem laut yang sehat, dan keberagaman tanaman merupakan kunci dari kesejahteraan planet.

Selama beberapa dekade, Sala telah mempelopori perlindungan laut dan meyakinkan para pemimpin dunia untuk melindungi wilayah yang ukurannya lima kali lebih luas dari Texas. Menggunakan contoh-contoh menarik dari pengalaman ekspedisinya sendiri dan memakai penemuan inovatif dari ilmuwan lain, Sala memaparkan kasus-kasus untuk kebijakan ekonomi dalam upaya menyediakan ruang bagi alam lingkungan. Antara menginspirasi ataupun membuat kita merasa terhubung, buku ini akan mengubah cara kita berpikir tentang dunia dan masa depan.

The Socrates Express: In Search of Life Lessons from Dead Philosophers  – Eric Weiner

The Socrates Express

Penulis buku terlaris The New York Times, The Geography of Bliss, ini memulai perjalanan intelektualnya dan mengikuti jejak para pemikir terhebat dalam sejarah serta menunjukkan kepada kita bagaimana Epicurus, Gandhi, Thoreau, hingga Beauvoir menawarkan pelajaran praktis dan spiritual untuk masa-masa sulit saat ini.

Kita kerap melihat filsafat sebagai alasan yang sama ketika hendak bepergian: melihat dunia dari perspektif berbeda, menggali keindahan yang tersembunyi, dan menemukan cara baru untuk hidup. Kita ingin tahu bagaimana caranya menjalani hidup, menghadapi penyesalan, dan mempertahankan harapan. Eric Weiner menggabungankan hasratnya untuk filsafat dan berpergian dalam upaya menyingkap pelajaran hidup dari para pemikir besar, seperti Rousseau, Nietzsche, Konfusius, dan Simone Weil.

Bepergian dengan kereta api, Eric Weiner melakukan perjalanan ribuan mil dan berhenti di Athena, Delhi, Wyoming, Coney Island, Frankfurt dan titik-titik di antaranya untuk terhubung kembali dengan tujuan awal filsafat: mengajari kita bagaimana memimpin dengan lebih bijaksana dan menjalani kehidupan yang lebih bermakna. Dari Socrates dan Athena kuno, hingga Simone de Beauvoir dan Paris abad ke-20, filsuf dan tempat pilihan Weiner memberikan petunjuk penting saat kita menavigasi masa kacau hari ini. Di The Socrates Express, Weiner mengundang kita untuk berlayar bersamanya dalam pencarian kebijaksanaan yang mengubah hidup mencoba untuk menemukan jawaban atas pertanyaan kita yang paling penting.

Memoar Garin Nugroho: Era Emas Film Indonesia 1998-2019 – Garin Nugroho

Memoar Garin Nugroho

Buku ini berbentuk mosaik kenangan-kenangan ensiklopedik Garin Nugroho tentang perfilman Indonesia. Yang menarik, Garin justru berangkat dari masa kini, yakni perfilman Indonesia pasca-Reformasi 1998. Ia membingkai perfilman mutakhir Indonesia dengan pengalamannya sejak kecil menikmati film dan tiga dekade lebih berkarya, menempatkan sosok Garin sebagai sosok penting dalam sebuah peta perfilman Indonesia.

Memoar Garin Nugroho: Era Emas Film Indonesia 1998-2019 membuat peristiwa lampau berupa sejarah film terasa aktual dan menjadikan peristiwa kekinian film Indonesia seolah sangat layak menjadi kisah klasik. Buku yang menyajikan sudut pandang yang intim tentang perfilman Indonesia. Membaca memoar dari seorang maestro ibarat kita diajak masuk ke mesin waktu untuk menjelajahi momen-momen penting dan bersejarah dalam film dan perfilman Indonesia dari masa ke masa.

Love for Imperfect Things: How to Accept Yourself in a World Striving for Perfection – Haemin Sunim

Love for Imperfect Things

Buku kebijaksanaan spiritual tentang belajar mencintai diri sendiri dengan semua ketidaksempurnaannya. Ditulis oleh Haemin Sunim, penulis yang juga melahirkan karya The Things You Can See Only When You Slow Down. Buku ini menekan premis bahwa ketika kita sudah bisa mencintai diri sendiri, maka dunia akan melihat bahwa kita memang layak untuk dicintai. Lewat buku ini, Haemin Sunim membagikan kisah pribadi dan pengalaman selama bertahun-tahun untuk memaparkan seni merawat diri. Pentingnya memperlakukan diri sendiri dengan penuh kasih sayang, memiliki empati dan pengampunan, serta belajar memperlakukan orang lain dengan cara yang sama sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Melalui karyanya, Haemin mengajak kita untuk menjalin hubungan yang lebih dalam dengan orang lain, memberanikan diri untuk bangkit dari keterpurukan, menguatkan hati untuk menghadapi rasa sakit dan sedih, mendengarkan lebih seksama, dan memiliki keberanian untuk mengejar hal-hal yang membahagiakan diri sendiri. Love for Imperfect Things menawarkan kenyamanan batin, mendorong semangat, dan memantik kebijaksanaan sehingga kita bisa belajar mencintai diri, hidup, dan segala yang ada di dalamnya.

Everything is F*cked: A Book About Hope – Mark Manson

Everything is Fcked

Kita hidup di tengah masa-masa menarik. Secara materi, semuanya adalah yang terbaik yang pernah ada. Kita dapat hidup lebih bebas, lebih sehat, dan lebih beruntung daripada orang mana pun dalam sejarah manusia. Namun, entah mengapa, semua tampak kacau dan seolah tak dapat diperbaiki. Planet ini semakin memanas, pemerintah menunjukkan kegagalan, ekonomi terlihat runtuh, dan semua orang terus-menerus menunjukkan sikap mudah tersinggung di media sosial. Di tengah kondisi canggihnya akses teknologi dan komunikasi, yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh nenek moyang kita, kita justru kembali ke perasaan putus asa yang berlebihan. Apa yang sesungguhnya terjadi?

Pada tahun 2016, Mark Manson menerbitkan The Subtle Art of Not Giving A F*ck, sebuah buku yang dengan cemerlang memaparkan senandung kecemasan manusia modern. Ia menunjukkan kepada kita bahwa teknologi telah membuatnya terlalu mudah untuk peduli pada hal-hal yang salah. Bahwa budaya kita telah meyakinkan kita bahwa dunia berutang sesuatu pada kita padahal sebenarnya tidak—dan yang terburuk, bahwa dorongan kita untuk selalu menemukan kebahagiaan justru hanya membuat kita tidak bahagia. Sebaliknya, “seni halus” dari judul tersebut ternyata menjadi tantangan lain: untuk memilih perjuangan Anda; untuk mempersempit dan fokus serta menemukan rasa sakit yang ingin Anda pertahankan.

Dalam buku Everthing Is F*cked, Mark Manson mengalihkan pandangannya dari kekurangan yang tak terhindarkan dalam diri kita masing-masing, ke bencana tak berujung yang terjadi di dunia sekitar kita. Menggambarkan kumpulan penelitian psikologis tentang topik-topik tersebut, serta kebijaksanaan abadi para filsuf seperti Plato dan Nietzsche, ia membedah agama dan politik, serta hal-hal yang membuat keduanya menjadi mirip satu sama lain. Ia melihat hubungan manusia dengan kekayaan materi, dunia hiburan, dan internet, serta seberapa banyak hal baik yang secara psikologis dapat memakan kita hidup-hidup.
Dengan campuran pengetahuan dan humor, Manson menantang kita untuk lebih jujur ​​dengan diri sendiri dan lebih terhubung dengan dunia. Ia secara terbuka menentang definisi kita tentang iman, kebahagiaan, kebebasan, dan bahkan harapan itu sendiri.

Suteru! Gijutsu – Nagisa Tatsumi

Suteru-Gijutsu

Nagisa Tatsumi adalah pelopor metode declutering yang berhasil menginspirasi Marie kondo dalam merumuskan metode berbenah Konmari. Dikenal luas melalui berbagai tulisannya seputar topik gaya hidup dan budaya Jepang, Nagisa Tatsumi berhasil memikat para pembacanya dengan gaya penulisan yang blak-blakan. Sejumlah bukunya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Salah satunya Suteru! Gijutsu yang sangat laris dan telah terjual 2 juta eksemplar di seluruh dunia.

Membuang barang adalah persoalan mendasar bagi kebanyakan orang. Hal fundamental namun kerap membuat kita terjepit di antara perasaan “pantang mubazir” (mottainai) yang sudah menjadi kultur dan dunia baru yang bergelimang barang. Suteru! Gijutsu mengajak kita untuk menyikapi kegiatan membuang secara positif melalui Seni Membuang Barang: Enyahkan Berantakan dan Raih Kebahagiaan, yang diharapkan dapat memecahkan persoalan kita yang sering merasa kebanyakan barang. Buku ini memberikan panduan berbenah secara praktis, menyajikan informasi mengenai berbenah, dan lifehack dalam menyingkirkan barang agar hati tenang.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.