7 Destinasi Berlatar Budaya Islam

7 destinasi berlatar budaya islam

Kekayaan garis arsitektur dan raut region yang distingtif menjadi wajah karismatik kota nan memesona.

Hawa Ramadhan tahun ini menantang kita merencanakan perjalanan menuju berbagai destinasi berlatar Islam yang kerap diremehkan dari daftar pelesiran. Kekayaan garis arsitektur dan raut region yang distingtif menjadi wajah karismatik kota nan memesona. Tahun ini, kami meringkas tujuh kota istimewa yang menyerukan kemegahan paras Islam layaknya angin segar kala pandemi usai.

Cairo, Egypt

Atmosfer kota terbentuk dibalik lantunan adzan yang berkumandang dari atas menara-menara kuno, melebur dengan bisingnya suara klakson mobil dan derit gerobak keledai yang memadati jalan-jalan berdebu peninggalan abad ke-19. Dijuluki Kota Seribu Menara, sejumlah monumen kolonial warisan era Fatimiyah menyemarakkan panoramanya. Di pusat kota, kubah Egyptian Museum mengajak Anda melintas ke masa lampau lewat rangkaian artefak kuno bersejarah di dunia. Mulai dari harta peninggalan Tutankhamun, barisan mumi, atribut makam Firaun, hingga peralatan makan kerajaan.

Museum of Islamic Art tidak kalah istimewa. Salah satu museum terbesar dan tertua di dunia itu menaungi lebih dari 104.000 buah koleksi peradaban Islam. Lalu ada juga Coptic Museum yang memiliki koleksi artefak Kristen Mesir terbesar dan tertua di dunia itu menaungi lebih dari 104.000 buah koleksi peradaban Islam. Lalu ada juga Coptic Museum yang memiliki koleksi artefak Kristen Mesir terbesar di dunia. Penelusuran pasar dan souq Khan el- Khalili turut memesona lewat jalan-jalan sempit bergaya abad pertengahan yang dipadati penjual suvenir. Kairo adalah rumah bagi masjid berdesain fantastis dan telah berdiri kokoh selama ribuan tahun. Luangkan waktu untuk mampir di beberapa lokasi terkemuka seperti Mosque of Muhammad Ali, Al Azhar Mosque, dan Ibn Tulun Mosque.

Terlepas dari itu, kunjungan ke Kairo tidak akan lengkap tanpa menyambangi Piramida Giza yang berada tepat di pinggir kota. Kuil penguburan Firaun ini berusia hampir 4.000 tahun, dengan Sphinx—patung bertubuh singa dan berwajah Firaun yang dianggap sebagai simbol ikonis dunia kuno—duduk dihadapannya selaku penjaga kuil.

Casablanca, Morocco

Selaku kota terbesar di Maroko dan juga pusat kapital negara, Casablanca menjadi tujuan sempurna untuk menyelami tradisi Maroko yang melebur harmonis dengan pengaruh budaya Eropa. Keberagaman atraksi kota mengungkap akar sejarah Amazigh (kelompok etnis asal Afrika Utara dan Afrika Barat), peninggalan budaya Arab dan Islam, serta warisan era kolonial Prancis. Mural, museum, istana, masjid, hingga bangunan kuno menjadi barisan landmark yang tak dapat dilewati di antara gedung-gedung pencakar langit modern. Place Mohammed V, alun-alun pusat kota bergaya Neo Moor yang kaya akan makna historis dan simbolis, menjadi rumah bagi gedung-gedung utama kota Moroko.

Lalu melangkah ke distrik tepi pantai yang tersohor, La Corniche, menawarkan pesona perairan Atlantik di antara barisan pohon palem yang memagari deretan klub pantai, bar, klub malam eksklusif, hotel dan restoran mewah yang menyuguhkan hidangan khas Maroko. Sempatkan juga untuk mampir ke Medina, area kota tua di mana ujung utaranya membentang Hassan II Mosque, masjid terbesar kedua di dunia dengan bergaris desain rumit.

Muscat, Oman

Royal Opera House menaungi teater, auditorium, taman, pusat seni, hingga pasar budaya.

Pemerintahan 45 tahun Sultan Qaboos mewariskan begitu banyak bangunan berarsitektur megah di Muscat, semisal Sultan Qaboos Grand Mosque dan Royal Opera House yang menjadi pusat seni dan kebudayaan. Namun peleburan nyata bersama budaya lokal ada di Mutrah Corniche.

Kawasan pejalan kaki tepi laut sepanjang 3 kilometer itu dipadati oleh barisan restoran, kafe, Old Muscat (lokasi National Museum), pasar, dan souq (pasar Arab tradisional) yang merupakan sebuah labirin keramik, tekstil, segala artefak Oman, perhiasan, dan suvenir bertema khas unta. Berjarak 2,5 kilometer di luar Muskat, Wadi Bani Khalid menjadi salah satu wadi (palung sungai kering) paling populer, dijuluki ‘surga gurun’ dengan kolam besar air hijau zamrud.

Baku, Azerbaijan

Nizami street menjabat sebagai distrik perbelan- jaan utama Baku, membentang sepanjang 3,5 km dan menyuguhkan arsitektur bergaya Neo Gothic, Neo Renaissance, Baroque, hingga Stalinis.

Wilayah Baku yang terletak di persimpangan Eropa Timur dan Asia Barat didiami oleh 350 gunung berapi dan gunung lumpur yang tersebar di seluruh negeri. Salah satu yang tersohor ialah Gunung Api Garasu yang mampu menyemburkan lumpur lebih dari 1.000 meter ke udara. Fenomena alam Yanar Dag (gunung yang terbakar) yang disebabkan oleh endapan gas di bawah permukaan batu pasir dapat disaksikan pada dini hari sebelum matahari terbit. Di perjalanan kembali ke kota, Anda akan melihat banyak masjid dan menara kuno mengintip di balik bukit. Begitu tiba di tengah kota, tiga titik Flame Towers yang menjadi simbol api abadi Zoroastrianisme tampak menjulang. Bangunan paling dominan di Baku ini tampak sangat luar biasa terlebih bila disaksikan dari Icheri Seher, area kota tua yang menjadi bagian dari UNESCO World Heritage Site.

Nicosia, Cyprus

Invasi Turki di tahun 1974 membagi wilayah Ibu Kota Pulau Siprus ini secara militer ke dalam dua pemerintahan. Sebagai satu-satunya kota yang “terpecah” di dunia, daya tarik utamanya berada di Green Line dengan sejumlah pos pemeriksaan di sepanjang jalan. Selain fenomena Green Line, lokasi yang konon menjadi tempat kelahiran Dewi Aphrodite ini juga rumah bagi sejumlah monumen kuno hingga galeri yang memanifestasi sejarahnya. Area kota tua yang dikelilingi oleh dinding batu pasir Venesia semarakan jalan-jalan sempit khas abad pertengahan. Cyprus Museum dan Byzantine menarasikan masa lalu menarik. Begitu juga dengan Büyük Han, arena toko-toko pengrajin lokal dan kafe yang di masa lalu merupakan sebuah penginapan yang dibangun kala Ottoman pertama menginvasi Siprus di abad ke-16. Di Nikosia Utara, Selimiye Mosque, masjid yang didirikan tahun 1326, menjadi landmark paling tersohor.

Andalusia, Spain

Andalusia bukanlah kota, melainkan sebuah wilayah otonomi yang terletak di Spanyol. Secara teknis, Andalusia tidak berada di negara Islam. Namun, di sini ialah tempat tumbuhnya peradaban Islam yang pernah marajai selama delapan abad. Warisan Islam membentuk parasnya secara megah di tiga kota utama: Sevilla, Granada, dan Cordoba.

Garis konstruksi Islam yang berada di Andalusia dikenal mulia sebagai permata arsitektur langka di Eropa. Di Sevilla yang klasik dan romantis, Anda akan disapa oleh Seville Cathedral yang mana dahulu merupakan bangunan Masjid Agung. Lokasi pertukaran budaya Islam dan Kristen hadir di Alcazar lewat peninggalan arsitektur Moor bersematkan dekorasi Mudéjar. Patung-patung raja Kristen mewarnai monumen Muslim, ditambah kalimat pujian yang ditulis berbasa Arab. Granada menyimpan mahakarya arsitektur keislaman dengan distrik Albayzín (kota Islam abad pertengahan) dan Alhambra mencakup sejumlah istana megah.

Saat Paris dan Roma berada di Abad Kegelapan (abad ke-10), Cordoba menjadi kediaman bangsa dari tiga agama—Kristen, Islam, dan Yahudi—yang hidup rukun, membentuk pusat peradaban di mana para sarjana besar Maimonides (seorang filsuf Yahudi) dan Averroes (seorang filsuf Muslim) membagikan ide-ide mereka. Masjid Agung menjadi tempat suci yang menampilkan keindahan desain arsitektur Muslim sarat mosaik bergaya Bizantium, dan mihrab (relung doa) berlapis emas.

Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.