Audrey Tapiheru: ‘Daisy’ adalah Versi Terbaik Seorang Manusia

audrey tapiheru interview elle indonesia 2019 december - photography AGUS SANTOSO YANG

Menjadi yang pertama merilis karya usai GAC putuskan rehat, membutuhkan tak hanya talenta tapi juga keberanian melangkah sendiri bagi Audrey Tapiheru.

Audrey Tapiheru bukan suara baru di industri musik Indonesia. Sosoknya pertama kali dikenal publik pada 2008, kala ia meramaikan jagat kanal YouTube lewat video cover lagu-lagu populer bersama saudara laki-lakinya, Gamaliel Tapiheru. Dua tahun mencetak jejak di dunia maya, keduanya lantas bertemu vokalis lain, Cantika Abigail. Konsep duet pun berevolusi menjadi trio. Di bawah naungan label besar, Sony Music Indonesia, ketiganya mempertegas eksistensi dengan secara resmi memperkenalkan diri sebagai grup musik GAC dan merilis album eponim perdana tahun 2012.

Sembilan tahun Audrey tergabung dalam GAC, ia berbagi 17 nominasi dari berbagai ajang penghargaan; tujuh di antaranya berhasil memberikan gelar kemenangan, termasuk piala Anugerah Musik Indonesia untuk kategori Duo/ Grup/Grup Vokal/Kolaborasi R&B Terbaik tahun 2018. Di tengah perjalanan karier sukses tersebut, GAC memutuskan hiatus, terhitung mulai akhir Agustus 2019 silam. Alasannya? Kebutuhan akan sebuah ruang. Dua minggu kemudian, pada 13 September 2019, Audrey mengejutkan dengan meluncurkan lagu baru berjudul Daisy. Sebuah lagu atas namanya pribadi, Audrey Tapiheru.

audrey tapiheru interview elle indonesia 2019 december - photography AGUS SANTOSO YANG
Busana: MARC JACOBS

Saat ini, Anda berusia 26 tahun. Apakah Anda sedang mengalami atau telah melewati yang disebut quarter-life crisis?
“Sepertinya sekarang saya sedang mengalaminya. Saya seperti berada di persimpangan jalan bercabang. Saya sedang mempertimbangkan ke mana harus berjalan dan apa yang harus saya lakukan di perjalanan itu. Ada momen di mana saya sulit tidur karena memikirkannya, hingga baru terlelap pada saat hari terang. Tapi saya masih bisa mengendalikannya, dan seiring waktu, kondisi itu semakin membaik.”

Apa kondisi itu memengaruhi alasan Anda mencoba solo sementara GAC rehat?
Oh, sama sekali bukan. Saya, Gamaliel, dan Cantika, selalu mengatakan bahwa GAC merupakan sebuah grup yang menyatukan tiga solois. Bahkan, dalam tiga album GAC pun selalu ada lagu di mana kami bernyanyi solo, hanya saja tidak pernah kami rilis sebagai single. Setelah merilis album Resonance (2018), pembicaraan untuk GAC beristirahat terbuka. Kami menyadari bahwa telah sembilan tahun bersama dan menghasilkan tiga album, mungkin ini saatnya kami mengeksplorasi idealisme masing-masing. Lalu pertengahan tahun ini, kami memutuskan untuk benar-benar melakukannya.”

Ketika akhirnya memutuskan berjalan sendiri, apakah Anda merasakan suatu keberanian dari dalam diri?
“Awal mengerjakan proyek solo ini, saya panik sekali. Sebab saya pikir, Gamaliel atau Cantika yang akan merilis single lebih dulu. Saya tidak tahu harus mulai dari mana. Di beberapa proyek GAC, kami lebih sering bekerja dengan musisi luar negeri. Saya tidak mengenal baik produser dan musisi industri di Tanah Air untuk tahu siapa yang dapat menyesuaikan karakter saya.”

audrey tapiheru interview elle indonesia 2019 december - photography AGUS SANTOSO YANG
makeup ARIMBI

Kini, setelah merilis single Daisy, apakah Anda merasa lebih menemukan dan memahami karakter musik Anda pribadi?
“Sebenarnya, tiap lagu solo yang saya nyanyikan dalam album GAC ialah cerminan diri saya. Perbedaannya kini karakter saya semakin terekspos, meski secara musik masih ada ‘rasa’ GAC. Tetapi, saya pikir sekarang orang akan benar-benar fokus mendengar suara saya.”

Namun, bukankah Gamaliel masih memberikan sedikit andil, sebagai salah satu komposer dalam single Anda?
“Menurut saya, berdiri sendiri bukan berarti tidak menerima bantuan orang lain. Buat saya pribadi, orang lain bagaikan sebuah ladang inspirasi. Mereka membuka gagasan, pemahaman, dan sudut pandang baru untuk saya. Mungkin beberapa orang berpikir saya tidak bisa lepas dari Gamaliel karena ikatan keluarga yang kami miliki. Tapi pada kenyataannya, Gamaliel adalah salah satu orang paling berbakat dan menyenangkan untuk diajak kerjasama yang pernah saya kenal dalam hidup ini. Jadi, mengapa saya harus melepaskannya?”

Saat bertemu di acara ELLE Style Awards 2019 September silam, Anda mengatakan, Daisy, merupakan sebuah ‘suara’ motivasi bahwa setiap orang berkembang hingga akhirnya menampilkan versi terbaik dirinya. Bagaimana makna lagu ini untuk Anda sendiri?
“Saya sering kali selalu merasa tidak pernah cukup baik, dan masalahnya saya fokus pada kekurangan itu tanpa memerhatikan kelebihan yang sebenarnya saya miliki. Lagu ini adalah sebuah pengingat bahwa saya harus lebih percaya pada diri sendiri dan mampu berjalan mandiri. Saya bahkan menuliskannya di dalam lirik, ‘When the world keeps doubtin’ you just remember you’re beautiful. Don’t let them fool you.’ Lagu ini seperti sebuah self-reminder.”

Dalam video musik Daisy, Anda berbusana layaknya berada di era ‘70-an. Apakah ini akan selalu menjadi konsep yang Anda tampilkan di masa depan?
“Rencananya begitu. Entahlah, saya menyukai gaya dan riasan masyarakat di era tersebut. Menurut saya, orangorang lebih menaruh perhatian terhadap penampilan mereka.”

Bagaimana konsep tersebut memengaruhi gaya bermusik (aransemen) Anda?
“Sebenarnya, tidak ada. Tapi sekarang saya jadi berpikir untuk mengulik musik di era ‘70-an, sepertinya akan menjadi sesuatu hal yang menarik. Hahaha. Sebab, jika dipikir sebenarnya musik seperti halnya fashion yang sifatnya berputar, tetapi dengan inovasi.”

Berikutnya, apa yang terencana dalam agenda solo Anda?
“Saya sedang menikmati setiap proses yang sedang berjalan sekarang, tidak terlalu ambisius harus merilis full album. Sekarang saya sedang rutin workshop untuk menyiapkan beberapa opsi single berikutnya untuk kemudian merilis mini album di tahun depan. Semoga.”

Photo: DOC. ELLE Indonesia; photography AGUS SANTOSO YANG retouch TOPHER KOPHER styling ISMELYA MUNTU

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *