Bagaimana Desain Produk Berkelanjutan Menyelamatkan Bumi?

Desain Produk Berkelanjutan Menyelamatkan Bumi

Masa depan Bumi kini bergantung pada perubahan perilaku manusia dalam mengonsumsi dan mencipta sesuatu. Beberapa desainer berikut melakukan upaya dalam membantu menyelamatkan Bumi. Oleh KRISTIN HOHENADEL.

Tahun ini menandai peringatan 51 tahun Hari Bumi. Sebuah protes besar-besaran di Amerika Serikat pada 22 April 1970, memicu gerakan internasional dan menyebabkan ditetapkannya Undang-Undang Perlindungan Lingkungan di seluruh dunia. Victor Papanek, desainer dan penulis yang memelopori desain sosial dan berkelanjutan, menjabarkan bagaimana ranah desain dapat berkontribusi pada upaya tersebut dalam buku Design for the Real World—diterbitkan di tahun berikutnya—yang menjadi salah satu buku terlaris di dunia. Namun setengah abad kemudian, manusia tengah menghadapi kondisi krisis iklim yang menantang para desainer untuk memanfaatkan proses dan bahan baku terbarukan dalam menciptakan produk yang selaras dengan ekonomi sirkular dan memungkinkan pilihan berbasis nilai-nilai keberlanjutan untuk mendefinisikan kembali estetika masa depan.

Sustainable Architecture

rumah prefab CLT di Seattle oleh arsitek Susan Jones
Wood—Panel kayu yang dilaminasi menjadi alternatif berkelanjutan untuk materi bangunan rumah. Contohnya rumah prefab CLT di Seattle yang dibangun oleh arsitek Susan Jones.

Proyek pembangunan yang berkualitas buruk dan tidak efisien merupakan sumber utama emisi karbon; karenanya arsitek dan kontraktor bertanggung jawab untuk memikirkan kembali pilihan materi serta metode konstruksinya. Di Inggris, Praktice Architecture membangun rumah menggunakan rami yang ramah lingkungan yang tumbuh di ladang sekitar. Bagian dinding dibangun menggunakan hempcrete—olahan rami, kapur dan air—dan menutupi bagian terluar dengan materi campuran serat tangkai rami dan resin limbah pertanian. Rami sebagai materi ramah lingkungan seolah sengaja dibuat dalam rangka mendukung keberlanjutan, meski sebenarnya konstruksi menggunakan tanaman ganja merupakan teknik konservatif dari zaman Romawi.

Kayu, materi tradisional lainnya, turut menjadi tren keberlanjutan, khususnya kayu yang dilaminasi silang (CLT) yang dibuat dengan menempelkan beberapa lapis kayu. Abad 21 mungkin akan didefinisikan oleh gedung pencakar langit berbahan kayu, seperti Mjøstårnet oleh Voll Arkitekter di Brumunddal, Norwegia; sebagaimana abad 20 dengan gedung-gedung beton dan baja menjulang tinggi ke angkasa. Di Skandinavia, biro arsitektur Henning Larsen berkolaborasi bersama ahli lingkungan dan biologi demi merumuskan rencana proyek lingkungan di mana seluruh bangunannya memanfaatkan kayu, untuk pertama kalinya di Kopenhagen.

Rethinking Materials & Reducing Waste

Sementara itu, para peneliti di seluruh dunia mengembangkan bahan bangunan yang lebih ‘hijau’. Sekelompok tim dari University of Colorado, Boulder, Amerika Serikat, mengerjakan jenis beton baru yang dapat mereproduksi dirinya sendiri. Tim di Royal Melbourne Institute of Technology di Australia telah menemukan inovasi pemanfaatan puntung rokok buangan yang ditambahkan ke batu bata. Kombinasi puntung rokok menghemat sekitar 58% energi yang dibutuhkan ketika proses pemanggangan, dibandingkan dengan penggunaan varietas tradisional.

Desainer interior semakin mempertimbangkan pemilihan bahan ramah lingkungan yang teruji waktu dan inovatif—termasuk gabus, bambu, kelapa, jamur, rumput laut, kotoran sapi daur ulang, dan lainnya, tergantung lokasi dan ketersediaan, lebih memilih menggunakan apa yang lokal atau berlimpah—untuk menciptakan furnitur serta benda-benda interior lainnya. Desainer semakin memikirkan ulang setiap langkah dari proses kreatif; mulai dari memproduksi sesuai permintaan hingga meminimalisir limbah secara efisien. Desainer yang berbasis di Paris, Natacha Poutoux dan Sacha Hourcade, telah sepenuhnya menata ulang barang-barang rumah tangga yang terbuat dari plastik, menawarkan alternatif ramah lingkungan yang elegan, seperti pelembap kaca transparan yang menyerupai vas dan server data keramik menyerupai objek dekoratif.

Recycled Cardboard Cabiner hiking cabins oleh Wikkelhouse
Circular design—Recycled Cardboard merupakan bahan utama untuk Cabiner hiking cabins oleh Wikkelhouse (peraih Red Dot Design Award) di Amsterdam, Belanda.

Desain melingkar dan sepenuhnya mandiri menggunakan alat berputar inovatif untuk menghasilkan struktur rumah yang terdiri dari 24 kardus yang disatukan menggunakan lem photography ramah lingkungan.

Everything Old is New Again

Vincent Grégoire, pemburu tren di NellyRodi di Paris, mengatakan bahwa generasi muda saat ini tertarik pada produksi lokal serta cenderung memilih benda kerajinan tangan yang memiliki latar belakang sosial dan kemanusiaan. Mereka menganut gaya hidup berkelanjutan di mana memiliki benda-benda mengilap kebaruan tidak lagi menarik. Alih-alih, mereka lebih suka berbagi, berdagang, dan membeli barang bekas, atau mendaur ulang benda lama. “Di mata mereka segala hal bisa berubah menjadi sesuatu yang indah,” kata Grégoire.

Bagi para desainer, mendaur ulang dan memanfaatkan kembali persediaan limbah hasil konsumsi merupakan sebuah awal yang baik. Catalan Eugeni Quitllet mengaplikasikannya dalam koleksi Ibiza untuk Vondom outdoor furniture; terbuat dari 100% botol plastik daur ulang yang dikumpulkan di laut Mediterania sekitaran pulau Spanyol.

Social Sustainability for All

Perubahan iklim paling sering memengaruhi masyarakat miskin, kaum perempuan, dan warga kulit berwarna. Membangun masa depan yang sehat dan berkelanjutan secara sosial dan tidak hanya berfokus pada desain yang menguntungkan beberapa kalangan adalah pekerjaan rumah bagi dunia desain modern.

Untuk membangun dunia yang lebih baik, desainer harus menerapkan keberlanjutan dalam bisnisnya. Tujuannya, menciptakan kesetaraan sosial yang nyata dan berdampak pada segenap lapisan masyarakat. Di Prancis, Label Emmaüs, situs e-commerce dari badan amal internasional negara itu, kini menyewakan furnitur bekas dan benda-benda dekoratif untuk digunakan dalam pameran dagang dan konferensi perusahaan besar yang biasanya menghasilkan banyak sekali limbah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.