Charlize Theron Menghargai Waktu Lewat Karya, Mengadvokasi Isu Inklusif dan Hak Perempuan

Charlize Theron for ELLE Indonesia December 2021

Perempuan multiperan. Seorang produser, aktris, pendiri organisasi sosial, wajah kampanye jam tangan Breitling, hingga sosok antagonis di film Netflix ‘The School for Good and Evil’.

Bagi para penggemarnya, Charlize Theron adalah simbol kecantikan dan feminitas. Ia bahkan menjelma menjadi sosok dewi di iklan wewangian J’adore Dior. Dalam kampanye jam tangan chronomat terbaru dari Breitling, Theron adalah seorang perempuan yang berkomitmen. Bersama balerina Misty Copeland dan aktris Yao Chen, ketiganya kerap mendobrak aturan dalam menghadapi stereotip dan batasan-batasan.

Tidak banyak orang yang tahu bahwa sejak 2009, Charlize Theron telah menjadi duta perdamaian PBB dan aktivis yang berkomitmen untuk berbagai isu sosial. Pada 2007, Theron mendirikan yayasan Charlize Theron Outreach Project for Africa yang mendukung generasi muda di Afrika dalam perang melawan HIV/AIDS dan penyebabnya. Tahun lalu, yayasan ini meluncurkan kampanye Together for Her, sebuah kampanye global untuk melawan kekerasan dalam rumah tangga yang kejadiannya telah meningkat secara signifikan selama pandemi. Theron juga memperjuangan komunitas LGBTQIA+, serta menyatakan bahwa ia tidak akan menikah lagi sampai pernikahan sesama jenis dilegalkan di Amerika Serikat. Dalam gerakan #MeToo, Theron mengungkapkan di NPR (National Public Radio) bahwa beberapa tahun lalu ia pernah dilecehkan secara seksual oleh seorang sutradara.

Di dunia film, Charlize Theron menunjukkan perkembangan pesat dalam film laga. Sebuah aksi pukulan di Atomic Blonde, Mad Max: Fury Road, dan Fast & Furious 9. Di film The Old Guard yang tayang di Netflix, Theron memerankan sosok pejuang abadi dengan gaya dan penampilan yang luar biasa. Ia juga menunjukkan fleksibilitasnya dengan memilih peran yang lebih menantang dan membutuhkan transformasi. Pada 2004, Theron memenangkan Oscar, Golden Globe dan Silver Bear untuk Aktris Terbaik di film Monster karya sutradara Patty Jenkins, sebuah kisah mengenai pembunuh berantai Aileen Wuornos. Aktris ini tampak tidak dapat dikenali setelah ia berhasil menaikkan berat badannya sebanyak 15 kilogram. Tahun 2018, ia kembali melakukannya di film Tully arahan sutradara Jason Reitman, dan kembali menambah 18 kilogram untuk memainkan peran sebagai ibu muda. “Saya harus hidup dengan berat badan itu selama hampir dua tahun. Di usia 40, jauh lebih sulit untuk menurunkan berat badan ketimbang masih berusia 20!”, ujar Charlize Theron dalam wawancara di ELLE Prancis tahun 2018. Pada 2019, ia membintangi dan ikut memproduseri Bombshell, sebuah film yang kembali menempatkan Theron dalam jajaran nominasi Oscar.

Dalam film yang segera dirilis, Charlize Theron memerankan Lady Lesso, tokoh antagonis dalam School for Good and Evil yang diangkat dari novel karya Soman Chainani. Film ini akan disutradarai Paul Feif dan tayang di Netflix pada 2022 mendatang.

Kini di usia 48 tahun, peran terbesar Theron justru terjadi di balik layar. Seorang ibu yang membesarkan sendiri kedua anak angkatnya, Jackson (9 tahun) dan August (6 tahun). Pada 2019 silam, Theron menceritakan pada Jimmy Fallon dalam acara The Tonight Show tentang anak sulungnya yang menjadi transgender. “Kisah anak saya adalah miliknya sendiri. Suatu hari, jika ia menginginkannya, dia bisa menceritakan perjalanannya sendiri. Penting untuk mengetahui bahwa saya ingin kata ganti yang tepat digunakan untuknya,” ujarnya dalam Pride Source, Desember 2019.

Charlize Theron for ELLE Indonesia December 2021
Charlize Theron for ELLE Indonesia December 2021 photography by Masha Maltasava

Anda seorang aktris, produser, duta besar PBB, aktivis, sekaligus ibu dari dua anak. Anda pernah mengaku mengalami kesulitan dalam menyeimbangkan karier dan kehidupan pribadi. Kini apakah Anda telah menemukan keseimbangan?

“Saya rasa tidak pernah ada kesempurnaan yang bisa diperoleh. Dan saya sudah berdamai dengan kenyataan itu. Keseimbangan merupakan sesuatu yang rumit bagi seorang orangtua tunggal. Apa pun pekerjaan yang kita miliki, terlebih ketika Anda memiliki pekerjaan yang membuat Anda kerap bepergian. Namun hal itu bisa berubah seiring dengan bertambahnya usia anak-anak saya. Mereka bukan lagi anak kecil yang tak memiliki kesadaran. Mereka kini berada di usia di mana mereka mempunyai berbagai ketertarikan dan ada banyak hal yang harus dilakukan sepulang sekolah.”

Setelah dua tahun rehat, apakah Anda gugup untuk kembali ke lokasi syuting?

“Selama dua tahun terakhir, saya bekerja di pra- produksi dengan perusahaan kami dan itu sangat menyenangkan. Kini saya sangat antusias untuk kembali bekerja sekaligus juga sangat waspada tentang bagaimana saya akan melakukannya. Covid-19 adalah virus yang sangat nyata dan pandemi ini belum berakhir. Jadi saya pikir, memiliki sedikit rasa takut adalah sebuah langkah cerdas.”

Anda telah memerankan 55 film dan 6 serial dalam waktu 26 tahun. Dan Anda telah menerima 18 nominasi dan memenangkan 3 penghargaan. Sejauh ini, apa yang paling Anda banggakan dari perjalanan karier Anda?

“Umur yang panjang. Untuk setiap aktor, umur yang panjang adalah hal yang penting. Saya sangat menyukai pekerjaan ini dan benar-benar ingin melakukannya untuk waktu yang selama-lamanya. Sebagai seorang aktor, ketakutan terbesar Anda adalah dengan adanya regenerasi bakat-bakat baru, entah bagaimana nantinya orang akan melupakan Anda. Sejak masih muda, saya melakukan akting sepenuh hati. Saya merasa senang dengan apa pun yang saya lakukan. Dan juga merasa bangga ketika saya mengatakan ‘tidak’ pada sesuatu yang saya tolak. Semua ini dalam rangka membangun karier yang panjang.”

Ceritakan, bagaimana ‘berdamai’ dengan waktu?

“Hal paling berharga yang kita miliki adalah waktu. Sesuatu yang tidak dapat Anda beli untuk bisa punya lebih banyak. Dan kita tidak pernah tahu kapan waktu kita akan selesai serta apa yang bisa kita lakukan untuk mengisi waktu dan menjadikannya kelak sebagai warisan. Saya benar-benar menganggap bahwa waktu adalah sesuatu yang paling berharga di dunia ini. Saya sangat menghargai waktu. Ketika masih muda, saya kerap terburu-buru karena tak tahu berapa banyak waktu yang saya miliki. Kini di usia yang lebih matang, saya benar-benar merasakan nilai dan arti dari memperlambat. Karena itu saya sangat menikmati masa-masa bersama anak-anak dan orang-orang yang saya cintai. Waktu yang saya miliki akan saya gunakan untuk melakukan apa yang benar-benar penting.”

Charlize Theron for ELLE Indonesia December 2021 photography by Masha Maltasava

Apakah sikap menghargai waktu tersebut yang kemudian mendorong Anda menerima tawaran kolaborasi dengan Breitling?

“Saya dihubungi ketika kampanye pertama. Adam Driver dan Brad Pitt sudah lebih dulu bergabung. Saya sendiri penggemar mereka berdua. Saya sangat menyukai konsep kampanye ini. Ada sesuatu yang istimewa tentang Adam, Brad, dan saya. Dan apa yang telah dipikirkan secara konseptual oleh Peter Lindberg, bagi saya itu memiliki kualitas yang nyata dan tulus. Perusahaan ini membuat jam tangan sejak tahun 1884 dan telah menciptakan sesuatu yang sesuai dengan perkembangan zaman.”

Anda aktivis yang berjuang untuk beberapa misi, termasuk soal inklusif, keragaman, dan komunitas LGBTQIA+. Anda bahkan mendirikan yayasan Charlize Theron Africa Outreach Project pada tahun 2007. Apa yang mendorong Anda untuk melakukan ini?

“Saya lahir dan dibesarkan di Afrika Selatan. Saya melalui masa-masa remaja saya dipengaruhi oleh epidemi AIDS. Saya menyaksikan begitu banyak orang meninggal dunia secara sia-sia karena AIDS dan ada sedikit sekali yang kita ketahui tentang penyakit ini. Darurat epidemi AIDS begitu luar biasa di tahun ‘80-an dan ‘90-an hingga ketika di tahun 2000-an kami mendapatkan bantuan besar dari obat ARV untuk orang-orang yang terdeteksi positif. Saya kemudian menyadari bahwa adanya kesenjangan dan kebutuhan untuk mencegah. Terlebih di Afrika Selatan, sebuah negara yang kehilangan seluruh generasi orangtuanya. Kami memiliki generasi muda yang tumbuh, apabila mereka beruntung, dengan satu orangtua atau seorang kakek atau nenek. Tradisi turun-temurun menjadi penghalang besar pengobatan modern dan pemahaman bagaimana virus tersebut menular dan menyebar. Tak ada banyak organisasi yang berfokus pada pencegahan, karena itu lah saya ingin mendirikan sebuah yayasan.”

Apa proyeknya saat ini?

“Fokus Chralize Theron Africa Outreach Project telah berubah dalam 15 tahun terakhir. Awalnya, tujuan utama kami adalah mengisi kekosongan menyoal pencegahan, namun ketika Anda mulai bekerja di bidang ini, Anda akan tersadar bahwa untuk menghentikan AIDS, Anda harus melihatnya secara holistik. Anda harus paham bahwa ada begitu banyak aspek yang memengaruhi sebuah komunitas, yang dapat berujung pada meningkatknya risiko kasus positif HIV. Jadi, kami melihat pentingnya pendidikan dan keterlibatan masyarakat, terlebih pendidikan yang lebih tinggi, dan menemukan banyak murid yang tak memiliki akses tersebut. Kami benar-benar mencari pemimpin untuk masa depan, yang tentunya begitu penting bagi Afrika dan secara global. Kami merupakan sebuah organisasi yang berfokus pada generasi muda dan masa depan mereka.”

Bagaimana Anda melihat situasi pandemi dan sejauh mana kondisi ini bisa memburuk?

“Saat kami meninjau berbagai organisasi yang kami dukung, problem besar yang kerap terjadi adalah kekerasan berbasis gender. Dan kaum perempuan adalah pihak yang paling menderita. Kami percaya ada harapan baik bagi para perempuan jika kita mampu menyediakan akses dan memberi mereka ‘kursi’ yang layak. Selama pandemi, berdiam di rumah adalah sesuatu yang menyelamatkan hidup bagi sebagian orang. Tapi hal ini bisa menjadi sebuah ‘hukuman mati’ bagi para perempuan yang hidup bersama pelaku kekerasan. Saya benar-benar serius membicarakan ini. Pandemi Covid-19 memang membuat segalanya menjadi sulit, tetapi pada saat bersamaan juga menyatukan komunitas. Dengan saling bekerja sama, kita akan menjangkau serta membantu lebih banyak orang dan pada akhirnya mendukung berbagai organisasi seperti Charlize Theron Africa Outreach Project.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.