Hamish Daud Tidak Bercanda Dalam Mencintai Bumi

hamish daud elle indonesia november 2020 - desember 2020 - photography bona soetirto - styling ismelya muntu - editor ayu novalia -

Hamish Daud tidak bisa hanya duduk diam melihat bumi terbungkus oleh plastik. Ia mengutarakan rencananya.

Pertama kali bertemu Hamish Daud adalah sebuah momen hangat. Kala itu (enam atau tujuh tahun silam) saya berpapasan dengannya di penghujung suatu perayaan. Ia tiba-tiba menyeruak di antara kami yang sedang berswafoto seraya berseru, “Good nightguys!” Kebetulan saya berdiri di barisan paling pinggir sehingga berada tepat di sebelah sosoknya. Ia tersenyum lebar. Seorang teman yang mengenal Hamish kemudian mengajaknya ikut berfoto, dan ia tidak sungkan merapatkan diri. Kami, dibilang akrab dengan lelaki yang ketika itu tengah menjadi perbincangan anyar atas debut layar lebarnya lewat film Rectoverso (2014) tersebut pun tidak—hanya sebatas tahu figurnya—namun ia tampak santai hingga berpose paling ekspresif di antara kami. Seorang Hamish Daud begitu membumi dalam memori saya. Namun ketika menyangkut persoalan lingkungan, ia bersikap cukup keras. Pada suatu waktu, seorang teman satu profesi sempat bercerita bahwa ia pernah ditegur langsung oleh Hamish Daud di suatu acara ketika tengah minum dengan menggunakan sedotan plastik. “Untuk orang yang belum saling mengenal, tegurannya bisa dibilang tegas,” katanya kala itu.

hamish daud elle indonesia november 2020 - desember 2020 - photography bona soetirto - styling ismelya muntu - editor ayu novalia
photography BONA SOETIRTO styling ISMELYA MUNTU wardrobe VALENTINO shoes GUCCI

Bukan rahasia besar jika aktor kelahiran tahun 1980 tersebut ialah figur ramah alam. Di luar pekerjaannya bermain peran dan presenter program televisi, ia banyak melibatkan diri di berbagai kampanye lingkungan. Hamish Daud sejak lama aktif menyuarakan kepada masyarakat untuk menghargai kehidupan satwa laut. Lebih jauh lagi, ia mendirikan sebuah organisasi non- profit Indonesian Ocean Pride yang berfokus pada gerakan-gerakan konservasi laut Indonesia. Organisasinya turut berperan serta mendukung upaya Provinsi Konservasi wilayah Papua Barat yang memiliki keanekaragaman hayati paling kaya di dunia. Tahun 2017, Hamish Daud terlibat kampanye global Clean Seas yang dicetuskan konferensi global Economist World Ocean Summit di Bali. Ia pernah terlihat mengikuti kegiatan membersihkan sampah di jajaran pantai wilayah pesisir Bali. Hamish Daud tidak bercanda dalam mencintai buminya.

hamish daud elle indonesia november 2020 - desember 2020 - photography bona soetirto - styling ismelya muntu - editor ayu novalia
photography BONA SOETIRTO styling ISMELYA MUNTU wardrobe GUCCI

Ia terlihat melewati proses pengecekan kesehatan untuk memasuki gedung kantor ELLE, sebelum kemudian menghampiri saya, “Halo!” Saya bisa melihat ia tersenyum dari balik masker yang menutup sebagian wajah melalui matanya. Kami memutuskan untuk berbincang sejenak di ruang ganti selagi tim ELLE menata lokasi pemotretan arena terbuka di atap. “Saya sedang membangun rumah keluarga di Bali. Sungguh tantangan mengerjakan proyek desain seluruhnya melalui video call, telepon, dan pesan foto,” cerita laki-laki yang selama 12 tahun—kini vakum—menduduki peranan Design Principal firma desain SAKA itu tentang bagaimana pandemi Covid-19 berdampak pada aktivitasnya.

Meski geraknya dibatasi kemunculan virus korona, Hamish rupanya tetap sibuk. Saat bertemu di awal bulan Agustus silam; selain membangun rumah pribadi, Hamish tengah memulai inisiasi program koleksi sampah dan daur ulang. “Saya rasa, sekarang adalah masa di mana generasi kita merasa benar-benar terancam untuk pertama kalinya. Pandemi dan pembatasan sosial yang membuat diam di rumah telah membuka mata untuk mampu menganalisa cara kita hidup; konsumsi yang kurang bijak dan bagaimana kita secara “sadar- tidak sadar” telah berkontribusi memproduksi sampah yang berlebih. Bukan artinya hari kemarin manusia enggak menimbun sampah. Kebiasaan konsumtif kita tetap sama, hanya saja biasanya tersebar di berbagai tempat, seperti kantor, mal, restoran, sehingga kita enggak melihat tumpukkan sampah yang kita hasilkan,” ujarnya. Ia tampak seperti menyadari kemirisan dalam penjabarannya kemudian terdiam sebelum tersenyum seraya melanjutkan, “Cukup mahal, ya, harga yang perlu kita bayar untuk bisa berpikir dan menata kembali bagaimana cara hidup kita.”

hamish daud elle indonesia november 2020 - desember 2020 - photography bona soetirto - styling ismelya muntu - editor ayu novalia -
photography BONA SOETIRTO styling ISMELYA MUNTU wardrobe BURBERRY

Data sementara Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat akumulasi timbunan sampah nasional tahun 2020 mencapai 67.8 juta ton. Jumlah tersebut cenderung meningkat terutama pada awal periode pandemi. Masyarakat secara masif menggunakan masker sekali pakai atas alasan higienis. Tidak terhitung berapa banyak botol hand sanitizer serta sabun cuci tangan kemasan sekali pakai yang dikonsumsi publik. Fenomena belanja online dengan atribut packaging kaya plastik turut memberi lonjakan benda buangan dari sektor rumah tangga.

“Plastik erat dengan kegiatan komersial. Sebagian besar orang menitikberatkan sifatnya yang praktis, ditambah pandangan bahwa segel plastik membuat tidak terkontaminasi bakteri sehingga terkesan lebih bersih. Tidak mudah untuk melepaskan plastik dari kehidupan manusia. Karenanya, kta perlu berupaya lebih dalam hal edukasi untuk membangun kesadaran masyarakat. Aturan tegas perlu diterapkan. Menurut saya, masyarakat kita berjalan sedikit lambat di kedua hal ini,” tutur Hamish.

Beberapa kota di Indonesia telah menetapkan kebijakan larangan pemakaian kantung plastik sekali pakai. Membawa tas kain ketika berbelanja di pasar atau supermarket menjadi perilaku golongan ‘beradab’ masa kini. Masyarakat Indonesia perlahan mengalami pergeseran budaya. Menolak sedotan materi plastik saat makan di restoran mulai menjadi gaya hidup. Kebiasaan menggenggam tumblr atau flask bottle (botol air reusable, biasanya terbuat dari stainless steel) sebagai wadah minum juga kian menjadi tren. “Jika mengingat masa lalu, kita sebenarnya bisa dan terbiasa minum langsung dari gelas tanpa pakai sedotan saat bersantap di luar,” celotehnya tertawa seketika menyelipkan sekelumit memori masa kecilnya yang dahulu lama dihabiskan di Sumba, Nusa Tenggara Timur.

“Hidup manusia itu dipenuhi plastik. Benda- benda yang kita gunakan rata-rata mengandung plastik,” katanya melanjutkan. “Kalau dipikir, permasalahan sebenarnya adalah cara kita mengelolanya. Bagaimana agar prosesnya tidak menyakiti alam? Apa solusi efektif jangka panjang?” Berangkat dari pemikiran tersebut, Hamish bekerja sama dengan ahli teknologi meluncurkan sebuah aplikasi program distribusi sampah non- organik bertajuk Octopus. “Kami menciptakan aplikasi smartphone untuk memanggil pemulung. Tujuannya adalah untuk membantu mengelola sistem pembuangan sampah di Indonesia agar lebih tertata, agar proses daur ulang sampah non-organik (termasuk plastik) dapat berjalan lebih baik. Di saat yang sama, kami juga ingin menyejahterakan pemulung-pemulung yang belum tergratifikasi sebagaimana pekerjaan mereka adalah sebuah profesi nyata,” kata Hamish.

Aplikasi Octopus menghubungkan masyarakat dengan agen sampah plastik serta unit bisnis sampah (tempat pembuangan akhir). “Kami ingin mengajak orang-orang mulai peka dan terlibat dalam menyeleksi sampah mereka secara bijak sejak dari rumah, ketimbang membuangnya secara brutal dalam satu tumpukkan yang justru mempersulit proses recycle. Masyarakat pisahkan dan agen pulung di lokasi terdekat akan datang mengambil ke rumah untuk diserahkan ke tempat pembuangan akhir,” jelasnya. Octopus diluncurkan Oktober 2019 silam. Namun, operasionalnya baru terbatas di Makassar, Sulawesi Selatan. “Proyek ini merupakan hasil kerjasama dengan pemerintah daerah setempat sebagai bagian daripada kinerja proyek bank sampah milik Pemerintah Kota Makassar. Jika program ini berhasil dijalankan, tidak menutup kemungkinan akan diadaptasi ke kota- kota lain,” katanya.

Sebuah penelitian memprediksi 710 juta ton plastik akan mencemari alam pada 2040. 20 tahun adalah waktu yang singkat untuk mencoba mengatasinya. Tetapi, Hamish Daud tidak berencana untuk berhenti berkontribusi membuat bumi jadi tempat tinggal yang lebih baik. “Satu orang tidak akan bisa menyelesaikan permasalahan yang besar. Kita memerlukan kolaborasi aktif seluruh manusia mengubah satu kebiasaan untuk cara hidup kita sebagai masyarakat, agar bisa memberikan dampak yang nyata,” harapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.