Interior Modern Hunian Multifungsi Rancangan Lee Broom

Lee Broom Tribeca Penthouse

Kepiawaian menyadur desain antik dan menyuntikkan kebaruan lewat kombinasi materi tekstur serta permainan skema warna ditunjukkan oleh Lee Broom di kediamannya di kota New York.

Adagium sebuah hunian adalah cerminan karakter pemiliknya barangkali terbuktikan lewat penthouse milik desainer asal Inggris sekaligus pendiri label pencahayaan dan furnitur, Lee Broom. Sebagaimana sang desainer dikenal piawai mengolah gaya klasik dalam tafsiran mutakhir, paras huniannya yang menempati dupleks seluas 280 meter persegi di sebuah bangunan besi cor berusia 147 tahun di Tribeca tampil paralel dengan modernitas kota New York.

Area ruang tamu dibangun oleh rangkaian furnitur dalam palet warna monokromatik putih gading dipadu krem nan lembut. Sebuah sofa yang didesain mengapung dengan ditopang “meja samping” berbahan kayu mengaksentuasi ruangan bersama meja kopi kombinasi materi marmer sutra hitam dan travertine. Lanskap kontemporer ruang diikuti lampu-lampu serta kursi bersepuhkan kuningan dan kvadrat hitam yang menggantung dari langit-langitnya.

Lee Broom Tribeca Penthouse

Seluruh furnitur merupakan merek desain teranyar Lee Broom. Bukan hal mengherankan jika interior kediaman seorang desainer penuh dengan karya buatannya. Namun, gagasan Broom lebih dari sekadar sesumbar. Broom yang sehari-harinya (lebih sering) berdomisili di London, Inggris, menggubah tempat tinggal merangkap showroom di New York secara eksperimental.

Sebuah tirai dipasang sebagai “sekat cerdas” antara ruang tamu dan dapur. Permainan skema warna terang ditingkatkan di ruang makan lewat perpaduan rona abu-abu dan biru yang mendominasi sisi minibar. Nuansa glamor tahun 1980-an disuntikkan meja bar rancangan orisinil karya Steve Chase untuk residensial di Laguna Beach pada eranya. Terletak di lantai lima dan enam, lanskap fantastis gedung-gedung pencakar langit The Big Apple, termasuk Empire State Building, menjadi latar magis dari balik jendela berukuran lebar di setiap ruangan. Aplikasinya melengkapi langit-langit hunian yang didesain tinggi menjulang, dan memastikan aliran cahaya alami diterima oleh setiap ruangan dalam proporsi maksimal.

Kami berbicara pada Broom, dan sang desainer mengungkap penciptaan kreativitas untuk kediamannya di Tribeca, New York.

Lee, apa yang Anda tekankan dalam mendesain hunian di New York?

New York adalah kota yang sangat dinamis, maka sangat penting untuk memiliki surga pribadi yang bisa digunakan untuk beristirahat di malam hari, atau menghibur teman dan kolega. Ketika Anda memikirkan sebuah penthouse di New York, imaji akan langsung tertuju pada ruang terbuka yang lapang dengan jendela menjulang tinggi hingga ke langit-langit. Tetapi alih-alih menjadi kesatuan spasial yang luas, penthouse tempat saya tinggal ini memiliki banyak ruangan dan area dengan karakteristik serta fungsi masing-masing. Kondisi ini memberikan saya inspirasi untuk merancang gaya berbeda di tiap ruangan.

Di mana Anda paling sering menghabiskan waktu saat tengah berada di penthouse? Apakah hal tersebut memengaruhi kreativitas rancangan Anda dalam menggarap sebuah desain?

Living room, adalah ruang paling nyaman. Ruangannya memiliki jendela besar yang memungkinkan Anda untuk bersantai sambil melihat bangunan besi cor dan teras di luar. Cahaya natural di ruangan ini pun melimpah. Oleh karena itu, saya memilih palet warna yang sangat pucat, seperti putih dan gading, sehingga terkesan terang. Tetapi saya juga menggabungkan banyak tekstur berbeda agar suasana lebih hidup.

Anda memiliki selera artistik untuk desain furnitur kontemporer. Apa yang menjadi pendekatan Anda akan sebuah modernitas?

Saya pikir, latar belakang berbagai disiplin ilmu yang saya pelajari, termasuk teater, secara khusus mempengaruhi kreativitas saya. Saya juga banyak terinspirasi oleh bahan baku serta teknik manufaktur; bagaimana memanfaatkan elemen tradisional dengan cara-carai inovatif; membayangkan kembali siluet dan bermain dengan bentuk dan bentuk. Jika menelisik era tertentu yang paling inspiratif bagi saya; Art Deco memiliki estetika modernis dan klasik yang tidak lekang oleh waktu. Banyak desain art deco masih terlihat modern seperti pada tahun 1920-an. Periode itu adalah waktu yang revolusioner dalam desain modern. Namun, setiap kali saya mendesain, saya selalu memastikan bahwa saya menciptakan sesuatu yang selaras zaman serta tidak berlebihan.

Apa yang menjadi tantangan signifikan dalam membangun penthouse?

Kami membangun penthouse di tengah pandemi. Ada banyak pekerjaan jarak jauh melalui komunikasi video virtual ketimbang hadir secara langsung. Situasi ini membuat segalanya lebih menantang. Saya perlu memastikan detail di setiap ruangan sehingga tim di lapangan dapat menerapkan visi saya. Tetapi, prosesnya sangat menarik. Terlepas dari itu, tantangan lainnya adalah saat memasag minibar. Minibar ini ialah desain partisi buatan khusus tahun 1980-an karya Steve Chase. Ukurannya terlalu besar untuk masuk lift sehingga kami harus menutup jalan dan mengangkatnya menggunakan mesin derek melalui atap gedung. Benar-benar pengalaman yang cukup menegangkan! But I am thrilled with it.

Prinsip berkelanjutan telah menjadi topik utama di dunia desain. Bagaimana pendekatan Anda dalam menerapkan rancangan ramah lingkungan untuk bangunan di kota-kota besar?

Bagi saya, ketika mendesain interior sangat penting untuk mempertimbangkan arsitektur bangunan serta lingkungan di sekitarnya. Kami tidak banyak mengubah keaslian bangunan. Penthouse ini telah mengalami pemugaran di mana hampir 80% material aslinya direklamasi. Beberapa kayu yang digunakan berusia 300 tahun. Kami juga, sebisa mungkin, memilih material yang bersumber lokal.

photography STEPHEN KENT JOHNSON styling MICHAEL REYNOLDS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.