Aksentuasi Pink Dalam Rumah Pantai Sofia Coppola

sophia coppola home interior elle decor

Laurent Deroo memanfaatkan elemen kayu sebagai material rumah pantai gaya minimalis di Belize, Amerika Tengah, untuk Sofia Coppola.

Sofia Coppola menginjakan kaki pertama kali di Karibia, sebuah kota kecil memesona di daerah sekitar Kepulauan Karibia, ketika masih kanak-kanak. Ia datang bersama sang ayah. Sampai sekarang, Coppola masih kerap berkunjung dan tinggal di daerah ini. Tidak banyak yang berubah sejak saat itu, hanya saja kini huniannya mendapat pembaruan gaya dari Laurent Deroo, firma arsitektur asal Pantin, Prancis.

Laurent Deroo memanfaatkan elemen kayu dengan cara yang menarik, sebagaimana yang dilakukan Jean Prouve pada rumah bernuansa tropisnya, model arsitektur minimalis adalah kanvas yang tepat bagi interior rumah Coppola dan kecintaannya terhadap warna pink.

 

Lokasi Belize tersembunyi di antara Pantai Karibia Amerika Tengah. Keberadaannya seolah terpisahan sejauh setengah dunia dari peradaban… dan atmosfer itu memang yang disukai oleh keluarga Coppola. Bagi penduduk setempat, Coppola dan keluarganya lebih dikenal sebagai, ‘Keluarga yang menyukai masakan Italia.’ “Kami memiliki banyak sekali memori menyenangkan dari pelesir keluarga di Belize sejak ayah saya tergugah mengekplorasinya pada era ’80-an,” kenang Sofia Coppola.

Kala itu, ayahnya, Francis Ford Copppola, selesai merampungkan mahakarya ikonisnya, Apocalypse Now (1979), dan tengah mencari suasana lingkungan yang berbeda, sebuah tempat beristirahat untuk kembali berkumpul dengan keluarga—separuh jalan dari lokasi syuting filmnya dan di antara gegap gempita Hollywood.

Belize telah menjadi bagian dari kehidupan mereka sejak saat itu. Terlebih lagi, Francis turut mendirikan The Turtle Inn, semacam eco resort (resor ramah lingkungan), dibangun jauh sebelum gagasan tersebut menjadi istilah dalam tata bahasa kita. Jadi, ketika sebidang tanah di sebelahnya tersedia untuk dijual, Coppola tanpa ragu-ragu langsung membelinya.

Terletak di tepi kawasan terumbu karang penghalang terbesar kedua di dunia, Placencia terkenal sebagai salah satu tempat di dunia di mana alam masih berjaya dan kecepatan sinyal internet rendah. Situs arkeologi Monument of the Incas peradaban Suku Maya hanya berjarak beberapa jam dan raungan jaguar menggelegar memenuhi hutan belantara

“Daerah ini tidak seperti kebanyakan tempat pada umumnya yang saya tahu,” katanya. “Atmosfernya seperti sebuah kota kecil yang tidak terpetakan-autentik dan sama sekali bukan jajahan para turis. Ketika saya dan saudara laki-laki saya datang pertama kali, rasanya seolah-olah kami sedang berkemah. Dahulu belum ada internet, kami hanya bermain poker dan berenang. Sampai hari ini, kami juga masih melakukan kegiatan tersebut.”

Kini, jejak desain arsitektur Laurent Deroo nan delicate tampak menjulang di lokasi pantai yang luar biasa itu. Ironisnya, pertemuan Coppola dengan Deroo terjadi ketika ia sedang menggarap film Lost in Translation (2003) di Jepang. Salah satu tempat pengambilan gambarnya dilatari oleh gerai retail pakaian (A.P.C) di kawasan Harajuku, Tokyo, Jepang, yang didesain oleh Deroo.

Jean Touitou, Direktur Kreatif AMC yang menjadi produsen filmnya, menggambarkan ciri khas Delroo dalam memanfaatkan material kayu di setiap proyek desainnya bagaikan sebuah ‘pencerahan spiritual’ dan jelas kesan serupa juga didapatkan Sofia Coppola.

Kepiawaian Delroo di Harajuku itu pun dibawa ke Placencia. Untuk Coppola, ia menggunakan keahliannya membangun rumah yang bersinergi dengan daerah setempat. “Saya menyukai desain rancangan Laurent Delroo. Dia menggubah kayu dengan cara yang tidak biasa, jadi saya pikir dia akan membangun hunian yang pasti saya sukai. Saat Delroo mengerjakan rumah Placencia, saya tengah berada di Paris untuk syuting Marie Antoinette (2006). Hasil desainnya sangat luar biasa sesuai dengan caranya, hanya sebuah hunian dan fungsional.”

Aksentuasi yang ditonjolkan bukan siapa perancang kertas dinding atau merek perabotan, melainkan untuk dititikberatkan kembali pada nyawa ruangan dan dibuat selaras dengan penghuni. Harmoni keduanya bersinergi dengan alam, terlepas dari lokasinya yang sudah luar biasa.

“Saya suka pergi ke sana bersama keluarga dan beristirahat selepas menyelesaikan pekerjaan, atau untuk menulis sebuah naskah baru. Di sini, saya menjalani hidup yang tenang, tidak terburu-buru, dan rasanya amat segar bisa berada dekat laut. Saya bisa menemukan pasangan Italia yang tinggal di desa dan membuat gelato paling lezat. Setiap siang, kami biasa berkunjung dan menghabiskan waktu di sana—gerainya bernama Tutti Frutti. Rasanya seperti berada sangat jauh dari peradaban kota.”

(Photo: DOC. ELLE; photography GAELLE LE BOULICAUT text JEREMY CALLAGHAN

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.