Miley Cyrus Terbuka Soal Gender, Hak Perempuan dan Pernikahan

miley cyrus elle indonesia agustus 2019

Di album barunya yang bertajuk ‘She Is Coming…’, Miley Cyrus akhirnya telah menemukan jati dirinya sebagai perempuan dan posisinya di dunia.

Kami berada di living room rumah Miley Cyrus yang ia beli saat berusia 18 tahun. Letaknya di sebuah bukit di San Fernando Valley. Rumah ini dahulunya menjadi lokasi Miley bekerja. Ia dan Liam Hemsworth pindah dan menetap di sini usai kediaman mereka di Malibu dilalap bencana Woolsey Fire pada November 2018 silam (satu bulan setelah peristiwa tersebut, pasangan ini menikah di rumah peternakan milik keluarga Cyrus di Tennessee).

Kedua anjing peliharaan Cyrus tengah meringkuk di sofa di antara kami. Cyrus meletakkan notebook-nya dalam pangkuan, kemudian berdeham pelan sebagai penanda ia siap berkisah. “Karya (album) baru saya berjudul She Is Miley Cyrus. ‘She’ tidak merepresentasikan suatu gender. ‘She’ bukan sekadar seorang perempuan. ‘She’ tidak merujuk kepada vagina. ‘She’ merupakan sebuah kekuatan alam. ‘She’ berdaya. ‘She’ bisa menjadi apa saja yang Anda harapkan. ‘She’ adalah manusia super. ‘She’ bisa jadi She-ro (baca: hero). ’She’ adalah She-E-O.” (baca: CEO).

Cyrus beranjak dan modar-mandir sembari menjelaskan bahwa ‘she’ adalah versi dirinya yang paling percaya diri dan, “Perempuan mengambil kembali kuasa. Dapat dirasakan di sini, energi tajam feminitas.” Sudut pandangnya saat ini mengarah kepada bagaimana perempuan adalah alasan bagi kehidupan, “Yang mana hal tersebut merupakan berkat sekaligus sebuah kutukan.”

Ia menyayangkan ekspektasi yang dipatok bagi perempuan atas gendernya: “Kita diharapkan untuk menjaga agar Bumi ini tetap berpopulasi. Ketika hal tersebut bukan bagian dari rencana atau tujuan hidup kita, banyak sekali penghakiman dan amarah, hingga dengan sengaja dibuat aturan serta perubahan dalam hukum untuk memaksakan kehendak tersebut pada Anda—bahkan jika Anda hamil buah perkosaan. Jika Anda tidak menginginkan anak, orang memandang Anda menyedihkan, seolah Anda adalah seseorang berhati dingin yang tidak mampu mencinta.”

Cyrus membenci pemakaian kata egois. “Mengapa kita diajarkan bahwa cinta berarti mendahulukan orang lain yang kita sayang ketimbang diri sendiri? Jika Anda mencintai diri sendiri, bagaimana? Diri Anda menjadi yang utama.” Urat wajah serius yang tersurat selama ia bicara kemudian melebur kembali pada pembawaan riang yang lekat dengan karakternya, dan ia menjatuhkan diri ke sofa. “Begitu kira-kira pemahaman saya.” Kami pindah duduk bersila beralaskan karpet warna putih berbahan sarat tekstur, menyerahkan seluruh sofa kepada para anjing.

miley cyrus elle indonesia agustus 2019
Busana: GUCCI; Aksesori: CARTIER, TIFFANY & CO., MESSIKA PARIS, dan VRAM.

ELLE: Kedengarannya seperti Anda juga telah berpikir tentang otonomi tubuh perempuan.

MILEY CYRUS (MC): “Yeah, terlalu banyak malah. Saya adalah seorang pemikir berat. Dan kini, saya merasa sangat berdaya dari sebelumnya. Saya menyukai perasaan yang tercipta dengan menjadi sensual, tapi saya tidak pernah tampil untuk laki-laki. Mereka tidak semestinya memuji diri mereka dengan berpikir bahwa keputusan yang saya ambil dalam karier berkaitan dengan perasaan mereka mendapatkan kepuasan. Saya tidak berpikir mereka akan membeli karya saya karena mereka merasa saya terlihat seksi. Hal itu tidak membantu saya.”

ELLE: Lalu ada gagasan yang beranggapan bahwa jika Anda adalah perempuan, hidup Anda selesai setelah menikah.

MC: “Saya pikir orang dibuat bingung dengan kenyataan saya akhirnya menikah. Tetapi hubungan saya memang unik. Saya tidak tahu apakah saya akan pernah mengizinkan publik untuk menyelaminya, karena situasinya sangat kompleks dan modern, hingga kami berada di titik di mana orang akan mampu memahami itu. Maksud saya, apakah orang benar-benar berpikir saya di rumah berbalut celemek dan memasak makan malam? Saya terlibat dalam suatu hubungan heterogen, tapi saya juga masih tertarik kepada perempuan secara seksual. Orang menjadi vegan untuk alasan kesehatan, tapi bacon masih tetap menggiurkan. Saya menemukan seorang partner pengambil keputusan. Orang yang saya rasa paling memahami dan mendukung saya. Saya, tentu saja, tidak cocok sebagai panutan istri stereotip. Saya bahkan tidak suka kalimat tersebut.”

ELLE: Sepertinya orangtua Anda pun contoh sebuah hubungan yang baik. Apa itu membantu?

MC: “Dan mereka lebih selalu menjadi partner. Maka itu saya menyukai istilah tersebut. Buat saya, ‘suami’ dan ‘istri’ terdengar seperti iklan rokok di era ’50-an. Saya sering memikirkan lagu Stand By Your Man, dan bagaimana lagu tersebut menjadi favorit ibu saya. Apakah ia benar-benar menyadari maknanya? (Ia menerangkan cerita dalam lagu tersebut) Pasangan Anda (subjek laki-laki) mabuk dan berselingkuh, lalu ketika dia pulang ke rumah, Anda akan berada di sisinya karena dia mengakhiri harinya bersama Anda dan dengan begitu berarti dia mencintai Anda. Dia hanya seorang laki-laki. Dia hanya sangat menginginkan berhubungan seksual hingga melupakan perasaan Anda. Saya punya lagu baru, Never Be Me, dan di bagian refrain saya menegaskan, ‘Jika mencari kesetiaan, jangan pernah datang pada saya. Jika mencari stabilitas, itu bukan saya. Jika Anda mencari seseorang yang akan memenuhi segala kebutuhan Anda, hal itu tidak akan pernah Anda dapatkan dari saya.’ Pertama kali saya memperdengarkannya kepada Mark Ronson (produser), komentarnya, ‘Anda tidak bisa berkata begitu. Anda memiliki basis penggemar laki-laki, dan mereka tidak akan mengerti itu. Bahkan saya sendiri tidak memahami maksud Anda.’ Dua hari setelahnya, ia menelepon saya dan mengakui, ‘Anda benar. Saya paham perspektif Anda.’”

ELLE: Apa Anda tidak merasa hal tersebut menakutkan laki-laki?

MC: “Joan Jett pernah bercerita pada saya, kala pertama ia memainkan I Love Rock ‘n’ Roll dan Clive Davis mengatakan kepadanya, ‘Tidak ada tempat untuk musik itu di industri ini. Tidak ada orang yang mau melihat seorang perempuan berambut pendek dan memegang gitar.’”

ELLE: Joan Jett seperti Mick Jagger.

MC: “Kini, setiap kali ada orang mengatakan ‘tidak’ kepada saya, saya akan membalasnya dengan, ‘Well, sayang, Anda tahu berapa banyak orang yang bilang pada Joan Jett kalau mereka tidak ingin mendengar I Love Rock ‘n’ Roll?’ Tidak ada orang yang seharusnya menceritakan itu pada saya, karena sekarang cerita itu jadi bantahan saya untuk menjawab segalanya.”

ELLE: Saat ini adalah momen menentukan bagi musik country, jelas sekali, ditambah fakta bahwa ayah Anda, Billy Ray, seakan mengatakan, “Saya akan ikut andil dalam lagu ini dan meligitimasinya sebagai musik country.”

MC: “Ayah saya tidak suka saat ada orang mengatakan ‘tidak mungkin’ pada orang lain. Ia mencintai setiap hal yang dipandang remeh, selalu seperti itu. Ia lebih suka melakukan apa yang benar walau harus kalah, ketimbang curang untuk kemenangan. Sifatnya itu menurun kepada saya. Saya lebih baik gagal daripada berbuat kecurangan. Saya punya lagu baru berjudul Bad Karma, tapi sesungguhnya tak ada yang namanya karma. Yang ada hanya sebab dan akibat. Kalau tidak, Donald Trump tidak akan jadi presiden. Saya tidak percaya semua orang telah mendapatkan apa yang pantas.”

ELLE: Betul, pasalnya membingungkan ketika orang jahat bisa berhasil.

MC: “Semua itu hanya sebab dan akibat. Jika Anda memiliki banyak uang dan melakukan banyak hal—yang sejatinya omong kosong—Anda bisa menang. Tidak berarti bahwa pada titik tertenu seseorang tidak akan menjatuhkan Anda. Tapi saya hanya tidak percaya bahwa semua orang mendapatkan apa yang mereka pantas dapatkan. Saya mengenal banyak manusia luar biasa yang tinggal di jalanan—seperti seniman bertalenta yang tidak pernah mendapatkan istirahat—melalui Happy Hippie (yayasan Cyrus yang berfokus pada tunawisma kaum muda, komunitas LGBTQ, dan populasi rentan lainnya). Saya tahu karma itu tidak nyata.”

ELLE: Saya berasal dari L.A., dan kami selalu memiliki permasalahan dengan jumlah tunawisma yang membengkak. Fakta bahwa beberapa orang bisa berjalan melewati mereka tanpa peduli sungguh tidak waras.

MC: “Saya tumbuh besar dengan bekerja di kantor KTLA (stasiun tv) di jalan raya Sunset, di mana Anda bisa temukan banyak sekali tunawisma. Saat mengunjungi lingkungan lama itu dan melihat anak-anak mengenakan T-shirt Happy Hippie membuat saya merasa sangat bangga, melebihi mendapatkan tujuh penghargaan Grammy untuk dipamerkan di rumah. Setelah peristiwa kebakaran Woolsey, saya memikirkan cara untuk membantu lebih dari 120 keluarga yang kehilangan tempat tinggal mereka. Kami telah membantu hampir 1.300 tunawisma di bawah umur di Hollywood sejak tahun 2014. Tahun lalu, kami membantu 270 anak-anak menemukan rumah asuh dan menyediakan 32.000 asupan makanan. Aktivitas itu tak akan terbakar.”

ELLE: Kebakaran benar-benar memberikan perspektifnya.

MC: “Dengan bencana alam, Anda tidak punya pilihan. Anda berserah.”

ELLE: Tidak ada yang lebih berkuasa dari alam.

MC: “Tidak ada. Alam itu seperti perempuan. Saat ia marah, jangan macam-macam dengannya. Begitu pandangan saya terhadap perempuan saat ini. ‘Bumi’ sedang marah.”

ELLE: Manusia tidak memperlakukan mereka sebagaimana mestinya.

MC: “Tindakan kita terhadap Bumi sama seperti cara memperlakukan perempuan. Kita hanya mempreteli dan mengambil, serta mengharapkannya untuk senantiasa berproduksi. Bumi kelelahan. Bumi tidak dapat memproduksi. Kami (generasi seangkatan Miley) diberikan sebuah planet yang sekarat dan saya menolak untuk mewariskannya kepada anak saya. Sampai saya bisa yakin anak saya mampu untuk hidup di bumi di mana ada ikan dalam air, saya tidak akan menambah kehadiran orang lain untuk menghadapi masalah ini.”

ELLE: Saya rasa, itu adalah persoalan yang dihadapi generasi Milenial saat ini.

MC: “Yeah. Kami tidak ingin bereproduksi karena kami tahu bahwa bumi tidak mampu menanganinya.”

( Interviewer MOLLY LAMBERT; Photo: DOC. ELLEphotography MARIO SORRENTI styling GEORGE CORTINA makeup JAMES KALIARDOS-ART + COMMERCE USING NEUTROGENA hair BOB RECINE for RODIN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *