Paras Artistik Spasial lapang di Kediaman Luna Maya

elle at home with Luna Maya - photography Agus Santosoyang styling Ismelya Muntu

Luna Maya menyingkap wilayah privasinya yang menekankan signifikansi sebuah kenyamanan dalam hunian yang sarat sentuhan personal.

Seberapa besar atau megah suatu bangunan tidak melulu menentukan kenyamanan hunian. Yang paling signifikan justru datang dari cara sang pemilik dalam mengelola dekorasi rumah. Tahun 2013, Luna Maya menemukan rumah ini secara tidak sengaja. Setelah 2-3 kali datang, ia pun memutuskan membeli lalu merenovasi bangunan yang terletak di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. “Barangkali rumah ini memang tidak terlalu besar, tapi rasanya sangat nyaman. Dan yang bikin saya jatuh cinta adalah lantainya tidak bertingkat,” cerita Luna Maya.

Berdiri di atas lahan seluas 877 meter persegi, rumah ini mengadaptasi palet warna lembut melalui kombinasi warna putih dengan sentuhan navy blue dan mustard pada interiornya. Berangkat dari asas keleluasaan, Luna pun mengusung konsep rumah open space tanpa partisi sehingga empat area utama dibuat saling terintegrasi, yaitu living roomdining roompantry, dan ruang kerja.

Dibanding menyediakan ruang tamu yang kini kerap terabaikan, Luna memilih merancang foyer untuk memajang koleksi lukisan dari sang kakak, Tipi Jabrik, dan sang ayah, Bambang Sugeng. “Ketika pindah ke rumah ini, belum ada tempat khusus untuk memajang lukisan. Saya kemudian meminta desainer interior untuk membuat semacam galeri agar lukisan mereka bisa terpajang,” tuturnya. Satu-satunya lukisan di hunian Luna Maya yang bukan karya ayah ataupun kakak. Lukisan karya Naufal Abshar bertuliskan “It’s time to be a champion” dengan gambar sosok yang tengah memegang Piala Oscar ini dilukis di atas koran New York Times terbitan Juli 1909.

Selain itu, dua kamar dirombak menjadi satu agar lebih lapang untuk penempatan walk-in- closet di kamar. Bagian bar juga dibongkar dan diubah jadi meja makan kecil,” ungkapnya.

Pada masa ini, jantung rumah telah bergerak ke arah pantry dan dining
room
. Walau letaknya di ujung rumah, kitchen set berwarna hitam putih dengan sentuhan navy blue menyedot perhatian. Termasuk sudut meja makan, tempat Luna menghabiskan banyak waktu saat ia berada di rumah. “Tempat ini multifungsi untuk mengakomodasi aktivitas secara bergantian. Satu meja makan digunakan untuk sarapan, bekerja, minum kopi, sampai makan malam. Memang tidak luas, tapi menyenangkan berlama-lama di sini,” ujar Luna.

Alih-alih menerapkan prinsip minimalis, Luna Maya justru menyenangi pernak-pernik dan mengaku senang dengan gaya country, American style, serta klasik kolonial. Ia juga gemar mengumpulkan barang dan
memajang pigura berisi foto-foto pribadinya. Di beberapa sudut, buku-buku favorit dan scent diffuser Urban Apothecary menjadi teman terbaik saat relaksasi di rumah.

Susunan piala penghargaan atas kiprah Luna Maya di industri film dan dunia hiburan Tanah Air, terpajang rapi di sudut area living room. (styling Ismelya Muntu photography Agus Santosoyang for ELLE Indonesia)

“Seluruh foto yang terpajang, hingga penempatan koleksi buku dan wewangian, merupakan upaya untuk menjadikan rumah sebagai tempat paling tenteram. Ketika lama tidak pulang dan sibuk bekerja, saya selalu merindukan rumah, bagi saya, pulang ke rumah artinya kembali pada hakikat kenyamanan,” pungkas Luna Maya.

Namun hunian ini tetap terasa lapang sekaligus apik. Keseluruhan alur ruang yang cair dibalut lewat desain interior bernuansa elegan sebagai wujud akomodasi atas kehangatan dan kenyamanan yang didambakan sang pemilik rumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.