Adhisty Zara Menegaskan Kualitas dalam Aksi

elle indonesia januari 2021 young talent - adhisty zara - photography ifan hartanto - styling ismelya muntu - editor santi zulbachri

Di usia belia Adhisty Zara menggebrak jagat hiburan lewat potensi dan disiplin hingga memaksa industri memberi ruang bagi kehadiran yang petut diperhitungkan.

Menghela napas sesaat lalu berujar, “Sebenarnya saya sempat merasa masa muda itu telah hilang. Saya sama sekali enggak menyangka bahwa ketika di bangku SMP saja sudah punya tanggung jawab begitu besar.” Tidak banyak remaja di Indonesia yang sehari-harinya bergelut dalam dua dunia yang sangat menyita waktu— kehidupan sebagai pelajar dan entertainer— layaknya seorang Adhisty Zara. Menjalani dua aktivitas yang sama-sama menyedot energi, perhatian, dan waktu; serta dituntut untuk senantiasa stabil dalam setiap performa. Maka lumrah adanya bila ia berkata demikian.

Ditemukan oleh pencari bakat dan aktif sebagai member JKT48 saat masih berusia 13 tahun, perempuan asal Bandung yang kini berusia 17 tahun itu mengaku sempat ingin berhenti dari grup idola tersebut. “Kami latihan sampai jam 2 subuh di Jakarta. Setelah itu pulang ke Bandung dan tiba jam 5 pagi, lalu langsung siap-siap sekolah karena saat itu masih SMP. Begitu terus selama satu setengah tahun,” ia menerawang mengenang masa lalu. Pada akhirnya Zara memutuskan untuk melanjutkan studi lewat metode home schooling.

Adhisty Zara for ELLE Indonesia January 2021, photography IFAN HARTANTO styling ISMELYA MUNTU makeup RYAN OGILVY hair RURI
Adhisty Zara for ELLE Indonesia January 2021, photography IFAN HARTANTO styling ISMELYA MUNTU makeup RYAN OGILVY hair RURI decoration KEOLA PROJECT

Namun menyerah bukan berarti berhenti, melainkan mengubah strategi. Dan terbukti ampuh. Konsep pembelajaran tersebut diterapkan saat Zara memutuskan pindah ke Jakarta dan menjalani home schooling sambil tetap aktif dalam segala pelatihan maupun performanya sebagai member JKT48. Ia mengakui, seletih apapun rutinitas yang dijalaninya masa itu, bergabung dengan JKT48 telah membuka cakrawala baru sekaligus membuka banyak pintu kesempatan. Di kala ia nyaris mengibarkan bendera putih, niat itu pun diurungkan berkali-kali. Sebab di hati terdalamnya, ia menyadari bahwa tidak banyak perempuan muda yang seberuntung dirinya.

Tak butuh waktu lama, jerih payah Zara membuahkan hasil yang membawanya ke dunia seni peran. Saat itu pintu casting terbuka lebar dan potensi lain yang tertanam dalam dirinya pun terkuak. Perdana berkecimpung sebagai aktris, ia berhasil menyabet peran pembantu di film Dilan 1990 yang meledak saat rilis di tahun 2018 silam. Film tersebut sukses memposisikan namanya di tengah radar perfilman Indonesia. Berperan sebagai Disa, adik Dilan di film tersebut, performa Zara menyedot perhatian para sineas yang kemudian membanjirinya dengan berbagai tawaran akting lainnya.

Tak lama kemudian, Anda dapat mengingat kepiawaian Zara berperan sebagai Euis di film remake, Keluarga Cemara, yang dirilis di tahun 2019 silam. Ia melanjutkan keandalannya dalam berperan di film Dua Garis Biru yang disambut meriah oleh publik. Seiring sekuel dan prekuel film Dilan yang acap dirilis tiap tahunnya, serta film lainnya seperti Ratu Ilmu Hitam dan Lily of the Valley; di tahun 2020, Zara kembali menorehkan performanya di film Mariposa.

elle indonesia januari 2021 young talent - adhisty zara - photography ifan hartanto - styling ismelya muntu - editor santi zulbachri
Adhisty Zara for ELLE Indonesia January 2021, photography IFAN HARTANTO styling ISMELYA MUNTU makeup RYAN OGILVY hair RURI decoration KEOLA PROJECT

Lewat kegigihan dan disiplin berkarier, dunia perfilman Indonesia pun segera memberi ruang dan menyambut baik eksistensinya untuk mampu berkiprah lebih jauh lagi. Kehadiran Zara perlahan mengubah sudut pandang industri hiburan menjadi kian dinamis merunut regenerasi yang semestinya terjadi. Ia membuktikan koneksi nyata tidak hanya tercipta pada pendalaman peran semata, namun juga pada relasinya dengan publik yang menjadi cerminan seutuhnya terhadap tiap peran yang dilakoni.

Zara pun merangkul audiens untuk tak sekadar melihatnya lewat figur peran yang semata menjadi ‘kulit’ dengan berjuta asumsi. Lewat media sosial yang menjadi penghubung utama pada para penggemarnya— terutama ‘Adhistyrriors’—ia memaparkan kesehariannya yang transparan agar publik mampu mengenalnya lebih dalam. “Terkadang ekspektasi orang itu sangat tinggi. Dengan meng-update aktivitas di media sosial, saya berusaha menunjukkan apa adanya diri saya. Tidak ada yang palsu. Dan untuk menjadi ‘Zara’ yang bisa memerankan peran sekompleks itu, saya mengajak teman-teman untuk melihat proses saya belajar,” ia menjelaskan dengan bijak. Sebagai generasi yang terhubung dengan dunia digital, Zara menunjukkan kemampuannya dalam mengolah koneksi lewat platform tersebut dengan tulus, mudah, dan tanpa paksaan.

Kini Zara tengah terlibat dalam produksi film action musical, Virgo and the Sparklings. Penggemar Dian Sastrowardoyo ini tak menunjukkan tanda-tanda untuk rehat sejenak walau harus bergelut di tengah pandemi. “Saya perempuan yang sangat beruntung. Sampai bisa sampai ke titik ini, sejujurnya saya enggak pernah menyangka. Namun tidak ada aji mumpung di dalam kamus saya, itu yang diajarkan oleh Mama,” ucapnya tersenyum. Kematangannya berpikir tampak jelas lewat tiap produksi film yang ia sambut. Sebab walau belia, Zara menegaskan kualitas dalam aksinya, yang kelak menghanyutkan kita dalam arus presensinya untuk waktu yang sangat lama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.