Amanda Seyfried: Kesenjangan Upah dan Kesehatan Mental di Hollywood

amanda-seyfried-cover-elle-indonesia-interview

Perbedaan pendapatan yang ‘menyesuaikan’ gender telah memicu kesenjangan upah, terutama bagi kaum perempuan, di bidang sinema. Amanda Seyfried mengutarakan pendapatnya.

Amanda Seyfried telah belajar untuk mengatakan tidak. 15 tahun setelah akting perdananya sebagai Karen, anggota geng ‘The Plastic’ yang mengenakan pakaian warna pink hanya pada hari Rabu, dalam film Mean Gilrs (2004), ia mulai berlatih menghargai diri sendiri.

Kepercayaan diri ini turut lahir seiring peran barunya sebagai ibu—Amanda melahirkan seorang putri (yang namanya lebih nyaman tidak disebutkan) pada Maret lalu—bertepatan dengan gerakan #Time’s Up dan #MeToo. “Ada sedikit sensasi berapi-api dan rasa lebih berharga,” tuturnya.

Amanda dan Craik duduk di meja yang letaknya tersembunyi di sudut restoran hotel Claridge—setidaknya cukup untuk seseorang setenar Amanda terlindung dari pusat perhatian. Penampilannya juga bersahaja, sekadar jumper yang dipadankan celana jeans warna hitam. “Kini saya memiliki anak, kualitas kesejahteraan saya harus meningkat. Sebab, peran ini senilai waktu saya dan akan menghormatinya.”

Perangai kuat ini terbukti berguna saat merundingkan perpanjangan kontraknya sebagai Sophie dalam Mamma Mia! Here We Go Again—sekuel dari seri pertama Mamma Mia! (2008)—yang rilis akhir Juli lalu. Jika Anda pikir sebagai bintang film dengan pendapatan terbesar urutan ke-73, Amanda mudah dapat peran, Anda salah. “Lucunya, rumah produksi melancarkan taktik jual mahal,” katanya.

“Seseorang mengatakan pada saya, ‘saya bisa casting orang lain untuk menggantikan tempat Anda.’ Anda akan mencari pengganti seolah saya tak ada artinya, sungguh? Apakah karena saya seorang perempuan? Lalu, saya mengetahui bahwa Dominic Cooper (yang memerankan Sky dan menjadi pasangan main Amanda) sedang dalam proses tawar menawar. Seketika saya naik pitam dan tak bias berhenti bersuara. Dominic sangat menakjubkan, tapi apakah hal itu adil? (Untuk Mamma Mia) Jika saya dibayar lebih rendah darinya? Padahal, karakter Dominic juga tidak lebih menonjol di dalam film.”

Diskusi mereka terhenti oleh suatu keluarga yang tiba-tiba menghampiri meja untuk minta foto bersama. Craik berasumsi mereka adalah penggemar berat. Tidak lama setelah itu, suami dan anak Amanda yang diikuti sang agen, Evelyn, pun bergabung. Amanda memperkenalkan Craik kepada keluarganya.

“Anda akan marah pada saya,” kata Amanda pada agenya. Mimik Evelyn seketika bersiap mendengar kelanjutannya. “Saya bicara soal kesenjangan upah,” tutur Amanda.

“Yang mana hal itu lumrah saat ini. Isu tersebut sedang tren. Semua orang membicarakannya. Oleh karena itu, diskusi ini amatlah penting,” kata Craik segera menimpali. Evelyn berusaha tenang dengan menyembunyikan ekspresinya. Namun, sulit menebak perasaannya. Keluarga Amanda rupanya hanya mampir sebentar dan melanjutkan jalan-jalan menelusuri kota serta melihat monumen. Craik dan Amanda lantas kembali pada diskusi.

amanda-seyfried-cover-elle-indonesia-interview

Upah Berdasarkan Gender di Hollywood

Amanda mengetahui tentang kesenjangan upah tersebut selang satu tahun perilisan film Mamma Mia! Saat itu, Dominic (masih menjadi kekasihnya hingga putus pada 2011) secara tidak sengaja menyinggung masalah itu. “Saya harap Universal tidak marah kepada saya karena membahas soal ini. Saya juga tidak menyalahkan mereka atas kondisi ini,” kata Amanda.

Jadi, siapa yang harus disalahkan? Apakah ini berdasarkan sejarah, budaya yang telah tertanam sejak lama di Hollywood, di mana semua pihak terlibat sejak awal?

“Pada dasarnya, semua orang ingin menghasilkan keuntungan dengan modal murah. Apakah saya marah pada mereka? Tidak. Saya menyalahkan sistemnya yang bertahan sangat lama. Mengapa ada ketakutan untuk menuntut lebih? Dari mana datangnya rasa takut itu? Saya juga tidak tahu. Tapi, saya merasakan keberanian dengan Mamma Mia 2. Mereka bilang mampu mencari pengganti saya, tapi saya tidak percaya. Jadi, saya bersikeras tidak menerima tawaran yang diberikan kecuali menyukainya,” ujar perempuan berusia 32 tahun itu.

Apakah saat ini momen bagi para perempuan bersinar di Hollywood? Dengan cepat Amanda menjawab, “Tentu saja. Banyak orang tidak lagi takut bersuara dan semakin banyak yang mendukung gerakan seperti #MeToo serta #Time’sUp yang berfokus terhadap pemberdayaan serta kesejahteraan. Sebab, Anda ingin menjaga performa pekerjaan dan reputasi, sekaligus tetap waras. Anda bisa mempertahankannya sekarang; Anda bisa meyakinkan diri bahwa tidak sendiri, merasa nyaman serta tidak menyalahi norma.”

Sebagai orang yang telah bekerja sejak usia 15, Amanda merasa pengalaman sebagai orangtua telah membantunya mengembangkan rasa cinta baru terhadap pekerjaannya. “Mungkin, karena saya diperlakukan secara berbeda; ada level penghormatan tertentu. Segala sesuatunya jadi lebih baik, ketimbang saat remaja dulu. Lewat usia 30 tahun, seseorang jadi lebih dipercaya. ‘Oh, saya percaya pendapat Anda.’ atau ‘Saya percaya Anda akan datang ke lokasi syuting tepat waktu.’ Padahal, saya tidak pernah terlambat sejak dulu usia 15 tahun. Saya pikir, alasannya karena sekarang saya memiliki anak. Jadi, saya dianggap lebih bertanggung jawab,” katanya.

Perlakuan lebih baik juga didapatnya dari kaum laki-laki, “Saya kerap dianggap tidak serius, terutama karena penampilan saya yang tampak muda dan cenderung menghindari konfrontasi. Itu juga hal lain yang saya pelajari; tidak terlalu mengambil hati terhadap segala hal karena itu sia-sia.”

Seseorang dari tim Amanda datang membawakan satu keranjang mangkuk berisi keripik kentang. Craik mencicipi satu, kentang itu bukan hidangan baru dan sudah dingin. “Saya tidak suka makanan yang tak dihabiskan,” ujar Amanda. Ia mengatakan lebih suka menghabiskan dulu makanan lama ketimbang memesan baru.

Dari pembicaraan soal kesejahteraan karier, Craik mengalihkan topik pada kesenjangan jam tidur dengan kehadiran buah hati yang kini menginjak usia satu tahun. “Oh, Anda akan berpikir saya berperangai buruk. Ibu saya adalah pengasuh pribadi kami,” katanya tersenyum. Ia melanjutkan dengan sigap, “Tapi, tidak gratis. Ibu menawarkan untuk pindah dan tinggal bersama kami. Benar-benar menakjubkan, saya dapat tidur dengan sangat baik.”

Hal ini menjelaskan mengapa ia tidak memesan double espresso seperti saya. Dan maksudnya dengan ‘kami’ adalah ia bersama Thomas Sadoski, suaminya yang ia nikahi secara diam-diam pada tahun lalu. Amanda berterima kasih pada Donald Trump karena telah menyatukan mereka.

“Ini adalah hal positif dari terpilihnya Donald Trump sebagai presiden. Dunia marah dan saya mengajak Thomas menikah. Saya bilang padanya, saya mungkin tak akan pernah bangun dari mimpi buruk ini. Jika begitu, ayo kita menikah,” ceritanya. Dan pernikahan itu benar-benar terjadi. Seiring waktu, atensi mereka seetuju menciptakan sebuah keluarga. “Tanggung jawab itu sangat berat. Mulanya, kami juga berpandangan acuh. Tapi, kemudian kami bersemangat,” ujarnya.

Menjadi ibu juga membuat Amanda lebih memikirkan soal masa depan, bahwa suatu hari ia tidak dapat lagi mendampingi keluarganya. Ia merasa perlu memperhatikan keadaan sekitarnya, serta bagaimana cara kerja dunia. Generasi muda memberikannya harapan.

Ia mengatakan, “Dengan seluruh kegilaan yang ada, kekerasaan bersenjata… Saya mengkhawatirkan anak-anak muda ini. Tapi mereka sangat berani dan membanggakan. Saya hanya berharap generasi puteri saya nantinya akan lebih kuat, jujur, dan rendah hati.”

Kesehatan Mental dan Keluarga

Amanda tumbuh besar di negara bagian Allentown, Pennsylvania, dengan ibu bekerja sebagai terapis dan ayah seorang apoteker. Sebagai warga negara Amerika, ia mencemaskan kebijakan hukum kekerasan bersenjata yang berlaku di negaranya.

“Sebenarnya, apa yang dilindungi? Saya sampai pada titik tidak mengerti mengapa senjata api harus dijual di toko serbaguna seperti Walmart. Anda perlu senjata untuk apa? Apakah Anda mengajar tentara? Guru bukan pasukan penjaga maupun pengawal. Mereka adalah pengajar dan tugasnya mengedukasi. Anak-anak menjadi sasaran tembak, sedangkan mereka tetap berpendapat bahwa kesalahan terletak pada kesehatan mental bukan alat menembaknya. Jika begitu, mari bahas masalah mental,” katanya sedikit geram.

Amanda secara terbuka mengakui pada publik bahwa ia memiliki OCD dan berjuang melawan anxiety (rasa gelisah berlebih). Sejak usia 19 tahun, ia mengonsumsi lexapro (obat anti-depresi). “Diresepkan dan tidak dalam dosis tinggi. Obat ini bukan untuk semua orang. Dalam cara pandang tertentu, perusahaan farmasi adalah sumber masalah. Di sisi lain, orang-orang membutuhkan obat. Dokter bilang, pengobatan membantu 30% mengatasi OCD. 70% lainnya adalah usaha Anda. Mungkin, beberapa individu sejatinya tidak butuh diobati, cukup sinar matahari disertai kegembiraan dan mereka bisa sehat. Namun, iklan plus sistem manajerial perusahaan farmasi yang mengindikasi setiap orang butuh obat menjadi perlu dikhawatirkan. Tapi, itu hanya opini saya,” tuturnya.

Untuk Amanda, salah satu yang membantunya menghadapi OCD adalah tanggung jawab sebagai orangtua. “Sebelum anak saya lahir, saya rutin mengikuti terapi CBT (Cognitive Behavioural Therapy). Setelah melahirkan, fokus Anda tertuju pada segala urusan anak hingga tidak sempat memperhatikan hal lain. Mungkin, tidak sepenuhnya mengatasi OCD, tapi jelas cukup bikin lupa,” ujarnya.

Sesibuk menjadi ibu, sebebas itu pula dirinya. Amanda setuju dengan Craik bahwa terpisah dari Anda tidak selalu menyedihkan dan tragis, sebagian orang mungkin juga merasa begitu. “Orang-orang selalu bilang, ‘Oh, Anda pasti amat merindukannya.’ Padahal, saya tidak merasa begitu,” katanya.

Amanda memberikan alasannya, “Saya menghubunginya lewat Face Time, tiga kali dan setiap hari. Tapi, sebenarnya yang membuat saya tenang adalah kepemilikan ruang pribadi. Saya punya waktu sendiri di hotel, mendengarkan audio books, dan segala hal yang sudah tak bisa saya lakukan di rumah.”

A post shared by Amanda Seyfried (@mingey) on

Amanda berhasil membuat Craik jatuh hati. Pesonanya begitu menawan. Ketika rehat bekerja, ia menghabiskan waktu di Los Angeles, berada dekat dari suaminya yang sedang disibukkan proses syuting serial Life in Pieces. Atau, ia menjauhi keramaian dengan pergi ke pertanian di bukit Catskills di New York City.

Gagasannya brilian dan seorang pencinta hewan. 2.7 juta pengikut akun pribadinya di Instagram pasti tahu betapa sayangnya ia pada Finn, anjing ras gembala Australianya. Ia juga memiliki dua keledai, tiga kambing, enam ayam, serta  seekor kuda dari peternakan tetangganya. Craik menanyakan pengaruh hewan dalam hidupnya, “Hewan membawa kebaikan dalam hidup Anda di segala aspek!” jawabnya.

 

(Foto: Dok. ELLE Indonesiaphotography SEBASTIAN FAENA stylist GILLIAN WILKINS interviewer LAURA CRAIK)

(Artikel ini telah dipublikasikan dalam majalah ELLE Indonesia edisi Agustus 2018)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.