Andra Martin: Konsep Ruang Bebas Dalam Arsitektur Indonesia

andra matin interview elle indonesia

Karya arsitekturnya, Elevation, mendapat penghargaan khusus di Venice Architecture Biennale tahun ini. Lewat permainan ketinggian, ia kenalkan arsitektur vernakular Indonesia. INDAH ARIANI berbincang lebih jauh bersama sang arsitek.

Tahun ini, Andra Matin mendapat undangan khusus dari kurator Venice Architecture Biennale 2018, Yvonne Ferrel dan Shelley McNamara. Ia diminta berpartisipasi dalam pameran khusus yang mendedah tentang Free Space yang menjadi tema utama biennal tertua di dunia tersebut.

Oleh lulusan Universitas Parahyangan Bandung ini tema Free Space direspon dengan menampilkan keragaman desain arsitektur vernakular. Rancangan bangunannya tumbuh dengan menyesuaikan keadaan alam di sebuah tempat yang muncul di berbagai daerah di Indonesia dalam instalasi berjudul Elevation. Khazanah arsitektur vernakular Indonesia yang demikian kaya, ia rangkum dalam sebuah ruang yang mengajak pengunjung bermain-main dengan ketinggian.

Andra Matin sendiri kerap diidentikan dengan garis desain arsitektur yang bersih, modern, dan akrab memeluk lingkungan–di mana sebuah desain didirikan. Untuk karya Elevation tersebut, ia menerima penghargaan Special Mention dari para juri Architecture Venice Biennale.

andra matin interview elle indonesia venice binneale

Dari mana muncul ide awal untuk konsep instalasi Elevation?

“Tema Free Space yang menurut saya cukup sulit untuk diterjemahkan. Sebab, ruang bebas itu merupakan sebuah konsep yang abstrak. Saya lalu mencoba melakukan sedikit riset kecil dan menemukan variasi ketinggian rumah-rumah tradisional di Indonesia. Hasilnya, berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Ada rumah suku Dani di Papua yang tingginya sama dengan permukaan tanah, hingga rumah di atas ketinggian 10 meter seperti orang-orang Morotai. Dari situ, saya terpikir untuk mengenalkan arsitektur vernakular Indonesia yang begitu kaya pada khalayak arsitektur dunia. Untuk memberikan pengalaman dan pemahaman ruang bagi pengunjung, maka saya sengaja membuat desain serupa menara di mana pada ketinggian-ketinggian yang sama dengan rumah-rumah vernakular itu, mereka bisa melihat bentuk rumah-rumah tersebut pada maket yang saya buat.”

Berapa lama proses pengembangan konsep Elevation?

“Sekitar lima bulan. Mulai dari memikirkan konsep visualnya, bekerja bersama tim untuk merealisasikan desain, serta berdiskusi intensif dengan Yvonne Farrell dan Shelley McNamara. Tim kerja saya untuk Elevation hanya tiga orang. Sengaja saya buat kecil saja timnya supaya efisien dalam berkomunikasi dan lebih mudah mengambil keputusan.”

Bagaimana Anda memaknai ruang bebas dan bagaimana posisi ruang bebas dalam arsitektur Indonesia?

“Bila merujuk pada tema Freespace dari Architecture Venice Biennale kali ini, terus terang pengertiannya jadi sangat luas dan membingungkan. Saya merasa kesulitan menerjemahkannya. Takut salah. Jadi, saya memilih mengetengahkan arsitektur vernakular Indonesia saja, sambil mengajak pengunjung mengalami ruang. Dengan pengalaman akan membebaskan mereka memiliki interpretasi subyektif berdasarkan apa yang mereka rasakan saat menaiki menara Elevation.”

 

View this post on Instagram

 

Scale1:50 Elevation

A post shared by andra matin (@andramatin) on

Apa arti penghargaan “Special Mention” dari para juri untuk karya Anda?

“Terus terang, sejak diundang untuk berpartisipasi dalam pameran ini, saya cukup tegang karena belum pernah sama sekali diundang ikut Venice Biennale. Penghargaan ini saya lihat sebagai sebuah apresiasi besar bagi saya pribadi, maupun dunia arsitektur Indonesia. Semacam pengakuan dunia terhadap eksistensi arsitektur kita. Pengakuan ini bisa jadi tanda bahwa kita bisa berdiri sejajar dengan mereka. Ini juga, saya kira, bisa menjadi harapan bahwa di masa mendatang, akan semakin banyak kesempatan bagi arsitek-arsitek Indonesia untuk berkiprah dan menjadi cemerlang di kancah arsitektur dunia.”

Bagaimana Anda melihat perkembangan dunia arsitektur baik di Indonesia maupun dunia?

“Semakin pesat dan cepat perkembangannya. Apalagi, arus teknologi membuat batas tak ada. Perkembangan yang cepat ini harus mampu diikuti oleh semua arsitek dengan berbagai cara. Mulai dari memanfaatkan kemudahan arus internet, membaca hingga sering bepergian, berkunjung ke sebanyak mungkin tempat untuk mengalami ruang. Hanya saja, hilangnya batas-batas teritori karena teknologi ini mau tak mau menyebabkan adanya kecenderungan garis desain menjadi seragam. Siapa pun bisa saling terpengaruh atau mempengaruhi. Batasan antara pendahulu dan pengikut pun jadi semakin samar. Tetapi, Indonesia memiliki sejarah dan khazanah budaya yang sangat khas, sehingga harusnya keseragaman itu bisa dihindari. Perlu sering-sering melakukan eksplorasi pada akar budaya kita. Kalau jeli, pasti bisa menemukan banyak hal yang akan membantu membentuk karakter desain kita.”

Apakah benar anggapan bahwa arsitektur tradisional merupakan akar dari arsitektur Indonesia atau sebenarnya arsitektur Indonesia tumbuh sendiri dan berakar justru pada berbagai pengaruh arsitektur dari luar?

“Sebenarnya, salah satu cara mengidentifikasi ciri arsitektur, baik yang Indonesia atau non Indonesia itu adalah apakah sebuah desain terasa tepat diletakkan di sebuah tempat dan terasa janggal, tidak nyambung ketika dipindahkan ke tempat lain. Arsitektur Indonesia seharusnya tumbuh dari dalam atau apa yang dikenal sebagai vernakular. Tidak berarti harus berasal dari zaman purba, tapi ia bisa mengakomodir berbagai keadaan alam Indonesia seperti iklim, tanah, budaya dan sebagainya. Ia juga tak harus benar-benar mentah atau puritan. Ia bisa saja mendapat pengaruh dari luar, tapi segala kondisi bisa diakomodir. Sejarah terserapnya pengaruh itu justru akan menambah kaya khazanah desain itu sendiri.”

Apakah tepat bila menyebut  desain arsitektur tradisional sebagai arsitektur Indonesia?

“Tidak tepat disebut sebagai arsitektur Indonesia, tapi akan lebih tepat disebut sebagai bagian darinya.”

andra matin interview elle indonesia kolam renang GBK

Bagaimana sebaiknya seorang arsitek menyikapi perkembangan tren dan kecenderungan yang di satu masa menjadi arus utama dalam arsitektur?

“Saya agak subyektif soal ini karena saya termasuk orang yang enggak suka mengikuti tren. Rasanya sejak awal mendesain sampai sekarang, garis desain saya lebih mengikuti hati ketimbang pergerakan tren yang silih berganti. Saat mendesain, saya juga lebih cenderung berfokus pada program ruang. Bagaimana desain bisa hemat energi dan memiliki proporsi yang baik. Selebihnya, saya lebih suka memperkaya perbendaharaan ragam desain saya dari sesuatu yang tumbuh.”

Apakah seorang arsitek harus memiliki garis desain personal yang membuat karya-karyanya bisa dengan mudah dikenali oleh orang yang melihat?

“Karakter itu sangat perlu, tapi tidak lantas harus terlihat jelas dan mudah dikenali. Semakin misterius semakin bagus. Artinya, seorang arsitek harus membangun selubung yang membuat karyanya tak bisa dengan segera diidentifikasi sebagai karyanya. Tidak harus langsung dikenali, tapi setelah beberapa saat baru orang bisa mengenali garis desainnya.”

Bagaimana Anda melihat perkembangan dan proses regenerasi dalam arsitektur di Indonesia?

“Positif dan membuat optimistis. Barangkali memang masih banyak ketinggalan yang harus kita kejar. Tapi kualitas anak-anak muda saat ini sudah sangat berkembang. Karya mereka bagus dan terlihat sekali memiliki pemahaman baik tentang ruang dan hal-hal detail lain. Mereka sudah punya dasar yang baik dan tinggal terus menabung pengalaman untuk bisa menemukan karakternya.”

Adakah mimpi yang masih ingin Anda wujudkan dalam perjalanan karier Anda?

“Saya ingin suatu saat bisa mendesain museum seni kontemporer dan sebanyak mungkin ruang publik yang bisa dinikmati masyarakat.”

 

 

 

(Foto: Doc. ANDRA MATIN)

(Artikel ini telah dipublikasikan dalam majalah ELLE Indonesia edisi Oktober 2018)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.