Arawinda Kirana Mengukir Kontribusi di Jalur Seni

Menunjukkan eksistensi lewat jalur populer, Arawinda Kirana memanfaatkan kreativitas seni sebagai jalan menyuarakan kepedulian sosial.

Dalam suatu kesempatan, saya menerima undangan untuk menyaksikan film Yuni. Melangkah masuk bioskop, hati sudah penuh ekspektasi. Bagaimana tidak, bahkan sebelum hadir di negara sendiri, Yuni sudah mencuri perhatian di panggung dunia. Ditayangkan di Vancouver International Film Festival 2021, Busan International Film Festival 2021, Chicago International Film Festival 2021, Rome Film Fest 2021, Brisbane International Film Festival 2021, dan Philadelphia Film Festival 2021. Tak hanya disaksikan penonton mancanegara, Yuni juga memenangkan Platform Prize di Toronto International Film Festival 2021 dan pemeran Yuni, Arawinda Kirana, menjuarai kategori Best Actress dalam penghargaan Snow Leopard di Asian World Film Festival, memenangkan Piala Citra Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Pemeran Utama Perempuan Terbaik, dan meraih gelar Aktris Terbaik di ajang Red Sea International Film Festival 2021 yang diadakan di Jeddah, Arab Saudi.

styling ISMELYA MUNTU photography IFAN HARTANTO fashion Nila Baharuddin (gaun dan celana palazzo) makeup RYAN OGILVY hair YEZ HADJO

Rasanya Yuni memang pantas menerima seluruh pencapaian tersebut. Ada banyak sekali “harta karun” yang tersaji dari film ini. Pada beberapa adegan, saya merasa marah, sedih, miris, sekaligus gelisah melihat apa yang terjadi pada perempuan-perempuan di pelosok Indonesia. Film ini merangkum dengan jujur gambaran potret remaja perempuan di Indonesia yang dituntut menjadi dewasa sebelum waktunya. Merelakan mimpi untuk berpendidikan tinggi lalu menjalani hidup sebagai perempuan yang sesuai norma: menikah, melayani suami, dan mengurus anak. Dari film Yuni kita menemukan kenyataan bahwa perjuangan perempuan untuk bisa hidup merdeka masih sangat jauh dari kata selesai. Buat saya, film Yuni teramat penting sebagai pengingat bahwa stigma yang menganggap perempuan makhluk lemah tak berdaya adalah persoalan yang benar-benar terjadi. Yuni menebarkan realitas kelam posisi perempuan di dalam masyarakat yang mencekik lewat tradisi dan aturan khas patriarki.

“Waktu awal baca naskahnya, saya mendapat premis cerita sebatas tentang kisah remaja perempuan yang suka menyanyi dan gemar bermain media sosial. Setelah berdiskusi dengan sutradara dan mengetahui seluk-beluk kehidupan Yuni, barulah saya tahu bahwa film ini mengangkat isu-isu penting yang selaras dengan apa yang saya suarakan di platform media sosial yakni feminisme dan hak asasi manusia. Saya merasa luar biasa senang bisa ikut ambil bagian dalam karya penting ini. Ditambah perolehan Piala Citra sekaligus tanggapan positif dari para penonton, rasanya bahagia tak terkira ketika tahu kerja keras kita terdengar dan tersampaikan dengan baik. Pencapaian ini juga memecut saya untuk terus belajar dan berupaya menjadi aktor yang lebih baik lagi,” ujar Arawinda Kirana. Sebelum memerankan sosok Yuni, Arawinda juga terlibat dalam film antologi Quarantine Tales dalam segmen berjudul Happy Girls Don’t Cry yang tayang di Netflix. Dan atas perannya di film tersebut, ia memenangkan Piala Maya 2020 untuk kategori Aktris Pendatang Baru Terpilih.

styling ISMELYA MUNTU photography IFAN HARTANTO
makeup RYAN OGILVY hair YEZ HADJO
Gaun sequins, Wiki Wu

Kemunculan Arawinda di depan kamera berawal ketika secara tiba-tiba ia diminta menjadi model. “Saya tidak pernah berencana menjadi model. Namun suatu waktu seorang teman, berprofesi sebagai pengarah gaya, mengajak saya menjadi model untuk sebuah editorial photoshoot. Semenjak itu jadi banyak tawaran pekerjaan, tapi saya menyadari modelling bukanlah jalan saya dan karena itu saya lebih memilih menekuni seni peran dan dunia teater,” kisahnya. Sebelum melibatkan diri di industri perfilman, Arawinda sesungguhnya telah lama berkecimpung di dunia seni. Tercatat ia pernah memerankan Siti Nurbaya dalam pementasan teater serial musikal bertajuk Nurbaya. Dan sejak kecil, Arawinda telah mengenal ranah seni dengan belajar tari Bali ketika usianya 6 tahun. Ia rutin latihan di Lembaga Kesenian Bali Saraswati di Jakarta. Lewat tari Bali, Arawinda tak hanya mendalami berbagai ekspresi wajah tapi juga memelajari alat musik gamelan. Dan selama duduk di bangku sekolah dasar sampai menengah atas, perempuan ini selalu aktif terlibat di kegiatan teater. Di tahun akhir SMA, Arawinda juga pernah menyutradarai pementasan teater musikal yang melibatkan 500 orang murid di sekolahnya. “Awalnya masuk sanggar tari karena diminta oleh ibu, tapi lama-kelamaan saya jadi menikmati perjalanan berkesenian. Saya sangat senang berada dalam komunitas bersama orang-orang yang berkarya dengan hati yang tulus. Mereka melakukan segala sesuatunya tanpa iming-iming ketenaran ataupun kekayaan materi. Menyaksikan mereka berkesenian dengan penuh cinta, saya seperti menerima energi positif yang rasanya luar biasa menyenangkan. Selain juga senang karena menari merupakan aktivitas yang cukup besar andilnya dalam menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh saya. Menekuni seni tari dan balet juga menyadarkan saya arti perjuangan dan pengorbanan sebab butuh latihan dan dedikasi bertahun-tahun untuk bisa melakukan gerakan dengan baik dan benar,” cerita Arawinda.

styling ISMELYA MUNTU photography IFAN HARTANTO
makeup RYAN OGILVY hair YEZ HADJO
Gaun sequins, Wiki Wu

Lulus sekolah menengah atas tahun 2019 silam, Arawinda masuk manajemen Kite Entertainment yang kemudian membuka jalannya pada berbagai kesempatan di industri hiburan. Alasan kenapa Arawinda baru sekarang muncul di industri perfilman adalah karena sebelumnya ia nyaris selalu gagal casting. “Dari pengalaman saya pribadi, beberapa orang menganggap saya tidak masuk dalam kategori standar ‘kecantikan’ umum karena kulit saya cenderung gelap dan rambut agak keriting tidak lurus. Karena itu saya cukup sulit mendapat peran di film. Mereka bilang, ‘Kamu terlalu hitam’ dan ‘Kamu keriting sekali’. Dan ini tidak hanya terjadi di lokasi casting, tapi juga di dalam sekolah. Rasanya nyaris semua orang suka dengan perempuan berkulit putih dan berambut hitam lurus. Di usia itu, tentu saja kepercayaan diri saya mudah terkoyak akibat ejekan orang-orang. Rambut sampai rusak karena setiap hari saya mencatok rambut sebelum pergi ke sekolah. Jelas sekali kesenjangannya antara saya dengan perempuan-perempuan yang ‘cantik’ menurut kebanyakan orang. Tapi seiring bertambahnya usia, saya menyadari apa yang saya miliki adalah kekuatan diri saya sendiri. Dan saya beruntung akhirnya bisa bertemu orang-orang yang lebih memandang bakat ketimbang penampilan,” ungkapnya.

Impuls kreativitas memang bisa dipantik oleh banyak hal. Tapi bagi Arawinda Kirana, pemicu kreativitas bisa terkesan sederhana. “Butuh waktu untuk sampai akhirnya bisa punya kepercayaan diri yang begitu kuat. Pelan-pelan saya mulai bersuara seiring saya melihat nyatanya ada juga orang-orang yang mengapresiasi keragaman fisik. Saya kemudian tidak lagi menunduk malu karena punya kulit berwarna cokelat. Dari situ, saya kemudian bergerak pada kegiatan seni budaya. Salah satunya menyalurkan kecintaan saya pada kain tradisional Indonesia. Melestarikan seni dan budaya bangsa, menghargai keunikan, menghormati keberagaman, dan membakar gelora generasi muda agar cinta dan bangga pada identitasnya. Saya ingin mengindonesiakan Indonesia,” ujarnya.

styling ISMELYA MUNTU photography IFAN HARTANTO
makeup RYAN OGILVY hair YEZ HADJO
Gaun, petticoat, Nila Baharuddin

Aktif berorganisasi dan memahami berbagai isu global sejak remaja, Arawinda kini membangun gerakan di sejumlah platform media sosial dan melibatkan diri di dunia aktivisme lewat cara-cara yang kreatif. Ia mendirikan komunitas Swara Gembira untuk memperjuangkan revolusi seni budaya Indonesia, sekaligus memelopori kampanye #BerkainBersama yang menjunjung rasa cinta pada keberagaman dan kekayaan wastra Indonesia. Dan pada April 2020 silam, Arawinda membentuk gerakan komunitas Arise Arose bersama 6 orang kawannya: Khalisha Cantara, Thalia Hagana, Calista Fahira, Olivina Maskan, Myura Blesya Vevanya, dan Nilover Judge. Sebuah organisasi untuk mengedukasi masyarakat luas dengan harapan agar meningkatkan kemajuan negara Indonesia. Berbagai persoalan seperti pengelolaan sampah, permasalahan jejak karbon dan efek rumah kaca, krisis iklim, ketahanan pangan dan problem akses air bersih, kebakaran hutan, kekerasan seksual, kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri, diskrimasi terhadap kaum marjinal, dan sejumlah isu penting lainnya ikut dibahas dalam organisasi nirlaba ini. “Lewat Arise Arose, kami berharap dapat terjadi pertukaran perspektif masalah-masalah global dengan menyebarkan pengetahuan dan wawasan lewat berbagai diskusi. Kami ingin mendorong komunitas publik agar menyuarakan opini dan perspektifnya mengenai isu-isu penting, menyebarkan kesadaran tentang apa yang sedang terjadi di dunia sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis,” ujar Arawinda.

Tentunya kita menantikan kehadiran Arawinda di judul-judul film lainnya. Ia pun telah mempersiapkan sejumlah rencana dan cita-cita untuk terus menapaki karier dan mengukir prestasi di jalur seni dan perfilman. Mengambil peran di berbagai judul film, meneruskan pendidikan, sambil terus menyuarakan isu-isu penting dan menekuni dunia aktivisme. “Tahun 2022 mendatang saya berencana meneruskan kuliah jurusan penyutradaraan di Amerika Serikat. Sambil juga tetap berkontribusi di jalur aktivisme dan perfilman Indonesia. Lewat kerja dan karya, saya ingin membuat kontribusi bagi yang lain dan berkomitmen terhadap komunitas. Dengan bersungguh-sungguh, saya jadi merasa berguna bagi banyak orang dan bahkan bisa menerima nilai eksistensi diri. Dan ketika kita berhenti menikmati pekerjaan atau apa pun yang kita lakukan, maka itulah saatnya kita perlu benar-benar meninggalkan pekerjaan itu. Buat saya, yang terpenting adalah bersenang-senang. Melakukan pekerjaan dengan rasa cinta akan membuat kita mengupayakan hasil kerja terbaik. Dengan kesenangan itu pula kita jadi punya autentisitas. Berkarya dengan jujur, berkontribusi sepenuh hati,” tutup Arawinda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.