Florence Welch: Luapkan Ketakutan Dalam Buku Puisi

florence welch interview elle indonesia

Selama satu dekade terakhir, Florence Welch bertransformasi dari seorang pemberontak melawan aturan-aturan kelompok “The Machine” hingga menjadi pemegang kendali. Ia bercerita kepada Yrsa Daley-Ward bagaimana ia telah ‘menaklukkan’ iblis dan menemukan harapan. Simak kisah perempuan yang menjadi cover kami untuk edisi Januari 2019.

Florence Welch pertama kali muncul di scene musik London Selatan pada tahun 2008 dalam kabut hedonisme, rambut merah dan glitter sebagai frontwoman dari band indie Florence + The Machine. Hari ini, satu dekade kemudian, band tersebut telah memiliki tiga album multi-platinum dan sejumlah penghargaan dari Grammy, BRIT, dan MTV. Pada musim panas tahun 2018, Florence + The Machine merilis album keempat, yang berjudul High as Hope.

Saat tengah menggarap album terbarunya (yang keempat), Florence menemukan makna baru tentang arti kejujuran dan keterbukaan, kemudian mengungkap ‘iblis-iblis’ yang melucuti hidupnya saat ia menggambarkan perjuangannya melalui lagu. Album yang dirilis di musim panas silam ini juga bertepatan dengan lahirnya buku pertama yang bertajuk Useless Magic: Lyrics and Poetry (Anda bisa menemukan segala catatan harian dan gambar-gambar karyanya tersebar di seluruh halaman buku ini). Dalam buku ini lah vokalis berusia 32 tahun ini berjanji kepada pembacanya, ‘You can have everything’.

Inspirasi awal menulis buku:

“Saat itu saya harus melalui sebuah perubahan gaya hidup; saya berhenti mengkonsumsi alkohol. I was a party monster dan kala itu sampai ke momen di mana saya hanya berulang kali menghancurkan diri sendiri. Yang paling menakutkan yaitu saya terbiasa berpikir bahwa yang membuat saya menjadi kreatif adalah karena saya seorang hedonis besar. Namun pada akhirnya, semakin susah untuk menulis musik karena saya terkungkung dalam rasa sakit yang begitu dalam dan apapun yang saya tulis hanya tentang ‘How do I get out of this trap?’. Tema tulisan saya kala itu hanya; ‘I’m stuck, I’m fucked, I don’t know how to make this stop. Help, help, help!’. Saya baru saja menghentikan ketergantungan alkohol sesaat sebelum menggubah lagu How Big, How Blue, How Beautiful. Untuk menunjukkan sisi diri ini pada dunia (sesuatu yang sangat menakutkan untuk saya sendiri), dan mengetahui orang-orang menerimanya dengan cinta dan tangan terbuka, dan mendengar mereka bersama-sama menyanyikannya — semua itu adalah sebuah proses  ‘pembersihan’ bagi saya. Lalu saya sadari bahwa pemikiran saya kian terbuka, kemudian mulai menulis dan menumpahkan segalanya.”

Perasaan ketika menulis buku:

“Yang telah saya temukan adalah (sama dengan musik) puisi menjadi sebuah tempat aman untuk menumpahkan berbagai kejujuran. Anda juga pernah mengatakannya; “If you’re afraid to write it, it’s a good sign.” Tentunya dengan beberapa lagu yang saya tulis di album ini, ya, saya merasa sangat takut. Saya merasa apa yang saya lakukan saat itu sangatlah mengerikan, terlebih sebelum Hunger dirilis.”

florence welch interview elle indonesia

Busana: GUCCI

 

Perbedaan antara menulis buku dengan mencipta lagu:

“Bagi saya, menyanyi adalah suatu kegiatan yang sangat reverential. Saya tidak religius, tapi saya selalu merasakan ketenangan tiap kali bernyanyi.”

Inspirasi ketika menggubah karya (musik):

“Saya mengingat kembali masa kecil, which was chaotic; kematian dan perceraian, dan kehilangan fungsi dan struktur dalam keluarga, yang mengakibatkan kehampaan jiwa… Kini saya telah melakukan menulis lagu untuk sepuluh tahun. Dan tiap menggubah sebuah lagu, saya mampu merasa bangga pada diri sendiri dan berkata ,”Yeah, I’m co-producing this one.” Saya bukan orang yang emosional, tapi seringkali ‘keganasan’ terbawa keluar karena musik atau lirik yang saya nyanyikan, dan kadang membuat saya terkejut.”

Tentang menjadi headliner berkelamin perempuan:

“Suatu hal yang menarik, karena tiap saya tampil, saya tidak tahu apakah saya ‘si perempuan’ atau ‘si laki-laki’. Anehnya, seolah kedua gender berjingkrakan bersamaan. Saya pikir sisi maskulin dan feminin sesungguhnya ada di dalam tiap individu. Saya tidak tahu energi apa yang saya rasakan tiap berada di atas panggung, it seems almost genderless.”

(Foto: DOC. ELLE; photography QUENTIN JONES styling DONNA WALLACE text MIRANDA BRYANT)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *