Jefri Nichol Bergerak Dinamis Lewat Sinema

elle indonesia januari 2021 young talent - jefri nichol - photography raja siregar - styling ismelya muntu - editor rianty rusmalia - cover

Lewat jalur seni peran, Jefri Nichol hendak membuktikan tidak ada kemustahilan dari teguhnya hati yang diiringi kerja keras. Ia bertekad untuk memajukan perfilman Indonesia.

Menjadi anak muda tidak selalu mudah. Yang pernah muda pasti paham bagaimana rasanya; menjadi asing di tengah dunia baru, menjadi seseorang yang diharapkan punya prestasi, meraba- raba siapa dan apa yang cocok untuk kita, serta menemukan jalan agar suara dan aksi kita didengar dan diapresiasi. Dunia bergerak kian cepat. Dan anak muda tak mau ketinggalan ambil peluang. Bergerak dinamis, menyongsong peluang dengan suka cita. Barangkali itu sebabnya saya menyambut Jefri Nichol dengan antusias. “Apa kabar? Terakhir bertemu persis beberapa minggu sebelum pandemi. Senang sekali bisa kembali bekerja sama dengan ELLE,” ia menyapa ramah.

Jefri Nichol mengawali percakapan dengan bercerita bagaimana ia dibuat lelah akibat pandemi. “Sewaktu awal Covid-19 muncul dan pekerja film belum diperbolehkan syuting, rasanya jenuh banget. Kejemuan itu akhirnya membuat saya letih sekali. Ada kalanya saya sangat lelah membalas satu per satu pesan WhatsApp yang masuk. Saya memang merasa kurang cocok dengan gaya komunikasi virtual. Lebih asyik bertemu dan mengobrol langsung.” Jefri Nichol lantas berkata bahwa ia senang bisa menyelesaikan syuting di masa transisi Pembatasan Sosial Berskala Besar. “Judulnya Dear Nathan Thank You Salma. Yang cukup sulit dari syuting di masa pandemi adalah menciptakan chemistry di saat kita harus menjaga jarak dengan orang lain. Beruntung sebelumnya saya sudah pernah bekerja sama dengan Amanda Rawles di Dear Nathan dan Dear Nathan Hello Salma,” kisahnya.

Jefri Nichol for ELLE Indonesia January 2021
photography RAJA SIREGAR styling ISMELYA MUNTU wardrobe BALENCIAGA grooming PHILIPE KARUNIA hair AILEEN KUSUMAWARDHANI

Saat usianya 13 tahun, Jefri Nichol ditemukan seorang pencari bakat. Ia diajak ikut casting sinetron, namun selalu tidak lolos. “Sempat ingin mundur karena merasa sepertinya seni peran dan industri hiburan bukan tempat saya. Sampai akhirnya datang kesempatan lain yang mengubah jalan hidup,” ujarnya. Jefri Nichol memulai debutnya di layar lebar lewat film Pertaruhan (2017). “Keterlibatan dalam film inilah yang bikin saya jatuh cinta dengan industri perfilman. Saya juga tidak mungkin tidak menyebut nama Yayu Unru sebagai sosok yang sangat berpengaruh terhadap kecintaan saya pada seni peran. Beliau banyak membantu saya belajar memerankan beragam watak manusia,” ujarnya.

Nichol begitu antusias bicara soal film. Ia bahkan ingin mempelajari prosesnya serta tertarik pada penyutradaraan dan penulisan naskah. Aktor senior sekaligus acting coach Yayu Unru mengakui kesungguhan aktor muda ini pada film. “Beberapa tahun terakhir, banyak orang di industri film gelisah karena belum banyak generasi baru yang berbakat bermunculan, sedangkan aktor-aktor yang hebat kini tidak lagi muda. Kehadiran Jefri Nichol menjawab kekosongan itu. Sosoknya menjadi angin segar. Ia senantiasa merawat dan melatih bakatnya secara terus-menerus. Nichol menunjukkan cinta yang besar pada profesi dan selalu lapar akan pemahaman-pemahaman baru dari hakikat seni peran. Tentu kita semua berharap akan banyak berdatangan ‘Nichol’ baru di industri perfilman Indonesia,” kata Yayu Unru saat saya hubungi melalui telepon.

Jefri Nichol for ELLE Indonesia January 2021
photography RAJA SIREGAR styling ISMELYA MUNTU wardrobe BALENCIAGA grooming PHILIPE KARUNIA hair AILEEN KUSUMAWARDHANI

Setelah Pertaruhan, laki-laki kelahiran tahun 1999 ini menjadi pemeran utama dalam Dear Nathan (2017). Film yang mengantarkan Jefri Nichol menjadi nominasi Pemeran Utama Pria Terpuji di Festival Film Bandung 2017 sekaligus memperoleh penghargaan Aktor Pendatang Baru Terpilih di Piala Maya 2017. Ia kemudian terlibat dalam beberapa judul lainnya: Jailangkung (2017), One Fine Day (2017), Surat Cinta untuk Starla (2017), Something in Between (2018), Dear Nathan: Hello Salma (2018), DreadOut (2018), Hit & Run (2019), dan Bebas (2019) karya sutradara Riri Riza.

“Saya beruntung bisa berada di masa-masa kejayaan film Indonesia sekaligus dapat bekerja sama dengan orang-orang yang berdedikasi tinggi. Yang harus digarisbawahi, saya sangat mencintai profesi ini. Senang dan bangga rasanya bisa ambil bagian untuk ikut mengembangkan perfilman Tanah Air. Dan sebagai generasi muda, sudah semestinya saya memanfaatkan letupan semangat dan gairah tinggi dalam perjalanan yang baru dimulai ini dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Jefri Nichol for ELLE Indonesia January 2021 photography RAJA SIREGAR styling ISMELYA MUNTU wardrobe BALENCIAGA grooming PHILIPE KARUNIA hair AILEEN KUSUMAWARDHANI
Jefri Nichol for ELLE Indonesia January 2021
photography RAJA SIREGAR styling ISMELYA MUNTU wardrobe BALENCIAGA grooming PHILIPE KARUNIA hair AILEEN KUSUMAWARDHANI

Satu bulan menuju tahun yang baru, Nichol menyatakan antusiasnya pada apa yang mungkin terjadi di tahun 2021. “Selalu optimis bahwa semua akan baik-baik. Mudah-mudahan Jakarta, City of Dreamers bisa segera tayang di bioskop. Sebuah film karya sutradara Ertanto Robby Soediskam. Di sini ini saya berperan sebagai anak muda yang mencoba segala cara agar bisa menjadi aktor,” ujar Nichol yang lantas mengungkap keresahannya soal dampak pandemi terhadap industri film. Bahwa banyak orang telah mengubah kebiasaannya dalam menonton film yang tidak lagi membuat penonton merasa perlu ke bioskop.

“Kita duduk di dalam satu ruangan bersama orang-orang asing, dengan pencahayaan dan tata suara maksimal, untuk fokus menonton film. Ini sesuatu yang sulit tergantikan. Saya suka banget dan nyaris setiap hari nonton Netflix. Namun bagi saya, apa pun zamannya, keberadaan bioskop amat penting sebagai bagian dari industri perfilman,” pungkas Jefri Nichol.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.