Kisah Nicolas Ghesquière Di Balik Mode Louis Vuitton

Saat Nicholas Ghesquière bergabung dengan Louis Vuitton pada 2013, pertanyaan mencuat tentang apa yang akan ia lakukan untuk mengelevasi wajah salah satu rumah mode asal Prancis yang paling disegani? Sang desainer menjabarkannya untuk kami.

Untuk pagelaran Louis Vuitton SS19 yang dihelat malam hari, Ghesquière meminta desainer panggung Es Devlin untuk membuat sebuah struktur tubular bercahaya yang merubah jalanan berbatu Cour Carèe menjadi sebuah ruang di dalam sebuah pesawat luar angkasa. Efeknya: futuristis dan tidak tertambat oleh waktu. Seperti tengah menyaksikan show di dalam mimpi.

Begitu pula dengan koleksi busana yang ditampilkan – membalut esensi masa lalu dan masa sekarang pada saat bersamaan, dengan elemen era ’80-an di atas material high-tech, lengan baju bergaya astronot dan motif Memphis. Coba analisa look pertama yang ia suguhkan di runway: Dominican model, Ambar Cristal Zarzuela, berjalan mengenakan atasan menggembung berwarna turkuois dan coklat dengan sepasang sepatu bot berbahan kulit dengan renda tali dari atas ke bawah. Seperti wujud lakon utama perempuan dari serial Mad Max bercampur dengan Victorian schoolgril dan pilot dari film Star Wars. Seolah tahun 1900, 1980, dan 2080 secara bersamaan bercampur baur menjadi sebuah siluet yang menjadi signature bagi tiap desain Ghesquière.

It’s about a world where imagination is endless,” Ghesquière menjelaskan, dalam balutan plaid shirt warna biru tua, janggut pendek, dan senyum yang lepas, saat saya menjumpainya di Milk Studio di New York ketika ia tengah difoto bersama seorang teman dan muse, Michelle Williams, untuk ELLE. Menurut Ghesquière, referensinya akan science fiction di tiap desainnya bukan mengartikan sebagai fantasi untuk lari dari kenyataan, namun lebih seperti sebuah visi akan estetika kehidupan yang dalam waktu dekat akan menghampiri kita. A world that is almost already here.

Dalam 20 tahun terakhir – berawal di Balenciaga dan kini di Vuitton – ia telah membentuk diri sebagai sebuah visioner yang bersahaja. Ia telah bergabung di Louis Vuitton selama lima tahun, dan ia menikmati perannya, merangkul imaji playful  dan referensi pop-culture dari masa mudanya (isi Instagramnya mencakup kombinasi dari Star Wars memorabilia, kaus-kaus heavy-metal, dan dua anjing labrador hitam miliknya).

Anda akan menyadari kunci kesuksesan Ghesquière adalah bahwa ia terobsesi. Ia senantiasa terpaku pada sebuah imaji, ide, atau bentuk, dan tidak bisa melepasnya. Saat ia tumbuh besar di desa Loudon, Prancis Barat, ia memenuhi dinding kamar dengan poster-poster dari seluruh superhero, termasuk Wonder Woman, yang menjadi superhero favoritnya. “You know that adolescent room, di mana Anda menempatkan obsesi Anda di sekujur dinding. Sepertinya kamar itu tidak pernah hilang dari kepala saya.”

Layaknya sebuah kamar remaja yang dipadati bermacam-macam wujud semangat, koleksi Ghesquière kini nampak seperti moodboard yang dijahit dari bentuk yang beragam. Ia menyebut fase ini sebagai “a proper life collage“, yang ia bandingkan dengan momen saat menemukan menu baru di dapur yang di mana pantry-nya selalu diisi oleh minat-minat idiosyncratic-nya, “Always a different meal, but with exactly the same ingredients.” Di tangan yang kurang terampil, referensi science fiction itu bisa menyimpang dari arus seni, namun Ghesquière menghindarinya dengan tenang, mewujudkan desainnya bukan seperti kostum, melainkan lebih seperti ‘a suit of armour’.

Ia menjadikan show terakhirnya sebagai sebuah persembahan bagi keberanian perempuan. Ia menjelaskan pada saya bahwa ia ingin perempuan menjadi berani dan tegas saat mengenakan desainnya. “I look up to women as heroines – di masa kecil saya hingga kini. Jadi sudah pasti ada maksud di balik semua desain saya untuk membawa kekuatan ke dalam perempuan. Superpowers.”

Figur-figur yang duduk di front-row tiap show-nya menjadi ‘wasiat’ dari ideologi ini – terdiri dari para perempuan pintar, berbakat, dan ulung dari masing-masing generasi: Jennifer Connelly, Catherine Deneuve, Alicia Vikander, dan tentu saja, Michelle Williams. Ia menganggap Williams – yang telah menjadi ambasador untuk Vuitton selama lebih dari lima tahun – sebagai sosok masa kini yang setara dengan superheroines yang ia tempel di dinding kamarnya sewaktu ia kecil. “Di awal saya bergabung dengan Vuitton, saya sangat bahagia dan bersemangat saat bisa bertemu dan bekerjasama dengannya. The way she welcomed me was so warm,” Ghesquière mengingat.

michelle williams louis vuitton

Baginya, pemakai busana adalah kunci. Koleksinya meningkatkan dan memberanikan diri si pemakai: “Pertama, saya mendesain dengan insting, sebuah intuisi untuk memesonakan sesuatu. Jadi saya menggambar, dan di satu titik saya akan berhenti dan berpikir, apakah misalnya, Williams akan menyukai busana ini? Mungkin saya bisa berbincang dulu dengannya sebelum menyelesaikan desain ini.” Sebuah sentimen yang tumbuh di usia dini – tumbuh besar dari ayah yang bekerja sebagai manager sebuah golf-course, dan ibu yang mencintai fashion, Ghesquière menumbuhkan ketertarikan pada material baju dan bagaimana cara terbaik untuk mewujudkan sebuah siluet, dan bagaimana kemampuan siluet ini untuk berhasil menjadi karakter milik seseorang.

Ghesquière memuji Jean Paul Gaultier (ia pernah menjadi asisten untuk sang desainer legendaris di awal tahun ’90-an) yang mengajarinya untuk “not be afraid to destroy something in order to build something new“. Rasa haus yang besar terhadap kemampuan berinovasi ini membuatnya cocok beradaptasi di Balenciaga, di mana ia menjadi direktur kreatif dari 1997 hingga 2012 dan berhasil memperkenalkan siluet top-heavy yang mendominasi generasi noughties (celana slender, atasan bervolume, sweatshirts berlengan kepompong). Penemuannya di usia 25 tahun tersebut cukup membawa kejutan pada rumah mode tersebut. Namun itu membuktikan sebuah kecocokan yang sempurna, label Prancis itu awalnya merasa usang dan remang, lalu desain Ghesquière yang playful dan akurat pun membangkitkan lini Cristóbal Balenciaga. Dalam satu musim, desainer muda tersebut berhasil mengembalikan napas rumah mode yang telah lama bergantung pada peralatan penopang hidup.

louis vuitton

Saat Ghesquière bergabung di Vuitton di tahun 2013, banyak yang bertanya akan aksi yang akan ia lakukan dengan luxury brand yang meliput koper dan perlengkapan traveling dalam sejarah dan DNA-nya. Namun Ghequière, desainer kedua yang bertanggung jawab untuk women’s apparel di LV setelah Marc Jacobs, mengambil tugas ini dengan cepat dan tepat. Untuk SS19, ia menanamkan Vuitton dengan gaya formal khas-nya, tetapi membiarkan imajinya melayang layaknya seorang globetrotter, and beyond – mengeskplorasi berbagai dunia dan gaya yang berbeda. “It’s not casual,” ia menyatakan tentang estetika busana Vuitton. “Tapi juga tidak kaku. Anda harus memikirkan bagaimana si pemakai busana ini mampu bergerak dan ‘tinggal’ di dalam busana ini.”

Ia mulai memikirikan masa depannya. Suatu hari ia mungkin akan mendirikan label dengan namanya sendiri. Tapi saat ini, ia sangat berbahagia di tempatnya. Di ranah fashion, ia seorang monogamis – tinggal di sebuah rumah mode untuk waktu yang terhitung lama, membiarkan dirinya berkembang. Ia membiarkan waktu merubahnya, merenungkan apa yang ia olah, membiarkan wujud obsesinya matang hingga ke titik didih. “I am a slow thinker,” ucapnya. “Biasanya saya membutuhkan waktu lama untuk memproses informasi. I want to create a desire, something that people love.”

Nicolas Ghesquiere Louis Vuitton

(Photo: DOC. ELLE; photography MARIANA MALTONI; styling ANNE-MARIE CURTIStext RACHEL SYME)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *