Mengapa Dunia (Mudah) Jatuh Cinta dengan Michele Williams?

michelle williams louis vuitton

Kesenjangan upah yang ia terima saat dibandingkan dengan Mark Walbergh dalam film barunya tak membuat dunia melirik kasihan, justru kian jatuh hati pada Michele Williams. Satu dari sekian banyak alasan untuk Louis Vuitton menjadikannya seorang panutan mode dari Hollywood.

Michelle William tidak menggunakan Instagram. Tapi, bukan berarti ia meremehkan Instagram. Sahabatnya, Busy Philipps, merupakan aktris sekaligus pakar dalam mengolah Instagram Stories yang dipertontonkan ke 1.5 juta followers-nya. Berkat keahlian tersebut, sahabatnya mendapatkan kontrak pembuatan buku, dan ditunjuk sebagai pemandu acara talk show pribadi di E!. Meski bersahabat dengan Philipps, tetap saja, Williams kurang mahir dalam menggunakan Instagram.

“Saya tetap belum memahami bagaimana cara menggunakan media sosial sebagai alat untuk menjadikan diri saya lebih baik, atau untuk menemukan sesuatu yang menginspirasi,” ucapnya. Alih-alih, ia bergantung pada Philipps untuk senantiasa mengiriminya pesan melalui ponsel tentang berita-berita penting setiap hari so she can stay in the loop. 

ELLE duduk bersama dengan Williams pada suatu pagi musim gugur di New York. Lokasi pertemuan kami berada di sebuah pojok tempat makan yang berada di Marlton Hotel di area Greenwich Village. Ditemani secangkir cappucino, Williams mengenakan celana panjang hitam high-waisted dan jumper motif garis-garis. Dengan potongan rambut bergaya pixie cut, ia sekilas mirip dengan perpaduan antara Marcel Marceau dan Audrey Hepburn. Ia memilih tempat pertemuan ini karena menyukai sejarahnya (dibangun di tahun 1900, hotel ini dulunya menjadi lokasi hangout bagi para sosok urban bohemian seperti Edna St Vincent Millay dan Jack Kerouac).

“Saya bukan orang yang piawai teknologi,” lanjutnya. “Saya tumbuh besar menyukai Ralph Waldo Emerson, Walt Whitman dan Henry David Thoreau. Mereka meninggalkan ‘bibit’ puisi yang masih dapat dinikmati hingga kini. Namun bibit-bibit itu tidak tumbuh di internet.” Kemudian ia terdiam dan tersenyum saat menyadari bahwa ia tidak sengaja baru saja membandingkan dirinya yang tidak memiliki akun Twitter dengan kehidupan Henry David Thoreau yang tinggal seorang diri di sebuah kabin kayu. “Memang agak konyol untuk tidak memahami tentang sesuatu yang telah mengambil alih dunia,” ujarnya menghela napas. “Saya pikir, I don’t relate to it, which probably makes me irrelevant.”

It doesn’t. Sesungguhnya, setelah satu jam mendengarnya bercerita tentang filosofi hidup yang ia anut, saya justru tergoda untuk membuang peralatan digital saya ke sungai. Di zaman yang penuh kebisingan dan pembagian informasi yang berlebihan, Williams memilih untuk membatasi diri. Kini ia menjadi salah satu dari sedikit aktor di Hollywood yang memiliki aura penuh misteri.

michelle williams louis vuitton

 

Kini di usianya yang ke-38, Williams berperan sebagai seorang ibu bekerja dari anak perempuannya, Matilda (anaknya bersama mendiang Heath Ledger yang kini berusia 13 tahun). Ia tengah membintangi sebuah serial televisi pertamanya, memerankan Gwen Verdon, seorang penari Broadway legendaris yang menikah dengan koreografernya yang diperankan oleh Sam Rockwell.

Serial ini bertitel Fosse/Verdon. Acara ini diproduseri oleh penggagas Hamilton, Lin-Manuel Miranda, dan memiliki komitmen produksi yang cukup berat meliputi latihan harian di Juilliard Performing Art School di New York. Tepat setelah kami bertemu, ia berkata bahwa akan mengambil ‘giant dance bag‘ dari mobilnya dan menuju sebuah studio di Midtown, di mana ia akan berganti kostum mengenakan celana ketat (dan bahkan sebuah bowler hat) dan kemudian menari-nari dengan irama Mambo.

Ketertarikan Williams untuk ‘melompat’ masuk ke dalam kehidupan orang lain bermula di kala usianya masih 10 tahun, saat ia berdandan sebagai seorang perempuan tua untuk Halloween. Keluarganya baru saja pindah dari Kalispell, Montana, ke San Diego, California. Kala itu ia masih berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Bermain dress-up membuatnya merasa kuat dan mampu beradaptasi dengan perubahan. “Bagaimana rasanya memakai pakaian yang biasa dikenakan orang lain? Bagaimana cara pakaian ini merubah saya? Bagaimana cara rambut palsu ini merubah saya? Bagaimana cara gaya berjalan ini merubah saya? Tumbuh besar, hal itu telah menjadi sebuah konsep yang paling saya minati – sebuah transformasi.”

Setelah ikut ambil peran dalam sebuah produksi teater lokal, Williams meyakinkan orangtuanya untuk mengirimnya ke Los Angeles agar dapat mengikuti audisi yang lebih besar. Ia berhasil mendapatkan peran pertamanya saat berusia 13 tahun di sebuah episode Baywatch (ia harus berlarian di pantai mengenakan bikini, yang hingga kini ia tak pernah lakukan lagi di depan kamera). Di usia 15 tahun, ia tampil di beberapa serial televisi dan film. Akhirnya ia pun pindah ke Los Angeles dan menyelesaikan Sekolah Menengah melalui proses surat menyurat.

michelle williams louis vuitton

 

Di usia 17, ia lolos casting sebagai Jen Lindley di sebuah serial televisi remaja Dawson’s Creek, yang ia tak pernah sadari bahwa serial itu akan menjadi sebuah ledakan internasional dan wajahnya akan menghiasi begitu banyak dinding kamar remaja dalam bentuk poster. Banyak aktor yang mengalami fenomena tersebut di usia dini dan menghabiskan hidupnya untuk mengejar hal itu untuk dapat terulang. Namun Williams memiliki reaksi berbeda. Ia memahami nilai kepopuleran itu. Walau bayarannya waktu itu sangat lebih dari cukup, namun ia sangat mengerti akan limitasi menjadi seorang selebriti.

Malahan, ia memutuskan untuk menjalani sebuah pekerjaan yang paling menantang bagi dirinya, yang mendorongnya untuk merasa lebih empati. Ia pindah ke New York di usia 19 tahun dan mencintai perannya di Killer Joe, sebuah pagelaran off-Broadway. Sejak itu, ia tidak pernah kembali ke Los Angeles.

Lebih dari dua puluh tahun, ia senantiasa memilih tawaran peran yang mendorongnya ke level baru. Di tahun 2005, ia memerankan Alma Beers del Mar, seorang istri dari suami homoseksual di Brokeback Mountain. Di film ini ia berperan bersama Ledger dan mereka mulai berkencan di lokasi syuting. Untuk peran ini, ia mendapat nominasi Oscar dan hadir di red carpet mengenakan gaun kuning mustard rancangan Vera Wang, yang menjadi ikonik karenanya.

Tak lama, Williams kembali berperan sebagai Charlie Kaufman, seorang penulis dan sutradara absurd di Synecdoche, New York. Ia pun pernah bekerja untuk sutradara legendaris, Martin Scorsese, di film Shutter Island, lalu berperan bersama Ryan Gosling di Blue Valentine. Di tahun 2011, ia ‘berbelok’ lagi, mengambil tugas glamor menghidupkan kembali Marilyn Monroe di My Week with Marilyn.

michelle williams louis vuitton

 

Ia bercerita pada saya, bahwa ia sangat mencintai perannya sebagai Sally Bowles, yang dia perankan di sebuah re-make show musikal, Cabaret. Ia masih menyimpan sepatu yang ia kenakan saat di panggung – delapan kali show seminggu dalam satu tahun – yang ia simpan di sebelah perapian rumahnya di Brooklyn. “They’re my prized posession,” ia berujar. “Kalau rumah saya kebakaran dan saya bisa mengambil satu barang, I’m taking those grimy shoes.”

Ia juga berkisah bahwa dunia teater adalah tempat di mana ia betul-betul belajar untuk ‘hadir’ di pekerjaan. Melakukan live show, ia berkata, “Anda mampu menganalisa apa yang telah dilakukan – if you were on it or off it, if you caught the wave or you didn’t. Dan Anda dapat menganalisanya lagi esok hari. You get to continually refine your experience of the performance, which affects the audience’s experience, and that energetic transmission between the two is what’s so satisfying. In fact, itu hal yang saya sangat sukai dalam menjadi orangtua. It’s the thing that all humans like about being in human relationships.”

Pendekatan reflektif terhadap pekerjaan seperti ini merupakan hal yang Williams bagi bersama Nicolas Ghesquière, sang direktur artistik Louis Vuitton. Hubungannya dengan rumah mode tersebut telah lama terjalin, and it’s the perfect fit – kreasi-kreasi Ghesquière yang pintar dan out-of-this-world, berdentang harmonis dengan karakter Williams. Sang artis tampak memahami bahwa agar ia mampu memberikan semuanya untuk berakting di depan kamera, ia perlu me-maintain jarak yang sehat dari seluruh dunia.

Tahun lalu, Williams menikah dengan Phil Elverum, vokalis dari band Mount Eerie. Ia berpindah rumah (walaupun tetap di area Brooklyn), dan ia tengah bekerja lebih keras dibanding sebelumnya. Ia bahkan tampil di beberapa film blockbuster seperti film produksi Marvel, Venom, dan juga berakting di peran komedik pertamanya sebagai seorang editor killer sebuah majalah di I Feel Pretty.

michelle williams louis vuitton

 

Di era #MeToo movement saat ini, ia pun ‘merangkul’ figur dirinya sebagai seorang perempuan berpengaruh yang bekerja di Hollywood, yang aksinya mampu menjadi contoh untuk orang lain. Di tahun 2017, setelah tuduhan pelanggaran seksual terhadap Kevin Spacey menjadi skandal dunia dan mengakibatkan sang aktor dikeluarkan dari produksi film All The Money in the World, rumah produksi kemudian meminta Williams dan co-star Mark Wahlberg untuk kembali bekerja untuk syuting beberapa scene setelah skandal mereda. Williams mengambil USD1,000 untuk upahnya, dengan asumsi Wahlberg pun menerima nilai yang sama.

Kemudian saat ia mengetahui bahwa Wahlberg dibayar sebesar USD1,5 milyar untuk pekerjaan yang sama, ia pun berbicara di depan umum tentang kesenjangan itu. “Saya merasa memiliki sebuah tanggung jawab akan hal ini,” ia menjabarkan. “Sangat menggembirakan dan bermanfaat saat saya mendengar dari banyak perempuan lain tentang hal ini; bagaimana mereke mendengar masalah saya kemudian memberikan sebuah contoh untuk meminta solusi akan hal ini, dan untuk dapat menginstitusikan perkara serupa di dalam skenario lainnya. Hal ini telah menjadi sebuah kejadian yang sangat rewarding tidak hanya untuk karier saya, tapi juga untuk hidup saya sendiri. Karena sebelumnya saya merasa sangat helpless, and now I feel helpful.”

Walau begitu, Williams tetap tidak merasa telah menjadi seseorang yang ‘powerful’. “‘Power’ is such a funny word; I never really felt connected to it,” ujarnya. “Mungkin karena di saat saya mampu melihatnya beberapa kali, hal itu disalahgunakan. Karena sering dimanfaatkan secara negatif, ‘power’ tidak pernah menjadi sesuatu yang saya inginkan seperti yang seringkali saya lihat. Jadi saya pikir telah terjadi semacam definisi ulang tentang makna ‘kekuatan’. I guess I could call it power, atau hanya semacam kemampuan untuk menyokong keluarga in a meaningful way. Kemampuan untuk memastikan bahwa lingkungan kerja kini aman dan adil, kemampuan untuk dapat beraksi bukan dari lokasi yang penuh ancaman.”

michelle williams louis vuitton

 

Williams kini mampu memilih segala arah karier dari lokasi yang membahagiakan dan berani. Ia telah setuju untuk berperan sebagai Janis Joplin di sebuah biopik baru, sebuah peran yang ia impikan selama beberapa tahun. “Joplin sangat bijaksana di usia muda, dan apa yang keluar dari mulutnya saat itu was ahead of her time,” Williams bercerita. “It’s a voice that should be re-revealed. She gender-bended. Publik menyukai cerita andogini di saat itu adalah seorang laki-laki yang menjadi perempuan, tetapi tidak memiliki simpati yang sama kalau itu adalah seorang perempuan yang mewujudkan sisi maskulinnya. I’d like to go into that.

Ia juga terikat pada sebuah film di mana ia akan memerankan seorang aktivis yang memerangi aborsi di kota Chicago tahun ’60-an. “Peran ini tidak akan mampu saya lakoni lima atau sepuluh tahun lalu. Luasnya pandangan terhadap peran ini seolah sebuah tekanan yang tidak akan mampu saya hadapi.” Ia mencoba untuk mengimbangi semuanya – cerita perempuan intelek dan ‘berbobot’, serial televisi yang ringan, mewujudkan figur ikonik musisi rock – dengan membiarkan dirinya ‘diam’ saat tidak berada di lokasi syuting. Tahun ini, ia akan tampil berhadapan dengan Billy Crudup dan Julianne Moore di After The Wedding, film tentang seorang perempuan yang mengurus sebuah panti asuhan di India, yang harus melakukan perjalana ke New York untuk bertemu dengan seorang benefactor. Saat syuting di India, ia jatuh cinta pada Upanishads – teks-teks Sansekerta kuno yang berisi beberapa konsep filosofis sentral dan metode-metode Hindu. “I was really into it. ‘Relent and enjoy’ is what Ghandi said, yang menjadi rangkuman terakhirnya. Wait, no. It was ‘renounce and enjoy’ (tanggalkan dan nikmati),” ia mengingat.

Saya bertanya apa yang kira-kira harus ia tanggalkan? Ia terdiam sejenak, menyeruput kopi, lalu menjawab dengan satu kata: “attachment“. Ini nampak seperti teori kehidupan bagi Williams. Ia senantiasa bergantung seutuhnya pada sebuah peran, dan membiarkan peran itu menyerap jiwa raga dan membungkusnya utuh menjadi satu figur baru. Namun kemudian, just like that, she lets it go.

(Photo: DOC. ELLEphotography MARIANA MALTONIstyling ANNE-MARIE CURTIStext RACHEL SYME)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *