Michelle Obama: Kehidupan Di Luar Gedung Putih, Diskusi Bersama Oprah Winfrey

michelle obama - oprah winfrey - elle indonesia

Michelle Obama dan Oprah Winfrey bertatap muka. Dua perempuan paling berpengaruh di Amerika Serikat ini berdiskusi tentang banyak hal,

Kehidupan di luar Gedung Putih, rupanya tidak pernah biasa bagi Michelle Obama. Ia tetap seorang role models bagi sebagian besar masyarakat, Amerika Serikat maupun dunia.

Michelle Obama kemudian merilis sebuah buku berjudul Becoming. Dalam tulisannya, ia menjabarkan riwayat hidupnya–masa muda hingga menjadi Ibu Negara Amerika Serikat dan kini kembali menjadi warga negara Amerika Serikat ‘biasa’ setelah menjalankan tugasnya mendampingi sang suami, Barack Obama di Gedung Putih.

Saat bertemu Oprah Winfrey beberapa waktu lalu, Michelle Obama membicarakan tentang tulisannya. Lebih dari itu, ia berterus terang tentang hari-harinya bersama Barack Obama, termasuk berbagai ancaman bagi hidup anak-anaknya. Dua perempuan ini kemudian larut dalam perbincangan sarat inspirasi, yang kami narasikan untuk Anda.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Michelle Obama (@michelleobama) on

Oprah Winfrey (OW): Buku yang Anda tulis ini sangat lembut dan menarik, sangat kuat dan jujur, sarat akan visi-visi yang membuka mata. Apakah menakutkan menulis tentang kehidupan pribadi Anda?

Michelle Obama (MO): Tidak juga. Jika ada satu hal yang saya sadari adalah orang-orang seringkali bertanya pada saya, “Kenapa Anda bisa begitu otentik?”, “How is it that people connect to you?”. Jawabannya, semua berawal karena saya menyukai diri saya sendiri. Saya menyukai cerita hidup saya dan segala cobaannya. Itu yang membuat diri saya unik. Karena itu saya selalu terbuka pada para staf, anak-anak muda, teman-teman. Dan satu hal, Oprah, suka atau tidak, Barack dan saya adalah role models. Saya tidak pernah suka pada figur yang prominen lalu tiba-tiba memutuskan untuk mundur dan berkata, “Well, saya bukan role model. I don’t want that responsibility.” Terlambat. You are. Young people are looking at you. Dan saya tidak mau anak-anak muda memandang saya dan berpikir: dia tidak pernah susah, tidak pernah punya masalah, tidak pernah punya ketakutan.
OW: Anda betul-betul mengajak pembaca menyelami hubungan kalian berdua (Michelle dan Barack), hingga pada saat ia melamar dan lainnya. Anda juga menulis tentang perbedaan besar antara kalian berdua yang signifikan di awal pernikahan. Anda berkata: “Saya memahami bahwa ia bermaksud baik saat ia mengucapkan “I’m on my way,” atau “Almost home!” Dan untuk sesaat, saya percaya kata-kata itu. Saya menunda waktu tidur anak-anak agar mereka dapat menunggu Ayahnya pulang dan memberikan pelukan hangat.” Seketika Anda pun menulis tentang momen-momen di mana Anda menunggu ia yang tak kunjung datang hingga Anda memutuskan untuk mematikan lampu rumah. Anda naik ke kasur. Anda marah.

MO: Ya, saya marah. Ketika Anda menikah dan memiliki anak, seluruh rencana hidup akan berubah. Apalagi kalau Anda menikah dengan seseorang dengan karier yang melahap segalanya, seperti halnya politik. Barack Obama handal dalam mengajari saya membelokkan berbagai rencana hidup. Saya belum ahli dalam melakukan hal tersebut, namun di saat yang sama kami memiliki dua anak. Saya bersusah payah merangkul segalanya agar tetap dalam jalur, saat Barack bepergian bolak balik dari Washington atau Springfield. Ia sangat optimis terhadap waktu. Ia pikir selalu ada waktu lebih di tiap kegiatan yang ia lakukan. Karena perbedaan ini, ada hal-hal yang harus kami kompromikan sebagai pasangan, seperti konseling.

OW: Ceritakan tentang konseling ini.

MO: Ini adalah sarana untuk mengeksplor rasa bahagia saya. Saya tahu bahwa saya membutuhkan dukungan, sebagian besar dari Barack. Tapi saya juga butuh panduan bagaimana cara membangun kehidupan yang sesuai dengan pemikiran saya.

OW: Apakah Anda merasa memiliki beban, sebagai keluarga kulit hitam pertama yang tinggal di Gedung Putih?

MO: Uh, duh! [Tertawa] Kami merasakan beban itu sejak pertama Barack mencalonkan diri. Pertama, kami harus meyakinkan basis kami bahwa seorang laki-laki kulit hitam mampu memenangkan ini. Bukan hanya memenangkan kepercayaan negara bagian Iowa, tapi harus memenangkan keyakinan rakyat kulit hitam. Karena seperti kakek nenek saya, rakyat kulit hitam sangat pesimis, tidak percaya bahwa hal ini bisa berhasil. Kehidupan mereka sejak dulu menolak konsep keberhasilan ini. Bagi mereka ini mustahil. Maka ketika Barack memenangkan vote di Iowa, rakyat mulai membuka pikiran.

michelle obama elle indonesia - oprah winfrey

Busana: gaun Cushnie, anting Jenny Burd, cincin Dinosaur Design.

OW: Lalu ketika beban dunia berada di pundaknya, dan Anda adalah pundak untuk ia bersandar, bagaimana Anda bersikap?

MO: Saya mencoba menjadi kestabilan di tengah segala perubahan yang ia lakukan. You know, ketika daun tertiup oleh angin kencang, saya berusaha menjadi batang pohon yang mempertahankannya. Makan malam keluarga adalah satu hal yang saya bawa ke Gedung Putih. Sebuah peraturan ketat untuk memiliki waktu bersama keluarga. Walau seorang Presiden, Anda harus tetap memiliki waktu untuk keluar dari Oval Office dan duduk berbagi cerita bersama anak-anak Anda. Karena anak-anak adalah pelipur lara. Mereka mengajak untuk mengalihkan pandangan dari problema hari ini dan hanya fokus untuk menyelamatkan harimau (tujuan utama Malia menyetujui ayahnya menjadi Presiden). Mendengar cerita tentang apa saja yang terjadi di sekolah. Membenamkan diri dalam kehangatan keluarga.

OW: Anda kemudian menulis tentang Donald Trump yang pernah memicu gagasan salah bahwa suami Anda tidak lahir di Amerika Serikat, “Donald Trump, dengan sindirannya yang keras tapi sembrono, telah membahayakan keluarga saya. Untuk ini saya tidak akan pernah memaafkannya.” Mengapa penting bagi Anda untuk mengatakan itu saat ini?

MO: Karena saya pikir ia tidak memahami apa yang ia lakukan. Untuknya, ini hanya sebuah permainan. Tapi ancaman yang Anda hadapi sebagai seorang commander in chief sangat nyata. Dan anak-anak Anda pun menghadapi resikonya. Walaupun anak-anak kami memiliki tim keamanan sendiri, kami tetap menginginkan kehidupan yang normal untuk mereka. Ini membuat saya khawatir bahwa akan ada orang gila yang beraksi terhadap fitnah ini dan membahayakan suami dan anak-anak saya, di kala anak-anak setiap hari harus pergi ke sekolah, pertandingan sepak bola, datang ke pesta, atau bepergian. Saya ingin negara ini memahami, dengan cara yang saat itu mungkin tidak saya ucapkan dengan gamblang, namun kali ini saya menyatakannya. Perlakuan sembrononya membuat keluarga saya berada dalam bahaya, dan itu tidak benar.

Diskusi Michelle Obama bersama Oprah Winfrey secara eksklusif dapat dibaca dalam majalah ELLE Indonesia edisi Desember 2018 (telah terbit), atau melalui situs Oprahmag.com.

(Foto: Photography Miller Mobley, styling Meredith Koop, hair Yene Damtew, makeup Carl Rayproduced by Nathalie Akiya at Kranky Produktions)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *