Nadia Murad: Komunitas Global Perlu Perkuat Komitmen Bersama Lawan Kekerasan Seksual

nadia murad - perempuan dan kekerasan seksual - elle indonesia

Ketika keberdayaan tampak mustahil, peraih Nobel Perdamaian, Nadia Murad, menemukan cara untuk mengatasi tantangan lewat keberanian dan kasih sayang.

Salah satu hak asasi manusia adalah untuk diperlakukan dengan rasa hormat. Namun ketika sebuah genosida yang dipimpin oleh ISIS menghantam komunitas Yazidi di Irak, Nadia Murad bertahan lewat cara yang tidak terpikirkan. Ia adalah salah satu dari sedikit orang yang beruntung untuk selamat dan berhasil melarikan diri kala itu.

Kurang dari dua tahun kemudian, ia meluncurkan Nadia’s Initiative, sebuah gerakan advokasi berupa Lembaga Swadaya Masyarakat bagi para korban kekerasan seksual, sekaligus membangun kembali komunitas masyarakat yang mengalami krisis di Irak. Tahun 2018, dedikasi dan kontribusinya diakui oleh dunia saat ia meraih Nobel Perdamaian, bersama Dr. Denis Mukwege, untuk upayanya dalam mengakhiri kekerasan seksual yang kerap digunakan sebagai ‘senjata’ berperang.

Kepada ELLE, Nadia Murad mengungkapkan tentang kisah kehidupannya serta bagaimana pendidikan dan toleransi menjadi kunci dalam menciptakan perubahan.

nadia murad - perempuan dan kekerasan seksual - elle indonesia

ELLE: Anda meraih penghargaan Nobel Perdamaian. Bagi Anda, apa maknanya?

NM: “Menerima Nobel Perdamaian merupakan kehormatan luar biasa, sekaligus sebuah penghargaan bagi seluruh masyarakat Yazidi dan orangorang yang selamat dari kekerasan seksual. Penghargaan ini menjadi simbol bahwa nilai-nilai kebaikan sudah semestinya unggul dibanding kejahatan manusia. Kendati sulit untuk menerima sebuah Nobel Perdamaian ketika lebih dari tiga ribu perempuan Yazidi beserta anak-anak perempuan tetap berada di tahanan sebagai budak seks ISIS.”

ELLE: Seperti apa kehidupan komunitas Anda di Irak?

NM: “Sepanjang sejarah, orangorang Yazidi telah menjadi sasaran kepunahan sebanyak lebih dari 60 kali. Kebencian terhadap komunitas ini pun telah didokumentasikan. Kami selalu mengetahui bahwa diri kami ialah sasaran. Dan kini, situasi warga Yazidi di Irak sangat memprihatinkan. Dunia harus memahami bahwa hingga semua perempuan dan anak-anak di tahanan dibebaskan dan orang-orang Yazidi kembali ke tanah leluhur mereka, ISIS baru akan menghentikan genosida mereka. Saat ini, sekitar 350 ribu orang Yazidi menetap di penampungan-penampungan internal di wilayah Kurdistan dan sangat kurang akan kebutuhan dasar manusia. Sinjar dihancurkan dan belum direhabilitasi. Masalah ini semestinya menjadi prioritas bagi warga dunia.”

ELLE: Bagaimana kehidupan Anda saat ini?

NM: “Sangat berbeda dari apa yang pernah dibayangkan. Sebagai perempuan muda yang tinggal di Sinjar, saya membayangkan akan membuka sebuah salon kecantikan. Namun, ISIS mengubah kehidupan saya. Saya adalah salah satu dari sedikit perempuan yang beruntung karena berhasil melarikan diri dan sangat bersyukur. Kini, saya menjalani kehidupan yang seutuhnya. Saya telah menemukan cinta dan ingin berdedikasi untuk melakukan advokasi atas nama komunitas Yazidi dan membuat pemerintah mengakui kewajiban moral untuk membangun kembali Tanah Air Yazidi.”

nadia murad - perempuan dan kekerasan seksual - elle indonesia

ELLE: Bagaimana menemukan kekuatan untuk bertahan hidup dan lepas dari trauma?

NM: “Orang sering bertanya, di mana saya menemukan keberanian untuk melarikan diri. Saya hidup dalam sebuah neraka dengan derita yang tidak terbayangkan sehingga berusaha melarikan diri adalah satu-satunya pilihan. Saya lebih baik mati daripada tetap menjadi tawanan.” ELLE: Apa prioritas Anda bagi korban kekerasan seksual? NM: “Keadilan adalah sebuah sarana yang ampuh, dan ini bukan hanya tentang pertanggungjawaban atau hukuman, tetapi juga pengakuan untuk para penyintas. Keadilan merupakan pengakuan hukum atas kebenaran tentang apa yang terjadi pada bangsa saya. Keadilan juga dapat berfungsi sebagai perisai dan mencegah kekerasan terjadi kembali. Yang paling penting, saya percaya keadilan selalu membantu menyembuhkan luka orang-orang yang selamat dengan memvalidasi kisah tiap penyintas.”

ELLE: Dan untuk Nadia’s Initiative?

NM: “Prioritas saya untuk Nadia’s Initiative adalah untuk membangun kembali Sinjar sehingga menjadi roda penggerak bagi orang-orang Yazidi, membuat pemerintah mengakui pertanggungjawaban moral dalam membangun kembali kota dan berkomitmen untuk mengolah sumber daya finansial. Dengan semua ini, membangun kembali Sinjar tidak mustahil.”

ELLE: Apa yang dapat perempuan lakukan untuk membantu perjuangan penting ini?

NM: “Sulit untuk menjawab pertanyaan ini karena seolah menunjukkan bahwa perempuan dapat menghentikan kekerasan. Jika perempuan mau, mereka akan melakukannya. Banyak yang menganjurkan bahwa perempuan perlu berbicara lebih lantang dan mengungkapkan kisah mereka. Karena jika mereka melakukannya, banyak hal akan berubah. Tetapi saya tidak percaya hal ini adalah masalahnya. Para perempuan pemberani dari seluruh dunia hadir untuk menceritakan kisah tragis mereka tentang pelecehan dan kekerasan dengan harapan keberanian mereka akan menginspirasi keadilan dan menciptakan perbedaan, namun nyatanya hal ini jarang terjadi. Apa yang perempuan mampu lakukan adalah hal yang sama seperti yang mampu dilakukan laki-laki— mengangkat suara mereka dalam damai daripada kekerasan. Perempuan mesti dilihat sebagai pasangan yang setara dan menikmati kebebasan dan pilihan yang sama dengan laki-laki.”

ELLE: Perubahan seperti apa yang diperlukan untuk melawan kekerasan seksual pada tingkat global?

NM: “Saya percaya komunitas global harus memperkuat keinginan untuk bersama-sama melawan kekerasan seksual. Hal ini tentu terjadi dalam jangka waktu yang tak pasti, namun kita masih kekurangan kemauan politik untuk menghentikannya. Kita harus mengubah hal ini bersama-sama!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.