Tara Basro: Bebas Dari Perasaan Benci Diri Sendiri

Perempuan bebas menentukan jalan hidup dan memilih kebahagiaannya sendiri. Tara Basro membuka diri, tentang bagaimana komentar negatif membelenggu pola pikir dan menipu jati diri.

Sudah lama sekali saya menonton film yang diperankan aktris Tara Basro. Terakhir tahun 2015, film berjudul A Copy of My Mind yang disutradarai Joko Anwar. Pertengahan tahun 2018 ini, saya menemuinya di sebuah rumah di kawasan Jakarta Selatan. Tara tidak memiliki proyek film baru untuk dipromosikan. Ia sedang mempersiapkan karya terbarunya yang akan dirilis tahun 2019 mendatang. Meski tak ada pemberitaan, pagi itu saya sangat bersemangat menemui perempuan kelahiran 11 Juni 1990 ini.

Selain kiprahnya di dunia perfilman Tanah Air, beberapa kali saya melihat Tara mengunggah foto di akun Instagramnya dengan kutipan-kutipan menarik. Beberapa di antaranya ‘You cannot pour from an empty cup’ dan ‘One of the hardest thing in life is change’.  Terlihat biasa saja? Entahlah. Bagi saya, perempuan ini memancarkan ketangguhan dan kepercayaan diri yang begitu kuat.

Saat saya masuk menemuinya, ia sedang melakukan ‘siaran langsung’ di akun Instagram sambil penata rias merapikan pulasan lipstik di bibirnya. Ia tersenyum sambil melambaikan tangan. Beberapa menit kemudian, saya duduk di dekatnya dan Tara meletakkan handphone di atas meja.

tara basro profile interview elle indonesia

Langit Tidak Selalu Biru

Setelah bercerita soal kabar dan kegiatannya, Tara mengungkapkan rasa prihatinnya pada persoalan kesehatan mental yang kerap dihadapi manusia-manusia di perkotaan. “Saya merasa isu ini begitu penting dan patut disimak banyak orang. Berapa banyak orang yang membahas tentang pentingnya mencintai dan menghargai diri sendiri? Saya berangkat dari pengalaman diri sendiri yang amat sangat menyakitkan,” ujar Tara membuka obrolan.

Tara Basro menghabiskan masa remaja di dunia film. Ia memulai kiprahnya sebagai finalis pemilihan model sampul majalah remaja di tahun 2005. Setelah itu, ia ikut audisi drama musikal karya sutradara Joko Anwar. Namun sayangnya, ia tidak lolos. Tapi ia tak mau menyerah. Tahun 2011, ia berhasil lolos casting dan ikut berperan dalam film Catatan (Harian) Si Boy. Diikuti film thriller berjudul Killers dan Pendekar Tongkat Emas tentang dunia persilatan. Tahun 2015, ia meraih penghargaan Aktris Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2015 melalui perannya di film A Copy of My Mind. “Perjalanan yang rasanya terdengar begitu menyenangkan ya? Namun saat kini usia di angka 28, saya masih berjuang untuk bisa senang berada di ‘dunianya orang dewasa’. Kita semua dituntut mandiri dan ditempa begitu banyak tanggung jawab. Ekspektasi pada diri kita menjadi sangat tinggi. Salah satu fase hidup yang sesungguhnya tak bisa dibilang gampang.”

Kondisi ini kemudian kian ramai seiring penggunaan media sosial. Kehidupan orang lain menjadi pembanding bagi hidup kita. Dan yang lebih gawat, kita kerap kali memakai kesuksesan orang lain sebagai tolak ukur. “Kita melihat sisi kesenangan dari hidupnya orang lain. Jarang sekali kita diperlihatkan saat mereka berkeringat penuh lelah, berjuang mati-matian, atau menangis saat diterjang kegagalan. Lalu kita berusaha menyamakan standar? Apakah itu adil?” kata Tara.

Ia mengaku, sebagai seorang figur publik, ia merasakan adanya tanggung jawab untuk bercerita bukan hanya pengalaman kisah bahagia penuh kebanggaan. Tapi juga cerita-cerita pahit yang tidak mengenakkan.

Tiga tahun terakhir, Tara berjuang melawan kecemasan dalam dirinya. Setiap hari, ia diterjang ketakutan dan rasa panik berlebihan. Sering kali menderita sesak napas, sakit kepala, dan sulit tidur. Pikirannya selalu penuh. “Saya takut orang-orang menganggap sepele sesuatu yang menyakitkan ini. Sampai-sampai saya berpikir, ‘oh mungkin jika saya mati, maka semua rasa sakit ini juga ikut mati. It’s been the hardest moment in my life.” Tara berujar sambil menatap mata saya.

Ada kalanya ia bertanya pada diri sendiri,  ‘Apa yang sebetulnya saya butuhkan?’. Selama ini ia mengira, bentuk menyayangi diri sediri adalah dengan berpenampilan menarik. “Tapi apa kenyataannya? Proses agar penampilan menarik itu ternyata mengorbankan banyak hal. Dua yang paling jelas yakni diet dan rutinitas kecantikan. Terdengar remeh? Seriously, dua hal yang tampak kecil itu berdampak besar pada ke pikiran saya. Dan mungkin berdampak pula ke banyak perempuan-perempuan lain,”.

Ketika Kate Spade, desainer mode, ditemukan tewas di dalam kamar apartemennya atau saat Chester Bennington (vokalis band Linkin Park) mengakhiri hidup dengan gantung diri, publik ramai-ramai bersimpati dan beranggapan depresi merupakan penyebabnya. “Depresi itu nyata dan ada di sekitar kita. Dan siapa pun bisa tertekan dan terganggu jiwanya. Tadinya, saya perempuan ceria yang tampak selalu bahagia sepanjang hari. Bagaimana bisa saya lantas begitu muram? Saya simpulkan, ini karena saya tidak sayang diri sendiri. Saya mengonsumsi apa pun tanpa pikir panjang, saya sepelekan jam tidur, dan saya tidak mendengar apa yang dibutuhkan tubuh,” ungkap Tara.

Profesi aktris identik dengan popularitas. Suatu kondisi yang membuat Tara dilihat dan dinilai banyak orang. Ia ingin pengakuan dari orang lain. “Dulu, saya sangat ingin punya kulit putih dan memiliki pacar. Saya tidak ingin dianggap tidak menarik dan kurang ‘laku’. Hasilnya, saya tumbuh dengan perasaan amat benci diri sendiri,” kisahnya.

tara basro profile interview elle indonesia

Setiap hari Tara berolahraga, minum obat pembakar lemak, dan mengabaikan lapar demi badan kurus. Yang penting saat itu, bagaimana caranya agar cantik dan menarik. Upaya-upaya yang akhirnya menyiksa diri. “Kini, saya tidak punya bentuk perut yang bagus, tidak berkulit putih, dan tentu punya jerawat serta kerutan kulit. Dan yang paling penting, sekarang saya enggak peduli pendapat orang lain,”.

Tidak sebatas urusan fisik, perkara pilihan hidup pun menjadi begitu rumit. “Usia saya bahkan belum 30 tahun, namun terlalu banyak orang ingin saya segera menikah. Bukan saya tidak setuju dengan konsep pernikahan. Namun apakah kita mengetahui segala konsekuensi dari setiap pilihan? Yang lebih menyedihkan, hinaan dan cacian justru datang dari sesama perempuan. Saya melihat kini perempuan cenderung saling menyerang dan saling menghakimi. Padahal, setiap perempuan seharusnya saling mendukung dan saling mengapresiasi tiap perjalanan hidup perempuan lainnya,” Tara bercerita. Sesekali ia bergurau, “Berat sekali ya obrolan kita hari ini. Hahaha..” sambil tertawa riang.

Perempuan bebas dan berhak menentukan jalan hidupnya sekaligus semestinya menghargai pilihan-pilihan setiap orang. “Saya selalu berpikir, mengapa kita tidak melakukan semua hal semata-mata demi diri sendiri? Mengapa kita tidak diajarkan untuk bebas menentukan pilihan? Contoh paling jelas di mana perempuan pihak pasif yakni dalam kasus pemerkosaan. Seluruh aturan dan norma mengajarkan bagaimana seharusnya perempuan berpakaian dan berperilaku. Tetapi, tidak ada kah peraturan mengenai bagaimana semestinya laki-laki memperlakukan perempuan?” Tara berpendapat.

Bahagia Sejatinya Sederhana

Tara Basro tidak mau masalahnya berlarut-larut. Ia juga tak ingin orang-orang menganggap persoalan ini tidak ada. Ia masih belajar menyerap banyak pengetahuan dan mencerna setiap peristiwa dalam hidupnya.

Melalui media sosial, ia ingin mendengar berbagai cerita dari masyarakat luas sekaligus turut menyuarakan kampanye sederhana agar semua orang, khususnya perempuan, mencintai dirinya sendiri.

“Ada banyak hal ingin saya ketahui. Salah satunya mengapa banyak perempuan muda ingin segera menikah dan kenapa pernikahan dianggap sebagai ‘mimpi yang terwujud’ atau ‘pencapaian hidup’. Tidak kah mereka tahu bahwa pernikahan menyimpan begitu banyak rupa tanggung jawab? Ada kesiapan mental yang harus dipersiapkan sebelum menikah. Dan apakah ini artinya perempuan yang memilih untuk tidak menikah dan tidak punya anak, maka hidupnya tidak pantas dibanggakan? Benar kah demikian?”, kata Tara.

Seorang teman mengenalkannya dengan Reza Gunawan, pakar penyembuhan holistik. Tara datang dengan perasaan putus asa. Sang pakar memberikan teknik penyembuhan yang sifatnya ‘self-healing’. Tara dianjurkan agar setiap hari menulis. Menulis apa yang dirasakan dan apa yang ingin dicapai. Kemudian belajar memaafkan diri sendiri serta meyakinkan diri bahwa semua hal perlu proses.

“Setiap orang punya lampu-lampu kecil dalam dirinya. Lampu-lampu itu redup dalam diri mereka yang terganggu jiwa dan kesehatan mentalnya. Karena itu, lampu harus terus menyala agar cahayanya bersinar sehingga manusia menjadi positif dan inspiratif.” cerita Tara. Sesaat ia berhenti berbicara. Ia minum beberapa teguk air mineral langsung dari botolnya.

tara basro profile interview elle indonesia

Mustahil untuk selalu positif setiap hari. Namun jika kita punya amunisi, maka kita tahu cara menjalani hari dengan lebih baik. Amunisi yang seperti apa? “Apa yang kita konsumsi, yang kita lakukan, dan yang kita tonton, semuanya berpengaruh pada pikiran. Saya lampiaskan emosi lewat olahraga. Kemudian belajar tersenyum kepada siapa pun. Ucapkan ‘selamat pagi’ kepada penjual nasi uduk yang kita beli dagangannya. Setiap orang punya masalah yang berbeda-beda. Jalan keluarnya pun tentu tidak sama. Ada yang terlalu perfeksionis, ada yang kurang tahu caranya bersyukur, atau ada yang tidak bisa menyayangi diri sendiri”, ungkap Tara.

Saya menyimak Tara berbicara dengan perasaan campuk aduk. Penuh haru namun ikut senang melihat ia kini terlihat bahagia dan nyaman. Satu lagi ‘pelajaran’ saya petik dari perjumpaan kali ini. Bahwa semua perubahan dimulai dari dalam diri sendiri. Kita sibuk memuji orang lain dan kerap kali meremehkan kekuatan dalam diri kita. Seperti Tara Basro yang melewati perjalanan emosi dan telah merasakan berada di titik terendah hidup.

Katanya, “Sekarang saya tidak akan mengorbankan kesehatan dan kebahagiaan hanya untuk mendapat pengakuan dari orang lain”. Ini nyaris sama seperti saran yang sering saya dengar dari banyak perempuan-perempuan hebat: perempuan harus bahagia dengan dirinya sendiri. Tidak soal jika berbeda dengan teman atau pasangan hidup. Mereka bukan lah sumber kebahagiaan karena kita bahagia dengan sendirinya. “Bahagia dan berpikiran positif jauh lebih penting dari apa pun. Sebab dari bahagia, ada banyak kata sifat baik yang muncul setelahnya,” pungkas Tara.

 

(Foto: Dok. ELLE Indonesia; photography  HARIONO HALIM styling ISMELYA MUNTU)

(Wawancara ini telah dipublikasikan dalam artikel ‘ELLE Profile’ majalah ELLE Indonesia edisi Agustus 2018)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *