Taylor Swift Berbagi 30 Pelajaran Hidup Sebelum Menuju Usia Ke-30

elle indonesia may 2019 taylor swift cover story

Seringkali orang berkata bahwa usia 30-an adalah usia yang paling menyenangkan. Menuju usia 30 tahun pada Desember mendatang, TAYLOR SWIFT menarasikan kisahnya.

Menurut akte kelahiran, saya berulang tahun yang ke-30 di tahun ini. Tapi entah kenapa ini terasa aneh, karena saya merasa sebagian diri saya masih berusia 18 tahun. Sebagian lagi, berusia 283 tahun. Seringkali orang berkata bahwa usia 30-an adalah usia yang paling menyenangkan. Bila itu benar, saya akan memberi tahu Anda. Namun hingga saat itu datang, saya akan berbagi beberapa pelajaran penting dari segala hal yang pernah saya alami sebelum menginjakkan kaki di usia 30. Karena sharing is caring.

1.) Saya belajar memblokir beberapa kebisingan.

Media sosial bisa menjadi luar biasa, tapi juga bisa menjadi sumur yang menenggelamkan diri Anda dengan gambaran dan persepsi yang salah tentang diri sendiri. Seperti cerita kegagalan Anda atau dibandingkan secara negatif dengan figur sukses lainnya. Satu hal yang saya lalukan untuk mengurangi kegelisahan diri akut ini adalah dengan mematikan kolom komen. Yes, saya tidak membiarkan orang untuk berkomentar di foto yang saya unggah. Dengan begitu, saya tetap menunjukkan update kehidupan pada teman-teman dan penggemar, tapi di saat yang bersamaan, saya pun melatih otak untuk tidak lagi mengharapkan validasi dari orang lain tentang rupa saya di mata mereka. Saya juga memblokir orang-orang yang merasa butuh untuk mengucap “go die in a hole ho” pada saya ketika saya baru saja menyeruput kopi di jam sembilan pagi. Jauh lebih sehat bagi kepercayaan diri saya apabila tidak terlalu membutuhkan pujian dari internet yang konon menenangkan hati, terutama saat secara tidak sengaja Anda bisa melihat seseorang menuliskan bahwa Anda nampak seperti seekor musang yang baru saja dilindas roda truk dan potongan-potongan tubuh Anda disatukan kembali oleh seorang taxidermis (ahli pengisi kulit binatang). Sebuah komentar yang sungguh pernah saya terima.

2.) Berlaku baik ke semua orang, setiap saat, bisa membuat Anda terjerat masalah besar.

Walaupun mengingat seumur hidup Anda telah dibesarkan oleh seorang perempuan yang sangat beretika, namun perlakuan ini mampu memberikan penyesalan terbesar dalam hidup Anda. Terutama di saat seseorang memanfaatkan sifat tersebut. Bangun kemandirian dalam diri sendiri, percaya insting Anda, dan tahu saat terbaik untuk menyerang balik. Jadi seekor ular–hanya menggigit saat seseorang menginjak.

3.) Berusaha dan gagal, lalu berusaha lagi dan kembali gagal, adalah normal.

Mungkin bagi saya pribadi, justru tidak terasa normal. Segala usaha dan kegagalan saya diledakkan di luar proporsi. Lalu, diubah menjadi tontonan umum yang menarik penonton di seluruh dunia seolah sebuah budaya dalam media (Ayo lah, Anda harus memaklumi kegetiran yang saya rasakan). Tapi, justru karena hal itu, terkadang baik untuk melakukan sesuatu yang buruk kemudian belajar dari hal itu dan mengambil risiko. Ini baik dilakukan saat usia dua-puluhan, karena di masa-masa tersebut Anda tengah mencari jati diri. That’s good. Kita akan selalu mencari jati diri. Tapi kita tidak pernah seintensif saat otak tengah tumbuh berkembang di langkah yang sangat cepat. Tidak, ini tidak bisa menjadi alasan untuk mengirim pesan ke mantan pacar Anda saat ini. Bukan itu yang saya maksud. Atau silahkan lakukan, terserah, mungkin Anda kemudian bisa belajar dari kesalahan ini. Lalu mungkin Anda akan lupa apa yang Anda pelajari kemudian melakukannya lagi. Tapi tidak apa, sungguh, karena Anda sedang mencari jari diri!

4.) Saya belajar untuk berhenti membenci tiap gram lemak yang berada di tubuh saya.

Saya belajar keras untuk melatih kembali otak mengartikan bahwa berat badan yang sedikit berlebih itu berarti memberi lekuk tubuh, rambut yang lebih sehat, dan energi yang lebih banyak. Kita telah banyak mendorong batasan-batasan dalam melakukan diet, namun, dengan melakukan hal tersebut secara berlebihan dapat membahayakan. There is no quick fix. Saya bekerja keras untuk menerima tubuh saya apa adanya setiap hari.

5.) Buang drama di hidup Anda.

Sadari bahwa Anda cukup pintar untuk tidak perlu mengusahakan ruang dan waktu berlebihan untuk orang-orang yang berpartisipasi dalam drama ini. Bila ada seseorang yang menyakiti Anda, menenggelamkan Anda dalam sebuah situasi hingga Anda merasa lelah, atau memberi penderitaan yang nampak tak berujung, memblokir nomor telfon mereka bukan hal jahat. Pemblokiran tersebut hanya sebuah fitur simpel di ponsel yang memungkinkan Anda untuk melenyapkan drama-drama di dalam hidup.

elle indonesia may 2019 taylor swift cover story

 

6.) Saya sadar orang-orang di lingkungan sekitar kita sangat frontal dan fasih dalam menyampaikan opini mereka tentang proses penuaan.

Terutama saat berhadapan dengan orang yang menunjukkan tanda fisik penuaan. Menurut saya itu sangat jahat. Ucapan-ucapan mereka seolah menyatakan pada kaum perempuan bahwa kita tidak boleh menjadi tua. Opini publik ini membuat sebuah parameter yang mustahil untuk dicapai. Saya sangat mengagumi Jameela Jamil yang membahas masalah ini dengan lantang. Membaca tulisannya seolah mendengar suara menenangkan di tengah-tengah kebisingan yang menuntut perempuan untuk mampu melawan gravitasi, waktu, dan segala hal duniawi demi mencapai sebuah target aneh yang tak masuk akal–bahwa perempuan harus menjadi muda selamanya, tapi tidak untuk laki-laki.

7.) Ketakutan terbesar saya adalah menggelar tur.

Setelah bom yang meledakkan Manchester Arena (konser Ariana Grande) dan penembakan di Las Vegas (konser Jason Aldean), saya menjadi benar-benar ketakutan untuk menggelar tur di saat sekarang. Saya tidak tahu bagaimana kami harus menjaga keselamatan 3 juta penggemar yang hadir selama tur berjalan tujuh bulan lamanya. Kami merancang rencana berskala besar dan dalam waktu sangat matang. Begitu juga pengeluaran finansial, dan segala aspek yang mendukung kematangan konsep untuk keselamatan mereka. Ketakutan saya akan kekejaman berlanjut memberi dampak signifikan pada kehidupan pribadi saya. Sehari-hari, saya membawa perban balutan berstandar militer merk Quik Clot–yang berfungsi untuk luka tembak atau tikam. Berbagai situs dan tabloid telah sukses memaparkan secara online setiap alamat rumah yang saya huni. Dan karenanya, saya pun berhasil meraup banyak penguntit yang dapat kapan pun mencoba untuk menerobos masuk. Tak heran kalau kini saya telah bersiap untuk hal itu terjadi. Setiap hari, tak lupa saya mengingatkan diri sendiri akan keindahan dan kebaikan yang terjadi di dunia. Rasa cinta dan kepercayaan terdalam akan nilai kemanusiaan. Kita harus dapat hidup dengan berani demi mampu untuk menikmati hidup itu sendiri. Yang artinya, kita tidak bisa membiarkan hidup kita terdikte oleh rasa takut.

8.) Saya belajar untuk tidak membiarkan opini publik membentuk nilai-nilai yang saya anut.

Terlalu lama saya membiarkan pendapat-pendapat orang lain menjadi reflektor akan tiap hubungan yang saya miliki. Mulai dari berbagai poling iseng yang membiarkan publik menentukan siapa laki-laki yang paling cocok untuk menjadi pasangan saya, hingga yang mana foto terbaik yang dapat dianggap sebagai idealisasi ‘couples goals’ dari sejumlah foto yang saya unggah di Instagram. That stuff isn’t real. Untuk approval seeker seperti saya, hal itu merupakan suatu pembelajaran penting agar mampu membangun dan memiliki nilai sendiri murni dari pemikiran saya pribadi, tentang hal-hal yang benar-benar saya inginkan.

9.) Saya belajar membuat beberapa minuman cocktail.

Seperti Pimm’s cups, Aperol spritzers, Old-Fashioneds, dan Mojitos, karena … 2016.

10.) Saya sering sekali memasak, tapi hanya tiga resep yang menjadi ‘kuncian’.

Untuk saya hidangkan pada pesta makan malam seumur hidup yaitu: Ina Garten’s Real Meatballs and Spaghetti (saya hanya menggunakan remah roti kemasan dan daging cincang untuk masakan daging-dagingan), Nigella Lawson’s Mughlai Chicken, dan Jamie Oliver’s Chiken Fajitas with Molé Sauce. Membeli sebuah garlic crushers sungguh mengubah gaya permainan saya di dapur. Saya juga telah melatih otak untuk mengubah angka dari Celsius ke Fahrenheit secara cepat. (Saya yakin hal ini biasa dijuluki sebagai ‘weird flex’ di internet).

elle indonesia may 2019 taylor swift cover story

11.) Beberapa saat lalu saya menemukan Command Tape (isolasi dinding berkait untuk menggantung barang).

Saya menyadari bahwa dinding rumah saya tidak akan memiliki lubang sebanyak ini kalau saja saya menggantung barang-barang dengan Command Tape dari awal. Ini bukan sebuah iklan. Saya betul-betul menyukai Command Tape.

12.) Meminta maaf saat Anda melukai seseorang yang berarti untuk Anda tidak membuat Anda terlihat buruk.

Bahkan bila kesalahan itu tidak disengaja, akan sangat mudah untuk meminta maaf dan move on. Coba untuk tidak mengucap “I’m sorry, but...” lalu membuat alasan lain untuk diri sendiri. Penting untuk belajar mengucap maaf dengan tulus, dan Anda bisa menghindari keraguan yang ada di dalam jalinan persahabatan atau berpasangan.

13.) Bagi saya pribadi, dalam setiap kasus pelecehan seksual, saya selalu percaya pada korban.

Untuk dapat bercerita jujur tentang kejadian memalukan itu saja menurut saya adalah sebuah proses yang menyakitkan. Saya tahu, karena persidangan pelecehan seksual terhadap saya sewaktu itu adalah momen yang tidak bermoral dan mengerikan. Saya selalu percaya pada korban karena saya secara pribadi mengetahui akan rasa malu itu. Kala Anda mengangkat tangan dan berkata, “This happened to me.” Untuk mampu berkata demikian adalah keputusan besar bagi seseorang. Kami berbicara karena kami merasa ini sebagai sebuah keharusan, dan kami memiliki rasa takut bahwa kasus-kasus ini dapat terjadi lagi pada orang lain apabila kami tidak berbicara lantang.

14.) Apabila sebuah tragedi yang tidak pernah Anda alami menimpa seorang kerabat, tidak masalah untuk mengakui bahwa Anda tidak tahu harus berbuat apa.

Terkadang, hanya sekedar memberikan rasa simpati pun sudah cukup. Tidak masalah bila Anda tidak memiliki nasihat atau bantuan yang mereka butuhkan. Sadari bahwa Anda tidak pernah bisa memiliki semua jawaban atas masalah-masalah yang terjadi di dunia. Walau begitu, tidak baik untuk menghilang dari kehidupan mereka terutama di saat yang paling sulit. Dukungan adalah yang paling dibutuhkan seseorang saat mereka tengah berada di titik yang paling rendah. Walau Anda tidak mampu membantu banyak di situasi yang tengah mereka alami, adalah suatu hal yang menyejukkan bagi mereka ketika mengetahui bahwa ‘you would if you could‘.

15.) Vitamin membuat saya merasa lebih baik!

Saya mengonsumsi L-theanine, yaitu suplemen natural yang membantu masalah stres dan kegelisahan. Saya juga mengonsumi magnesium untuk kesehatan otot dan menambah energi.

elle indonesia may 2019 taylor swift cover story

16.) Sebelum Anda larut dalam kekaguman pada seseorang, kenali dulu orang itu!

All that glitters isn’t gold, dan first impression bukan segalanya. Saat seseorang mampu menggunakan karismanya pada semua orang, itu memang sebuah keahlian yang memesona. Namun ada nilai yang jauh lebih positif tentang seseorang ketimbang sekedar ‘tebar pesona’ (saya menyebutnya ‘solid first 15’). Yaitu, lapisan demi lapisan yang Anda pelajari tentang orang tersebut dalam sebuah kesenjangan waktu. Apakah ia jujur, sadar diri, dan lucu di luar dugaan Anda? Apakah ia datang di saat Anda paling membutuhkan kehadirannya? Apakah ia masih mencintai Anda saat ia telah melihat Anda hancur? Atau saat ia telah menyaksikan Anda berbicara dengan kucing Anda layaknya berbincang dengan manusia? These are things a first impression could never convey.

17.) Saya merasa harus memperlakukan kulit saya jauh lebih baik.

Setelah melewati masa remaja dan usia awal dua-puluhan dengan kebiasaan tidur masih memakai makeup di wajah, menggunakan Sharpie (merk spidol) sebagai eyeliner (DO NOT DO IT), sekarang saya merasa harus memperlakukan kulit saya jauh lebih baik. Kini, saya mengoleskan moisturizer pada wajah setiap malam dan mengoleskan body lotion tiap kali seusai mandi. Tidak hanya di musim dingin, tapi sepanjang tahun. Karena, mengapa saya tidak bisa menjadi halus dan lembut di tiap musim?!

18.) Mengenali bekas luka hati di masa kanak-kanak dan berusaha untuk memperbaikinya.

Misalnya, tidak pernah menjadi orang yang populer di masa remaja merupakan sebuah insecurity bagi saya. Bahkan beranjak dewasa, saya masih memiliki serangan memori akan skenario saat saya sedang duduk di meja makan siang sendirian di tengah keramaian atau sedang bersembunyi di dalam sebuah bilik di kamar mandi, atau sedang mencoba untuk berkenalan dengan teman baru namun malah ditertawakan. Di usia dua-puluhan, saya menemukan diri saya dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang berlomba ingin menjadi teman saya. Lalu saya meneriakkan momen ini dengan lantang, mengunggah foto-foto, dan merayakan penerimaan diri saya ke dalam sebuah sisterhood, tanpa menyadari bahwa di luar sana ada orang lain yang mungkin masih merasakan apa yang saya rasakan saat saya masih merasa begitu sendirian. Sangat penting untuk mengatasi masalah masa lalu kita sebelum kita berubah menjadi sebuah perwujudan masalah itu.

19.) Mind games adalah untuk mengejar sebuah kesenangan sementara.

Dalam hubungan atau persahabatan sejati, Anda sama saja dengan membunuh diri sendiri jika tidak memberi tahu orang lain tentang bagaimana perasaan Anda saat Anda terluka, dan apa yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya. Tidak seorang pun yang bisa membaca pikiran. Jika seseorang benar-benar mencintai Anda, ia akan ingin untuk Anda mampu mengucapkan secara verbal tentang perasaan Anda. Ini adalah kehidupan nyata, bukan permainan catur.

20.) Mempelajari perbedaan antara lifelong friendships dan situationships.

Fase usia awal dua-puluhan seringkali melempar orang ke dalam kelompok baru yang bersemangat dan bisa terasa seperti keluarga baru pilihan Anda. Dan mungkin mereka akan berada di sekitar Anda seumur hidup. Atau, mungkin mereka hanya akan menjadi teman di dalam sebuah fase penting dalam hidup, tapi tidak untuk selamanya. Memang menyedihkan. Namun hukum alam ini menjadi sebuah proses dimana Anda beranjak dewasa, Anda pun akan lebih memilih dalam memiliki hubungan. Anda mungkin meninggalkan beberapa jalinan persahabatan di sepanjang jalan kehidupan, tapi kenangan itu akan selalu tersimpan.

 

View this post on Instagram

 

Step into the daylight and let it go.

A post shared by Taylor Swift (@taylorswift) on

21.) Fashion adalah eksperimen yang menyenangkan.

Jika Anda tidak pernah meihat kembali foto-foto dari tampilan masa lalu Anda dan merasa benci pada diri sendiri, you’re doing it wrong. See: Bleachella.

22.) Bagaimana beradu argumen secara adil dengan orang yang Anda cintai.

Kemungkinannya adalah Anda tidak pernah berusaha untuk menyakiti orang itu, dan sebaliknya. Jika Anda bisa menurunkan beberapa level ketegangan dari sebuah perdebatan – misalnya dengan mengalihkan percakapan dengan membahas hal lain di luar topik argumen – ada kemungkinan besar Anda dapat menghilangkan rasa malu karena kalah dalam ‘pertarungan’ yang disengaja dan justru memberi peningkatan ego bagi pasangan Anda yang memenangkan debat tersebut. Saya kenal beberapa pasangan yang di tengah perdebatan salah satu berkata ,”Hey, same team!” Apa pun itu, temukan cara untuk meredakan amarah yang mampu lepas kendali dan mengakibatkan Anda kehilangan hal-hal baik yang telah kalian berdua bangun. Tidak ada yang memberikan penghargaan bagi siapa yang memenangkan paling banyak perdebatan dalam sebuah hubungan, yang ada hanya ada surat cerai.

23.) Saya mempelajari bahwa saya memiliki teman dan penggemar di hidup saya yang tidak peduli apabila saya di-#canceled.

Mereka tidak pernah meninggalkan saya si saat saya berada di masa yang terpuruk, dan mereka masih ada hingga kini. Para penggemar saya dan rasa peduli yang begitu besar, tentang keadaan diri saya, dan musik saya yang berhasil membawa saya muncul kembali ke permukaan dari cobaan-cobaan berat. Sebuah momen yang paling emosional bagi saya di saat Reputation Stadium Tour berlangsung adalah saat saya tengah memandang wajah-wajah orang yang telah membantu saya berdiri kembali dari berbagai masalah hidup. Saya tidak pernah melupakan mereka yang selalu ada untuk saya.

24.) Saya memaksa diri untuk belajar tentang penyakit serius yang mewabah di lingkaran keluarga.

Kedua orangtua saya memiliki penyakit kanker, dan ibu saya saat ini tengah berjuang melawan penyakit itu lagi. Hal ini mengajari saya bahwa ada masalah yang benar-benar nyata, and then there’s everyhting else. Penyakit kanker yang diidap ibu saya adalah masalah besar dan nyata. Dulu, saya kerap menganggap serius tiap masalah yang ada sehari-hari. Kini, saya menyerahkan segala kecemasan, ketegangan, dan memanjatkan doa untuk masalah-masalah nyata.

25.) Saya ingat orang-orang pernah bertanya pada saya, “What are you gonna write about if you ever get happy?”

Ada sebuah kesalahpahaman di luar sana tentang kondisi artis yang harus merasa depresi agar dapat menciptakan seni terbaik – bahwa seni dan penderitaan adalah sebuah kesinambungan. Saya sungguh bersyukur untuk mengetahui bahwa ini semua tidak benar. Menemukan kebahagiaan dan inspirasi pada saat bersamaan telah menjadi sesuatu yang mendorong saya berkarya.

26.) Saya menghitung mundur hal-hal yang membuat saya bersemangat.

Ketika saya sedang melalui masa buruk, saya selalu menemukan secercah harapan dan rasa lega dalam mengolah aplikasi countdown (unduh gratis di ponsel Anda). Saya menulis hal-hal yang ingin saya lakukan untuk menemukan kebahagiaan. Proses untuk merencanakan kebahagiaan-kebahagiaan kecil di masa depan adalah hal yang sangat positif. Kadang kita bisa merasa kewalahan di saat sekarang, karena itu, sangat lah baik bila kita bisa melihat bahwa hidup akan terus berjalan menuju banyak hal yang lebih baik di masa depan.

27.) Saya mempelajari bahwa untuk menyerang balik seorang bully, Anda hanya perlu tertawa.

Pengalaman saya, para bully hanya ingin ditakuti dan dianggap serius. Beberapa tahun lalu, seseorang memulai kampanye yang menyerang saya dengan kebencian dan menyamakan karakter saya dengan seekor ular secara online. Kenyataan yang mewadahi bahwa begitu banyak orang mempercayai dan menyebarluaskan rasa benci ini membuat saya merasa di titik paling rendah dalam hidup. Namun, saya tidak bisa mengutarakan dengan kata-kata akan kesulitan saya menahan tawa tiap kali Karyn, balon ular kobra setinggi 19 meter yang menemani saya di panggung, muncul di hadapan 60,000 penggemar yang menjerit. Keberlangsungan Stadium Tour yang sukses merupakan senjata telak untuk membalas komentar-komentar buruk di Instagram. Seolah saya membalas simpel dengan menuliskan “lol“. Sesungguhnya, pasti sangat indah bila kita bisa mendapatkan permintaan maaf dari orang yang mem-bully kita. Tapi mungkin yang bisa saya dapatkan saat ini hanya kepuasan dalam mengetahui bahwa saya mampu melalui ini semua, dan justru hal ini mampu membuat saya lebih berkembang.

28.) Saya menemukan ‘suara’ saya di politik.

Saya telah meluangkan banyak waktu mendidik pemikiran saya tentang sistem politik dan cabang-cabang pemerintah yang menandatangani undang-undang yang memberi pengaruh pada kehidupan kita sehari-hari. Saya melihat begitu banyak masalah yang membahayakan bangsa kita yang memiliki kondisi paling rentan. Saya merasa harus berbicara dan mencoba membantu untuk membuat perubahan. Saat menjelang usia 30 dan merasa kaya akan informasi, baru saya merasa mampu untuk berbicara tentang hal ini kepada 114 juta followers. Memprovokasi rasisme dan memancing rasa takut melalui berbagai pesan tersirat bukan hal yang saya inginkan dari para pemimpin kami. Saya menyadari bahwa sebenarnya ini merupakan tanggung jawab saya untuk menggunakan pengaruh saya melawan segala retorika yang buruk seperti itu. Saya akan melakukan lebih banyak lagi untuk membantu. Kami menyongsong sebuah persaingan besar di tahun depan.

29.) Saya mempelajari rambut benar-benar dapat berubah tekstur.

Sejak lahir, saya memiliki rambut paling keriting, dan anehnya, sekarang saya memiliki rambut lurus. Ini adalah rambut lurus yang selalu saya idamkan selama di Sekolah Menengah. Tetapi perubahan ini terjadi ketika saya mulai berdamai dan mencintai rambut keriting saya. Tolong doakan agar ‘si keriting’ dapat kembali pada saya dengan selamat.

30.) Saya harus bisa dan siap untuk menghadapi semua konsekuensinya dan kemudian melepaskannya.

Ibu selalu menceritakan bahwa ketika saya masih kecil, ia tidak pernah harus menghukum apabila saya melakukan kesalahan, karena saya akan menghukum diri sendiri jauh lebih keras. Saya biasa mengunci diri di dalam kamar untuk menyesali apa yang telah saya lakukan dan tidak bisa memaafkan diri sendiri, padahal saat itu saya baru berusia lima tahun. Kini saya menyadari, bahwa sesungguhnya saya kerap melakukan hal yang sama tiap kali saya melakukan sebuah kesalahan – entah saya akan melakukan sebuah pengasingan, membungkam, atau mengisolasi diri sendiri. Karenanya, saya menyadari bahwa kini saya pun harus dapat memaafkan diri sendiri karena (misalnya) telah membuat pilihan yang salah, memercayai orang yang salah, atau mungkin melakukan kesalahan fatal lainnya di hadapan semua orang. Saya harus bisa dan siap untuk menghadapi semua konsekuensinya dan kemudian melepaskannya.

(IMAGES: DOC. ELLE; Photography BEN HASSETT Styling PAUL CAVACO)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *