Vino Bastian: Bahagia Tanpa Rencana

elle indonesia-vino g bastian-interview-1

Sejumlah kemungkinan hadir setiap hari. Tanpa perlu menebak apa yang dibawa takdir untuk manusia. Di tengah serba ketidakpastian, Vino G. Bastian memilih jalani hidup mengalir namun penuh makna.

Vino Bastian tidak pernah merencanakan apa-apa dalam hidupnya. Menjalani kehidupan tanpa berpikir keras perkara ambisi dan masa depan. Satu kepastian, ia suka bermusik. Hingga suatu hari, ia dipertemukan pada dunia film. Perjalanan hidup yang penuh kejutan tak disangka-sangka nyaris selalu menarik atensi saya.

Di tengah kesibukannya, saya senang Vino menyempatkan diri bertemu untuk menceritakan perjalanan kariernya di dunia film. Saya menemui laki-laki ini di sebuah rumah di daerah Pondok Indah, Jakarta Selatan. Ia menyapa ramah sambil memuji penampilan istrinya, Marsha Timothy, yang sempat saya temui kemudian dimuat pada ELLE edisi Maret silam. “Keren banget! Saya suka foto-foto dan artikelnya. Terima kasih ya!” ujar Vino seraya tersenyum lebar.

Saya mengetahui sosok Vino Bastian sejak saya menonton film 30 Hari Mencari Cinta, 15 tahun silam. Bukan hanya soundtrack filmnya yang menyenangkan, tapi jalan cerita dan akting pemainnya begitu asyik ditonton saya yang kala itu berusia belasan tahun. Di film itu Vino Bastian beradu akting dengan Nirina Zubir, Luna Maya, dan Dina Olivia.

“Ada cerita seru di balik film ini. Awalnya saya ikut audisi pemain untuk berperan sebagai cowok remaja yang hobi skateboard. Ketika tiba di lokasi syuting, ternyata berubah. Saya harus memerankan laki-laki gay. Karena waktu itu masih minim pengalaman, saya tanya pendapat sahabat-sahabat. Jawabannya di luar dugaan. Mereka bilang, saya justru harus mengambil peran yang karakternya tidak biasa. Selain lebih menantang, tentu jadi bisa belajar dari karakter yang berbeda-beda. ‘Jangan akting jadi laki-laki ganteng dan keren yang hidupnya lurus-lurus aja’, kata teman-teman saya. Saya pikir mereka benar juga nih! Sejak itu, saya berjanji untuk berani mencoba hal baru,” cerita Vino.

elle indonesia-vino g bastian-interview-1

Menolak Tampil ala ‘Model’

Sesungguhnya, pria kelahiran 24 Maret 1982 ini tidak bercita-cita menjadi aktor. Layaknya laki-laki berusia remaja, Vino sangat suka bermusik. Bersama teman-temannya, ia rajin latihan musik yang ber-genre rock. Sempat memiliki mini album yang mereka rekam sendiri lalu dijual di toko-toko baju ‘distro’ di Jakarta dan Bandung, tahun 1990-an. Suatu hari selesai tampil, seseorang bernama Ichwan Thoha, yang kala itu bekerja sebagai fashion stylist dan penulis di majalah Hai, menawari Vino Bastian difoto untuk halaman mode.

“Kaget banget sih! Sama sekali enggak tertarik foto ala model. Saya tolak berkali-kali, tapi sepertinya mas Ichwan enggak putus asa. Akhirnya saya difoto dan hasilnya keren juga. Hahaha! Yang kocak itu foto-foto saya di majalah digunting terus ditempel teman-teman di mading sekolah. Yah, meskipun kesal sering diledek, tapi senang juga jadi punya uang sendiri,” Vino mengenang sambil tertawa hingga terbatuk-batuk.

Tidak ada kata ‘instan’ dalam perjalanan karier seorang Vino Bastian. Berkali-kali ia ditolak saat ikut audisi pemain film. Tak jarang ia dipandang sebelah mata atau dianggap ‘hanya modal ketampanan’. Namun ia telah memantapkan hati, berada di dunia film tidak hanya senang-senang belaka. Bukan pula bermain sebanyak mungkin judul-judul film.

“Saya sangat ingin bisa menginspirasi kaum muda agar mereka meraih jauh lebih tinggi dari generasi saat ini. Yang muda harus lebih baik dari generasi di atasnya. Dan saya berharap kita semua memulai perubahan dari dalam diri. Jika kalian anggap film Indonesia kurang bermutu, maka ikutlah ambil bagian memperbaiki industri film di Indonesia. Protes tanpa solusi tidak bakal jadi apa-apa,” kali ini Vino berbicara dengan raut wajah serius.

Bagi Vino Bastian, dunia musik dan film keduanya nyaris mirip. “Dalam dua ranah ini, saya bisa mengekspresikan suatu bentuk emosi dan menikmati sebagai sebuah profesi. Pada akhirnya kita semua diharuskan memilih. Karena saat itu teman-teman sibuk dengan urusan masing-masing, saya memantapkan hati menekuni seni peran.”

Sejak muncul di halaman mode majalah remaja, Vino dibanjiri tawaran bermain film. Tercatat ia bermain di film Catatan Akhir Sekolah, Realita, Cinta dan Rock ‘n Roll, Coklat Stroberi, Badai Pasti Berlalu, Serigala Terakhir, Warkop DKI Reborn, dan Chrisye.

Kiprahnya di dunia film diikuti berbagai penghargaan. Tahun 2008, berkat perannya di film Radit dan Jani, Vino didapuk sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia (FFI). Ia juga memenangkan penghargaan Pemeran Utama Pria Terbaik pada acara FFI untuk perannya di film 3 Nafas Likas. Dan dinominasikan sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik pada gelaran FFI untuk aktingnya sebagai Kasino di film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!

“Bisa dibilang saya tertarik dengan akting dan dunia film pada saat pertama kali saya merasakan berakting. Dan ketika orang-orang percaya dengan peran yang saya mainkan, itu jadi kesenangan luar biasa. Saat saya mampu berubah-ubah mengikuti karakter dan dianggap ‘believable’, saya semakin semangat untuk mencoba peran-peran lain yang mungkin tidak terpikir sebelumnya,” Vino bercerita.

Jika pada masa awal karier ia kerap berperan sebagai remaja berjiwa bebas, lain saat Vino kini kian matang dan butuh tantangan lebih. Ia kemudian memerankan karakter dan tokoh-tokoh penting di Indonesia. Tahun 2017 silam, Vino memerankan musisi legendaris Chrisye dalam film bertajuk Chrisye bersama Velove Vexia, yang berperan sebagai Damayanti Noor (istri Chrisye).

Sebelumnya, Vino tanpa ragu menyambut senang ajakan Indro Warkop untuk bermain di film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! di mana ia memerankan Kasino. Baik dalam film drama Badai Pasti Berlalu (2007) maupun Serigala Terakhir (2009) yang bertema laga, bagi saya, Vino telah membuktikan dirinya pantas masuk jajaran aktor Indonesia yang patut diperhitungkan.

Kini, di tahun 2018, Vino Bastian memerankan karakter Wiro Sableng dalam film yang dirilis pertengahan tahun ini. Lebih dari sekadar pembuktian diri, Vino memiliki relasi emosional cukup erat dengan film Wiro Sableng.

Karakter Wiro Sableng diciptakan tahun 1964 oleh ayah kandung Vino, Bastian Tito, lulusan Ilmu Ekonomi yang  dikenal sebagai seniman dan penulis novel. “Keterlambatan saya masuk ke dunia film bisa jadi karena gue enggak berani mengabaikan perintah orangtua. Ayah bilang, saya boleh hobi bermusik. Tetapi sekolah nomor satu. Dan belakangan, saya berpikir omongan beliau ada benarnya. Saat saya berkecimpung di dunia film, saya merasakan betapa pendidikan akademis ikut membentuk perspektif saya sebagai seorang pekerja seni.”

elle indonesia-vino g bastian-interview-3

Hidup adalah Pilihan, Prinsip Klise

Vino Bastian menyelesaikan studi Teknik Kimia di Institut Teknologi Indonesia, Serpong. Apa sebabnya ia pilih jurusan Teknik Kimia? “Dulu pas SMA, nilai saya paling bagus itu mata pelajaran Kimia. Eh ternyata kuliah Teknik Kimia justru lebih banyak belajar matematika dan fisika. Tapi seru juga sih. Untungnya saya bisa lulus 4,5 tahun dengan selamat!” kenang Vino sambil menghela napas lalu tertawa riang. Lulus kuliah, Vino sempat bekerja di perusahaan industri manufaktur minuman.

Satu tahun bekerja, Vino melamar ke sebuah perusahaan minyak multinasional. Saat tengah menanti undangan wawancara kerja, datang tawaran bermain film Catatan Akhir Sekolah (2005). Vino tertarik. Namun hidup selalu penuh hal tak terduga. Usai menandatangani kontrak pemain, perusahaan minyak mengabarkan hendak mengirim Vino pelatihan di New Zealand sebelum diterima sebagai karyawan.

Gue ingat banget kata-kata ayah waktu itu. ‘Manusia enggak bisa mendapatkan semua yang diinginkan’. Banyak persimpangan yang bikin kita harus selalu memilih. Yah meskipun saat film sudah dirilis, masih kepikiran si perusahaan terus menerus dan sakit hatinya sampai bertahun-tahun. Hahahaha!” ujar Vino.

“Mungkin saya terlambat bikin orangtua saya bangga. Tahun 2006 saat beliau meninggal, belum banyak hal membanggakan yang saya lakukan sebagai anak. Dan sekarang, ketika ingin bikin bangga, beliau udah enggak ada. Keterlibatan di film Wiro Sableng itu bukan cuma soal mengasah akting. Film ini jadi jalan untuk membuktikan betapa besar cinta saya untuk ayah. Aduh, maaf saya jadi sedih kalau ngomongin ini,” Vino yang tengah menatap mata saya kemudian mengalihkan pandangan.

Saya diam sejenak. Kami sempat terhenti berbicara beberapa saat sebelum ia kembali bercerita.

elle indonesia-vino g bastian-interview-2

Keberanian memilih nyaris selalu membuka banyak pintu kebahagiaan. Vino Bastian mengalaminya. Pengalaman berakting, bertemu banyak orang inspiratif di industri hiburan, hingga pertemuannya dengan pujaan hati, Marsha Timothy.

Kali pertama jumpa di film Coklat Stroberi tahun 2007. Tak ada jatuh cinta pada pandangan pertama. Cinta dan hasrat memiliki baru tumbuh setelah banyak bertukar pikiran. Tahun 2012, Vino menikahi Marsha Timothy. Ia melamar sang kekasih di depan makam almarhum ayah Marsha.

“Saya masih punya pacar saat pertama kenal Marsha. Dan rasanya enggak ada yang istimewa waktu itu. Tapi lama-lama ada kenyamanan yang enggak bisa saya jelaskan. Sampai pada satu titik saya yakin banget, ini saatnya menikah dan Marsha perempuan yang ingin saya nikahi,” cerita Vino.

Dari perbincangan hangat bak teman lama tak bertemu, hari itu saya belajar suatu hal dari Vino Bastian. Hidup sejatinya tidak dipaksakan ke arah dan standar tertentu, yang tak sesuai hati nurani. Berusaha bahagia apapun kondisi dan situasinya.

Prinsip yang terdengar klise, namun saya yakin tak mudah dijalani. “Tidak ada yang dibikin berat dalam hidup saya. Betul-betul mengalir, tetapi bukannya tanpa berpikir. Mungkin jika boleh berbagi prinsip, kesenangan yang sesungguhnya itu hadir sebab saya tidak pernah meletakkan kebahagiaan saya di tangan orang lain,” pungkasnya.

 

 (Foto: Dok. ELLE Indonesia; photography Hariono Halim styling Ismelya Muntu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *