Jamie Aditya Graham Menaklukkan Eksistensi

elle indonesia interview jamie aditya graham - elle man - photography andre wiredja - styling ismelya muntu

Seni menjadi salah satu cara yang mengubah banyak hal dalam hidup Jamie Aditya Graham saat menemukan keseimbangan dan menciptakan transformasi diri.

Jamie Aditya Graham minim waktu luang. Mobilitas mantan presenter yang kini lebih sering bermain peran dan bermusik itu sangatlah padat. Awalnya, kami berencana bertemu pada akhir tahun 2019 silam. Namun aktivitas promosi album terbaru memenuhi jadwalnya, sehingga kami sepakat bertemu pada Februari tahun ini, saat dimana ia kembali berkunjung untuk tampil di ajang musik internasional Java Jazz Festival. Satu lagi alasan mengapa tidak mudah menemui Jamie: ia bermukim di Australia. Jika ia berkunjung ke Indonesia, lebih sering menyangkut urusan pekerjaan. Itu pun tak bisa dipastikan waktunya. Satu hari sebelum kami bertemu, saya menerima pesan dari Jamie, “Maaf banget, tapi rencana perjalanan saya ke Jakarta mendadak kacau karena penerbangan dari Melbourne ditunda oleh maskapai. Bisa kita reschedule setelah Java Jazz?” tulisnya.

Jadi di sinilah saya, duduk di lobi hotel Sultan Jakarta, menunggu kedatangan Jamie Aditya Graham pada Maret silam. Jantung saya berdegup cepat. Alih-alih mencemaskan berbagai kemungkinan yang bisa menghambat pertemuan kami, saya gelisah akibat antusias karena akan bertemu Jamie Aditya. Mereka yang tumbuh dengan menonton saluran musik televisi MTV di era ‘90-an barangkali memahami kegugupan saya. Pada tahun-tahun terakhir abad ke-20 tersebut, MTV hadir menjelma menjadi kiblat budaya pop yang masif di wilayah Asia. Jamie Aditya Graham merupakan salah satu figur televisi ikonisnya, termasuk di Indonesia.

elle indonesia interview jamie aditya graham - elle man - photography andre wiredja - styling ismelya muntu
Busana seluruhnya GUCCI

Gaya jenaka laki-laki ini mengundang tawa ketika siaran (tiba-tiba saya tersenyum sendiri teringat aksinya) yang membuatnya jadi idola masyarakat. Ia bahkan dinobatkan sebagai yang terbaik oleh Asian TV Awards di tahun 2001. Senang untuk mengingatnya sebagai VJ (Video Jockey) MTV. Meski begitu, saya tidak menemuinya untuk sekadar membicarakan masa lalu.

Hampir dua dekade berlalu sejak ia meninggalkan MTV Asia, Jamie Aditya Graham telah melalui serangkaian transformasi dalam hidupnya. Di abad ke-21, ia dikenal sebagai musisi selain ia juga terlibat di dunia akting; dan kredibilitasnya untuk kedua talenta tersebut tidak sebatas di garis rata-rata. Jamie terlihat berjalan memasuki hotel. Ia mengenakan celana denim dipadu kaus bergambar warna kuning, sneakers, dan sunglasses bergaya vintage. Saya menghampirinya, disambut senyuman ramah. Kami melangkah menuju restoran untuk makan siang (sekaligus bermaksud meluangkan sesi obrolan), sebelum menuju lokasi pemotretan yang telah disiapkan tim ELLE di lantai 15. Perbincangan kami berlangsung cukup lama; saat makan, di sela-sela pemotretan, bahkan dilanjutkan rangkaian pesan telepon dan email di hari-hari berikutnya. Keterbatasan waktu dan asyiknya berbincang dengan Jamie menjadi sebabnya.

elle indonesia interview jamie aditya graham - elle man - photography andre wiredja - styling ismelya muntu
Busana seluruhnya koleksi Hermès

Saya mengucapkan selamat atas penghargaan Best Actor in Supporting Role yang dimenangkannya di ajang Asian Academy Creative Awards pada Desember 2019. Kecakapan dalam seni peran yang dilakoni laki-laki kelahiran Canberra tahun 1978 itu diakui lewat penampilannya dalam serial orisinil HBO Asia, Grisse. “Sungguh saya terharu! Saya menginvestasikan banyak waktu dan energi untuk membangun karakter Kurt. Mempelajari latar belakang sejarah VOC di Afrika Selatan dan Hindia Belanda serta mendengar rekaman pembicaraan warga Cape Flats selama berjam-jam demi menguasai logatnya,” cerita Jamie. Ia memang patut dipuji. Kerja kerasnya terbilang sukses menghidupkan tokoh Kurt, laki-laki berdarah campuran yang sedikit ‘gila’, menjadi ‘bumbu penyedap’ di setiap episode serial besutan Mike Wiluan tersebut.

Grisse bukanlah karya pertama Jamie di dunia sinema. Tercatat ia pernah berperan dalam tiga judul layar lebar Indonesia. Namun, Grisse yang ditulis oleh Rayya Makarim, menandai metamorfosisnya dalam berakting. “Awal bermain film, tujuan saya sekadar untuk memenuhi kebutuhan finansial. Saat itu saya tidak memikirkan lebih jauh apa yang ingin saya cari di dalamnya. Saat mendapat tawaran berperan di Grisse, ide cerita yang mengangkat sejarah masyarakat Gersik (Grisse) menjadi ketertarikan utama saya,” katanya.

elle indonesia interview jamie aditya graham - elle man - photography andre wiredja - styling ismelya muntu
Busana seluruhnya koleksi Hermès

Cara berpikir ini turut mendorongnya untuk ambil bagian di serial televisi Stateless yang diproduseri Cate Blanchett, walaupun porsi peran yang ditawarkan relatif kecil. “Stateless membuka diskurus mengenai subjek yang sering terabaikan, salah satunya yakni pengungsi. Bagaimana realitas hidup mengecewakan harapan para pencari suaka dalam meraih kebebasan, hingga akhirnya mesti menjalani hidup dengan ketidakpastian. Tertahan di camp pengungsi karena proses relokasi oleh organisasi kemanusiaan dunia butuh waktu bertahun-tahun, tidak memperoleh kehidupan yang normal, hingga ancaman deportasi. Para pengungsi yang putus asa akhirnya mengambil risiko dan tertipu organisasi ilegal penyelundup manusia. Di sini saya sama sekali tidak berbagi adegan dengan Cate Blanchett, tapi untuk bisa terlibat dengannya dalam sebuah isu penting merupakan kebanggaan tersendiri,” ujarnya.

elle indonesia interview jamie aditya graham - elle man - photography andre wiredja - styling ismelya muntu
Busana seluruhnya koleksi Hermès

Mendengar penjelasannya tentang serial tersebut seolah memberi penggambaran akan kisahnya pribadi. Tidak seperti yang Anda pikirkan. Jamie bukan seorang pengungsi. Ia warga negara Australia yang resmi (sudah saya konfirmasi ke yang bersangkutan). Saya ingat bahwa Jamie merupakan keturunan dari sastrawan Indonesia, Achdiat K. Mihardja. Pada masa silam, nama sastrawan tersebut terkenal sebagai salah satu tokoh sastra yang terpinggirkan dan terpaksa keluar dari Indonesia. Saya berpikir kembali untuk mengangkat topik ini, lalu bagai gayung bersambut, Jamie menyinggung cerita perjalanan sang kakek bermigrasi—yang merupakan awal perpindahan seluruh keluarganya ke Australia—salah satunya berlatarkan perbedaan paham politik pada eranya. Kala itu Jamie sendiri belum lahir untuk menyaksikan peristiwa tersebut. Ia hanya menyimak ceritanya dari sang kakek dan nenek. Saya mendengarkan kemudian terkejut oleh celetuknya, “Saya memendam keinginan untuk kembali menetap di Indonesia suatu saat nanti,” kata Jamie.

Pikir saya waktu itu, ia pasti sangat cinta dengan Indonesia. Namun saya ingin mendengar langsung apa sebabnya ia ingin pulang ke negeri ini. “Mengapa tidak? Reputasi saya lebih besar di sini. Hahaha,” jawabnya tergelak. Bicara dengan Jamie, obrolan itu seringkali dihiasi canda tawa. Bukan karena ia tidak serius, tetapi begitulah karakter Jamie yang santai dan nyaman dengan diri sendiri namun tetap menguasai topik pembicaraan. “No seriously. Saya memang lahir di Australia dan memegang kewarganegaraannya. Namun Indonesia adalah hati dan rumah saya. Dahulu sekali, saya sempat beberapa tahun bermukim di Bali dan Jakarta. Jika ada kesempatan, saya ingin sekali tinggal di Nusa Tenggara. Daerah itu seperti surga buat saya. Jauh dari kegilaan korporasi, ditambah penduduknya sangat ramah!”

elle indonesia interview jamie aditya graham - elle man - photography andre wiredja - styling ismelya muntu
Busana seluruhnya koleksi Hermès

Seiring kami berbincang, Jamie seperti dalam bayangan saya: bersahabat, penuh cerita, dan mudah tertawa. Suasana pemotretan kami pun berjalan ramai berkat dirinya. Saya pikir, ia bisa mencantumkan ‘komedian’ dalam resumenya. “Saya memiliki banyak bakat, tetapi tidak menguasai seluruhnya. Sepertinya berkaitan dengan kondisi ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder, menyebabkan gangguan pemusatan perhatian) yang saya miliki; membuat saya tidak dapat fokus menekuni satu hal sampai selesai. Terkadang, kondisi ini membuat saya frustasi,” ujarnya. Ada keraguan di hati saya usai mendengar ucapan Jamie tersebut. Namun ketika merekam beberapa adegan untuk video Song Association, saya menemukannya sering kali terkecoh saat mendengar putaran balingbaling kipas menderu kencang.

Sebuah tantangan hebat untuk seseorang yang pekerjaannya menggubah suara, saya membatin. “Musik dan gambar selalu menjadi sisi artistik kegemaran saya. Saya telah melakukannya sejak usia 17 tahun walau tidak pernah tergabung dalam sebuah kelompok musik secara konsisten,” tuturnya. Ia bermain secara additional untuk bandband di Australia dan Indonesia, termasuk melakukan tur bersama Krakatau. “Karier presenter televisi sempat membawa saya jauh dari panggung musik tapi saya tidak pernah berhenti menulis lagu dan bermusik, meskipun hanya untuk diri sendiri.”

elle indonesia interview jamie aditya graham - elle man - photography andre wiredja - styling ismelya muntu
Busana seluruhnya koleksi GUCCI

Menjawab pertanyaan saya mengapa butuh waktu begitu lama hingga akhirnya ia merilis album debut, LMNOP, di tahun 2011. “Akhirnya saya merilis album pun sebenarnya cukup lucu. Saya merekam lagu-lagu yang mengisi album LMNOP dan sebagian di LMNPOP! (mini album solo baru yang dirilis pertengahan 2019) awalnya hanya sebagai demo. Tidak pernah ditujukan untuk didengar publik di luar lingkaran teman dekat dan keluarga. Tapi malah orang-orang yang mendegar ‘demo’ ini mendorong saya untuk merilisnya,” kenangnya. Ucapan terima kasih saya kepada mereka yang telah berhasil membujuknya. Sebagai musisi, Jamie piawai meracik genre. Elemen blues, soul, funk, reggae, gospel, heavy metal, Brazillian, dan jazz di tangannya dapat menjadi harmoni yang membebaskan saraf. Saya pernah menghadiri salah satu pertunjukkannya di ajang Soulnation pada tahun 2013, di mana semua orang yang menonton—hapal maupun tidak dengan lagunya—bergerak santai mengikuti permainan melodinya.

“Saya membenamkan diri ke dalam banyak genre. Tapi sebenarnya saya tertarik pada blues. Blues di era awal dan gospel adalah akar musik saya!” Saat nuansa pop kental menyelimuti mini album terakhirnya, musiknya kian energik. “Untuk alasan itu saya menambahkan kata pop dalam judulnya,” katanya tentang judul LMNPOP!. Begitu sederhana, di saat saya memikirkan apakah terdapat makna mendalam di baliknya hingga ia merepetisi judul album perdana untuk mini album barunya itu.

elle indonesia interview jamie aditya graham - elle man - photography andre wiredja - styling ismelya muntu
Busana seluruhnya koleksi Hermès

“Saya suka bagaimana akronimnya sangat mudah diucapkan. LMNOP. Terlebih, artinya yang merupakan seruan putus asa dari Bumi, Love Me Now or Perish,” tuturnya (Ok, dugaan saya sedikit benar). Ia melanjutkan, “Sadar atau tidak, manusia sedang mengalami sebuah krisis eksistensial akibat konsumerisme brutal. Kita seperti berada dalam sebuah kereta yang melaju menuju kematian dan secara kolektif gagal menarik rem darurat sehingga terbalik arahnya. Saya begitu menyukai maknanya hingga menggunakannya kembali.”

Di akhir kalimat, Jamie—saya pikir—menyisipkan sebuah rahasia, “Saya menyenangi musik di album pertama dan memiliki rencana, mudah-mudahan kembali mengeluarkan lagu-lagu serupa di tahun ini. Watch this space! Hahaha,” pungkasnya.

photography ANDRE WIREDJA styling ISMELYA MUNTU grooming ANGELINA INEZ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.