Lily Collins Pegang Kendali Penuh Atas Narasi Hidupnya

Lily Collins for ELLE Indonesia photography Danny Kasirye styling Aurelia Donaldson

Setelah meraih kesuksesan besar lewat serial ‘Emily in Paris’, Lily Collins memutuskan untuk mengambil alih “ceritanya” sendiri. Oleh Alice Wignall.

Saya dan Lily Collins bertemu di suatu pagi yang mendung. Ia baru saja datang dari Los Angeles tadi malam—dan penerbangannya sempat tertunda karena kondisi bandara Heathrow yang sibuk. Meski sempat beristirahat, ia tetap mencari kafein karena harus menghadapi sesi wawancara ini dan pemotretan untuk sampul majalah. Untungnya, Charlie— yaitu Charlie McDowell, suaminya yang baru saja ia nikahi 16 hari silam–—menemukan kedai kopi yang lokasinya dekat dari hotel tempat mereka menginap. Kami pun bergegas di tengah kesejukan akhir bulan September di London.

Ia mungkin lelah, tapi semangatnya nampak jelas. Ia diselimuti rasa bahagia karena bisa kembali pulang ke London. “Sudah hampir dua tahun saya tidak pulang,” ia tersenyum. “Padahal dulu saya terbilang cukup sering pulang ke London. Begitu juga dengan Charlie, bahkan jauh sejak kami belum saling mengenal satu sama lain, ia juga sering pulang (ayahnya adalah aktor asal UK, Malcolm McDowell). Biasanya kami pulang saat Hari Raya atau untuk berlibur. Kali terakhir kami ada di sini adalah di Hari Natal dua tahun lalu. Sekarang saya merasa luar biasa bahagia bisa kembali ke sini.”

Mungkin pernyataan tersebut sedikit mengejutkan karena keluar dari mulut seorang warga Los Angeles. Tapi Collins memang melewatkan masa kecilnya tumbuh besar di area pedesaan di Surrey (ibunya, Jill Tavelman, berasal dari Amerika dan ayahnya berasal dari UK, yaitu sang musisi Phil Collins). Maka tak heran bila ia merasa bahwa negara asalnya adalah ‘rumah’ sesungguhnya. “Saya British,” ia berujar. “Memang saya berasal dari dua negara, tapi saya lebih merasa sebagai orang Inggris. Karena itu, setiap kali mendapat peran dengan aksen British, saya merasa seolah berbicara secara natural. Meski kadang saya tetap harus berusaha memunculkan aksen tersebut,” ia tergelak, menyadari bahwa ia sesungguhnya terdengar sangat “Amerika”. “Setiap mendarat di Heathrow, rasanya seolah sedang pulang ke rumah. Bahkan hanya dengan mendengar aksen British di pesawat tadi malam, ada sebentuk kehangatan yang saya rasakan.”

Lily Collins for ELLE Indonesia photography Danny Kasirye styling Aurelia Donaldson
Lily Collins for ELLE photography Danny Kasirye styling Aurelia Donaldson fashion Chanel (gaun), Cartier (anting berlian emas putih) makeup Polly Osmond (Premier hair ad Makeup) hair Ken O’Rourke (Premier Hair ad Makeup)

Ada benarnya. Terutama bila pertama melihat parasnya. Anda akan mengiranya sebagai orang Inggris—lewat perawakan halus, ekspresi wajah serius, dan sebaris alis fantastis—karena tampilannya terlihat cenderung lebih masuk akal di kancah drama kolosal ketimbang sebagai sosok perempuan pantai Pasifik.

Dan tentu saja, ia juga menjadikan kota Paris sebagai rumah—berkat perannya sebagai warga akspat yang paling tersohor di Paris dalam serial Emily in Parisseason keduanya dirilis di bulan Desember ini. Semasa syuting, ia tinggal di Paris selama empat bulan lamanya di musim panas silam, saat kota tersebut masih menerapkan kebijakan jam malam untuk menekan angka kasus pasien Covid. “Paris sangat sepi saat itu.” Namun berkat kota yang sepi, ia pun dapat menjalani kehidupan lokal kota dengan leluasa. “Saya bisa mengenal Paris jauh lebih dalam, karena tidak menggunakan transportasi publik sesering dulu. Kami lebih sering berjalan kaki. Charlie sangat andal sebagai penunjuk arah dan suka sekali berpetualang. Jauh sebelum syuting dimulai, ia telah memberi tanda pada sejumlah lokasi yang akan kami kunjungi di seluruh Paris. Lalu Anda tahu, seluruh kru film ini adalah warga Prancis. Begitu pula dengan sebagian besar para pemerannya, kecuali saya dan Ashley Park (yang berperan sebagai Mindy). Bersama mereka, kami dapat menjelajahi dan menikmati sisi lain Paris.”

Collins juga menjalani hari-harinya selayaknya penduduk lokal. Ketimbang menginap di hotel, ia memiliki apartemen sendiri yang berada di tengah lingkungan ramah dan menjalin pertemanan dengan sesama pemilik anjing (anjingnya, Redford, ikut menemaninya tinggal di Paris). “Tapi ada anehnya. Hampir semua orang di Paris punya anjing, tapi tidak semua taman memperbolehkan anjing bisa masuk. Salah satu tempat di dekat apartemen kami yang memperbolehkannya adalah di depan museum Louvre. Kami berkata pada Redford, ‘Kamu sangat beruntung karena bisa buang air di salah satu lokasi paling chic di dunia.’”

Lily Collins for ELLE photography Danny Kasirye styling Aurelia Donaldson fashion Erdem makeup Polly Osmond (Premier hair ad Makeup) hair Ken O’Rourke (Premier Hair ad Makeup)

Collins sangat berhati-hati saat berkisah tentang detail dari season ke-2 Emily in Paris. Yang ia selipkan hanya sebatas beberapa pemain baru dan plot cerita yang lebih fokus pada persahabatan para perempuan. Saat season pertama Emily in Paris debut di bulan Oktober 2020 silam, acara ini seketika melambung naik ke puncak peringkat 10 acara yang paling sering ditonton di Netflix. Serial ini ditonton oleh 58 miliar televisi rumah tangga di bulan pertama rilis perdana.

Emily in Paris begitu dicintai oleh para penggemarnya. Terima kasih pada plot cerita nan segar yang seolah mengajak penontonnya ikut bepergian ke suatu destinasi glamor (yang terlebih sangat didambakan di hari-hari menjelang musim dingin di tengah pandemi yang tak kunjung berakhir). Lalu ada juga hal yang tidak begitu mengejutkan, di mana para kritikus asal Prancis kerap mencerca penggambaran kehidupan Paris yang dianggap tidak realistis. Meski sebenarnya itulah yang menjadi poin utama serial ini: penggambaran jenaka ceritanya memusatkan lebih kepada Emily dan cita-citanya yang gagal untuk memiliki kehidupan rantau di Paris yang sarat estetika khas influencer dan seolah tersaji dalam tone warna filter foto nan elok, ketimbang memfokuskan cerita ini pada sejumlah warga Prancis yang kerap merendahkan lewat tatapan, suka menghina, merasa terganggu, hingga yang ramah dan giat menghibur lewat cara tersendiri.

Walau demikian, Collins mengungkapkan bahwa sejumlah perubahan telah dilakukan di season ke-2, sebagai bentuk respon yang diterima dari berbagai kritik. “Bagi saya sebagai Emily, tapi juga sebagai produser serial ini, saya ingin perubahan ini terjadi. Karena setelah season pertama usai dan mendengar banyak opini dari orang-orang; kekhawatiran mereka; pertanyaan; hal-hal yang disukai dan tidak disukai; ada beberapa yang seolah ‘menegur’ saya lewat kesadaran moral dan saya tahu perubahan itu harus dilakukan. Kami, para produser, percaya pada hal yang sama. Kami mendambakan adanya keragaman dan inklusivitas di depan dan di belakang kamera. Itulah sebabnya mempekerjakan orang-orang baru untuk berperan di depan kamera, juga memberikan jalan cerita baru pada peran berbeda-beda menjadi sangat penting.”

Bagi saya, ini adalah jawaban Collins yang sangat tipikal: ia peduli, ia berhati-hati, dan kritis pada diri sendiri. Ia menjabarkan dirinya sebagai seseorang yang memiliki banyak pemikiran dan sering kali dinilai jauh berbeda dari karakter aslinya.

Lihat caranya merespon topik pandemi yang mengharuskan ia untuk menjalani lockdown: “Saya sudah tidak pulang untuk waktu lama, dan tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian. Masa itu merupakan waktu yang sangat berharga untuk diluangkan bersama kekasih (kini suami), hanya agar kami dapat diam dan berserah pada ketenangan. Karena saya adalah orang yang cenderung merasa bersalah kalau tidak melakukan apa-apa. Saya suka bekerja. Saya adalah seorang penggagas. Selain itu, saya juga seorang advokat besar kesehatan mental; atau terapi; atau meditasi; atau journaling; atau apa pun hal yang menjadi proses bagi seseorang untuk menyembuhkan dan memperbaiki kualitas diri dengan memperluas pikiran dan hati. Karena itu, saya memanfaatkan masa lockdown untuk introspeksi diri lebih dalam—dan terkadang melihat refleksi dari diri sendiri yang kurang menyenangkan. Jauh dari gangguan, saya berusaha memperbaiki diri saya sendiri sebagai seorang individu; sebagai pasangan; sebagai pekerja; sebagai teman; sebagai anak perempuan. Saya ingat di masa awal lockdown, saya berpikir bahwa masa sulit ini akan membawa dua hasil berbeda pada akhirnya: apakah saya akan keluar dari lockdown dengan membawa bukti bahwa saya berhasil memperbaiki kualitas diri sendiri? Atau, apakah saya justru berharap dunia kembali seperti sedia kala?

Oh ya, ia juga belajar berselancar.

Selain kerap menganalisa diri sendiri, Collins juga termasuk orang yang sangat verbal. Sebenarnya, pernyataan panjang yang baru saja ia jabarkan barusan merekam waktu berbicara selama lima menit lima detik untuk sebuah pernyataan—yang saat saya tuliskan per kata memuat sebanyak 712 kata. Hal ini membuktikan bahwa di saat ia menemukan ‘ritme’-nya, akan sulit untuk membuatnya berhenti. Dan hal tersebut menyatakan bahwa seluruh fase hidupnya nampak senantiasa digerakkan oleh energi yang tak kenal lelah.

“Saya memang selalu menjadi orang yang berhasrat dan bersemangat,” ia menyetujui penilaian saya. Bahkan sebelum menjajal seni peran di film pertamanya (The Blind Side di tahun 2009 bersama Sandra Bullock), ia telah bekerja selama bertahun-tahun—modelling, mengikuti audisi bertubi-tubi, menulis (termasuk sebuah artikel bulanan di majalah ELLE Girl), dan sebagai presenter TV.

“Saya selalu ingin didengar. Bukan berarti saya ingin perhatian masif sebagai ‘the voice of a generation’. Saya hanya ingin dapat terhubung dengan orang-orang. Saat saya mengatakan bahwa saya akan melakukan sesuatu, maka sudah pasti saya akan melakukan itu. Dan terjadi saat saya masih berusia 10, 12, dan 16 tahun. Dulu saya sempat berpikir bahwa orang-orang pasti mengira saya perempuan gila karena di usia 16 tahun berani mengajukan konsep acara talk show kepada para eksekutif industri televisi yang menganggap saya masih bocah saat itu.” Ia terdiam. “Well, secara teknis, saat itu saya memang masih bocah!” Kisah ini memberi latar terhadap kekuatan diri yang membantunya membentuk jalan karier yang berkisar dari genre komedi romantis (Love, Rosie), drama klasik (Les Misérables oleh BBC), hingga biopik tersohor (Mank) yang meraih penghargaan Golden Globes. Ia juga meraih nominasi Emmy untuk filmnya Rules Don’t Apply dan Emily in Paris. Namun silaunya karier Collins tidak selalu berjalan lancar. Dalam bukunya (oh ya, ia juga seorang penulis buku), Unfiltered—yang dirilis di tahun 2018—ia membuka diri tentang kesulitannya menghadapi perfeksionisme yang menjadi sumbu bagi energinya, tapi sekaligus juga merobohkan kekuatannya dalam menjalani hidup. Perang batin ini membuatnya mengalami eating disorder saat ia masih remaja.

Saya bertanya, bagaimana kedua hal yang bertentangan dalam dirinya akhirnya menemukan jalan tengah: ketakutan akan kegagalan untuk memenuhi apa yang ia yakini sebagai standar hidup, dan keinginannya untuk bekerja di industri yang tidak mungkin mencapai standar tersebut.

Lily Collins for ELLE photography Danny Kasirye styling Aurelia Donaldson fashion Chanel (gaun), Cartier (anting) makeup Polly Osmond (Premier hair ad Makeup) hair Ken O’Rourke (Premier Hair ad Makeup)

“Bila dianalisa, saya justru berkembang dan berhasil di situasi-situasi sulit, atau saat berada di bawah tekanan. Bahkan di saat merasa cemas dan takut, apabila saya dituntut untuk berhasil, saya pasti akan berhasil.” Proses pembuktian diri di tengah industri menakutkan ini justru kian sulit dan rumit dengan eksistensinya yang kerap kali harus ‘menegosiasi’ dua jenis ketenaran dalam waktu bersamaan: kepopuleran yang ia raih di usia muda, dan reputasi global sosok ayahnya. Bila melihat dari artikel wawancara lain, Collins cukup terbuka membahas tentang Phil.

Saat Collins masih remaja dan tengah membangun kariernya, ada saat-saat yang cukup memberi beban mental setiap kali namanya disebut dan selalu dikaitkan dengan ketenaran besar seorang musisi era ‘80-an—walaupun itu adalah ayah kandung sendiri. “Dulu banyak sekali pernyataan yang ‘dipelintir’ dalam setiap wawancara saya,” ia mengenang. “Sejujurnya, saya anak perempuan yang luar biasa bangga. Musisi besar itu adalah ayah saya! Saya mencintainya, menghormatinya, dan bahkan terinspirasi olehnya. Tapi sebagai seorang individu, saya juga ingin menjadi diri sendiri, tanpa bayang-bayangnya. Saya ingin memiliki jalan hidup sendiri. Dan di awal karier, saya selalu merasa orang-orang hanya tertarik pada keluarga saya. Maka bila Anda ditanya pertanyaan yang sama terus menerus, saya juga bisa frustasi. Saya tidak menginginkan ‘bayang-bayang’ ini menjadi cerita hidup saya.”

lily collins for carter clash unlimited
Lily Collins tampil sebagai wajah baru rumah perhiasan Cartier

Namun kenyataannya kini, cerita hidupnya tengah berubah. Phil kini justru menjadi ayah dari Lily yang saat ini namanya jauh lebih tersohor. Dan kini ia tidak lagi memaksakan untuk meraih kesempurnaan. “Karena mengejar standar kesempurnaan terlalu melelahkan. Terutama saat Anda menyadari bahwa kesempurnaan tersebut ternyata tidak seutuhnya sempurna; versi sempurna orang ternyata berbeda-beda; dan menjadi sempurna ternyata sangat membosankan. “Saya pikir saat ini segala manuver saya lebih mengacu kepada melakukan yang terbaik semampu saya dan tidak menjadi gila karena memaksakannya. Karena Anda akan menyadari bahwa kesempurnaan yang Anda kejar, bukanlah hal yang benar-benar Anda inginkan. Kini, saya tidak ingin menjadi sempurna sama sekali.”

Barangkali pandemi justru memberinya bantuan lewat cara yang sedikit aneh. “Saya sangat menginginkan untuk bisa berkeluarga dan tidak ingin kehidupan pribadi saya terdampak oleh ambisi saya dalam bekerja. Sebab itu, masa pandemi seolah mengizinkan saya memiliki waktu terbaik dengan tidak memperbolehkan saya bekerja dan mengarahkan pandangan saya untuk memikirkan hal lain yang terjadi pada saya.” Dan menurut saya, demikian pula mengapa akhirnya ia memutuskan untuk menikah. Ia jelas nampak bersinar saat Charlie berjalan menghampiri. “Love you!” ujarnya.

Lily Collins, dalam balutan gaun rancangan Ralph Lauren, secara resmi menikahi Charlie McDowell pada 4 September 2021. (Photo courtesy Lily Collins via Instagram.com/@lilyjcollins)

Lalu ia berkisah tentang pernikahan mereka yang baru saja dihelat. “Saya tidak pernah membuat pesta ulang tahun karena takut orang-orang tidak akan merasa terhibur saat datang merayakan. Tapi anehnya, wedding was my thing. Sejak awal, saya sudah tahu bahwa acara pernikahan ini akan menjadi indah!” Acara tersebut berlokasi di pegunungan Colorado. Gaun rancangan Ralph Lauren yang saat itu ia kenakan terinspirasi oleh papan Pinterest yang ia kurasi dan ia beri judul Western Americana meets British Victorian.

Tapi kisah tersebut terlalu sempurna. Jelas terlihat bahwa saat ini Collins masih berusaha untuk memiliki rumah tangga yang ia inginkan—bukan rumah tangga yang ia idealkan. Sebab itu, ini bukanlah sebuah cerita tentang happy ending. Namun lebih sebagai sebuah babak baru yang indah—yang plot ceritanya sedang ditulis sendiri oleh sang protagonis. Ia mungkin tidak memahami apa yang akan terjadi di babak berikutnya, tapi ia tidak peduli. Karena saat masalah yang jauh lebih penting datang menghampiri, Lily Collins telah memiliki semua kendali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.