Mencoba Memahami Kesehatan Mental Lewat Sinema

mental health film issue - welcome to me

Diskusi tentang isu kesehatan mental yang berkembang di ranah sosial hadir lewat gambaran film dan serial televisi untuk membantu Anda dalam memahaminya.

Gangguan kepribadian dan kesehatan mental bukan tema asing untuk layar sinema. Pemaparannya telah kita saksikan secara halus tersirat dalam drama penuh air mata It’s A Wonderfull Life (1946); melalui kompleksitas figur muda Jim Stark di Rebel Without A Cause (1955); dibumbui horor sebagaimana The Shining (1980) mengemas permasalahan depresi yang menggerogoti kejiwaan sang tokoh utama, Jack Torrance (diperankan oleh Jack Nicholson); atau jika Anda mencari referensi paling modern ialah pengisahan Todd Phillips atas karakter penjahat paling kejam di kota Gotham, Joker (2019).

Rebel Without A Cause

Eksplorasi kondisi kejiwaan manusia kian gamblang dikisahkan sebagai narasi dalam film seiring zaman—di mana kasus persoalan kesehatan mental mengalami peningkatan plus dengan diagnosa beragam. Girl Interrupted (1999) memperkenalkan para penonton kepada kondisi borderline personality disorder (gangguan kepribadian ambang). Tatkala televisi mulai turut andil membangun kesadaran masyarakat. Serial seperti 13 Reasons Why (musim pertama tayang mulai 2017) membuka percakapan tentang anxiety, paranoid, dan narsistik; serta bagaimana kondisi tersebut dapat memengaruhi kondisi psikis seseorang—bahkan mereka yang sebelumnya sehat—mendorong hasrat untuk menyakiti diri sendiri. Stigma publik atas gangguan kepribadian atau mental sebagai sebuah penyakit kegilaan pun beranjak luntur.

joker film mental health
Photo courtesy DC Films/Warner Bros. Pictures

Tidak dipungkiri, mendeteksi kondisi emosional seseorang dengan segala kompleksitas yang dimiliki manusia bukan perkara ringan. Ingat bagaimana kedalaman psikis Hannah Baker terlewatkan oleh teman-teman juga keluarganya? Kehadiran sinema memang tidak lantas membuat para penontonnya menjadi ahli deteksi kejiwaan. Namun, setidaknya dapat menstimulus panca indra Anda untuk lebih peka dalam menelaah kondisi kesehatan mental seseorang di sekitar Anda, atau bahkan membantu memahami gejolak emosi diri Anda sendiri. Sebab, setiap permasalahan yang timbul pasti dilandasi oleh suatu alasan.

Di Hari Kesehatan Mental Sedunia, kami mengurasi 10 karya sinema untuk Anda yang ingin menyelami kompleksitas emosi seorang manusia. Namun mohon diingat, adegan-adegan dalam film memiliki kemampuan untuk memicu reaksi yang berbeda bagi setiap penontonnya. Jika Anda merasakan perubahan suasana hati hingga emosi secara ekstrem pada saat atau setelah menontonnya, jangan ragu untuk membicarakan perasaan Anda kepada orang lain. Sebagaimana esensi dan tujuan dari filmnya sendiri.

all the bright places elle fanning
Photo courtesy Netflix

All the Bright places (2020)

Violet Markey (diperankan oleh Elle Fanning) tenggelam dalam duka kematian saudara perempuannya dalam kecelakaan mobil. Theodore Finch (diperankan oleh Justice Smith) sedang dalam pengawasan akibat sikap temperamen dan terancam tidak lulus sekolah. Keduanya tidak saling mengenal, tetapi memiliki kesamaan sifat: antisosial. Takdir mempertemukan mereka untuk saling jatuh cinta. Saat Violet mulai berani membuka diri, Finch bergelut dengan rasa takut mempercayai orang lain dan semakin menutup diri. Tenggelam dalam kesedihan dan kesendirian, Finch memutuskan mengakhiri hidupnya; seraya Violet menelusuri jejak memori berusaha mencari kebahagiaan kembali.

mental health film issue - 13_Reasons_Why
Photo courtesy Netflix

13 Reasons Why (2017-2020)

Serial 13 Reasons Why mengajak Anda untuk lebih peka melihat tanda-tanda seseorang yang mengalami depresi. Musim pertamanya menyuguhkan serangkaian alasan yang membuat sang tokoh utama, Hannah Baker (diperankan oleh Katherine Langford), memutuskan bunuh diri. Musim kedua dan ketiga memusatkan perhatian atas efek bullying dan bagaimana hal tersebut berkontribusi terhadap psikis antisosial. Musim keempatnya mengekplor sikap paranoid hingga mengarah pada skizotipal yang dialami masing-masing karakternya.

mental health film issue - its okay to not be okay
Photo courtesy Netflix

It’s Okay to Not Be Okay (2020)

Sebagaimana kebanyakan drama seri Korea, plotnya masih berkisah tentang cinta. Walau begitu, narasi It’s Okay to Not Be Okay dilatari berbagai kondisi emosional dari trauma yang disuguhkan setiap karakternya. Ko Moon-young (diperankan oleh Seo Ye-Ji) adalah seorang penulis buku cerita anak-anak berkepribadian antisosial, impulsif, dan arogan. Moon Kang-tae (diperankan oleh Kim Soo-hyun) merupakan perawat di bangsal psikiatris yang tanpa sadar memiliki kecenderungan skizoid dan dependen. Do Hui Jae ialah penulis novel thriller yang narsistik.

mental health film issue - welcome to me
Photo courtesy Bron Studios/Alchemy

Welcome to Me (2014)

Dikemas sarat humor, film besutan Shira Piven ini menyoroti upaya seorang penderita gangguan kepribadian ambang dalam memahami emosionalnya. Pasca bercerai dan kehilangan pekerjaannya, Alice Klieg (diperankan oleh Kristen Wiig) memenangkan lotere yang menjadikannya kaya raya. Apa yang kemudian dilakukannya? Ia membeli program televisi dan memproduseri acaranya sendiri, Welcome to Me, untuk melakukan apa saja yang menjadi minatnya. Kontennya senantiasa impulsif. Pada satu hari ia berakting menangis histeris, di hari lain ia memanggang kue untuk diet ekstrem. Dalam dinamika emosinya, Alice berharap dapat menemukan logika melalui pengalaman-pengalaman yang ia ciptakan.

mental health film issue - Silver-Linings-Playbook-jennifer-lawrence
Photo courtesy The Weinstein Company

Silver Lining Playbook (2012)

Pat Solitano, Jr. (diperankan oleh Bradley Cooper) baru keluar dari institusi kejiwaan karena bipolar disorder (kepribadian ganda), setelah memukuli selingkuhan sang istri secara membabi buta. Tiffany Maxwell (diperankan oleh Jennifer Lawrence) mengalami depresi setelah suaminya wafat hingga berkepribadian ambang dan dipecat dari pekerjaannya. Di tengah upaya melanjutkan hidup secara lebih baik, keduanya saling bergantung satu sama lain untuk memenangkan sebuah kompetisi dansa; yang pada akhirnya membantu mereka memahami makna kebahagiaan.

mental health film issue - girl interrupted
Photo courtesy Columbia Pictures

Girl, Interrupted (1999)

Susanna Kaysen (diperankan oleh Winona Ryder) dikirim ke institusi kejiwaan khusus perempuan untuk menerima kenyataan bahwa dirinya mengalami gangguan kepribadian ambang. Ia dihadapkan pada situasi tidak nyaman harus senantiasa membuka pikirannya kepada ahli psikiater. Dalam pnya di institusi, film tersebut akhirnya kembali menjadi karikatur wanita ‘gila’ dengan masalah ayah yang berkutat pada senyum jahat Angelina Jolie saat dia menekan pena ke tenggorokannya.

Photo courtesy Paramount Pictures

Ordinary People (1980)

Keluarga Jarret adalah contoh orang baik, santun, dan melakukan segala hal sesuai aturan. Keluarga Jarret selalu terkendali; mereka menyimpan privasi begitu rapat di dalam rumah megahnya di kawasan elit Chicago. Konflik meledak saat pengendalian diri tidak mampu mengakomodasi ketakutan, kemarahan, dan kebencian yang muncul ketika sang anak remaja, Conrad Jarrett, (diperankan oleh Timothy Hutton) yang tertutup mencoba bunuh diri udai dirundung rasa bersalah atas kematian sang kakak dalam kecelakaan berlayar. Kembali dari perawatan institusi kejiwaan, Conrad berupaya untuk mengatasi penderitaan mentalnya dengan bantuan sang psikiatris. Kondisinya malah jauh terpuruk ketika ia mencoba berhubungan kembali dengan sang ibu (doperankan oleh Mary Tyler Moore) yang marah dan berubah dingin, sang ayah (diperankan oleh Donald Sutherland) yang terluka secara emosional.

Photo courtesy Paramount Pictures

Virgin Suicide (1999)

Apa yang membuat seorang remaja usia 13-17 tahun begitu depresi dan terdorong untuk selalu mencari masalah hingga mencoba menyakiti diri sendiri? Virgin Suicide besutan Sophia Coppola mengelaborasi reaksi dari hubungan keluarga yang terlalu mengekang, serta bagaimana andil masyarakat dalam membentuk perlakuan depresif seseorang.

Photo courtesy Palari Films

Posesif (2017)

Lala Anindita (diperankan oleh Putri Marino) terbiasa hidup untuk menyenangkan orang lain, terutama sang ayah, hingga ia tidak menyadarinya. Ketika bertemu Yudhis Ibrahim (diperankan oleh Adipati Dolken) yang berkepribadian paranoid dan anasiskatposesif, Lala tenggelam dalam kekalutan pikiran serta hati untuk memilih dunia yang ingin ia tinggali.

Gone Girl (2014)

Amy Dunne (diperankan oleh Rosamund Pike) memiliki kehidupan sempurna selayaknya cerita dalam dongeng. Wajah rupawan, otak cerdas dengan karier cemerlang, berasal dari keluarga elit dan terpandang. Para perempuan mengaguminya dan setiap lelaki memujanya. Pernikahannya dengan Nick Dunne (diperankan oleh Ben Affleck) kian menunjukkan potret kebahagiaan ideal. Tetapi perselingkuhan membuka sisi kelam Dunne yang berkepribadian narsistik hingga menyakiti orang lain.

world mental health day - joker film - todd phillips
Photo courtesy DC Films/Warner Bros. Pictures

Joker (2019)

Tanpa bermaksud memaklumi segala jenis tindak kriminal, Todd Phillips menggambarkan bagaimana kejahatan tidak lahir dengan sendirinya. Arthur Fleck memiliki kondisi mental yang dapat mendorongnya untuk tertawa dalam situasi tak wajar. Merasa direndahkan dan dikhianati oleh masyarakat, Fleck larut dalam pikiran kalut dan kebencian dalam diri yang melandasinya melakukan tindakan ekstrem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.