Mengapa Orang Ramai Bicara Di Clubhouse?

vector designed by freepik edited elle - clubhouse

Memahami popularitas Clubhouse yang meroket dalam waktu singkat, dan tujuan orang-orang berbicara di ruang obrolannya.

Aplikasi Clubhouse mendadak populer sejak Mark Zuckerberg dan Elon Musk berbagi tautan sebuah ruang obrolan di media sosial tersebut. Clubhouse adalah media sosial berbasis audio yang bisa digunakan untuk membuka diskusi langsung (live) secara virtual.

Pada Februari 2021, CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk, berdiskusi dengan CEO Robinhood Vlad Tenev lewat aplikasi Clubhouse. Obrolan berdurasi 90 menit itu didengar 5.000 partisipan. Angka tersebut adalah batas maksimal ruang dengar di Clubhouse. Melalui akun Twitternya, Musk juga mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin untuk bergabung. Aplikasi ini kemudian menyedot perhatian banyak orang dan digunakan oleh berbagai kalangan mulai dari miliarder, CEO, selebritas, influencer, pekerja seni, dan lain-lain.

Per 1 Februari 2021, jumlah pengguna Clubhouse 2 juta dengan valuasi 1 miliar dollar AS. Meski sudah dianggap sebagai startup unicorn, Clubhouse saat ini baru tersedia di perangkat iOs. Namun CEO Clubhouse, dikutip Business Today, menyatakan bahwa nantinya aplikasi ini terbuka untuk semua orang, termasuk pengguna Android.

Cara Kerja Clubhouse

Clubhouse didirikan pada Maret 2020. Aplikasi ini dikembangkan Alpha Exploration Co dan diinisiasi oleh pengusaha Silicon Valley, Paul Davison dan mantan pegawai Google, Rohan Seth. Clubhouse merupakan media sosial berbasis audio yang bisa digunakan untuk membuat obrolan atau menggelar diskusi secara langsung (live) dalam bentuk virtual. Setiap pengguna dapat memasuki room, mendengar, hingga berpartispasi dalam diskusi yang sedang berlangsung di masing-masing room

photo courtesy Drake via Instagram.com/@champagnepapi

Tidak ada standar khusus untuk melakukan aktivitas obrolan di dalam ruangan. Host akan mengundang akun-akun lain sebagai speakers ataupun moderator. Di Clubhouse, Anda bisa datang dan pergi sesuka hati. Anda bebas memilih room diskusi sesuai topik yang Anda inginkan. Anda juga bisa ikut berpatisipasi dalam obrolannya. Jika Anda tertarik untuk ikut berbicara, Anda bisa menggunakan fitur Raise a Hand yang selanjutnya akan memberi tahu host

Dari sisi algoritma, Clubhouse membuka ruang diskusi berdasarkan topik yang Anda minati. Saat Anda bergabung, Anda bisa memilih topik apa yang Anda suka. Cakupan kategorinya cukup luas. Mulai musik, film, kuliner, teknologi, entertaintment, seni, fashionbeauty, arsitektur, fotografi, hingga politik. Semakin banyak informasi yang Anda berikan tentang minat Anda, maka semakin banyak ruang (room) percakapan atau individu yang direkomendasikan Clubhouse untuk Anda ikuti. Ruang percakapan atau room mirip seperti conference call, dengan moderator, pembicara, dan peserta. Beberapa orang berbicara dan sebagian besar lainnya mendengarkan. Begitu percakapan selesai, maka ruangan ditutup dan percakapan tidak lagi dapat didengar ulang.

Ragam Figur Publik yang Bisa Ditemui Di Clubhouse

Mulai dari musik, film, kuliner, teknologi, hingga politik. Bukan mustahil Anda bisa berada di satu room dengan orang-orang di seluruh dunia, seperti Elon Musk. Pendiri Tesla dan SpaceX itu beberapa waktu lalu menjawab berbagai pertanyaan dari para peserta atau para tamu yang bergabung di room-nya. Melalui Clubhouse, Musk menjawab pertanyaan, mulai dari soal perjalanan luar angkasa, kependudukan di planet Mars, kecerdasan buatan, hingga persoalan vaksin Covid-19. 

Selain Elon Musk, nama-nama seperti Mark Zuckerberg, Jack Dorsey, Oprah Winffrey, Kevin Hart, Kanye West, dan Jared Leto telah bergabung dalam aplikasi ini untuk berbagi pengalaman mereka. Di Indonesia sendiri, Clubhouse diramaikan oleh kehadiran William Tanuwijaya (CEO & Pendiri Tokopedia), sutradara Ernest Prakasa dan Joko Anwar, hingga Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno juga sudah beberapa kali membuat berbagai obrolan di Clubhouse. 

Mengapa Orang Ramai Bicara Di Clubhouse?

Pengguna Clubhouse juga merasa ‘aman’ untuk buka suara di ruang digital tersebut. Sebab aplikasi ini melarang segala konten yang tersiar di dalamnya direkam dan disebarluaskan di ranah umum atau media sosial lainnya, dengan alasan apa pun. Sehingga jika seseorang merekam dan menyebarluaskan obrolan di Clubhouse, hal tersebut melanggar Community Guidelines.

photo courtesy Oprah Winfrey via Instagram.com/@oprahwinfrey

Barangkali itu sebabnya banyak orang percaya diri untuk membicarakan apa pun di Clubhouse. Obrolan yang padat, digelar langsung, tanpa ada siaran ulang. Clubhouse dirancang seringkas mungkin, cenderung lebih praktis dibanding media sosial lain. Clubhouse tidak punya elemen visual layaknya Facebook dan Instagram. Fiturnya lebih menekankan pada ide diskusi dari tampilan. Anda tidak perlu menyiapkan kamera, mikrofon, ataupun lighting saat ingin melakukan siaran langsung. Tidak ada fitur kolom komentar atau chat, pengguna bisa fokus mendengar percakapan. Anda bisa menyiarkan atau mendengarkan konten Clubhouse di mana pun Anda berada sambil melakukan kegiatan lainnya. 

Clubhouse menjadi kian digandrungi karena aplikasi ini memungkinkan siapa pun dapat menyimak percakapan dan berkesempatan untuk berdiskusi dengan figur publik atau berbagai sosok dari beragam bidang. Selain kesempatan untuk berdiskusi, Clubhouse juga menjadi tempat membangun relasi atau networking. Hal ini dirasa selaras dengan situasi saat ini di mana kita semua tengah berupaya untuk mengurangi kebiasaan berkumpul dan menggelar acara keramaian. Padahal tidak sedikit orang yang merasa perlu memelihara hubungan sosialnya. Baik untuk berbagi ilmu, maupun berkenalan dengan orang-orang baru. Clubhouse menjawab keinginan tersebut. Bedanya, di sini Anda tidak perlu saling bertukar kartu nama untuk memulai sebuah perkenalan. 

Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.