Nagita Slavina Dalam Membimbing Rafathar Mengeksplor Masa Kecil

Nagita Slavina and Rafathar for ELLE Indonesia - photography Ikmal Awfar - styling Sidky Muhamadsyah - editor Anovalia

Bergerak aktif menggali potensi diri dan minim paparan media sosial. Nagita Slavina menuturkan prinsip pengasuhan sang putera, Rafathar.

Setiap anak bertumbuh dengan memiliki impian. Ada yang ingin terbang tinggi menjelajah antariksa, menjadi atlet juara dunia, pemilik perusahaan, bintang rock, penulis, pewarta berita, atau bagi seorang Nagita Slavina: menjadi ibu rumah tangga. Apa Anda ingat impian semasa kecil? Kala imajinasi tak terusik realitas dan semangat belum terbentur aral. Perjalanan hidup kerap mengantarkan setiap manusia pada pelbagai pengalaman yang kemudian membuka kebaruan cita-cita. Seiring waktu kita pun berganti keinginan yang membuat jantung berdebar hebat itu; atau barangkali (semoga tidak terjadi pada Anda) melepaskannya karena harus berkompromi dengan keadaan.

Perenungan akan hasrat ini muncul di kepala saat saya menemui Nagita dan Rafathar Malik Ahmad (anak pertamanya bersama Raffi Ahmad, suaminya sejak tahun 2014) di kediaman mereka, awal bulan Juni 2021. Saya duduk bersama Nagita di ruang makan berbalut palet warna teal, sementara Rafathar— sapaan akrab putra Nagita—tengah asyik bermain game di living room. Sesekali ia berseru memanggil ibunya untuk meminta izin melakukan sesuatu dalam permainan, namun ia tidak beranjak dari tempatnya.

Jika Anda mengikuti konten keseharian keluarga Nagita dan Raffi, maka Anda tahu betul bagaimana Rafathar luwes berbicara sebagaimana orangtuanya. Namun selayaknya anak kecil saat berjumpa orang baru, hari itu ia cenderung pendiam dan lebih banyak bicara lewat Nagita atau pengasuhnya. Adakala ia balas menjawab langsung ketika saya bertanya sesuatu. Seperti, apakah ia bersedia melakukan sesi pemotretan dengan sang ibu? “Iya, tapi enggak mau lama-lama,” jawabnya. Apa kegiatan favoritnya bersama ibu? “Main. Kalau enggak peluk (baca: berpelukan di tempat tidur),” katanya.

Rafathar for ELLE Indonesia - photography Ikmal Awfar - styling Sidky Muhamadsyah - editor Anovalia
Rafathar for ELLE Indonesia July 2021 photography Ikmal Awfar styling Sidky Muhamadsyah fashion Petite Bateau

Rafathar, barangkali adalah anak laki-laki berusia 5 tahun yang paling produktif di Indonesia. Ia telah memiliki sebuah judul film dan dua serial animasi di mana ia menjadi pengisi suara. Ia juga tampil sebagai model dalam beberapa iklan, serta pernah meluncurkan lagu anak. Rekam jejaknya seolah memperlihatkan pertumbuhan seorang bintang muda. Tetapi ketika saya menayakan tentang impiannya di masa depan, ia hanya terdiam dan berlalu pergi.

Rafathar lahir dari keluarga berdarah seni. Orangtuanya merupakan salah dua artis multitalenta yang dimiliki Indonesia. Nama besar keduanya kian disegani tatkala kini sukses mendirikan sekaligus memimpin rumah produksi RANS Entertainment yang melahirkan ragam konten hiburan dengan angka penonton berjumlah tinggi di platform digital juga televisi. Rasanya bukan hal mengejutkan bilamana Rafathar turut unjuk keterampilan di bidang seni hiburan. Nagita pun tidak keberatan jika anaknya mewarisi potensi tersebut. Walau begitu, ia mendorong Rafathar untuk senantiasa merangkul setiap pengalaman baru yang datang. Di tengah menikmati kehamilan anak kedua, Nagita Slavina membuka dirinya dan berbagi pengalaman bagaimana ia membimbing Rafathar mengeksplorasi mimpinya.

Nagita Slavina and Rafathar for ELLE Indonesia - photography Ikmal Awfar - styling Sidky Muhamadsyah - editor Anovalia
Nagita Slavina for ELLE Indonesia photography Ikmal Awfar styling Sidky Muhamadsyah fashion Dior

Nagita, apakah kita bisa mulai menyebut Rafathar sebagai bintang cilik?

“Saya tidak keberatan kalau orang menyebutnya bintang cilik. Tapi sejujurnya, saya berusaha untuk tidak memaparkan Rafathar kepada status tersebut; dengan harapan supaya ia tidak merasa telah memiliki label. Sebab, saya dan suami tidak pernah mau menciptakan batasan terhadap impian Rafathar. Kami ingin ia terbuka pada setiap pengalaman dan menentukan jalannya sendiri di masa depan.”

Popularitas adalah hal lazim di keluarga Anda. Bagaimana Anda memberi pengertian perihal tersebut kepada Rafathar?

“Rafathar pernah bertanya pada saya dan Raffi: mengapa banyak orang yang tahu namanya, padahal ia tidak pernah berkenalan dengan mereka. Saya menceritakan kepadanya bahwa kami kerap membawanya ke lokasi bekerja—sebab membawa anak bekerja sekaligus menjadi bentuk quality time kami di tengah kesibukan—karenanya banyak orang pun turut mengenalnya. Sejak ia kecil, kami selalu menjelaskan tentang pekerjaan kami serta pengaruhnya, sehingga Rafathar familiar dan kini lebih memahami konsep pekerjaan itu sendiri.”

Bagaimana Anda menjaga Rafathar dari “serangan” opini masyarakat dan membimbingnya dalam belajar merespon di usia sangat muda?

“Saya selalu menjaga diri sendiri dengan tidak terlalu memedulikan opini orang lain. Hal yang sama saya terapkan kepada Rafathar. Saya tidak mengizinkan dia memiliki media sosial pribadi, ataupun membebaskannya untuk mengakses media sosial sendiri. Bukan bermaksud menghalangi pengetahuannya akan dunia luar, tapi ada waktu yang tepat memahami setiap hal seiring usia.”

Nilai hidup paling esensial yang Anda tanamkan dalam diri Rafathar, dan anak- anak Anda kelak?

“Saya dan Raffi selalu menanamkan kepada anak bahwa nilai penting seorang manusia dilihat dari kebaikannya; kebaikan antar sesama tanpa membeda-bedakan. Kami juga membiasakan agar ia bersikap terbuka. Saya menghindari menciptakan gap dengan anak. Saya ingin anak tidak merasa sungkan bercerita apa saja kepada orangtua.”

Bagaimana Anda membantu Rafathar mengenali potensinya?

“Meski Rafathar mulai terbuka mengenal dunia seni kreatif, kami tidak lantas menentukan kehendak kepadanya. Kami lebih menawarkan pilihan dengan memperlihatkan beragam aktivitas anak- anak sebayanya. Lalu kami akan bertanya, jika ada kegiatan yang ia rasa menarik yang ingin ia coba.”

Apa strategi Anda dalam menanamkan rasa tanggung jawab kepada Rafathar?

“Saya selalu menegaskan kepada Rafathar, bahwa saat ia menyatakan bersedia melakukan sesuatu, artinya ia harus bertanggung jawab melakukannya sampai selesai. Tentu saja suasana hati anak kecil cepat berubah. Tugas kita sebagai orangtua untuk mendampingi dan tidak bosan memberi pengertian sehingga ia tidak merasa dipaksa melakukannya.”

Nagita Slavina and Rafathar for ELLE Indonesia - photography Ikmal Awfar - styling Sidky Muhamadsyah - editor Anovalia
Nagita Slavina and Rafathar for ELLE Indonesia July 2021 photography Ikmal Awfar styling Sidky Muhamadsyah fashion coat Max Mara (Nagita Slavina), dress Brock Collection x H&M (Nagita Slavina), Burberry (Rafathar)

Salah satu hal yang menantang tentang mengasuh anak dalam pandemi ialah melatih tumbuh kembang kognitif. Bagaimana strategi Anda mengatasinya?

“Kondisi pandemi ini memang saya rasakan sangat challenging, terlebih untuk anak usia 5 tahun seperti Rafathar. Usia ini merupakan salah satu fase krusial dalam pertumbuhan anak. Dan, saya tidak mengatakan sekolah online tidak manfaat, tapi saya merasa belum cukup efektif memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, kami turut memanggil guru privat untuk memberikan kelas tambahan di luar jam sekolah online. Kami juga menjaga motoriknya tetap aktif lewat serangkaian kegiatan seperti berenang, les piano, bermain bola, atau apa saja yang ia suka.”

Apa yang Anda lakukan untuk menjaga ikatan dengan anak?

“Keluarga kami punya sejenis ritual. Di pagi hari, kami meluangkan waktu cuddling di tempat tidur, semacam transfer energi sebelum mulai beraktivitas. Lalu momen sebelum tidur menjadi waktu refleksi diri. Secara bergantian, kami akan bercerita tentang seluruh kegiatan, peristiwa menarik yang dialami, hingga kesalahan yang dilakukan di satu hari itu.”

Nagita Slavina and Rafathar for ELLE Indonesia - photography Ikmal Awfar - styling Sidky Muhamadsyah - editor Anovalia
Nagita Slavina for ELLE Indonesia photography Ikmal Awfar styling Sidky Muhamadsyah fashion Enfold–Masari Shop, Vivetta–Masari Shop.

Menjadi ibu rumah tangga merupakan komitmen seumur hidup kepada orang lain. Peran ini, terkadang, bisa membuat seorang perempuan kehilangan dirinya sendiri. Bagaimana Anda bertumbuh di situasi itu?

“Banyak orang yang bilang bahwa kita akan kehilangan waktu untuk diri sendiri ketika sudah berkeluarga. Barangkali ketiadaan waktu untuk diri sendiri ini yang membuat seseorang merasa “hilang”. Saya pikir, wajar jika setiap orangtua memiliki momen tersebut. Pun saya pernah merasakannya. Kuncinya di manajemen waktu. Saya belajar bahwa untuk bisa mengurus keluarga, saya juga perlu senantiasa menghargai diri sendiri. Hati yang bahagia adalah sumber energi positif untuk menjalani hari lebih baik. Dan yang paling penting adalah percaya pada diri sendiri. Menjadi ibu mengajarkan saya bahwa setiap orangtua memiliki pedoman pengasuhan masing-masing yang dirasa terbaik. Tidak ada yang lebih benar atau salah dalam hal parenting.”

Bagaimana cara Anda menenangkan diri saat kewalahan di tengah kesibukan?

“Sangat lumrah bagi setiap orangtua merasa kewalahan dalam mengurus anak. Apalagi saat hamil, tubuh saya bekerja dua kali lipat sehingga lebih cepat kelelahan. Ditambah pribadi lebih sensitif yang membuat emosi menjadi tidak stabil. Jika sedang berada di titik kelelahan yang luar biasa, saya akan kembali pada apa yang membuat saya bahagia.”

Apakah ada persiapan berbeda dalam menyambut kelahiran anak kedua?

“Selama hamil kedua, saya lebih memperhatikan pola makan yang sehat. Selebihnya berjalan apa adanya. Kami juga belum merencanakan persiapan melahirkan secara khusus walau di tengah situasi pandemi, tetap di rumah sakit. Ada sedikit khawatir, tetapi saya yakin semua orang akan berusaha untuk saling menjaga keamanan bersama.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.