Selena Gomez Bicara Karya dan Perjuangan Menghadapi Kesehatan Mental

Selena Gomez interview ELLE - only murders in the building - revelacion - HBO Selena + chef

Bertahun-tahun bergejolak melawan problematika kesehatan serta patah hati, Selena Gomez telah menemukan dirinya sendiri; secara spiritual pun dari segi kreativitas.

Glam room adalah tempat favorit Selena Gomez untuk bersantai di rumah. Sebuah ruang kecil di lantai dasar kediaman barunya di L.A., yang terhubung ke teras bermaterialkan bebatuan yang mengelilingi kolam berbentuk amuba. Di ruangan ini, terdapat meja rias dengan berbagai produk lini kecantikan Rare Beauty; rak pakaian acara memasak Selena + Chef; jajaran sepatu pilihan; sofa beledu hijau (tempat saya duduk); beberapa kursi salon (di mana Gomez duduk); televisi layar lebar; kulkas mini; dan sudut kudapan ringan. Gomez berbalut sweter abu-abu terang dan legging hitam, dipadu sneakers warna putih. Di ruangan inilah, ia, bersama teman serumahnya dan kakek-neneknya dari pihak ibu—yang pindah tinggal dengannya sejak sebelum pandemi—menonton pertandingan basket, dan hangout. Ia menyukai spasial terkecil di kediamannya ini.

Gomez pindah ke rumah barunya tidak lama sebelum pandemi, usai menjual dua rumah terdahulunya. “Saya menjajal beberapa lingkungan karena ingin menemukan apa yang dapat membuat saya nyaman di kota yang memberikan saya rasa ketidaknyamanan,” katanya. “Kala itu saya pikir, ‘Oh, barangkali West Hollywood’; tetapi kemudian saya merasa, ‘Di sana bukan vibe saya.’ Lalu saya pindah ke Calabasas; saya pikir akan menyenangkan dan kekeluargaan, namun ternyata area tersebut sangat overwhelming dan kekinian. Butuh beberapa saat untuk saya mencari yang mana yang terbaik.”

Kediaman yang akhirnya ia tempati beratmosfer kolektif, nyaman dan eklektik—selayaknya vila di pegunungan ski atau rumah sorority. “Saya adalah tipe communal person,” kata Gomez. “Saya menemukan kebahagiaan ketika bersama orang-orang yang saya cintai.” Mengingat segala tantangan yang dihadapinya dalam dekade terakhir, wajar jika ia betah dikelilingi oleh keluarga dan teman-teman terdekatnya.

Selena Gomez interview ELLE - only murders in the building - revelacion - HBO Selena + chef
Selena Gomez for ELLE September 2021 photography Inez & Vinoodh
styling Alex White fashion Chanel (t-shirt, rok, jaket, & choker), Cartier (kalung & cincin), Falke (fishnets stocking), Giuseppe Zanotti (mules).

“Terdiagnosis penyakit lupus, menjalani transplantasi ginjal, kemoterapi, komplikasi kesehatan mental, melalui patah hati yang sangat amat menjadi sorotan publik—adalah hal-hal yang seharusnya membuat saya terpuruk,” tuturnya. Gomez berbicara dengan tenang dalam intonasi rendah dan stabil. “Setiap kali mengalami sesuatu, saya seolah menantikan, ‘Apa lagi berikutnya? Apa lagi yang harus saya hadapi?’” katanya. Kondisi tersebut mendorongnya pada keyakinan, “Anda akan membantu orang lain.”
Ia melanjutkan, “Barangkali ada masa di mana saya tidak memiliki cukup kekuatan, dan hendak menyakiti diri sendiri. Keyakinan itu yang membuat saya terus maju.”

Fase sulit hanyalah bagian kecil dalam dekade terakhir hidup Gomez. Kurun ini juga menjadi era yang luar biasa produktif baginya. Selama pandemi, Gomez sibuk syuting serial teranyar Hulu yang berjudul Only Murders in the Building (peran reguler perdananya di serial televisi sejak Wizards of Waverly Place). Tampil bersama Steve Martin dan Martin Short, Gomez—yang juga bertindak sebagai produser eksekutif—memerankan tokoh Mabel, perempuan muda yang tinggal di gedung apartemen elit kawasan Upper West Side. Ketika seorang penghuni ditemukan terbunuh, ia bersama tetangganya yang menggemari penyelidikan kriminalitas, Charles dan Oliver (diperankan oleh Martin dan Short), menjalankan investigasi dan membuat podcast bersama.

Saat Only Murders in the Building mulai syuting bulan November 2020 silam, Gomez antusias; meski protokol keamanan COVID membuat suasana syuting penuh tekanan. “Semua orang mengenakan masker dan pelindung wajah. Jika saya menyentuh prop, kru segera membersihkannya,” ceritanya. Untuk adegan berciuman, ia diwajibkan untuk membersihkan mulut menggunakan obat kumur setelah setiap pengambilan gambar (7 hingga 10 kali). “Melakukan itu membuat mulut saya terbakar. Rasanya seperti saya ingin muntah. Saya belum pernah mengalami bekerja dengan suasana produksi seperti itu sebelumnya.”

“Ia adalah aktris yang brilian. Ada sebuah kehangatan dan keindahan tersendiri dalam dirinya,” Martin Short berujar lewat telepon. Gomez juga membuat Steve Martin terkesan. “Marty (Short) dan saya tercengang akan pemahamannya, bahwa berakting dalam diam adalah seni peran yang kuat,” katanya sembari menambahkan.

Ketiga aktor tersebut dengan cepat membangun ikatan emosional, energi dinamis mereka di lokasi syuting mencerminkan permainan energik saat beradu peran di depan kamera. Gomez sendiri sangat menyukai bekerja dengan aktor senior. “Saya berkesempatan berada di sebuah ‘ruang’ dengan begitu banyak kearifan,” ujarnya. “Mereka selayaknya paman bagi saya.” Martin menimpali pernyataannya tersebut, “Akhirnya kami merasa menjadi sangat dekat dengan Selena.”

Only Muders in the Building bukan satu- satunya karya yang ia produksi selama masa karantina pandemi. Selena + Chef terinspirasi oleh makanan yang diunggah orang-orang, serta ketidakmampuan Gomez untuk membuatnya. “Semua orang sangat tertarik untuk bisa memasak selama pandemi,” tuturnya. Ia kerap menemukan beragam foto makanan, dan berharap mengetahui cara memasaknya.

Maka itu, ia menelepon timnya dan menanyakan kegiatan yang memungkinkannya bersenang-senang dengan memasak. Tak lama kemudian, Selena + Chef pun terlahir. Dalam intro acaranya, bahan-bahan makanan tiba di depan pintu rumah Gomez; dan ketika mengambilnya, ia bergumam, “Jadi ini yang akan saya hanguskan hari ini.” Lalu seorang chef tersohor muncul (lewat komunikasi video) di dapurnya. Sejauh ini, ia telah memasak bersama Nancy Silverton, Ludo Lefebvre, Antonia Lofaso, dan sederet chef ternama lainnya. Dapur Gomez difasilitasi banyak kamera dan televisi layar lebar, yang membagi siarannya meliputi wajah sang chef serta kinerja tangan mereka. Gomez mencoba untuk mengikuti arahan semampunya, sambil tersenyum diselingi bergurau. “Kemudian saya mengeluarkan masakan dari oven; ‘Jadi, seperti ini hasilnya,’” ujarnya.

Acara tersebut membuatnya bahagia. Selain karena tujuan filantropisnya (dua musimnya telah mengumpulkan donasi USD360.000 untuk 23 organisasi nirlaba), acara ini telah membantunya terhubung dengan penggemar lewat cara yang sangat autentik. “Acara ini adalah sisi diri saya paling orisinal yang terungkap ke dunia,” katanya. Ia sadar barangkali ia bukan koki paling berbakat, kendati demikian ia tetap berusaha yang terbaik semampunya. Para penggemar pun ‘menghampirinya’ untuk berkata, “Luar biasa sekali bahwa Anda berbuat salah.”

Butuh waktu bagi Gomez, yang telah menjalani hidup di bawah sorotan publik sejak berusia 7 tahun, untuk berada di titik nyaman menunjukan vulnerability. Bintang yang mengawali ketenaran lewat acara Disney Chanel, Wizards of Waverly Place, ini bergumul dengan minimnya privasi dan kehadiran media secara persisten di dalam hidupnya. “Saya merasa bagai objek selama beberapa masa. Untuk waktu yang lama, terasa menjijikkan,” katanya.

Pertama kali Gomez mengunjungi fasilitas perawatan untuk kesehatan mental—segera setelah ia terdiagnosis lupus pada 2014—beberapa pihak berasumsi ia pergi rehabilitasi karena penyalahgunaan zat tertentu. “Saya tidak tahu apa yang mereka yakini tentang perilaku saya— obat terlarang, alkohol, ‘melarikan diri’, berpesta. ‘Pengisahannya’ terlalu keji,” tuturnya.

Maka itu, Gomez memutuskan untuk membeberkan faktanya. Ia mengunggah pernyataan melalui Instagram yang berbunyi, “Saya ingin mengeklaim identitas saya kembali.” Ia bicara terbuka tentang perjuangannya: “Ya, saya telah pergi menjauh. Ya, saya berjuang menghadapi masalah kesehatan mental. Saya telah mengalami depresi. Saya telah mengalami kegelisahan.” Pada 2018, Gomez telah didiagnosis menyandang gangguan bipolar. “Saat mengetahuinya, saya merasakan beban berat seketika terangkat,” katanya. “Saya bisa bernapas dalam-dalam dan menerima, ‘Okay, kondisi saya memberikan penjelasan terhadap banyak hal.’”

Selena Gomez interview ELLE - only murders in the building - revelacion - HBO Selena + chef
Selena Gomez for ELLE September 2021 photography Inez & Vinoodh
styling Alex White fashion Chanel

Salah satu cara Gomez mengendalikan kesehatan mentalnya ialah dengan merelakan media sosial. Empat tahun silam, ia adalah pemilik akun dengan jumlah follower terbanyak di Instagram. Kendati dicintai oleh jutaan penggemar, ia berjuang menghadapi sentimen yang kerap bermunculan di dunia maya. “Saya mengidap penyakit mental, dan media sosial
tidak menambah apa pun bagi hidup saya.” Dia bertanya pada dirinya sendiri, “Apa tujuan memiliki media sosial?” Mengunjungi anak-anak
di bangsal rumah sakit, mendapati penggemar yang mengatakan bahwa Lose You to Love Me telah membantu mereka melalui masa sulit perceraian—perihal seperti ini lebih berarti baginya ketimbang, misalnya, mengunggah sembarang foto tentang kuku jarinya.

“Saya harus melakukan sesuatu (lebih dari pada ini). Setelah saya tiada, saya berharap dikenang atas ‘hati’ saya.” Maka, pada 2017, ia menyerahkan akses (dan sandi) akun media sosialnya kepada sang asisten. Ia tetap memberikan foto-foto dan catatan kutipan, namun tidak lagi mengunggah sendiri secara langsung. “Saya juga tidak memiliki aplikasinya di ponsel saya, sehingga nihil godaan. Seketika, saya harus belajar bagaimana caranya mendekatkan diri dengan pribadi sendiri. Awalnya menjengkelkan, sebab di masa lalu, saya bisa menghabiskan waktu berjam jam memperhatikan kehidupan orang lain. Sampai saya menyadari, ‘bahkan saya tidak mengenal orang tersebut!’ Kini, saya mendapat kabar secara pantas. Saat teman saya ingin bicara sesuatu, mereka menelepon saya dan bercerita, ‘Saya melakukan ini.’ Mereka tidak mengatakan, ‘Sudah lihat unggahan saya?’”

Memilih menjauh dari media sosial membersihkan jiwanya, memungkinkan Gomez untuk fokus terhadap berbagai proyek dan kegiatan yang memberi arti lebih mendalam. “Rasanya sangat menyenangkan, seketika saya merasakan hidup yang sesungguhnya,” katanya. Ia mengembangkan Rare Beauty, sebuah koleksimakeup yang merangkul kecantikan alami dan menolak standar kesempurnaan yang tidak realistis. “Bertahun-tahun saya mencoba terlihat serupa orang lain. Saya akan melihat sebuah gambar, dan berpikir, ‘My gosh, mengapa saya tidak terlihat seperti itu?’ Persepsi tentang image cantik itu tidak memberikan kebaikan apa pun bagi diri saya.”

Lewat Rare Beauty, ia berharap dapat memberdayakan sesama perempuan perihal berdandan sebagai keinginan, dan bukan karena sebuah kebutuhan. Sebagaimana seluruh kegiatan yang dijalaninya, Rare Beauty pun memiliki misi sosial: Rare Impact Fund, bertujuan mengumpulkan USD100 juta selama 10 tahun ke depan, untuk membantu peningkatan
akses bagi layanan program kesehatan mental. “Segala sesuatu yang terkait dengan diri saya, memiliki aspek sosial. Jika tak ada manfaat baik dihasilkan dari program tersebut, saya tidak akan melakukannya. Saya tidak butuh uang,” katanya. “Saya butuh orang yang mau berjuang bersama saya.”

Semangat juang serupa ia bawa ke Instagram. Menyadari bahwa dirinya memiliki platform yang kuat—bahkan tanpa ia mengendalikannya secara langsung setiap hari—ia memutuskan untuk menggunakan akun media sosialnya demi kebaikan bersama umat manusia. Menjelang Pemilihan Umum yang lalu, Gomez belum pernah memilih sebelumnya, dan ia mulai merenungkan tentang bagaimana hal tersebut tampak begitu dilematis. “Awalnya, saya hanya mengedukasi masyarakat tentang proses pengambilan suara,” ceritanya. Selanjutnya, ia terlibat dengan organisasi When We All Vote, dan turut bergabung bersama Voting Squad yang digagas Michelle Obama; meminjamkan akun Instagramnya kepada aktivis, dermawan, edukator, terapis, dan psikolog. Kekacauan dari pemerintahan terakhir juga membimbingnya merenungkan identitas Meksiko-Amerika yang menjadi warisan budaya leluhurnya dalam cara yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya.

Ia mengingat kembali pengalaman rasialisme yang pernah menimpanya bersama sang ayah. “Saya tumbuh besar dalam keluarga yang tidak bergelimang harta, dan kami diperlakukan dengan kurang baik. Ayah saya kerap kali diberhentikan di jalan, sementara ia tidak melakukan kesalahan.” Pada suatu waktu, di konser musik Shania Twain di Dallas, seseorang (yang jelas tidak mengenali Selena Gomez) memanggil ayahnya dengan sebutan “wetback” (warga Meksiko yang tinggal di Amerika Serikat secara ilegal). Gomez merasa sangat geram. “Rasanya ingin sekali menunjukkan Instagram saya padanya!” candanya masam. Tetapi sang ayah membujuknya agar bersikap tenang. “Tidak ada yang bisa kita lakukan,” ia mengenang perkataan ayahnya saat itu. “Menanggapinya hanya akan memicu permasalahan yang lebih besar bagi saya, bukan mereka. Kita bisa diusir keluar dari area konser.”

Selena Gomez interview ELLE - only murders in the building - revelacion - HBO Selena + chef
Selena Gomez for ELLE September 2021 photography Inez & Vinoodh
styling Alex White fashion Chanel (sweter & choker), Moschino Couture (rok), Cartier (kalung & cincin), Wolford (fishnets stocking), Amina Muaddi (slingback shoes).

Dewasa ini, Gomez menyalurkan amarahnya lewat perbuatan; menggunakan platformnya untuk berkampanye melawan segala bentuk kekeliruan informasi, ungkapan kebencian, serta meningkatkan kesadaran tentang perdagangan manusia dan nasib pilu para imigran gelap lewat Living Undocumented, serial dokumenter Netflix di mana ia berperan sebagai salah satu produser eksekutifnya. Ia turut menggunakan posisi dan kekuatannya untuk senantiasa mengapresiasi sesama seniman Latin. Contoh: Ia akan memproduseri sekaligus membintangi film In the Shadow of the Mountain, biopik tentang Silvia Vásquez-Lavado, pendaki keturunan Peru-Amerika sekaligus perempuan homoseksual pertama yang memuncaki Seven Summits.

Bulan Maret tahun ini, Gomez menemukan jalan lain untuk terhubung dengan komunitas Latinx: Revelación, minialbum pertamanya dalam bahasa Spanyol yang telah sejak lama diinginkan Gomez, namun selalu terkendala persoalan bahasa. Pandemi memberikannya waktu untuk merealisasikan proyek tersebut. “Mempelajari Bahasa Spanyol adalah sebuah tantangan,” katanya. “Saya pikir, bicara Bahasa Spanyol
jauh lebih mudah ketimbang bernyanyi.” Berkat ketersediaan ‘waktu luang’ lebih dari biasanya, Gomez bisa berlatih dengan coach hingga
berhasil menguasainya. “Saya berusaha keras agar setiap kata dan cara saya menuturkannya dapat autentik. Saya ingin karya ini merefleksikan cinta, berbicara tentang rasa sakit, namun dengan penuh percaya diri. Ada sebuah lagu tentang perempuan mengucap perpisahan pada segala hal negatif baginya,” katanya.

Beberapa bulan lalu, Gomez mengungkap kepada seorang jurnalis bahwa ia terpikir undur diri dari dunia musik; ia merasa dipandang sebelah mata sebagai musisi. Tetapi ketika kini ditanya kembali perihal niat tersebut, ia berkeberatan. “Saya tidak berpikir bahwa saya akan pernah berhenti bermusik,” katanya. Namun, ia mengakui, bahwa ia merasa seakan terus- menerus berusaha membuktikan diri pada dunia yang tidak akan pernah menganggapnya serius. “Saya tidak berkata bahwa saya menginginkan Grammy. Saya tidak berkata bahwa saya membutuhkan hal-hal tertentu. Saya hanya merasa telah mengerahkan upaya terbaik setiap berkarya, dan itu sangatlah berarti bagi saya. Terkadang, perasaan sensitif ini dapat memengaruhi diri saya.”

Musik tidak sama halnya dengan akting. Ia mengatakan, “Musik bersifat personal. Anda mencurahkan diri sendiri ke hadapan publik.” Menjaga jarak dari Instagram telah membantunya menata emosi—dan memberikannya ruang untuk lebih banyak bertindak secara kreatif. “Di dalam ponsel mungil ini merangkum 150 juta orang—saya cukup melepaskannya dan tidak terikat. Rasanya sangat melegakan,” pungkasnya.

photography INEZ & VINOODH styling ALEX WHITE hair ORLANDO PITA FOR ORLO PLAY makeup HUNG VANNGO AT THE WALL GROUP manicure LISA PEÑA-WONG FOR CHANEL set design JAMES CHINLUND AT THE MAGNET AGENCY produced GABE HILL AT GE PROJECTS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.