Sumba: Surga di Nusa Tenggara Timur

Pencinta travelling yang terpikat keheningan matahari terbenam di perbukitan eksotis dan terpesona panorama timur Indonesia. SANDY THEMA menceritakan pengalaman perjalanannya ke Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Kepopuleran Sumba begitu mendunia. Saya sendiri tidak asing mendengar nama Sumba. Terutama ketika kedua orangtua saya berbicara soal tekstil dan daerah-daerah penghasil kain di Indonesia. Sebagai pencinta dan kolektor kain, saya begitu antusias pada Sumba. Saya mulai jatuh cinta ketika melihat panorama Sumba di film Marlina karya Mouly Surya yang pernah saya tonton dan film Pendekar Tongkat Emas yang disutradarai Mira Lesmana. Jadi bukan hanya tertarik melihat kain tenun Sumba, tapi juga ingin menyaksikan keindahan Indonesia bagian timur.

Sumba merupakan pulau di Nusa Tenggara Timur yang terbagi menjadi empat kabupaten: Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, dan Sumba Timur. Pulau ini berbatasan dengan Sumbawa di sebelah barat laut, Flores di timur laut, Timor di bagian timur, serta Australia di selatan dan tenggara. Di Sumba terdapat bandar udara dan pelabuhan laut yang menghubungkan Sumba dengan pulau-pulau lainnya seperti Pulau Sumbawa, Pulau Flores, dan Pulau Timor.

April tahun lalu, saya mengikuti open trip ke Sumba yang diadakan sebuah penyelenggara perjalanan. Saya sengaja tidak memilih menginap di Nihiwatu Resort yang terkemuka itu. Kali ini saya ingin merasakan pengalaman berbeda dan pergi bersama orang-orang yang baru saya kenal. Biayanya Rp 3,5 juta per orang untuk penginapan, penyewaan mobil, dan makan tiga kali sehari. Bersama delapan orang lainnya, kami sepakat menghabiskan lima hari liburan di Sumba. Dari Jakarta, penerbangan menuju Denpasar menggunakan maskapai Garuda Indonesia. Kemudian melanjutkan satu jam penerbangan ke Tambolaka, bandar udara di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.

Saya tiba di Sumba siang hari yang panas terik. Tujuan pertama di Sumba Barat yakni makan siang di Warungku, restoran berbentuk rumah warga yang menyajikan makanan Indonesia dan chinese food. Sayur capcay dan sup jagungnya enak! Saya menginap di Sinar Tambolaka, losmen yang terletak di perumahan warga di Sumba Barat. Sumba Barat belum ada penginapan atau hotel bintang lima. Yang ada penginapan berupa losmen atau motel. Well, tidak bisa dibilang buruk. Tetap terjaga kebersihan dan keamanannya, hanya saja luas kamarnya tidak terlampau besar. Dan tidak ada sarapan ala buffet. Makanan diantar setiap pagi ke tiap kamar tamu. Tidak ada mall dan supermarket untuk belanja. Namun ada pasar-pasar lokal serta kedai yang menjual roti dan kopi.

Perumahan warga di Kampung Tarung, Sumba

PETUALANGAN DI AIR TERJUN LAPOPU DAN PANTAI WALAKIRI

Pagi-pagi sekali menuju air terjun Lapopu yang berada di kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru, Desa Lapopu, Kecamatan Wanokaka, Sumba Barat. Untuk menuju ke sini, kita perlu menyewa kendaraan dari Waikabubak. Menempuh perjalanan 30 km lalu berjalan kaki selama satu jam. Akses jalanan tidak semuanya diaspal. Bahkan rambu-rambu atau petunjuk jalan nyaris tidak ada. Maka sebaiknya pergi ke sini bersama penduduk lokal di Sumba. Air terjun tertinggi di Nusa Tenggara Timur ini terletak di Desa Hatikuloku, Kecamatan Wanokaka, Sumba Barat. Tingginya 90 meter dengan air yang mengalir sangat deras sehingga menimbukan suara sangat kencang. Berbeda dengan air terjun lain yang langsung turun terjal ke bawah, air terjun Lapopu berbentuk tangga dengan ujung kolam setinggi 2 meter. Sumber airnya berasal dari lubang goa yang di sekitarnya merupakan hutan belantara. Situasinya sangat sepi. Hanya terlihat beberapa turis asing sedang berdiam diri memandang air terjun. Namun selain sebagai destinasi wisata, air terjun Lapopu juga difungsikan sebagai sumber air masyarakat Sumba serta pembangkit listrik tenaga mikro hidro listrik untuk warganya.

Sebelum kembali ke penginapan, saya mengunjungi Kampung Tarung, kampung tertua di Sumba Barat. Di kampung ini, sedikitnya ada 100 rumah menara yang dihuni oleh sekitar 400 warga. Setiap rumah diisi tiga generasi penduduk Sumba. Bentuk rumah panggung tiga tingkat ini punya maksud khusus. Bagian bawah jadi tempat tinggal para hewan ternak seperti anjing, babi, dan kerbau. Tingkat kedua untuk rumah tinggal para penghuni rumah. Dan paling atas untuk lumbung padi yang mampu menampung beras hingga satu ton. Struktur rumah menara terbuat dari kayu dengan atap dari jerami. Di Kampung Tarung ini juga terdapat kuburan yang terbuat dari tumpukan bebatuan. Saya menyempatkan diri melihat proses pemakaman warga Sumba. Peristiwa yang digelar secara masif oleh penduduk Sumba. Untuk memakamkan seseorang, diperlukan bebatuan berkualitas terbaik dan berpuluh-puluh hewan yang menelan biaya tidak sedikit. Di kampung ini saya juga menemukan kain tenun yang dibikin selama 3-5 bulan oleh warga Sumba. Kain ini dijual seharga 8-10 juta per lembarnya. Motifnya terdiri dari gambar manusia, hewan, dan tanah. Senang sekali bisa membawa pulang beberapa lembar kain Sumba yang begitu cantik dan menarik. Apa yang saya saksikan di Kampung Tarung terlihat menyatu dengan alam dan seolah tak terjamah teknologi modern. Tradisi dan adat istiadat para leluhur dijaga secara tekun dan sangat baik oleh masyarakatnya.

Salah satu benda pra-sejarah di Kampung Tarung

Seorang penduduk lokal di Kampung Tarung

Lokasi favorit saya, Pantai Walakiri dengan deretan mangrove yang unik

Destinasi berikutnya, Pantai Walakiri di Sumba Timur. Jaraknya sekitar 24 km dari pusat kota Waingapu. Walakiri memiliki mangrove unik dengan hamparan pasir putih dihiasi deretan pohon kelapa. Saya sengaja datang menjelang sore hari, saat matahari segera terbenam. Karena saat senja lah pantai ini memunculkan keistimewaannya. Jika air sedang pasang, sekilas seperti tidak ada apa-apa. Namun tunggu sampai air sedikit surut. Siluet pepohonan mangrove segera meliuk-liuk seolah sedang menari di atas air. Ketika matahari mulai terbenam, langit senja berwarna oranye kuning menjadi latar pohon-pohon yang tengah menari. Bukan main cantiknya!

PESONA DANAU WAIKURI DAN PANTAI WATU BELA

Keesokan hari waktunya ke Pantai Mananga Aba (Warga setempat menyebutnya ‘Pantai Kita’). Terletak di Desa Karuni, Sumba Barat Daya. Sekitar 10km arah timur dari Tambolaka. Pantai dengan bentangan pasir putih dan gulungan ombak cukup tinggi membuat pantai ini kerap dikunjungi peselancar. Akses menuju Pantai Mananga Aba cukup baik, hanya saya tempat ini belum memiliki akses listrik dan air bersih. Setelah itu mendatangi Watu Malandong atau Batu Bolong. Daerah ini konon belum terlalu dikenal banyak orang. Bisa jadi karena lokasinya yang cukup jauh. Ia berada di Desa Panenggo Ede, kecamatan Kodu Balaghar, Sumba Barat. Sekitar 57 kilometer dari pusat kota Tambolaka. Yang menarik deretan batu karang raksasa dan tebing-tebing menjulang tinggi di sepanjang pantai. Salah satu batu karang yang menarik atensi saya saat itu adalah batu karang menyerupai bentuk rumah adat Sumba dengan empat tiang penyangga dan lubang di bagian bawah. It looks like a spectacular gate. Very interesting!

 

Danau Waikuri dengan air yang berwarna biru kehijauan

Menjelang siang hari, kami menuju Danau Waikuri atau Weekuri. Terletak di Desa Kalenarogo, Sumba Barat Daya. Lokasinya tersembunyi di balik pepohonan rimbun dan semak-semak serta jauh dari keramaian kota. Danau air asin yang amat jernih berwarna hijau kebiru-biruan. Saya begitu terpukau melihatnya. Danau air asin dengan terumbu karang besar di sekeliling danau. Danau ini terbentuk dari air lautan lepas yang berada di sekitar danau. Airnya sangat jernih dengan kedalaman sekadarnya sehingga cocok untuk saya pakai berenang sambil menikmati kejernihan air.

Pantai Watu Bela, pasir putih dan tebing putih yang amat cantik

 

Senja dan matahari terbenam di Pantai Watu Bela

Saat senja tiba, saya ingin menyaksikan matahari terbenam di Pantai Watu Bela. Pantai ini berjarak 90 menit berkendara dari Kota Waikabubak menuju Lamboya. Anda bisa menitipkan kendaraan di wilayah desa adat Patiala Bawa, lalu berjalan kaki 5 menit menuju Pantai Watu Bela. Watu Bela berarti ‘batu berwarna putih’. Dan betul saja, dari kejauhan terlihat air laut berwarna tosca menghantam tebing putih yang berdiri kokoh di tepi pantai. Jangan lupa sempatkan meminum air kelapa yang dipetik langsung dari pohon sekitar pantai. Saya menikmatinya sambil membenamkan kedua kaki di pasir putih yang lembut dan sejuk.

Hari kelima, sebelum kembali ke Jakarta, saatnya menyaksikan matahari terbit di Puru Kambera. Kicauan burung dan derap langkah kuda berlari bebas di padang rumput. Saya kehabisan kata-kata bagaimana mendeksripsikan perasaan saat itu. Yang jelas, saya langsung terkenang momen saat berada di Kenya, Afrika. Dua wilayah yang berjauhan ini memiliki keindahan yang nyaris tidak berbeda. Sumba bisa dibilang terbelakang dalam perekonomian dan infrastruktur. Namun, keindahannya tak bisa dibantah. Ia bahkan menjadi destinasi pariwisata yang direkomendasikan Presiden Joko Widodo. Jika suatu saat nanti kembali ke Sumba, saya hendak menyaksikan festival Pasola di Sumba yang begitu populer. Gelaran festival ini baru bisa dipastikan setelah diputuskan Tetua Adat menurut kalender tradisional Sumba. Bagi saya, Sumba menjadi opsi terbaik untuk menemukan ketenangan yang mendamaikan hati dan pikiran. Sesuatu yang sulit ditemukan di tengah hingar-bingar kota. Salah satu pulau Indonesia dengan magnet yang luar biasa memikat. Ibarat surga, tidak sulit jatuh cinta pada apa yang dimiliki Sumba. Perbukitan eksotis, kuda-kuda gagah, hamparan padang rumput yang hening, pantai yang sangat jernih, dan kesunyian saat matahari terbenam.

 

(Teks: Sandy Thema yang sudah dipublikasikan pada ELLE Indonesia Juli 2018, Images: iStockPhoto & Dok. Sandy Thema)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.