Muscat dan Amman, Permata Cantik di Timur Tengah

Muscat-Amman-Oman-traveling-asia-eropa

Perjalanan sarat budaya dengan petualangan penuh kesan menjadikan Muscat di Oman dan Amman di Yordania sebagai destinasi atraktif di kawasan Timur Tengah. SANDY THEMA menceritakan pengalamannya menelusuri kedua kota tersebut.

Oman mungkin tidak sepopuler Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Namun di sini lah kita bisa menyelami keindahan Muscat, ibu kota Oman, yang modern tetapi tetap memelihara tradisi dan esensi budaya Arab. Layaknya permata, Muscat ibarat sebuah rahasia yang menyimpan pesona tanpa banyak orang tahu mengenai kecantikannya.

Perpaduan apik antara modernitas dan tradisional di mana saya menyaksikan pantai-pantai cantik, pusat seni dan situs bersejarah, serta hotel-hotel mewah nan berkelas yang mulai banyak didirikan di Oman sejak tahun 1980-an. Sebagai destinasi berlibur di kawasan Timur Tengah, Oman menyuguhkan pengalaman menarik yang memadukan antara gunung, laut, dan gurun pasir.

Dari Jakarta, saya menggunakan maskapai Oman Air yang memiliki rute penerbangan langsung menuju Muscat, Oman. Perjalanan menempuh 8 jam penerbangan. Untuk aturan visa, warga Indonesia yang mengunjungi Oman memakai Visa on Arrival yang dikenakan biaya 5 OMR atau Rial Oman (sekitar Rp 185.000,-) untuk 10 hari dan 20 Rial Oman (sekitar Rp 740.000,-) untuk 30 hari.

Oman terletak di timur Semenanjung Arab dan berbatasan dengan Uni Emirat Arab, Arab Saudi, serta Republik Yaman. Di sisi timur, kota ini berhadapan dengan Teluk Oman yang merupakan terusan Teluk Persia dan Laut Arabia di sisi selatan yang menuju Samudera Hindia. Sebagian besar wilayahnya terdiri dari gurun berupa padang pasir yang kering dan lembap serta daratan yang panas dan kering. Iklim gurun yang kering dan panas membuat Oman nyaris tak berpenghuni, sementara penduduk lebih banyak tersebar di sekitar pantai.

Transportasi umum seperti bus dapat kita temukan di Muscat. Namun penduduk setempat umumnya menaiki kendaraan pribadi untuk kegiatan sehari-hari. Bisa jadi karena harga mobil dan harga bahan bakar yang relatif terjangkau. Perbedaan dua musim di Oman terbilang cukup ekstrem. Pada musim panas, suhu di Oman bisa mencapai 50 derajat Celcius. Sehingga waktu terbaik untuk mengunjungi Muscat pada musim dingin yakni antara bulan Oktober hingga Februari di mana suhu cuaca berkisar 25 derajat Celcius pada siang hari dan 20 derajat Celcius saat malam.

The Romance of Arabia in Muscat, Oman

Tiba di Muscat International Airport, private concierge The Chedi Muscat, tempat saya menginap, telah datang menjemput saya dan 11 orang teman perjalanan kali ini. Berjarak 15 menit berkendara, The Chedi begitu impresif dengan fasad bangunan didominasi warna putih berhiaskan pohon-pohon palem dan tumbuhan hijau yang asri di sekitar hotel. Fasilitas layanan terbaik dan kamar yang lapang nan nyaman serta tiga kolam renang, dua di antaranya berada di pinggir pantai, begitu memikat hati.

The Chedi, tempat saya menginap di Oman

Panorama cantik di sekitar hotel

Hari pertama tiba di Muscat, saya memilih menghabiskan waktu di resor sambil bersantai. Berenang bersama teman-teman, berdiam diri di pinggir pantai, dan menyempatkan olahraga di fasilitas kebugaran di The Chedi menjadi agenda hari itu. Menjelang malam, saatnya pergi mendatangi Kargeen, restoran yang terletak di Al Bashair Street, Muscat.

Saya memilih duduk di area courtyard berupa ruang terbuka dengan atap tumbuhan hijau berhias lampu-lampu cantik. Menikmati sajian kuliner tradisional Oman khas Timur Tengah seperti nasi biryani dan daging sapi dengan kuah kari. Middle Eastern food was so good!

Gedung Mahkamah Agung Oman dilihat dari masjid Sultan Qaboos

Keesokan hari, tujuan pertama menuju Sultan Qaboos Grand Mosque yang dibangun pada tahun 1995 dan diresmikan tahun 2001. Nama masjid ini diambil dari nama Sultan Sayyid Qaboos bin Sa’id Al Bu Sa’id yang memegang kekuasaan sejak tahun 1970. Masuk ke masjid ini, kita diharuskan berpakaian tertutup, termasuk memakai kerudung atau hijab untuk kaum perempuan.

Meski bukan seorang muslim, Anda harus berbusana santun tanpa mengekspos bagian tubuh dan kulit. Saat itu saya lihat beberapa perempuan memakai celana berpotongan pendek. Mereka kemudian diminta mengenakan burka, terusan panjang berwarna hitam yang kerap dipakai perempuan-perempuan muslim di negara-negara Arab.

Melewati jalan utama Mesjid Sultan Qaboos, mata saya tertuju pada pemandangan bukit-bukit tandus dan berpasir serta deretan pohon palem di sekitar jalanan. Udara sangat panas dan kering, namun tanaman hijau dan bunga-bunga cantik di taman masjid terasa menyejukkan suasana.

Koridor masjid Sultan Qaboos Grand Mosque

Luas areanya sekitar 416 ribu meter persegi dengan bangunan seluas 40 ribu meter persegi. Ruangan utama masjid dapat memuat 6.500 orang dan ruangan khusus perempuan berkapasitas 750 orang. Sementara area luar mampu menampung lebih dari 8.000 orang. Belum termasuk area pelataran dan koridor-koridor masjid. Secara keseluruhan memiliki daya tampung hingga 20.000 orang.

Masjid ini sangat luas dan begitu cantik. Di bagian dalam terdapat lampu gantung kristal berukuran panjang 14 meter yang merupakan lampu produksi pabrik Faustig di Jerman. Mesjid ini memiliki karpet buatan tangan terbesar di dunia yang melapisi lantai tempat di mana kaum muslim beribadah. Satu lembar karpet tanpa sambungan ini terdiri dari satu juta tujuh ratus pintalan yang dibikin selama 4 tahun dan kini menutup seluruh ruang dalam masjid Sultan Qaboos.

arpet terbesar kedua di dunia ini berukuran 70 meter x 60 meter dan menutup area seluas 4.343 meter persegi. Mesjid ini sangat megah dengan empat menara setinggi 45,5meter dan satu menara utama setinggi 90 meter. Tidak banyak masjid yang pernah saya kunjungi. Hanya beberapa. But let me tell you, this one is pretty impressive!

Chandelier terbesar di dunia terdapat di Sultan Qaboos Grand Mosque

Setelah 3 jam berkeliling area masjid sambil mengagumi arsitektur dan sejarahnya, saya menyempatkan diri ke Qasr Al Alam Royal Palace, salah satu dari enam istana yang dimiliki Kesultanan Omana. Didirikan oleh Imam Sultan bin Ahmed, kakek buyut ketujuh Sultan Qaboos, istana ini digunakan untuk acara-acara seremoni pemerintah dan saat menerima tamu kenegaraan. Fasad bangunan istana berwarna biru dan emas dengan desain minimalis namun elegan. Di belakang istana, terlihat Al Jalali Fort yakni benteng pertahanan kota Oman yang dibangun tahun 1589 oleh bangsa Portugis.

Saat sore tiba, saya dan teman-teman menuju Bait Al Luban, restoran tradisional di Muscat sebelum kembali ke hotel untuk istirahat sejenak. Malam hari, saya mendatangi kawasan kota tua Muscat yang berada di Ruwi dan Muttrah. Ruwi merupakan pusat bisnis modern, sementara Muttrah adalah daerah wisata dan kawasan pelabuhan. Di sini lah saya menemukan Mutrah Souq.

Pasar tradisional yang menjual perhiasan, souvenir, kerajinan tangan khas Oman, karpet-karpet cantik, hingga parfum beraroma oud yang popular di daerah Jazirah Arab seperti Dubai, Abu Dhabi, Mekkah, Madinah, hingga Jeddah. Di depan pasar Mutrah Souq terdapat laut biru yang dibingkai bukit-bukit bebatuan.

Tak juga jauh dari pasar, berdiri megah benteng Muttrah yang berada di atas bukit batu. Benteng ini dibangun Portugis pada abad ke-16 dan pernah digunakan sebagai penjara sampai akhirnya kini dijadikan lokasi wisata. Di sudut lain terbentang Muttrah Corniche sepanjang 3 kilometer yang mengikuti teluk. Keindahan pemandangan laut ini saya saksikan sambil berjalan kaki lalu duduk di gazebo di pinggir teluk.

Hari ketiga, pagi-pagi kami menuju Muscat International Airport. Beberapa teman pulang kembali ke Jakarta. Sementara saya memutuskan untuk meneruskan perjalanan ke Amman, ibu kota Yordania. Dari Muscat, saya langsung menuju Amman dengan maskapai Oman Air. Perjalanan menempuh 3 jam 30 menit penerbangan. Warga Indonesia tidak memerlukan visa untuk memasuki Yordania.

The Mesmerizing of the Beauty of Amman, Jordan

Jordania berbatasan dengan banyak negara. Di utara ada Suriah dan Irak. Di sebelah tenggara terdapat Arab Saudi. Di selatan berbatasan dengan Mesir, Israel, dan Lebanon. Meski terbiang dekat dengan daerah-daerah konflik, Jordania adalah negara yang aman tanpa terjadi perang atau adu senjata. Tiba di Amman Queen Alia International Airport, saya langsung menuju Sheraton Amman Al Nabil Hotel, tempat saya menginap.

Usai meletakkan koper dan mencuci muka, saya mengajak teman ke pusat kota. Cuaca yang cerah rasanya sayang jika hanya nonton televisi di kamar hotel. Tak jauh dari hotel, langkah kami terhenti saat melihat middle-eastern café yang menjual kebab dan homemade hummus yakni bubur pure yang jadi pelengkap saat makan roti atau keripik. Terbuat dari kacang Arab, minyak zaitun, bawang putih, dan jus lemon.

Saya juga sempat mencoba Sisha beraroma anggur. Well, rasanya cukup menyenangkan. Ke luar café, banyak jajanan menarik yang sangat menggoda. Saya beli sebungkus kacang macadamia berbumbu salted-caramel dan permen-permen khas Timur Tengah.

Matahari terbit di bukit Wadi Rum, Yordania bagian selatan

Hari kedua, jalan-jalan di kota Amman dimulai dengan mengunjungi Laut Mati. Pagi-pagi sekali saya ke sana sebab ingin menyaksikan matahari terbit dari kawasan Laut Mati. Dari Amman, perjalanan menempuh 45 menit berkendara ke Jordan Valley (Lembah Jordan), lokasi Laut Mati. Jalanannya lebar dengan beberapa belokan dan cenderung menurun sepanjang perjalanan.

Di sisi kiri dan kanan terdapat bukit bebatuan yang seolah terpahat seperti ukiran. Laut Mati tidak terhubung dengan lautan luas. Ia merupakan danau yang membujur di antara Israel, Palestina, dan Yordania. Laut ini terbentuk tiga juta tahun yang lalu ketika muncul retakan pada lembah sungai Yordania sehingga air laut masuk dan meningkatkan konsentrasi mineral dalam air.

Laut Mati memiliki kandungan garam tertinggi dari seluruh laut di dunia dan karena itu ia dinamakan Laut Mati sebab tidak akan ada kehidupan yang bisa bertahan dalam air garam di Laut Mati. Airnya sangat asin. Teksturnya kental dan berminyak saat menyentuh kulit.  Seseorang mengatakan pada saya, mineral yang terkandung di dalam lumpur Laut Mati mampu melancarkan peredaran darah dan memperbaiki kondisi kulit sekaligus melembapkannya.

Tanpa keraguan, saya pun berendam di lumpur hitam dan ternyata betul. Kulit jadi sangat lembut dan halus seperti kulit bayi. Dan karena tingginya kadar garam, setiap orang bisa terapung tanpa bantuan alat pelampung. Sensasi terapung di atas air dan terayun-ayun karena embusan angin sambil merasakan air garam meresap ke pori-pori kulit yang seketika membuat tubuh terasa hangat. It’s really amazing!  

Perjalanan berikutnya ialah Ke Petra dan menginap di Petra Marriott Hotel yang terletak di Queen Rania Al Abdallah Street, Wadi Musa, Yordania. Keesokan pagi, waktunya menjelajah Petra. Saya tentu tak ingin melewatkan tempat yang dinobatkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO dan menjadi satu dari The New Seven Wonders of the World ini.

Kawasan Petra terletak di antara Teluk Aqaba dan Laut Mati pada ketinggian 800 hingga 1.396 meter di atas permukaan laut. Terletak di wilayah barat daya gurun pasir Jordania yang dulu dipenuhi perkebunan kurma dan anggur, persis di lembah Pegunungan Edom dan sebelah timur lembah Arabah. Luas kawasan ini sekitar 264 kilometer persegi. Lokasinya berjarak 4 jam berkendara dari kota Amman. Taman Petra merupakan simbol zaman kekuasaan Kerajaan Nabatea.

Pada masa silam, Petra menjadi lokasi persimpangan jalur perdagangan antara Laut Merah dengan Damaskus dan Teluk Persia dengan Gaza. Kini, Petra terkenal sebagai istana yang dipahat ke tebing dan pernah menjadi lokasi adegan film Indiana Jones and The Last Crusade. Ke Petra, wajib memakai sepatu yang nyaman sebab kita banyak berjalan kaki di sini saat menyusuri kawasan Petra sepanjang sekitar 17 kilometer.

Masuk ke gerbang Petra, terlihat aliran sungai dan bendungan kecil yang dahulu dipakai untuk kebutuhan minum masyarakat lokal. Setelah itu menuju Siq, jalan pintu masuk utama ke situs Petra sepanjang 800 meter. Pintu ini berupa celah sempit selebar 1,2 km meter di antara dua bukit bebatuan sepanjang 2 kilometer. Di sepanjang jalan, saya melihat runtuhan baru, makam, hingga rumah-rumah yang dipahat di sisi gunung oleh Suku Nabatea.

Al-Khazneh, kuil peninggalan Kerajaan Arab Nabatea di Petra

Usai melewati Siq, saya langsung menemui Al-Khazneh, kuil peninggalan Kerajaan Nabatea yang dibangun dengan memahat ke dalam tebing. Bangunan setinggi 40 meter ini dipahat di gunung batu dengan 6 pilar di bawah dan 6 pilar di atas. Lalu terdapat area teater yang mampu menampung 4.000 penonton serta rumah-rumah kecil yang dihuni penduduk Petra zaman dahulu.

Rumahnya berbentuk lubang kecil seperti gua yang di dalamnya terdapat ruang-ruang lain. Yang letaknya paling jauh dan paling tinggi (harus mendaki 800 anak tangga!) adalah The Monastery atau Ad-Deir yang pernah jadi lokasi syuting film Transformer 2: Revenge of The Fallen. Bangunan selebar 47 meter dan tinggi 48,3 meter ini berisi bangku panjang dan altar. Biara ini dibangun abad ke-2 Sebelum Masehi dan digunakan sebagai gereja saat pemerintahan Raja Rabbel II.

Di Petra, terdapat kios-kios penjual souvenir dan makanan ringan seperti ini

Menjelang sore, saatnya ke Wadi Rum village. Terletak di Jordania bagian selatan, sekitar 60 kilometer dari Teluk Aqaba. Luasnya mencapai 74 ribu hektar dan merupakan gurun terluas di Yordania. Tiba di Wadi Rum, saya diajak menaiki kendaraan jip untuk berkelana menyusuri padang gurun. Kendaraan melaju di antara gunung bebatuan. Sinar matahari terik membuat gunung batu itu tampak mengilap berkilauan. Sesekali debu-debu berterbangan. Karena itu, bawalah kacamata hitam dan penutup kepala sebagai pelindung.

Kendaraan kemudian melaju menuju bukit batu. Dari atas bukit, saya menyaksikan pemandangan spektakuler berupa hamparan gurun pasir dan bebatuan tanpa terhalang apa pun. Sinar matahari perlahan terbenam di antara perbukitan. Wadi Rum adalah satu-satunya tempat di bumi yang memiliki gurun dan bukit berbatu merah. Ya, kontur di Wadi Rum mirip seperti permukaan di Planet Mars yang berwarna merah tandus tanpa pohon hijau. Ini menjadi pengalaman terbaik selama berada di Yordania. Bagaimana tidak? Saya berada di tempat yang sama persis dengan lokasi syuting The Martian yang diperankan Matt Damon.

Di salah satu tebing, terdapat tulisan kuno dan ukiran yang ternyata gambar kuda, unta, dan manusia. Untuk melihat ini, kita harus memanjat tebing batu setinggi 2 meter. Konon tulisan ini berusia 4.000 tahun. Wadi Rum merupakan rumah bagi suku Bedouin yang hingga kini masih hidup dan tinggal di tenda-tenda di beberapa kawasan Wadi Rum. Banyak warganya menjadi pemandu wisata dan penunjuk jalan bagi pemanjat tebing.

Mereka juga menyediakan penginapan di tenda-tenda dan menyiapkan makanan barbeque tradisional ala suku Bedouin. Cara masaknya mengingatkan saya pada barbeque yang pernah saya lihat di Maluku, Indonesia. Mereka menggali lubang di tanah pasir lalu memasukkan batu arang dan beragam daging ayam, sapi, dan domba yang telah dicampur bumbu rempah dan daun kelapa, serta potongan kentang dan ubi. Didiamkan 20 menit lantas diangkat. Rasanya sangat enak!

Saya kemudian menyewa tenda penginapan yakni Captain’s Desert Camp untuk bermalam di gurun pasir Wadi Rum. Berbaring tidur di dalam tenda sembari menatap bintang-bintang di langit pada malam hari menjadi momen penuh kesan dari perjalanan saya kali ini.

(Foto: Dok. Sandy ThemaTeks: Rianty Rusmalia. Artikel ini sudah dipublikasikan dalam ELLE Indonesia Agustus 2018)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *