Ziarah Budaya di Khatmandu

Khatmandu

Dengan tradisi kuno yang terus hidup dan mistisisme tanpa akhir, Kathmandu menjadi destinasi penuh kesan yang patut dijelajahi. Glenn Prasetya mengisahkan pengalamannya kepada kami.

“Tempat tidak pernah menjadi tujuan seseorang, namun perjalanan bertujuan untuk melahirkan suatu cara pandang baru”. Ungkapan penulis Henry Miller ini tepat menggambarkan esensi perjalanan saya. Sebuah pengalaman yang berakhir pada pemikiran baru dan lebih segar. Akhir Oktober tahun lalu, saat mengunjungi Ladakh di India, saya menyempatkan diri untuk pergi ke Kathmandu, Ibu Kota Nepal, sebelum kembali ke Jakarta.

Selain karena Kathmandu dekat dengan India, urusan visa pun tidak merepotkan. Tiba di Tribhuvan International Airport, Kathmandu, kita akan dengan mudah menemukan mesin-mesin untuk mengajukan Visa On Arrival yang tersedia dalam opsi 15 hari, 30 hari, atau 90 hari. Jika berangkat dari Jakarta, Anda dapat memilih penerbangan ke Kathmandu dengan transit di Kuala Lumpur. Bersama anak dan istri, kami menaiki pesawat Jet Airways dan tiba sore hari di Kathmandu.

Berbeda dari Tokyo atau Eropa yang serba teratur, sebuah hari baru di Kathmandu selalu dimulai dengan kegaduhan. Sebaris umat Hindu berkeliling menyusuri jalan-jalan di kota, memainkan musik, dan memanjatkan mantra. Suara seruling, kendang, dan lonceng menjadi pengingat umat untuk bersembahyang dan memuja dewa-dewi di kuil-kuil yang tersebar di seluruh kota.

Kathmandu seperti terbungkus dalam mesin waktu. Kuil kuno tersebar, bahkan hingga ke dalam gang kecil di tengah-tengah bangunan tua. Jalanan kecil di kota Kathmandu yang lebarnya tak lebih dari empat meter itu kerap kali dipenuhi manusia, hewan anjing, sepeda motor, bahkan mobil. Semuanya berjalan merayap ditambah pemandangan kabel listrik yang sering kali dibiarkan terlihat berantakan.

Pagi hari merupakan waktu bagi kesibukan para pekerja. Anda akan melihat orang-orang mengangkut barang yang beratnya bisa sampai puluhan kilogram. Orang-orang di sini membawa beban dengan memanggul di punggung, diikat dengan tali, dan bertumpu pada kepala.

Kathmandu tidak memiliki pedestrian dan cukup berdebu serta kotor. Untunglah saya sudah menyiapkan masker mulut. Bisa dibilang peradaban kota ini bahkan tidak lebih maju dibanding Indonesia. Namun saya menikmati keriuhan yang terjadi dan rasa-rasanya ikut merasakan detak kehidupan warga di Negeri Seribu Dewa ini.

Pashupatinath

Arsitektur pagoda yang indah, monumen, dan tempat ibadah. Kuil Pashupatinath merupakan kompleks religius yang terbentang di sepanjang Sungai Bagmati yang dianggap keramat dan suci. Kuil ini dibangun untuk menghormati Pashupati, Raja Hewan sekaligus perwujudan dari Shiva, dewa Hindu. Inilah salah satu tempat paling suci di Nepal.

Tidak hanya mengagumi patung dan dekorasi kuil, saya turut berbaur dengan para jemaah religius dan para pria suci. Pashupatinath juga menjadi lokasi pembakaran mayat di ruang terbuka di tepi Sungai Bagmati. Setiap harinya, dalam 24 jam, Anda bisa menyaksikan proses kremasi. Mereka yang mati, kakinya dibasuh dengan air Sungai Bagmati lalu dibawa ke sisi lain untuk dibakar.

Khatmandu

Sadhu: dikenal sebagai para pria suci yang berpakaian atraktif.

Akses ke kuil utama hanya diperuntukkan bagi umat Hindu. Namun, kita dapat menyimak pintu sepuhan emas dan berlapis perak pada kuil pagoda berlantai dua, pahatan para dewa dan puncak menara berlapis emas. Kunjungi pula kuil Vasuk dan kuil Brahma yang telah ada sejak abad ke-9. Kemudian singgah di Dharmashila, sebuah batu tempat orang bersumpah suci.

Kita juga bisa melihat para peziarah meletakkan persembahan di tempat ibadah dan para pria suci yang berpakaian atraktif, dikenal dengan sebutan Sadhu, sedang bermeditasi di luar kuil. Para Sadhu ini ialah penduduk lokal yang mendedikasikan dirinya pada agama. Terdapat coretan di wajahnya dan berambut panjang dengan dandanan yang sangat tidak biasa. Saya tidak melewatkan kesempatan menjelajahi pasar yang berada di kompleks kuil. Aneka kedai yang menjual segala macam, mulai dari dupa hingga tasbih doa dan patung dewa buatan tangan.

Boudhanath

Dari Pashupatinath, saya menuju Boudhanath yang terletak sekitar 8 kilometer dari lapangan Kathmandu Durbar. Setiap hari para peziarah datang ke sini untuk melakukan ritual jalan kaki mengitari monumen yang berbentuk kubah.

Boudhanath merupakan salah satu tempat ibadah umat Buddha terpenting di luar Tibet yang konon telah ada sejak akhir abad ke-6. Tiap bagian memiliki makna simbolik, termasuk menara berlantai 13 yang menyimbolkan Bodhi yakni jalan setapak menuju kebajikan. Sisi-sisinya terdapat lukisan mata Buddha. Saya bisa merasakan suasana yang begitu damai dan religius di stupa Buddha yang luar biasa indah di Boudhanath.

Ikut berjalan kaki dalam ritual para jemaah mengelilingi salah satu stupa terbesar di dunia ini. Kita harus berjalan searah jarum jam sambil mendengarkan suara doa berkumandang dan musik ritual yang menggema dari berbagai biara di dekatnya. Kita juga bisa naik ke puncak stupa untuk melihat pemandangan menawan. Harga tiket masuk untuk turis sebesar 250 NPR (sekitar Rp30.000,00). Jangan lewatkan kesempatan menyusuri toko pengrajin yang berada di dalam rumah berwarna-warni. Di sini kita bisa membeli buah tangan khas tradisional Tibet seperti tasbih, kain tekstil, obat tradisional, dan souvenir Dalai Lama.

Di dekat Boudhanath terdapat toko kelontong yang menjual begitu banyak macam teh. Bukan berbentuk tea bag, mereka menjual daun-daun teh di dalam toples berukuran besar dan dibeli dalam satuan gram. Perjalanan berikutnya membawa saya ke Thamel, pusat perbelanjaan terbesar di Kathmandu. Ratusan toko kecil memenuhi jalan-jalan kecil.

Ada penjual baju tradisional Nepal, kain sari India, scarf, topi, kaus, kartu pos, serta berbagai lukisan. Salah satu yang menarik, ada toko penjual tas yang terbuat dari daun ganja. Mungkin karena di sana banyak perkebunan daun ganja, penduduknya pun bikin kerajinan tangan dari daun tersebut. Restoran tradisional dan western juga bisa ditemukan di Thamel.

Gang-gang kecil berisi deretan toko diramaikan suara klakson kendaraan yang melintas. Penarik becak yang membawa turis tak mau kalah. Mereka berteriak meminta jalan kepada para pejalan kaki. Kita tidak akan melewatkan satu menit berjalan di Thamel tanpa ada orang menawarkan jasa pijat, biro perjalanan, sewa mobil, cuci baju, internet, hotel murah, visa India, penukaran uang, tiket pesawat terbang, hingga jasa reparasi tas ransel. Penduduk lokal yang mencari nafkah dengan menggaet turis tidak selalu menyebalkan. Menurut saya, mereka terbilang ramah tanpa memaksa dan agresif.

Swayambhunath

Setelah itu menuju Swayambhunath atau dikenal dengan nama Monkey Temple. Di sini hewan kera dibiarkan bebas berkeliaran dan terdapat sederet benda menyerupai kaleng berukiran tulisan doa di sekeliling kaleng. Konon, jika kita mengucap doa sambil memutar kaleng-kaleng itu, maka doa segera sampai kepada Tuhan. Semakin kencang kita memutar kaleng, konon semakin cepat doa diterima Tuhan.

Kota Kathmandu lahir bersama legenda yang mengiringinya. Alkisah seluruh lembah Kathmandu adalah danau. Danau ini tiba-tiba airnya mengering dan muncul sinar dari Swayambhunath. Dalam Bahasa Nepal, Swayambhu berarti ‘muncul sendiri’. Tidak ada yang tahu pasti berapa usia kuil Swayambhunath. Ada yang bilang tempat ini menjadi suci sejak 2000 tahun lalu ketika Raja Asoka datang ke sini.

Stupa raksasa Swayambhu telah ada sejak abad ke-5. Berwarna kuning cerah dan berbentuk bulat besar. Bagian puncaknya yakni pagoda dengan empat sisi berbahan emas dengan gambar sepasang mata. Mata Buddha yang memandang ke semua arah mata angin menunjukkan kepercayaan bahwa Tuhan berada di mana-mana dan mengetahui tingkah laku setiap manusia.

Di atas sepasang mata terdapat mata ketiga yang menjadi simbol kebijaksanaan nurani. Pada bagian bawah mata terdapat garis melingkar seperti hidung yang melambangkan persatuan segala makhluk. Dan tidak ada telinga karena konon Buddha tidak tertarik mendengar lantunan doa yang memuja-Nya.

Pemujaan di Swayambhunath sudah mulai sejak pagi sekali, ketika kabut masih menyelimuti seluruh kota dan cuaca pagi yang dingin. Genderang biksu Buddha ditabuh dengan tempo lambat mengiringi lantunan mantra. Diikuti umat Buddha berdatangan sambil membawa lilin menyala di dalam kuil. Harum asap dupa bertebaran. Dingin. Penuh misteri. Tetapi orang-orang sudah larut dalam doa dan ibadah.

Tidak banyak tempat seperti Swayambhunath di mana umat Buddha larut dalam diam bersama umat Hindu untuk melaksanakan puja. Umat Buddha Tantrayana Tibet mengelilingi searah jarum jam, sedangkan umat Hindu dan Buddha Newari berlawanan arah jarum jam. Ya, stupa Swayambhu adalah tempat ziarah kedua agama.

Kuil Pashupatinath Khatmandu

Kuil-kuil kecil di kompleks area Pashupatinath.

Hari ketiga. Hari terakhir di Kathmandu. Sebelum menuju airport dan pulang ke Jakarta, saya menyempatkan diri pergi ke Kathmandu Durbar Square. Alun-alun di depan kompleks Kerajaan Kathmandu yang sekaligus merupakan situs warisan dunia UNESCO. Bangunan tua gaya khas Nepal, kuil-kuil pemujaan yang megah menyambut kami ketika masuk ke area.

Di sini juga banyak saya jumpai Shadu yang terlihat berdiam diri seperti sedang bersemedi. Interior tempat ini mengingatkan saya pada bangunan abad pertengahan di mana kerajaan Kathmandu tengah berada pada masa kejayaannya. Beberapa bangunan terlihat sedang diperbaiki akibat gempa yang terjadi tiga tahun silam.

Terpeliharanya budaya dan tradisi kuno menjadi daya tarik Kathmandu. Kuil-kuil dan tempat pemujaan adalah pemandangan lazim yang tidak dihalangi gedung-gedung bertingkat. Kita akan menemukan banyak orang berpakaian adat dan para perempuan menaruh sesajian di pinggir jalan setiap pagi. Lilin, barisan lampu, mantra yang bergema, dan denting lonceng kerap mengiringi kesibukan di pagi hari.

Zaman terus berputar. Di Kathmandu, modernitas berpadu dengan tradisi kuno yang terus hidup. Perempuan berbaju sari warna-warni tampak serasi dengan kaum muda yang berpakaian kaus dan celana jins. Di sini saya melatih diri untuk membuka pikiran dan berbesar hati menerima perbedaan cara hidup orang lain. Tiga hari di Kathmandu membuat saya lazim dengan bau dupa, harum bunga semerbak, denting lonceng, dan suara lantunan mantra yang mengingatkan saya pada ritual yang tak pernah berakhir di negeri penuh cinta kasih ini.

(photo: iStock)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *