Upaya Trudie Styler Melindungi Ekosistem Hutan Hujan

trudie styler instagram

Menjadi sosok penjaga lingkungan, Trudie Styler telah mengabdikan hidupnya untuk melindungi hutan hujan dan masyarakat.

Sejak 30 tahun silam, Styler mendirikan Rainforest Foundation Fund bersama Sting, sang suami. Keduanya memimpin langkah menuju perlindungan hutan hujan—jauh sebelum istilah ‘protect the planet’ menjadi sesuatu yang “fashionable”. Menjadi sosok penjaga lingkungan, ia telah mengabdikan hidupnya untuk melindungi hutan dan masyarakat. Dan ia menyadari perjuangannya masih sangat panjang.

Apa yang mendorong Anda untuk menciptakan organisasi lingkungan?

“Setelah mengunjungi Amazon di tahun 1989, saya mendirikan Rainforest Foundation (kini Rainforest Fund) bersama Sting. Kami berangkat dari Brasília menggunakan pesawat Cessna tua kecil untuk terbang selama 5 jam. Di bawah kami, kanopi pepohonan warna hijau zamrud yang megah benar-benar membentang luas dan utuh sejauh mata memandang. Meresapi skala masif keagungan alam yang tak tersentuh menjadi pengalaman yang ‘merendahkan’ kami sebagai manusia sekaligus menginspirasi. Sampai pada saat kami melihat asap di kejauhan dan kebakaran hutan yang sangat besar. Begitu besar hingga seperti tengah melihat visi Surga dan Neraka pada saat yang bersamaan. Salah satu sumber daya alam paling berharga di dunia tengah diserang. Ancaman itu menjadi sangat menakutkan saat kami mendarat dan menyaksikan ekosistem yang terancam; pemandangan indah dari orang-orang setempat yang hidup dalam harmoni sempurna bersama alam megah ini. Pemandangan yang sangat jauh berbeda dengan dunia yang hanya setengah jam penerbangan lebih jauh, di mana hutan telah dihancurkan.”

photo courtesy ELLE

Selama perjalanan menjaga lingkungan, apakah atau siapa yang paling menarik perhatian Anda?

“Masyarakat Xavante adalah salah satu dari banyak penduduk asli Amerika Selatan yang menderita. Mereka mengenakan pakaian sisa peradaban Barat yang kotor dan lusuh, dan sangat curiga pada kami. Hutan tempat mereka tinggal telah hancur. Dan dengan hilangnya pepohonan, mereka tidak memiliki tempat berlindung. Mereka kerap meringkuk di gubuk timah demi menghindar dari silaunya matahari di tengah hari. Gubuk timah ini juga menjadi tempat untuk sekolah dan dibangun oleh sebuah perusahaan minyak Italia— dalam pertukaran kesepakatan yang jauh dari adil untuk pengeboran tanah di lahan Xavante. Mereka bangsa yang bangga akan cara hidup kuno mereka. Namun kenaifan mereka telah disalahgunakan. Kepolosan mereka dirampok. Dan yang paling berharga dari semuanya— tanah mereka—telah dirampas dan dihancurkan.”

Pesan apa yang memiliki dampak paling besar yang pernah Anda dengar?

“Kami juga pernah menghabiskan waktu bersama masyarakat Kayapo dengan pemimpinnya, Chief Raoni, yang meminta kami untuk membantunya menyampaikan pesan pada dunia tentang pembakaran hutan. Raoni memberi peringatan, ‘Telah muncul banyak asap. Bangsa saya sakit dan menderita. Tapi percayalah, apa pun yang terjadi pada hutan saya hari ini, akan memengaruhi tanah Anda besok.’ Dan memang betul adanya. Permohonan pribadi Chief Raoni pada kami saat itu adalah sesuatu yang tidak dapat kami abaikan. Maka kami membawa pesan tersebut dan menyampaikannya di atas panggung tur dunia. Kini, 32 tahun kemudian, menghentikan perusakan dan eksploitasi terhadap kekayaan dunia (hutan hujan) menjadi lebih penting dari sebelumnya. Perubahan iklim datang mengancam masa depan dan melindungi hutan hujan dapat membuat perubahaan yang signifikan.”

photo courtesy TSue Cunningham via Instagram.com/@trudiestyler

Apa saja kebijakan dan aksi yang semestinya menanggapi pesan tersebut?

“Bantuan untuk mempertahankan tanah leluhur mereka, dukungan hukum untuk mengusir penjajah lahan, pelatihan agen lingkungan, pengawasan permanen untuk wilayah mereka, memblokir invasi dan perburuan, memblokir perambahan industri minyak dan pertambangan di wilayah adat, memberdayakan dan mempromosikan hak-hak perempuan, melindungi pembela hak-hak adat dari pembunuhan, membawa pelaku pembunuhan dan serangan kekerasan ke pengadilan, serta penyokongan segala bantuan darurat yang diperlukan selama kebakaran hutan terjadi.”

Apa hal terburuk yang pernah Anda saksikan?

“Tahun 2007 saya berkunjung ke Ekuador, ke provinsi Orellana dan Sucumbios yang terletak di Amazon Utara, di mana sebagian besar sumur minyak negara itu berada. Ini adalah lahan yang telah digali untuk mendapatkan minyak sejak tahun 1960-an dan menghasilkan 1.700 mil persegi hutan beracun. Texaco—kini Chevron—telah membuang 18 miliar galon limbah beracun secara sengaja selama berada di sana. Namun mereka menolak untuk kembali ke lokasi untuk menyelesaikan pemulihan lahan agar kondisinya kembali sehat. Penduduk di dua lokasi ini sangat terisolasi dan hidup lebih miris dari miskin. Saya melihat aliran sungai yang berbau minyak bumi, gagal panen, ternak-ternak yang sekarat, dan banyak orang sakit parah—kanker, penyakit pernapasan, cacat lahir, dan keguguran terjadi akibat air minum yang tercemar oleh logam berat dan hidrokarbon. Saya berjumpa dengan seorang ibu berusia 38 tahun yang menderita kanker rahim. Putrinya berusia 18 tahun dan menderita kanker hati. Mereka menunjukkan pada saya sungai tempat mereka selama ini mengumpulkan air—dan bau minyak bumi. Hewan yang mereka ternakkan untuk dijual di pasar terus menerus mati karena tinggal di lingkungan beracun. Di saat manusia, hewan, dan tanaman terus mati, Chevron tanpa sungkan menyalahkan pada kebersihan pribadi dan sistem sanitasi masyarakat yang buruk.”

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.