CULTURE

18 Maret 2024

Menelusuri Pergerakan Musik Indie Era Kini


Menelusuri Pergerakan Musik Indie Era Kini

Dara (Rad Models) photography by Zaky Akbar for ELLE Indonesia October 2019; styling Sidky Muhamadsyah

Ada semacam kebahagiaan tersendiri ketika kita bisa menemukan dan menikmati suatu hal yang unik, tidak terkecuali musik. Anda sudah menjadikan lagu-lagu Taylor Swift, Coldplay, Bruno Mars, Ed Sheeran sebagai pengiring keseharian, tetapi Anda bisa juga tenggelam dalam oase yang menyegarkan ketika menyimak Bloc Party, Arcade Fire, dan Sigur Ros. Anda juga bisa larut dalam suka cita saat menonton konser Pure Saturday, Sore, dan Bara Suara. Kalau begitu, Anda telah membuka hati dan jiwa untuk suatu hal yang sering disebut sebagai “musik indie”.

WHAT IS “INDIE”?

Filosofi utama di balik musik indie adalah fokus pada kebebasan kreatif dan artistik, serta independensi dari label rekaman besar (major label). Karya musik yang diproduksi dan didistribusikan oleh musisi secara independen atau mandiri, atau dengan bantuan label rekaman kecil yang tidak terafiliasi dengan label-label rekaman besar seperti Universal, Warner, Sony, dan EMI. Definisi dari sudut pandang ini tidak ada kaitannya dengan genre musik apa pun, tetapi lebih kepada proses produksi dan distribusi.

THE GENRE

Kata “indie” juga digunakan untuk memberi label dan mendeskripsikan genre musik tertentu. Sejumlah karakteristik musikal yang kerap diasosiasikan dengan musik indie adalah:

Etos DIY: Musisi indie menganut dan menerapkan etos Do It Yourself (DIY). Dalam hal rekaman dan produksi, mereka mengedepankan kemandirian.

Pengaruh eklektik: Musik indie membaurkan beragam elemen dari berbagai genre, seperti pop, rock, ska, folk, punk, electronic, dan lainnya.

Ekspresi lirik yang autentik: Bagi musisi indie, musik mereka adalah sebuah ekspresi tentang realitas pengalaman manusia ketimbang karya yang berorientasi pada kesuksesan komersial dan kultur arus utama. Itulah mengapa, lirik-lirik lagunya juga bertutur tentang pengalaman dan perjuangan dalam tingkatan yang personal dan emosional.

Penekanan pada penulisan lagu: Musik indie memberikan penekanan yang kuat pada penulisan lagu, mulai dari lirik yang cerdas atau puitis, melodi yang memorable, dan progresi chord yang memikat.

Morrissey

A BRIEF HISTORY

Indie dalam konteks genre musik bermula dari post punk, new wave, dan alternative yang dirilis oleh label independen di Inggris pada akhir 1970-an. Sejak kemunculannya, estetika musikal indie cenderung sulit untuk didefinisikan. Alunan musik yang kelam, berat, dan bertumpu pada irama yang intens pada album Unknown Pleasures milik Joy Division (1979), berada di spektrum yang berlawanan dengan electro-pop yang upbeat dan bertabur dengan synth pada album Speak & Spell karya Depeche Mode (1981).

Di pertengahan 1980-an, The Smiths datang untuk menawarkan konsep indie yang tidak hanya menawan secara musikal, tetapi juga berpengaruh secara kultural. Lirik-lirik observasional bernuansa sosial-politik yang dihantarkan secara puitis oleh vokalis Morrissey, berpadu dengan permainan gitar yang bergemerincing dan multi tekstur oleh Johnny Marr. Semacam bentuk perlawanan terhadap karya musik pop yang superfisial keluaran major label.

Meski musik dance, electronic, metal, dan country marak dirilis oleh label-label independen sejak 1980-an, indie tetap berpegang teguh pada estetika DIY yang tidak mengikuti arus komersial. Musik yang berorientasi gitar namun tidak segarang classic rock dan metal, dengan lirik yang jujur dan sarat muatan emosi. Sejumlah nama yang berada di balik proses rekaman, seperti produser John Leckie (The Fall, The Stone Roses), pendiri Southern Records, John Loder (The Jesus and Mary Chain, PJ Harvey), dan recording engineer Steve Albini (Pixies, Throwing Muses) turut memainkan peranan penting dalam mengonstruksi karakter sonik dari musik indie, yang membedakannya dengan mainstream pop yang terpoles rapi.

Unknown Pleasures (1979), Joy Division

Speak & Spell (1981), Depeche Mode

Musik indie mencapai puncak komersial pada pertengahan 1990-an, melalui gelombang Britpop. Sebuah bentuk indie pop/rock yang mengedepankan permainan gitar, dengan lirik yang mewakili kondisi politik dan budaya, yang dinyanyikan dengan aksen British nan kental. Blur, Pulp, Oasis membawa spirit indie dan menggenggam kesuksesan global. Oasis sendiri berhasil menjual lebih dari 70 juta keping album. Terjadinya fenomena Britpop ini membuat major label mengubah pandangan terhadap indie menjadi karya musik yang penuh potensi untuk menembus kesuksesan arus utama.

Memasuki era 2000-an, Parlophone (EMI) menggandeng Radiohead dan Coldplay dengan tidak mengabaikan kredibilitas dari musik indie, meski kedua band tersebut menorehkan pencapaian yang identik dengan musisi komersial, seperti tur berskala stadion, distribusi album secara global, dan posisi bergengsi di tangga lagu dunia.

Dalam kurun waktu satu dekade terakhir, musik indie telah melebar menjadi beragam subgenre. Pada 2012, Pitchfork mengidentifikasi “indie-classical” sebagai sebuah subgenre. Diwakili oleh musisi-musisi kontemporer seperti Jonny Greenwood (Radiohead) dan Andrew W.K. yang beralih ke klasik-eksperimental.

Coldplay

Radiohead


Estetika produksi yang lo-fi dan corak musik tradisional terdengar dari karya-karya Fleet Foxes dan Bon Iver yang merepresentasikan indie-folk. Pada 2018, nama-nama besar di ranah indie seperti The Cure, New Order, dan Depeche Mode masih tetap tampil prima di stadion sebagai headliner. Arcade Fire yang berbasis di Montreal, Kanada, dan unit indie-rock asal Inggris, Arctic Monkeys adalah beberapa contoh grup musik indie yang mampu menghipnotis massa di festival musik lewat penampilan yang enerjik dan memukau.

Kini, istilah indie tidak hanya ditujukan bagi karya musik yang dirilis secara independen, atau genre musik tertentu. Indie telah menjadi sebuah terminologi yang mewakili semangat perlawanan terhadap kultur populer dan arus utama, dengan menonjolkan realitas, kebebasan, dan otentisitas.


THE VERSION OF OUR NATION

Di Tanah Air, pergerakan indie mulai merekah pada era 1980-an. Ketika itu, punk bergerilya secara mandiri tanpa dibantu oleh label rekaman besar. Memasuki dekade ‘90-an, terminologi yang lebih akrab di kalangan masyarakat Indonesia adalah underground, bukan indie. Underground di sini condong merujuk pada genre metal yang cadas. Salah satu band indie yang mencuat ke permukaan adalah Pas Band. Band asal Bandung ini merintis upaya perilisan album secara independen lewat label SAP Music Management. Hasilnya, album perdana mereka yang berformat mini album, 4 Through the Sap, berhasil terjual sebanyak lebih dari 10.000 keping dalam waktu tiga bulan di tahun 1995.

Masih di tahun yang sama, band asal Bandung yang juga dianggap sebagai pelopor gerakan indie di Indonesia, Pure Saturday, merilis album debut yang bertajuk Pure Saturday. Penjualan album ini dilakukan secara mail order melalui majalah remaja Hai. Masyarakat menyambut baik kehadiran album ini, yang membuatnya terjual sebanyak 5.000 keping.

Apa yang dilakukan dan dicapai oleh Pas Band maupun Pure Saturday membuka jalan bagi banyak band indie di Tanah Air untuk menempuh upaya yang sama. Setelahnya, dari tahun ke tahun, band- band indie tidak henti-hentinya bermunculan dan turut memberikan warna bagi perkembangan musik di Indonesia. Di era 2000-an, label Aksara Records asal Jakarta menaungi sejumlah band yang menjadi ikon bagi pergerakan musik indie, seperti Sore, Goodnight Electric, White Shoes and the Couples Company, dan The Adams. Ada pula label FFWD Records yang menjadi wadah berkreasi bagi berbagai band indie langganan pensi seperti Mocca dan The S.I.G.I.T.

Hingga sekarang, musik indie di Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda melambat dalam menghasilkan karya. Nama-nama baru yang kini menjadi favorit kalangan anak muda seperti Bara Suara, Hindia, Fiersa Bestari, Danilla, Pamungkas, tidak hanya mewakili semangat untuk terus bermusik dengan membawa ciri khas masing-masing, tetapi juga menggambarkan tingkat keterbukaan dan apresiasi masyarakat yang semakin tinggi terhadap kreasi bebunyian bernama indie. Rara Sekar.

hara/Rara Sekar

Danilla

HERE COMES THE LADIES OF THE SIDESTREAM

Dalam beberapa dekade terakhir, perempuan telah memberikan kontribusi signifikan pada ranah musik indie. Musisi-musisi perempuan yang berkarya di jalur indie menerabas batasan dan meruntuhkan stereotipe untuk menciptakan musik yang inspiratif, distingtif, dan inovatif.

Dimulai pada era 1960-an, para musisi perempuan yang mengusung semangat indie menggunakan musik sebagai corong untuk mengekspresikan pandangan mereka terhadap kondisi sosial politik. Sejumlah figur perempuan yang dianggap sebagai pionir dalam perkembangan musik indie, seperti Patti Smith, Siouxsie Sioux, dan Grace Slick, tampil dengan musik, gaya, dan pesan yang menantang norma- norma sosial.

Dekade ‘90-an menjadi fase yang penting bagi kiprah perempuan dalam musik indie. Rachel Goswell (Slowdive) dan Bilinda Butcher serta Debbie Googe (My Bloody Valentine) menghadirkan momen-momen brilian melalui subgenre shoegaze. Tentunya kita tidak bisa untuk tidak menyebut Björk, Angel Olsen, dan Fiona Apple yang kerap mendulang pujian kritikus.

Tahun 1990-an juga menjadi saksi menjalarnya gerakan riot grrrl. Ini adalah punk yang dibalut dengan kobaran feminisme, membawa kaum perempuan tampil lebih ke depan dengan acungan feminisme gelombang ketiga. Band seperti Hole, Bikini Kill, dan L7 berupaya meredefinisi norma-norma gender, serta menumpahkan kegusaran mereka terhadap seksisme dan patriarki. Sepak terjang perempuan dalam dentuman rock terus berlanjut lewat nama-nama seperti Yeah Yeah Yeahs, The New Pornographers, Warpaint, Metric, The Breeders, dan Paramore.

Saat ini, musisi indie dari kaum perempuan terus menginspirasi dengan karya-karya yang mengeksplorasi berbagai kemungkinan dalam estetika bermusik. Musisi indie perempuan yang layak masuk playlist di akun Spotify Anda adalah Mitski, penyanyi-penulis lagu berdarah Jepang- Amerika. Karya-karyanya terbilang sangat personal, dengan tema-tema seputar cinta, kerinduan, dan pertahanan diri. Ada pula girl in red, Phoebe Bridgers, dan Soccer Mommy yang patut diberi kesempatan untuk membelai indra pendengaran Anda.

Di Indonesia, sosok-sosok perempuan terus berkeliaran di teritori musik indie dan menancapkan signature mereka. Sulit untuk tidak terbuai ketika mendengar alunan suara dan menyimak penampilan Aprilia Apsari (vokalis White Shoes and the Couples Company), Arina Ephipania (vokalis Mocca), Rara Sekar (vokalis Banda Neira), Danilla, dan Nadin Amizah. Susah juga untuk tidak menggeleng-gelengkan kepala sambil berdecak kagum saat menikmati musikalitas tingkat tinggi dari Stella Gareth (vokalis dan kibordis Scaller) dan Endah Widiastuti (vokalis dan gitaris Endah N Rhesa). Mereka merepresentasikan pernyataan “The sky is the limit” dan kita akan terus mendambakan kehadiran mereka.