Marsha Timothy Memikat Lewat Akting Natural Namun Penuh Makna

Kepada Rianty Rusmalia, Marsha Timothy menceritakan soal ketertarikannya pada dunia film dan seni akting. Penasaran bagaimana kisahnya? Yuk, simak!

Lebih dari lima belas tahun yang lalu, paras cantik Marsha Timothy mulai meluluhkan hati banyak orang. Tahun 2002, tidak lama setelah ia lulus kuliah, Marsha ditemukan di sebuah mal di Jakarta oleh seseorang dari kantor periklanan. Ia diundang casting dan berhasil terpilih menjadi wajah iklan sabun kecantikan. Sejak wajahnya laris manis menjadi model iklan, datanglah tawaran bermain film. Film Ekspedisi Madewa (tahun 2006) adalah film pertamanya. Melalui film ini, Ia belajar akting dan seni teater untuk pertama kalinya. Diikuti deretan film lainnya: Modus Anomali, Pintu Terlarang, dan The Raid 2. Ternyata, meski tidak dicita-citakan, Marsha sangat menyukai akting. “Selain kerja tim yang selalu seru banget, saya merasa, kayaknya nggak ada pekerjaan selain aktor yang mampu membuat kita harus merasakan apa yang orang lain rasakan. Profesi yang menuntut agar kepekaan selalu terasah dengan baik. Bagaimana tidak? Saya harus menjalani kehidupan orang lain. I really love my job!”, Marsha Timothy bercerita antusias.

Seperti aktor dan aktris lainnya, kita semua ingin peran yang dimainkan menjadi ‘hidup’ dan harus beliavable.” Saya mengangguk-angguk tanda setuju. Sebuah prinsip yang terdengar ‘sederhana’ tetapi rasa-rasanya saya bisa membayangkan betapa sulitnya. Dan perjuangan Marsha tak sia-sia. Berkat akting di film Marlina, Marsha Timothy menyisihkan Nicole Kidman dalam kategori Aktris Terbaik. Ia sukses membawa pulang piala Best Actress dalam ajang Sitges International Film Festival yang berlangsung Oktober 2017 di Spanyol.

(Foto: Chris Bunjamin / dok. ELLE Indonesia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *