6 Produk Ikonis Chanel Yang Wajib Anda Ketahui

Kenali lebih dalam 6 produk khas Chanel dan sejarah di balik kisah pembuatannya.

Kemampuan Gabrielle Chanel menciptakan produk-produk ikonis tak dapat diragukan lagi. Tak hanya berhasil merancang ragam busana siap pakai yang merevolusi cara perempuan berpakaian, sang desainer turut dikenal lewat produk-produk aksesorinya yang tak lekang oleh waktu. Abadi namun mampu mengikuti perkembangan zaman. Dua faktor ini lah yang menjadikan produk-produk Chanel begitu ikonis. Berikut 6 produk gubahan Gabrielle Chanel yang menyimpan sejarah.

1. Jaket Tweed

Berbekal visi untuk mendandani perempuan dalam potongan setelan yang memudahkan gerak, Chanel menciptakan tweed suit pertamanya pada tahun 1950-an. Setelan yang terdiri dari potongan jaket tweed dan bawahan—baik rok ataupun celana—dari materi serasi tersebut menjadi jawaban dari kekhawatiran Chanel akan kode busana perempuan yang membatasi gerak dan tidak mencerminkan era saat itu. Ia pun merevolusi cara perempuan berpakaian lewat potongan tweed suit miliknya.

The elegance of clothing comes with the freedom to move”, ujar Gabrielle Chanel. Konstruksi jaket Chanel pun mematuhi prinsip tersebut. Dirancang tanpa bust darts, Chanel menciptakan sebuah siluet jaket yang lembut namun tetap mampu mempertahankan bentuknya. Untuk memastikan jaket tersebut ‘jatuh’ sempurna pada tubuh sang pemakai, untaian rantai kuningan dijahit pada bagian lining kelim jaket. Tiap detailnya pun menuntut perhatian tinggi, dimulai dari garis kontur jaket, pinggiran saku, cuff pada lengan, hingga penyematan kancing-kancing yang menghiasi bagian depan jaket.

2. Tas Chanel 11.12 dan 2.55

Dikenal sebagai salah satu kreasi tas paling ikonis sepanjang masa, tak berlebihan rasanya bagi tas 2.55 dan 11.12 untuk menyandang simbol kemewahan yang sesungguhnya. Terinspirasi dari kebiasannya dalam bekerja, Gabrielle Chanel menciptakan tas 2.55 karena ia membutuhkan sebuah tas praktis bagi dirinya sendiri. Pada bulan Februari 1955—tanggal tersebut menginspirasi nama tas 2.55—Chanel merancang sebuah tas berhiaskan tali bahu dari rantai logam nan pipih. Rantai ini memudahkan para penggunanya untuk menyampirkan tas tersebut di bahu ataupun menyilangi tubuh. Fitur ini tentunya tak hanya memberikan kebebasan pada kedua tangan namun juga pada seluruh gerak tubuh.

Pada bagian eksteriornya, jahitan quilting berbentuk diamond diaplikasikan Chanel untuk memberikan bentuk dan volume pada tas tersebut. Menggunakan lining tas berwarna merah tua, Chanel mengekspresikan keinginannya untuk menciptakan sebuah tas yang cantik di luar dan di dalam. Berhiaskan sejumlah saku dan kompartemen rahasia, Chanel memastikan tas tersebut mampu menampung segala kebutuhan esensial seorang perempuan. Terakhir, sebuah tourniquet clasp penutup tas berbentuk persegi panjang—yang dikenal dengan sebutan ‘Mademoiselle’—disematkan Chanel pada bagian depan tas. Kreasi clasp kedua, yang dikenal dengan istilah double C, diperkenalkan beberapa tahun kemudian dan mengantarkan rumah mode Prancis tersebut pada gubahan legendarisnya, tas 11.12.

3. Costume Jewellery

Tak hanya merevolusi cara perempuan berpakaian, Chanel turut mengubah persepsi perempuan akan gaya personal, termasuk ihwal perhiasan kostum. Mademoiselle Chanel gemar menggabungkan perhiasan-perhiasan berharga dengan perhiasan kostum. Dinilai provokatif pada masanya, nyatanya kebiasaan Chanel ini menjadi inspirasi bagi banyak perempuan di dunia.

Chanel pun mulai merancang koleksi perhiasan kostum untuk mengkomplemen busana-busana kreasinya. Kalung mutiara berlapis-lapis, sautoir, bros, dan gelang cuff, menjadi beberapa di antaranya. Lebih jauh, Chanel mampu mengkreasikan perhiasan-perhiasan kostum yang begitu krusial dalam mewujudkan tampilan khasnya: gelang cuff yang menggantikan cuff kemeja, tali pinggang yang mengaksentuasi siluet tubuh, dan sebuah bros yang mampu menghiasi sepotong gaun.        

4. Sepatu Two-Tone

Pada tahun 1957, Mademoiselle Chanel memutuskan untuk melengkapi penampilan para perempuan Chanel dengan sepasang sepatu slingback berwarna beige dan hitam. Elegan dan tak pernah berlebihan, pasangan sepatu two-tone tersebut dapat dipadankan dengan berbagai tampilan, dari pagi hingga malam.“We step out in the morning in beige and black, we eat lunch in beige and black, we go to a cocktail party in beige and black. One is dressed from morning to night!” ujarnya.

Selain mudah dipadu-padankan, pasangan sepatu ini memiliki kebolehan lain: warna beige miliknya memberikan ilusi kaki yang lebih panjang sementara bagian hitamnya membuat ujung kaki tampil lebih ramping. Mengusung kepraktisan dalam tiap kreasinya, Gabrielle Chanel turut memilih detail grafis ini untuk melindungi bagian ujung sepatu dari ancaman cuaca dan pemakaian. Hak sepatu setinggi 5cm miliknya, menjanjikan kenyamanan bagi para perempuan dinamis.

5. Knitwear

Gabrielle Chanel menemukan materi jersey atau rajut lewat salah satu kekasihnya, Boy Capel. Chanel yang gemar meminjam pakaian Capel, merasakan sendiri kenyamanan kardigan milik pebisnis asal Inggris tersebut. Saat Chanel membuka butik miliknya di Deauville pada tahun 1912, ia pun memutuskan untuk mempergunakan materi tersebut, walau dianggap kurang lazim saat itu. Pasalnya, materi jersey hanya dipergunakan untuk membuat pakaian dalam laki-laki dan kaus-kaus para nelayan.

Sejak tahun 1913, Chanel mempergunakan materi rajut untuk membuat blus jersey, atasan bergaris, dan ragam setelan bersiluet lembut. Mudah dikenakan dan mampu mengikuti pergerakan tubuh, koleksi knitwear tersebut menjadi manifestasi akan kebebasan ala Chanel.

6. Sepatu Bot

Pasangan sepatu bot menjadi begitu esensial dalam mewujudkan tampilan perempuan Chanel. Walau Gabrielle Chanel sendiri tak pernah menciptakan satu pun untuk koleksinya, sang desainer kerap mengenakan pasangan sepatu bot berkat kecintaannya akan hobi berkuda. Baik di pinggir pedesaan ataupun di dalam kota, Mademoiselle Chanel mengenakan sepatu bot kemana pun ia pergi. Sejak tahun 1958, ia kerap memadankan setelan tweed miliknya dengan pasangan sepatu biker boots buatan Massaro, pembuat sepatu favoritnya.

Ketika Karl Lagerfeld hadir pada tahun 1983 sebagai direktur kreatif Chanel, ia dengan segera menjadikan pasangan sepatu bot sebagai elemen penting dalam koleksi-koleksi Chanel. Dipadankan dengan gaun, setelan celana ataupun rok mini, berhiaskan rantai, mutiara, hingga pita; Karl Lagerfeld—dan nantinya Virginie Viard—kian memberikan napas baru pada pasangan alas kaki tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.