Dior Lansir Koleksi Adibusana Teranyarnya Lewat Sebuah Film Pendek

Bertajuk ‘Le Mythe Dior’, film pendek besutan Dior tampilkan kemampuan agung atelier miliknya dalam mengolah gaun-gaun couture.

Mempresentasikan koleksi adibusana di tengah pandemi bukan lah perkara mudah. Meski demikian, hal tersebut bukan berarti menjadi sebuah alasan untuk berhenti berkreasi. Dior, contohnya, berhasil menjajal cara baru untuk mempresentasikan koleksi adibusana terbarunya untuk musim gugur/dingin 2020. Lewat sebuah film pendek berdurasi 14 menit, koleksi adibusana terbaru Dior disiarkan secara langsung dari Paris pada pukul 14.00 waktu setempat (pukul 19.00 WIB).

            Bertajuk ‘Le Mythe Dior’, film pendek arahan sutradara Italia, Matteo Garrone, ini berawal di atelier Dior, di mana sepuluh potong gaun miniatur setinggi 16 inci dikemas ke dalam sebuah trunk berbentuk gedung pusat Dior di 30 Avenue Montaigne, Paris. Trunk ini kemudian dibawa oleh dua orang bellhop yang kian menyusuri hutan dan alam imajiner bak negeri dongeng. Layaknya para wiraniaga yang berkeliling dari pintu ke pintu, kedua bellhop mempresentasikan koleksi gaun adibusana Dior berukuran mini tersebut pada tiap makhluk mitologi yang mereka temui sepanjang perjalanan.

            Seorang putri duyung berekor keperakan, sekelompok nimfa air yang tengah mandi, hingga seorang nimfa pohon yang tengah menjalin kasih, tiap makhluk mitologi ini tak mampu menolak pesona gaun-gaun adibusana Dior. Seorang putri pemalu yang mengintip dari rumah keong miliknya, bahkan rela menanggalkannya untuk menjalani proses pengukuran tubuh. Rona kebahagian juga tampak begitu nyata di wajah seorang perempuan yang mendapati gaun Dior pilihannya mendapatkan persetujuan dari suami, sang satir.

            Selesai berkeliling, kedua bellhop pun kembali ke atelier Dior untuk meneruskan pesanan gaun-gaun tersebut. Para penjahit pun dengan segera unjuk kebolehan dan mewujudkan gaun-gaun idaman dalam ukuran sesungguhnya. Kisah ini kemudian ditutup dengan penampilan memukau para makhluk mitologi di negeri dongeng tersebut dalam balutan gaun-gaun adibusana Dior.

            Sekilas tampak bak fantasi, film pendek ini nyatanya tak begitu jauh dari realita. Lewat boneka dan gaun miniatur, inilah salah satu cara terbaik yang dipercaya oleh Dior untuk menyuguhkan koleksi adibusana pada klien-klien internasional miliknya. Cara ini juga dinilai lumrah menurut sejarah. Lewat Théâtre de la Mode, sebuah ekshibisi boneka mode keliling di tahun ’40-an, para couturier di Paris dapat mempresentasikan koleksi adibusananya pada klien-klien di Eropa dan Amerika seusai Perang Dunia II.

            Selain boneka dan gaun-gaun miniatur, Maria Grazia Chiuri turut merayakan karya-karya lima seniman surealis lewat koleksi adibusana Dior terbaru: Lee Miller, Dora Maar, Dorothea Tanning, Leonora Carrington, dan Jacqueline Lamba. Masing-masing sosok visioner ini menjadi muse bagi Chiuri dan menginspirasi 37 tampilan yang dipersembahkan Dior untuk musim mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.