Produk Pembersih Kulit Wajah dari Waktu ke Waktu

Jika pada waktu lampau kita berlomba-lomba mencari pembersih wajah dengan busa melimpah, kini makin banyak perempuan yang justru menginginkan sebaliknya. Perubahan produk idaman tentu tak terjadi tanpa alasan, melainkan mengikuti kebutuhan dan berkembangnya pengetahuan.

Setiap perempuan pasti mengalami evolusi dalam merawat keindahan kulitnya. Mulai dari mencuci wajah hanya dengan air, hingga mengikuti ritual double (atau bahkan triplecleansing layaknya para perempuan Korea. Berangkat dari hal ini, tentu tercetus sederet pertanyaan. 

Apa yang membuat ritual mendasar perawatan wajah ini berubah dari waktu ke waktu? Apakah memang kebutuhan kulit perempuan berubah karena semakin intensnya agresi eksternal yang membuat pembersih wajah jadi semakin beragam?

Awal Mula

Sejak tahun 2800 SM, jejak-jejak material sabun sudah ditemukan pada situs-situs penggalian Babylon. Bahkan menurut dokumen medikal dari Mesir di tahun 1500 SM, disebutkan juga cara membuat sabun dengan cara mengombinasikan lemak binatang dengan vegetable oils serta garam alkalin. Sabun yang diciptakan pada masa ini ditujukan untuk membantu merawat penyakit kulit, bukan sebagai pembersih harian. Untuk mencuci wajah, mereka cukup mengandalkan air bersih saja.

Seiring dengan berkembangnya zaman, proses pembuatan sabun juga mengalami evolusi. Pada abad ke-7, produsen sabun semakin populer dan menjadi salah satu industri yang cukup eksklusif di Eropa, khususnya Italia, Spanyol dan Prancis—karena akses yang mudah bagi ketiga negara ini untuk mendapatkan bahan-bahan natural untuk pembuatan sabun. Percaya atau tidak, sabun-sabun yang tercipta pada masa ini masih dipergunakan untuk beragam fungsi, mulai dari mencuci pakaian, tubuh, hingga wajah. Biasanya, pada jaman ini sabun masih memiliki pH level yang tinggi, sehingga bisa membuat kulit jadi lebih kering bahkan mengiritasi.

Jepang – 1967

Di tengah maraknya industri pembuatan sabun, seorang kreator kecantikan asal Jepang, Shu Uemura, menawarkan sebuah pengalaman yang berbeda pada para beauty junkie. Berawal dari observasinya saat melihat banyak selebriti merasa kesulitan (dan kesakitan) saat harus menghapus makeup di belakang panggung, maka di tahun 1967 ia menghadirkan pembersih wajah yang juga mampu meluruhkan sapuan makeup dengan lebih mudah tanpa membuat kulit jadi kering. Produk ini diberi nama Unmask, atau yang sekarang lebih dikenal dengan Shu Uemura Cleansing Oil. 

Amerika Serikat – 1970

Sementara di belahan benua Amerika, industri pembuatan sabun pun semakin berkembang. Hingga akhirnya pada tahun 1970-an Dove memperkenalkan konsep ‘beauty bar’ pada para pecinta kecantikan. Di mana mereka menghadirkan sabun batangan yang memiliki formulasi lembut dengan memasukkan lebih banyak fatty acid dan lipid ke dalamnya. Inovasi inilah yang menjadi cikal bakal hadirnya beragam jenis pembersih wajah yang tentunya sudah akrab Anda kenal, mulai dari gel, foam, krim, hingga cair. 

Prancis – 1900

Lain halnya bagi para perempuan di Paris. Pada tahun 1900-an kondisi air di kota tersebut sangatlah buruk karena terkontaminasi oleh kandungan korosif. Agar kulit wajah tidak terkena dampak buruknya, akhirnya para ilmuan di kota ini terdorong untuk menciptakan sebuah cairan yang bisa menggantikan manfaat air dengan komposisi serupa. Inilah yang menjadi awal mula terciptanya micellar water, atau pembersih wajah tanpa busa yang terbuat dari micelles (molekul-molekul kecil dari cleansing oil) yang dikombinasikan ke dalam air sehingga mampu membantu mengangkat minyak berlebih, makeup dan sisa debu pada wajah tanpa mengikis lapisan pelembap kulit.

Saat Ini

Diawali hanya cukup dengan membasuh wajah menggunakan air, hingga tren penggunaan sabun dengan formulasi keras yang mewujudkan busa sangat banyak, kini produk pembersih wajah menjadi lebih majemuk. 

  • Tanpa Detergen

Dahulu, semakin banyak sabun yang dihasilkan, maka sebuah produk pembersih akan dianggap lebih optimal. Namun neberapa dekade terakhir, kebanyakan pembersih wajah justru memiliki sifat soapfree, yang artinya para produsen menggunakan detergen sintetis dengan kadar pH lebih rendah (seperti sodium lauryl sulfate dan sodium laureth sulfate). Sayangnya, hal ini juga tetap menimbulkan beberapa perdebatan, karena kandungan ini ternyata tetap bisa mengikis kelembapan natural kulit wajah. 

Facial cleanser pun mengalami evolusi yang dramatis. Saat ini, konsumen mencari produk pembersih wajah yang tidak melukai kulit Anda—walau mengandung busa sekalipun. Oleh karena itu, hadirlah beragam surfactants yang lembut, seperti gluconates dan isethionates

Detergen klasik seperti sodium lauryl sulfate dan sodium laureth sulfate dibuat menjadi lebih ringan serta tidak mengiritasi kulit. Ditambah lagi dengan tren ‘green beauty’ yang mulai banyak dilirik, sehingga menghasilkan surfactants dari bahan natural, seperti kelapa. Maka rasanya tak heran jika pembersih wajah non-deterjen, seperti cleansing oil ataupun cleansing balm semakin menanjak pamornya. 

  • Tanpa Pewangi

Terlepas dari detergen atau komposisi surfactants yang digunakan di dalam sebuah produk pembersih, sekarang juga makin banyak perempuan yang mengklaim bahwa mereka memiliki jenis kulit sensitif. Ini juga menjadikan banyak produsen mengeliminasi sentuhan pewangi yang terlalu kencang di dalam skincare-nya. Jika pun ada, rata-rata aroma tersebut cenderung lembut dan berasal dari wangi bahan-bahan natural di dalamnya (yang biasanya memiliki efek terapi). 

Namun pada akhirnya, pemilihan pembersih wajah bukan hanya sekadar mengikuti apa kata orang, tetapi kembali lagi kepada apa yang kulit Anda butuhkan sehingga proses perawatan juga bisa menjadi lebih optimal. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.