2 November 2026
Mahakarya Permata dalam Babak Kedua Le Chœur des Pierres Cartier
Text Varisha Wira; photography courtesy of Cartier
Bagi Cartier, proses kreatif selalu bermula dari karakter alami batu permata. Menemukan sebutir batu pilihan di antara sekian banyak permata langka bukan hanya soal perhitungan matematis atas tingkat kejernihan maupun presisi asahan, melainkan kepekaan rasa yang menangkap kepribadian unik dari material tersebut. Ada kualitas khas—je ne sais quoi yang begitu lekat dengan identitas sang maison—yang memberi batu-batu pilihan Cartier kepribadian tersendiri. Layaknya seorang muse, batu memandu proses penciptaan melalui bentuk, warna, sejarah, dan simbolismenya; dari sanalah para perancang dan perajin memperoleh titik awal inspirasi.
Jacqueline Karachi-Langane selaku Director of High Jewellery Creation Cartier menjelaskan bahwa setiap permata menghadirkan sebuah perjumpaan berharga. Keseluruhan rancangan perhiasan dibangun untuk menonjolkan keistimewaan batu tersebut, mulai dari pantulan binar, kedalaman warna, hingga siluetnya saat dikenakan. Di sinilah esensi seni perhiasan tinggi Cartier berlabuh, yakni tersentuh oleh pesonanya, lalu menafsirkan dan memperbesar jiwa unik sang batu serta kehadirannya.
Dialog kreatif ini diwujudkan melalui savoir-faire para perajin di bengkel High Jewellery Cartier. Seperti diungkapkan Alexa Abitbol, Director of the High Jewellery Workshops, koleksi ini memperlihatkan bagaimana keahlian kriya yang luar biasa dapat menghidupkan visi kreatif dan batu-batu permata. Dari goresan pensil pertama hingga perhiasan selesai, desainer terus berkomunikasi dengan setiap perajin dalam proses saling memahami keahlian masing-masing. Para pakar batu permata, perajin perhiasan, lapidaris, gem-setter, dan pemoles bekerja selaras untuk mencapai harmoni sempurna. Dialog berkesinambungan inilah yang memungkinkan gaya Cartier tampil dalam segala kekayaannya. Pada akhirnya, High Jewellery Cartier merupakan sebuah ode bagi batu permata.
|
|
Koleksi ini diawali oleh eksplorasi palet biru yang tenang lewat kalung Stellara. Menghadirkan safir Ceylon seberat 41,01 karat sebagai pusat perhatian, rancangan grafis kalung ini diperkaya oleh susunan berlian aneka ukuran. Perajin Cartier memadukan konstruksi berongga dengan garis-garis memancar yang menyerupai riak gelombang cahaya. Struktur tersebut dirancang presisi agar tetap fleksibel, memastikan kalung dapat melingkar lentur dan nyaman di lekuk leher.
Nuansa akuatik serupa hadir pada anting Undara melalui jajaran spinel biru laut yang disusun bergradasi. Bentuknya yang melengkung rapi memeluk daun telinga dengan taburan berlian bertingkat, terinspirasi dari formasi cangkang laut serta deburan ombak pantai.
|
|
Beralih ke palet hijau, kalung Panthère Tunya menghadirkan ikonografi legendaris Cartier melalui ilusi gerak yang tercipta dari material berharga. Rancangan ini berpusat pada zamrud Zambia berbentuk cabochon seberat 48,12 karat. Batu dua sisi ini memiliki kualitas dan kedalaman warna yang istimewa. Dari bentuknya, untaian manik-manik zamrud seolah mengalir keluar, diawasi oleh figur macan kumbang. Cartier memperlihatkan peralihan menarik dari motif satwa realistis menuju susunan grafis modern, di mana bintik bulu pantera berbahan oniks dan berlian perlahan menyatu dengan rangkaian zamrud, dipermanis oleh aksen sembilan butir berlian kuning Fancy Yellow seberat 10,91 karat.
Panthère Tunya
Keindahan palet hijau berlanjut pada anting Volubia yang mengadopsi bentuk dedaunan. Mengombinasikan zamrud potongan baguette dan briolette dalam tatanan asimetris, anting ini membingkai cuping telinga dari sisi atas dan bawah, menghadirkan kesan dinamis yang menyatu lembut dengan gerak pemakainya.
Panthère Tunya
Volubia
Suasana beralih ke palet merah yang membara pada kalung Etnara. Mengambil inspirasi dari aliran lava vulkanis, batu rubellite utama seberat 67 karat dikelilingi oleh barisan rubellite simetris serta taburan topas keemasan. Susunan rubellite yang serasi dipisahkan oleh topas, yang berkilau bak percikan api dan menghidupkan kesan aliran lava. Perpaduan warna tersebut berpijar di atas tatahan emas kuning, menciptakan kontras yang tegas dan kaya dimensi.
Sebaliknya, kalung Tipaza menawarkan pendekatan yang lebih tenang dan terukur. Tiga untai manik-manik rubi berpadu dengan dua butir berlian briolette berbobot masing-masing 7,36 karat. Tata letak batu yang mengalir lembut dari garis leher memperlihatkan kepiawaian Cartier dalam menghadirkan perhiasan yang anggun tanpa ornamen berlebih. Keselarasan warna merah ini turut dilengkapi oleh anting Drosera, yang merangkai delapan belas butir rubi seberat 28,44 karat dalam lengkungan halus beraksen tetesan berlian.
Tipaza
Etnara
Drosera
Perayaan warna mencapai puncaknya pada kalung Tutti Chaya, yang melanjutkan eksplorasi Cartier terhadap motif Tutti Frutti sejak pertengahan 1920-an. Motif khas ini memadukan rubi, zamrud, dan safir berukir dalam konstruksi geometris berlian beraksen oniks hitam. Di bagian tengah, dua butir zamrud Kolombia berusuk seberat 56,97 karat terpasang kokoh melalui teknik pengait tersembunyi. Proses pengerjaannya memakan waktu hampir 2.000 jam kriya manual, di mana perajin Cartier merancang bagian belakang kalung dengan ketelitian yang setara dengan bagian depan demi kenyamanan maksimal.
Harmoni warna berlanjut pada kalung Fibria yang mengadaptasi keindahan teknik tenun dan rumbai passementerie. Anyaman dua untai ini mempertemukan batu toska, rubi, dan zamrud di antara garis-garis berlian platinum. Melengkapi seri ini, anting Ojai menampilkan delapan belas safir bergradasi merah muda dan jingga (total 24,12 karat) menjuntai seperti tetesan di daun telinga, ditahan elemen berlian menyerupai ranting, sementara anting Patellia menghadirkan teknik pemasangan terbalik pada dua berlian cokelat 11,32 karat. Bagian pavilion menghadap ke luar, sementara faset dan table berada di bawah.
Tutti Chaya
Fibria
Ojai
Patellia
Savoir-Faire Stellara
Savoir-Faire Tutti Chaya
Stellara
Undara
Panthère Tunya
Panthère Tunya
Volubia
Tipaza
Etnara
Drosera
Tutti Chaya
Fibria
Ojai
Patellia