1 April 2025

Dinamika Hubungan Mertua Menantu: Stigma dan Realitas, Dahulu hingga Kini


Dinamika Hubungan Mertua Menantu: Stigma dan Realitas, Dahulu hingga Kini

Text by Indah Ariani (Kiara and Nana (Persona) photography Zaky Akbar for ELLE Indonesia April 2025; styling Sidky Muhamadsyah; makeup Ranggi Pratiwi; hair Farhan Nabil)

Siapa bilang ibu mertua selalu ingin jadi rival menantu perempuannya? Siapa pula yang mengatakan kalau menantu perempuan tak bisa jadi bestie ibu mertuanya?

Ada begitu banyak stigma negatif yang sejatinya telah usang tentang relasi ibu mertua dan menantu perempuannya yang masih diyakini dan dipilih sebagai cara berkomunikasi. Padahal, sama seperti seorang istri mencintai suaminya dan seorang ibu mengasihi putranya, ada sejuta alasan menyenangkan yang dapat dijadikan landasan untuk membangun relasi menantu dan ibu mertua yang baik dan penuh kehangatan. Dengan pengertian, empati, dan kasih sayang yang tulus, semua stigma negatif tersebut sungguh bisa dipatahkan.

Pernikahan bukan hanya mengubah status sepasang orang menjadi suami dan isteri, tapi juga sepasang ibu dan ayah sebagai mertua dan pasangan yang menikah sebagai menantu. Selarik kalimat akad, menjadi pintu memasuki jenjang kehidupan yang memiliki banyak perubahan, mulai dari status, hubungan dan tanggung jawab baru. Pernikahan, dalam masyarakat kekerabatan seperti di Indonesia, memang melampaui pertemuan dua insan, namun juga dua keluarga.

Dalam kondisi tersebut, hubungan antara menantu dan mertua juga memiliki dinamika tersendiri. Membuka hati bagi anggota baru dalam keluarga tentu membutuhkan ketulusan dan barangkali waktu, yang berbeda-beda panjangnya. Ada yang bisa segera, ada yang memerlukan waktu lebih lama. Satu hal yang kerap mendapat sorotan adalah hubungan antara ibu mertua dan menantu perempuan. Mertua perempuan, misalnya, acap digambarkan sebagai perempuan yang sempit hati dan penuh kecemburuan pada menantu perempuannya. Sebaliknya, menantu perempuan kerap digambarkan sebagai perempuan muda yang akan menentang dan meluluhlantakkan hubungan seorang ibu dengan anak laki-lakinya.

Gilmore Girls (2000 - 2007).

Hal ini sesungguhnya terasa sebagai sebuah pendiskreditan pada perempuan secara umum. Sama halnya seperti dalam penggambaran sosok perempuan pemimpin yang sering digambarkan sebagai sosok yang sulit, emosional, dan penuh drama. Kendati mertua dan menantu laki-laki juga tak jarang memiliki konflik, namun hubungan mereka cenderung digambarkan sebagai hubungan yang lebih aman dan penuh pengertian. Glorifikasi kondisi rumit ini melalui berbagai media juga seperti menjadi bensin yang dituangkan pada api. Dalam budaya pop, semisal melalui film, ada cukup banyak kisah tentang hubungan mertua dan menantu perempuan yang penuh konflik, seakan mengamini berbagai stigma negatif yang melekat dalam hubungan tersebut. Akibatnya, meski dalam dunia nyata ada banyak sekali hubungan mertua dan menantu perempuan yang harmonis dan tulus, kesan negatif itu cukup melekat dalam benak masyarakat dan membuat baik seorang ibu yang menjadi mertua, maupun seorang perempuan yang menjadi menantu khawatir dan jeri menjalankan peran tersebut.

Psikolog yang juga pendiri dan CEO dari Personal Growth Consulting, Ratih Ibrahim mengatakan, stigma yang melingkupi hubungan ibu mertua dengan menantu perempuan dalam masyarakat Indonesia memang lebih kuat. Sebab di masa lalu, posisi perempuan yang berada di sekitar urusan domestik membuat ibu mertua dengan menantu perempuannya lebih sering dan lebih intens bertemu dan berinteraksi. “Apalagi, di masa lalu, tidak sedikit pasangan yang tetap masih harus tinggal bersama orangtua setelah menikah. Seringnya bertemu, membuat potensi gesekan menjadi lebih kuat,” Ratih menjelaskan.

Menurut Ratih, tak jarang, konflik yang terjadi, berlangsung berkepanjangan dan bahkan mungkin tidak selesai sampai seumur hidup. “Kondisi ini yang menyebabkan stigma mother in law sebagai “monster in law” jadi seolah abadi. Stigma ini juga membuat hubungan yang semestinya bisa baik-baik saja sudah diwarnai dengan prasangka. Sementara pada laki- laki, karena bertemunya lebih jarang, konflik yang terjadi kalah mencuat ketimbang yang terjadi pada perempuan,” kata Ratih.

Monster In Law (2005).

Hal lain yang kerap menjadi penyebab sensitifnya hubungan ibu mertua dengan menantu perempuan menurut Ratih adalah perihal ego. “Keduanya mencintai laki-laki yang sama. Satu sebagai ibunya yang ‘merasa paling kenal, paling tahu, deserve the love and respect dari anaknya to the most.’ Satunya sebagai istri, yaitu sebagai the present woman, the queen dari suaminya,” katanya. Perebutan posisi atas dasar ego yang kuat dari masing-masing pihak ini, disebut Ratih sebagai hal yang mempertajam konflik. Potensi konflik pun akan semakin meningkat dan semakin terbuka, bilamana terdapat perbedaan gaya, sikap, kepribadian, dan kebiasaan di antara keduanya. Tak jarang bahkan dipicu hal-hal yang terlihat sepele seperti soal kebiasaan bangun tidur yang berbeda jamnya, juga apa kegiatan yang dilakukan di pagi hari. “Misalnya saja, mertua terbiasa bangun pagi, rapi bersih, sementara menantunya bangun lebih siang dengan santai, dan sebagainya. Bisa juga karena yang satu bossy dan yang satunya tidak suka atau gaya dandanan atau cara makan yang tak sesuai pun bisa jadi perkara. Penyebabnya kebanyakan hal-hal serupa ini yang bisa, bahkan dicari-cari. Bisa terjadi sikap saling kritik yang tajam. Apalagi jika sejak awal faktor emosi, perasaan, dan prejudice sudah kental. Everything can get worse,” Ratih mengungkapkan.

Kiara and Nana (Persona) photography Zaky Akbar for ELLE Indonesia April 2025; styling Sidky Muhamadsyah; makeup Ranggi Pratiwi; hair Farhan Nabil.

SADARI DAN KURANGI KADAR EGO

Dalam kenyataannya, memang cukup banyak kondisi serupa stigma yang menjadi kenyataan. Hubungan mertua dan menantu perempuan yang tidak harmonis dan penuh intrik, muncul berkepanjangan dengan berbagai sebab yang tidak terlalu jelas. Di saat yang sama, ada pula hubungan ibu mertua dan menantu perempuannya yang harmonis dan penuh kasih sayang meski dengan potensi konflik yang juga sama. Keduanya berupaya melepaskan diri dari stigma dan membangun rasa saling percaya bahwa karena mereka masing-masing adalah orang baik, kemungkinan untuk berhubungan dengan rukun menjadi sebuah keniscayaan. “Banyak kok ibu mertua dan menantu perempuan yang memiliki relasi yang baik, rukun dan saling sayang,” Ratih menegaskan.

Lebih lanjut Ratih mengatakan, baik ibu mertua maupun menantu perempuan perlu berusaha untuk menyadari kadar ego dan berkenan menurunkannya. “Ibu mertua harus melawan banyak hal terutama dirinya sendiri untuk menerima menantu sebagai perempuan baru dalam hidup putranya berikut dengan konsekuensi akan berpindahnya sebagian besar cinta anaknya, dari dirinya ke perempuan baru ini,” kata Ratih.

Ia tak menampik kondisi sulit yang mungkin ditemui seorang ibu untuk melakukan hal tersebut. Namun, kesediaan untuk memberi ruang privat kepada menantu untuk mengenal pasangan dan membangun keluarganya sendiri tanpa rasa takut akan melukai hati mertuanya akan menumbuhkan rasa respek dan saling menghargai. “Saling menyediakan diri untuk membantu tanpa berprasangka apalagi menghakimi menjadi sesuatu yang penting dilakukan. Walaupun mungkin memang gampang diomongin, tapi bisa susah banget dikerjakannya,” cetus Ratih.

Sebaliknya, menantu perempuan pun dianjurkannya untuk berusaha memahami kala menemukan kondisi sulit saat menghadapi ibu mertuanya. “Memang tidak mudah, karena kemungkinan akan ada kecemburuan dan kekhawatiran dalam hati sang mertua, rasa ingin anaknya tetap sama dia, kompetitif dan lainnya. Usahakan untuk memahami itu. Be empathic to her. Coba kenalin lebih dalam dan kembangkan pemahaman yang baik tentangnya. Just respect and love her, seajaib apapun kondisinya,” kata Ratih. Menurutnya, tak ada salahnya untuk mengambil jarak sejenak bila terbentur kondisi yang sangat menyesakkan. “Jika sedang sebal, ambil jarak saja dulu sementara. Tapi jangan sampai memusuhi ibu mertua,” katanya.

Ratih menyarankan para menantu untuk mencoba menempatkan diri sebagai anak perempuan buat ibu mertua agar perselisihaan yang terjadi tak akan menetap lama apalagi berkembang menjadi dendam berkepanjangan. “Setiap orang ingin disayangi, dihormati, ditemani. Ibu mertua pun juga sama,” tukasnya.

Kiara and Nana (Persona) photography Zaky Akbar for ELLE Indonesia April 2025; styling Sidky Muhamadsyah; makeup Ranggi Pratiwi; hair Farhan Nabil.

TERBUKA MENERIMA APA ADANYA

Berani bersikap terbuka dengan memahami, mencintai dan menerima satu sama lain, dapat menjadi cara meminimalisir konflik frontal yang mungkin terjadi antara keduanya. Mengupayakan kesempatan untuk lebih saling mengenal dan memahami satu sama lain dengan sungguh-sungguh, menurut Ratih, juga penting dilakukan. Menerima apa adanya dan selalu berusaha saling memberi rasa respek juga harus diupayakan.

Sebagai orang yang juga memiliki pengalaman menjadi menantu perempuan bagi seorang ibu mertua, Ratih tak hanya berangkat dari berbagai teori tentang relasi, melainkan juga melalui pengalaman nyata. Menurutnya, memastikan bahwa membangun hubungan yang baik dan penuh kasih sayang antara menantu dan ibu mertua serta sebaliknya, merupakan sebuah keniscayaan. “Bisa banget. Sangat bisa. Satu-satunya cara yang saya lakukan adalah, I gave all my love and respect to my late mother in law. Begitu pula pada sikap saya pada pacar-pacar anak-anak lelaki saya. I love them,” kata Ratih mantap.

Menurunkan skala prasangka ke titik nol serta memberikan waktu untuk saling mengenal dikatakan Ratih, sebagai hal yang perlu dilakukan. “Jika ada hal- hal yang perlu di bicarakan, ya disampaikan saja secara hati-hati dan penuh empati. Ada baiknya didahului dengan pendahuluan tentang mengapa perlu bicara,” ujarnya. Demikian pula jika merasa membutuhkan jeda dan perlu melakukan dulu gencatan senjata. Juga kalau ada yang harus dimaafkan dan dilupakan yang dilakukan saja. Ratih menyarankan untuk melakukannya tanpa ragu dan bila memungkinkan, beri penjelasan sebelumnya agar hubungan bisa lebih cair. “Mudah- mudahan bisa cepat baikan lagi,” tukas Ratih.

Kiara and Nana (Persona) photography Zaky Akbar for ELLE Indonesia April 2025; styling Sidky Muhamadsyah; makeup Ranggi Pratiwi; hair Farhan Nabil.

MENANTU SERU, MERTUA BIJAKSANA

Dalam dunia nyata, hubungan menyenangkan antara menantu dengan ibu mertua atau sebaliknya, bukan dongeng semata. Setidaknya, demikian pengalaman Dewi Ivo, pengusaha dan pelestari wastra dengan ibu mertuanya, Okke Hatta Rajasa; juga pengalaman Delly Malik, pengusaha dan model senior dengan dua menantu perempuannya, Xaviera dan Nadine Chandrawinata. Dewi merasa beruntung memiliki hubungan yang baik dan sangat dekat dengan ibu mertuanya. “Apalagi semenjak ibu saya meninggal tiga tahun lalu. Hanya ibu mertua saja sekarang yang saya miliki sebagai sosok ibu,” katanya.

Ia tak menyangkal ada banyak stigma negatif yang beredar sejak lama tentang hubungan ibu mertua dan menantu perempuan. Dewi mengaku juga mendengarnya sejak sebelum menikah. “Namun ibu saya selalu menasihati untuk menjadikan ibu mertua seperti ibu kandung sendiri bila saya telah menikah. Ibu selalu wanti-wanti saya untuk memperlakukan ibu mertua dengan kasih sayang dan rasa hormat yang setara kadarnya dengan yang saya berikan pada ibu kandung saya sendiri,” ia mengatakan.

Beruntung sekali, Dewi memiliki hubungan yang baik dan sangat dekat dengan ibu mertua. Ia bahkan tak sekadar menjadi menantu bagi ibu mertuanya, melainkan juga kolega yang bisa berkolaborasi dan bekerjasama dalam berbagai organisasi. “Sekarang ini, saya membantu beliau mengurus yayasan nirlaba Cita Tenun Indonesia (CTI). Di luar hubungan saya sebagai menantu, saya ingin sekali merealisasikan mimpi kami untuk membuat film tentang perjalanan Cita Tenun Indonesia dan membuat museum hasil karya yang akan menjadi etalase yang komprehensif tentang wastra Nusantara. Semoga saja bisa segera terlaksana,” ia berujar. Sama seperti melihat sosok ibunya, ia melihat ibu mertuanya sebagai perempuan tangguh inspirasional yang selalu ingin berbagi dan bisa bermanfaat buat orang banyak.

Meski mungkin akan dirasa to good to be true oleh orang-orang yang memercayai stigma, Dewi bersyukur sepanjang usia pernikahannya, ia merasa tidak menemukan kesulitan dalam berkomunikasi dan membangun relasi yang menyenangkan dengan sang ibu mertua. “Banyak berkomunikasi serta menunjukkan rasa sayang merupakan hal yang selama ini menjadi hal penting yang selalu saya upayakan. Untungnya, nuansa komunikasi dalam keluarga suami saya memang terbuka. Dari awal menikah kami sudah dekat satu sama lain,” ujar Dewi. Kekompakan dan hubungan solid dalam keluarga suaminya ini pula, menurut Dewi, yang membantunya mudah melebur menjadi bagian di dalamnya.

Sementara Delly Malik yang memiliki dua menantu perempuan juga mengaku tak menemukan kendala dalam berkomunikasi. “Hubungan, juga komunikasi kami baik dan lancar. Kami amat sering berjumpa. Tak hanya berbagi relasi sebagai ibu mertua dan menantu, kami juga berbagi urusan pertemanan. Saya kenal sahabat-sahabat mereka dan mereka pun mengenal sahabat- sahabat saya. Begitu pula soal pekerjaan. Mereka paham sekali kesibukan pekerjaan saya,” katanya. Menurutnya, ia dan kedua menantunya selalu berusaha menyediakan waktu untuk hang out bersama sambil bertukar informasi dan berbagi gosip terbaru kalau ada yang seru.

Kendati status ibu mertua kerap dianggap sebagai “duri dalam daging” para menantu peremuan, Delly memilih tak mau terjebak di dalamnya. Pengalamannya sebagai menantu yang memiliki hubungan amat formal dengan ibu mertuanya, membuat Delly memilih untuk bersikap rileks terhadap kedua menantunya. “Barangkali sikap saya pada kedua menantu saya sekarang merupakan bayangan yang menurut saya ideal sebagai seorang ibu mertua. Sebab, hubungan saya dan ibu mertua lumayan formal, kalau tidak menyebutnya kaku, walaupun saya sudah 39 tahun menjadi menantunya,” katanya.

Melalui pilihan komunikasinya dengan kedua menantu, Delly berupaya membuktikan bahwa ibu mertua pun bisa menjadi sahabat dan ibu yang sesungguhnya bagi kedua menantunya. “Saya sayang dan respek sekali pada kedua menantu saya. Mereka pun tampaknya demikian. Tak pernah saya merasa kehabisan perhatian dari mereka berdua. Kami bahkan sering saling meminjak atau memberi barang. Mereka sering memberi saya sesuatu yang unik,” Delly mengatakan.

Dalam pandangannya, kedua menantunya berhasil menjadikan anak-anak laki-laki sebagai family man yang bertanggung jawab. “Tak ada alasan bagi saya untuk bersikap kritis dan tajam pada mereka yang membuat anak-anak saya jadi manusia yang lebih baik,” cetusnya.

Memberi ruang lapang untuk menantu berkembang bersama keluarganya dan membangun regulasi sendiri dalam rumahnya menurut Delly merupakan hal penting yang perlu dilakukan oleh seorang ibu mertua. Menerima menantu perempuan dan menyayangi mereka seperti kita menyayangi putri kandung sendiri juga ia rasa perlu dan layak diupayakan. “Apalagi saya menyadari bahwa para menantu itu adalah perempuan- perempuan yang dicintai anak-anak saya. Mereka yang saat ini menjadi pendamping dan berkenan mengurus anak-anak saya tanpa batasan. Apa hak saya untuk tidak menyayangi mereka?” ujar Delly.

Namun ia tak menampik fakta bahwa sebuah relasi amat mungkin menemui jalan berkerikil. Delly mahfum akan ada hari- hari di mana mungkin terjadi kesalahpahaman. “Saat gusar, saya biasanya membisikkan pada diri saya, ‘Ingat, dia mantumu. Ayo selalu lihat sisi postitif menantumu.’ Maka, biasanya saya akan mengambil jeda sejenak dan mengalihkan perhatian pada hal lain, misalnya pada pekerjaan, juga terutama pada cucu-cucu,” katanya. Berlibur, hang out, bermain atau mengantar jemput cucu-cucunya ke sekolah, merupakan cara Delly melipur lara. Ia mengaku, akan melakukan apa pun yang bisa mengalihkan perhatian tanpa menurunkan kadar sayang dan empatinya pada para menantu.

Berguru pada pendapat Ratih, juga pengalaman Dewi dan Delly, barangkali sudah saatnya berbagai stigma negatif yang melingkupi hubungan menantu dengan ibu mertua ditilik ulang dan secara bertahap dihapuskan. Seperti menuang air putih ke dalam gelas kopi secara terus-menerus, berbagai pengalaman baik antara menantu dan mertua, perlahan tapi pasti akan bisa menggugurkan stigma negatif itu, dan membangun pemahaman baru yang lebih adil juga relevan di masa sekarang. Keterbukaan dan gaya komunikasi antar generasi yang kian mencair saat ini, tentu bisa jadi jalan masuk baru untuk membangun hubungan menantu mertua yang penuh kasih sayang dan saling mendukung tanpa kehilangan rasa respek dan saling menghargai. Menantu seru dan mertua bijaksana yang bisa jadi bestie pasti niscaya diwujudkan.