CULTURE

6 Oktober 2026

Ragam Aktivitas Bugar Para Atlet Sepak Bola Indonesia Di Luar Lapangan


Ragam Aktivitas Bugar Para Atlet Sepak Bola Indonesia Di Luar Lapangan

Sepak bola Indonesia menang! Bagi Anda yang luput mengikuti FIFA ASEAN Cup 2026 selama dua pekan terakhir, tim nasional Indonesia baru saja menorehkan sejarah sebagai juara edisi perdana turnamen yang mempertemukan 11 negara ASEAN dan tiga tim undangan (Bangladesh, Pakistan, dan Hong Kong). Gelar tersebut diraih usai timnas Indonesia mengungguli Thailand melalui adu penalti dengan skor 4-2 dalam laga final di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, pada 5 Oktober. Sebuah malam yang menyuntikkan angin segar bagi perjalanan sepak bola Indonesia.

Gemuruh sorak-sorai penonton telah mereda. Lampu stadion dipadamkan. Trofi resmi diterima. Kini, para atlet dapat menghela napas panjang—setidaknya sampai kembali merumput dalam jersey klub masing-masing dan memasuki musim pertandingan berikutnya.

Meski begitu, bagi atlet profesional, istirahat tidak selalu berarti benar-benar diam. Di antara jadwal pertandingan, sesi latihan, perjalanan panjang, hingga masa pemulihan, tubuh mereka tetap membutuhkan cara lain untuk bergerak. Menariknya, sejumlah pesepakbola justru menemukan kesenangan melalui cabang olahraga di luar disiplin utama (sebagaimana yang kerap terlihat dalam akun media sosial setiap atlet).

photo via Instagram.com/jayidzes

photo via Instagram.com/jordiamat5

Mereka semua rutin berlatih di gym, tentu saja. Dalam sebuah wawancara, Ragnar Oratmangoen juga pernah menyebut, “Waktu luang saya kerap diisi dengan bermain FIFA (game playstation) atau tenis meja.” Selain tenis meja yang digemari Ragnar, beberapa pemain tampak kerap menikmati ketenangan di lapangan golf. Ada pula yang memilih permainan raket dinamis seperti tenis meja, atau padel yang tengah populer dalam lanskap olahraga urban. Lalu sebagian yang lain membawa naluri atletiknya menuju garis pantai dan berhadapan dengan ombak. Menyorotinya, kami menyepakati bahwa menjadi atlet profesional tidak berarti harus mengunci diri pada satu cabang olahraga. Ada kalanya, tubuh justru membutuhkan permainan yang berbeda untuk menemukan kembali ritmenya.

Berikut beberapa olahraga yang kami temukan mewarnai hari-hari atlet sepak bola Indonesia di luar lapangan hijau.

Golf


Marc Klok & Eliano Reijneder (photo via Instagram.com/eliano.r)

Jika sepak bola adalah tentang kecepatan, intensitas, dan keputusan dalam hitungan detik, golf menawarkan antitesisnya. Lapangannya yang lebih luas tidak menuntut pemainnya berlari sprint mengikuti gerak bola. Cukup jalan dengan ritme normal, atau lebih santai. Golf memberikan kesempatan untuk seseorang memperlambat tempo. Dinamika itu yang—barangkali—menjadi alasan mengapa golf kerap terlihat mengisi waktu luang sejumlah pemain sepak bola.

photo via instagram.com/allround.golf

photo via instagram.com/egymaulanavikri

“Hobi saya adalah main golf dan tidur,” jelas Thomas Haye lewat salah satu unggahan media sosialnya. Meski begitu, di balik ritmenya yang tenang, golf tetap menuntut presisi, koordinasi, konsentrasi, dan kesabaran. Sebuah latihan tidak langsung yang bermanfaat mempertahankan fokus pesepakbola.

Padel


photo via Instagram.com/maartenpaes

Olahraga raket yang memadukan elemen tenis dan squash ini tengah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup baru, tidak terkecuali di kalangan pesepakbola Indonesia. Sejumlah pemain seperti Thom Haye, Rizky Ridho, Marc Klok, dan Beckham Putra Nugraha, diketahui memiliki ketertarikan terhadap olahraga ini. Bahkan, bagi beberapa nama tersebut, hubungan dengan padel telah berkembang melampaui aktivitas rekreasional dan memasuki ranah investasi bisnis.

photo via Instagram.com/marcklok

photo via Instagram.com/nadeowinataa

Ada alasan mengapa padel terasa begitu kompatibel dengan kehidupan seorang pesepakbola. Permainan ini menuntut refleks, koordinasi, pergerakan lateral, dan kemampuan membaca arah bola. Dengan format permainan ganda, olahraga ini secara natural menciptakan ruang sosial. Klok melihat karakter tersebut sebagai salah satu kelebihan padel. “Padel tidak terlalu melelahkan seperti sepak bola, membuat tubuh kita tetap aktif sambil bersenang-senang. Kita juga bisa ngobrol dan bertemu orang,” ujar Marc Klok, sang midfielder tim Persib Bandung

Tenis


photo via Instagram.com/thomhaye

Masih dari keluarga olahraga raket, Thom Haye juga pernah memperlihatkan dirinya menikmati tenis di luar rutinitas sepak bola. Pilihan tersebut terasa selaras dengan karakter olahraga yang tetap menuntut konsentrasi dan kecermatan. Gerak kaki, koordinasi, refleks, serta daya tahan berpadu dalam permainan yang mengharuskan pemain terus membaca arah bola. Bagi midfielder yang terbiasa mengantisipasi gerak lawan dan arah permainan, tenis menghadirkan permainan yang mempertajam logika.

Surfing


photo via Instagram.com/_mitchell.baker

Beranjak dari lapangan hijau, Mitchell Baker kerap menuju garis pantai. Penyerang Timnas Indonesia—yang mencetak gol terbanyak sepanjang turnamen—itu pernah membagikan momen ketika dirinya sufring menjajal ombak bersama teman-temannya. Di atas papan selancar, keseimbangan dan insting mengambil alih naluri seorang atlet. Berbeda dari sepak bola yang mengikuti pergerakan bola, surfing ditentukan gerak ombak. Surfing menuntut keseimbangan, koordinasi, insting, dan kemampuan membaca pola sebelum menentukan kapan harus bergerak. Tidak ada dua ombak yang benar-benar identik. Setiap gelombang membawa ritmenya sendiri. Bagi pesepakbola, ketakpastian tersebut dapat membantu melatih tubuh untuk merespons sesuatu yang terus berubah dalam waktu cepat, alih-alih sebatas bergerak mengikuti instruksi.

Yoga


photo screenshot reels via Instagram.com/ryujiutomo

Kehidupan seorang pesepakbola di lapangan hampir selalu identik dengan intensitas. Berlari, bereaksi, mengejar bola, hingga mengambil keputusan dalam hitungan detik. Di luar lapangan, Ryuji Utomo memilih ritme yang jauh lebih tenang lewat yoga. Baik dilakukan seorang diri maupun bersama sang istri, Shabrina Ayu Utomo, yoga menjadi salah satu cara centre-back Persita Tangerang itu dalam mengawali hari. Sejumlah momen yang ia bagikan di media sosial memperlihatkan rutinitas tersebut. Sebagaimana performa menjadi bagian penting dari pekerjaan atlet, yoga menawarkan cara lain untuk berhubungan dengan tubuh. Olahraga ini membantu memelihara keseimbangan, fleksibilitas, kontrol, serta kesadaran pada setiap gerakan.

Lari


photo via Instagram.com/andysetyon

Sepak bola tak bisa dipisahkan dari aktivitas berlari. Lalu mengapa seorang pesepakbola masih berolahraga lari ketika ia sedang tidak bermain bola? Tanpa tuntutan pertandingan, lari memiliki makna yang sama sekali berbeda. Tidak ada operan yang harus dikejar. Tak ada lawan yang harus dilewati. Tak ada gawang yang harus ditaklukkan. Hanya satu langkah demi langkah berikutnya. Sifatnya jadi begitu sederhana, namun menawarkan kesempatan sejenak lepas dari tuntutan performa.

Andy Setyo Nugroho adalah salah satu yang menemukan kenikmatan tersebut. Dalam periode jeda kompetisi, ia mengaku rutin melakukan jogging di Magelang—selain bersepeda bersama komunitasnya. Kecintaannya pada lari bahkan membawanya ke medan yang lebih menantang: belum lama, ia turut ambil bagian dalam ajang maraton di Merbabu.