CULTURE

12 September 2023

Tatjana Saphira Bermanuver Ke Dunia Musik


PHOTOGRAPHY BY Rizky Attahasi

Tatjana Saphira Bermanuver Ke Dunia Musik

Tatjana Saphira tak lagi berada di zona nyaman. Aktor berusia 26 tahun itu telah menghabiskan hampir satu dekade terakhir dalam hidupnya di lokasi syuting; mentransformasikan figurnya menjadi berbagai karakter di layar lebar, televisi, hingga platform digital. Lalu secara tiba-tiba pada 25 Agustus 2023, ia mengejutkan publik dengan merilis karya musik. Melihat Tatjana Saphira bernyanyi memang bukan lagi pemandangan asing. Ia pernah memperdengarkan suaranya dalam film drama musikal Sweet 20 (2017), yang memenangkannya piala Pemeran Utama Wanita Terbaik ajang Indonesian Box Office Movie Awards. Kita juga melihatnya bersenandung di Hit & Run (2019). Tetapi semua itu adalah Tatjana Saphira tengah bermain peran. Kali ini, ia benar-benar masuk studio rekaman, dan bukan karena kebutuhan sebuah peran.

Tatjana bekerja sama dengan produser Aradea Barandana, serta Adinda Dwimadasari sebagai penulis lagunya. Hasilnya, sebuah lagu tentang perasaan dilema manakala jatuh cinta yang dibalut melodi pop berirama menyenangkan. Berjudul Kemanakah Cinta, lagu tersebut menandai debut Tatjana Saphira sebagai penyanyi. Sebuah karya yang mengawali titik perjalanan pemain peran itu di dunia musik Indonesia; karya pembuka dari Memori, sebuah minialbum berisikan tentang cinta dan segenap kompleksitas afeksinya di bawah alunan lantai dansa, yang akan ia rilis pada akhir tahun mendatang.


Tatjana, apa yang membawa Anda menggeluti dunia tarik suara?

“Barangkali karena saya selalu mencari cara untuk keluar dari zona nyaman. I think, we’d talked about it before. Saya sempat melalui fase kehidupan yang cukup berat, di mana saya menghadapi cukup banyak persoalan, physically and mentally, yang mempertanyakan tentang relevansi keberadaan diri saya di dunia ini.”

Anda berkata fase tersebut mendorong Anda untuk mencoba berbagai hal dan kegiatan agar dapat menyalurkan energi menjadi sesuatu yang lebih kreatif.

“Saya pikir mau sampai kapan terus-menerus mengumpat, atau menyalahkan keadaan; saya perlu melakukan sesuatu untuk menyalurkan energi dalam diri saya. Pada saat itu, teman dekat saya menyarankan bagaimana jika saya mencoba menyanyi. Kami kemudian bertemu dengan Dea (Aradea Barandana) untuk berdiskusi, lantas mengajaknya bekerja sama.”

Apakah pertemuan itu yang kemudian melatari hasrat Anda untuk bernyanyi?

“Sebenarnya, jika menelaah kembali ke belakang, musik telah dan akan selalu menjadi bagian dari hidup saya; dan bernyanyi adalah sesuatu yang selalu ingin saya lakukan. Saya dibesarkan oleh ayah yang dulunya merupakan gitaris sebuah band. Jadi sejak kecil beliau telah memperkenalkan saya pada musik; diajak belajar piano serta kursus vokal. Saya tidak terlalu menikmati melakukanya ketika kanak-kanak dulu. Namun pengalaman itu cukup mengasah wawasan saya tentang musik, hingga lama-kelamaan rasa cinta terhadap musik itu tumbuh dalam diri saya.”


Jadi, bisa kita bilang menjadi penyanyi bukan sebuah keinginan yang muncul tiba-tiba di pikiran Anda.

Not really. I have a lot thought about it. Saya selalu menyukai musik, dan suka bernyanyi untuk kesenangan pribadi. Beberapa kali juga saya terlibat dalam proyek film yang turut mengekplorasi dunia tarik suara. Tapi bernyanyi untuk pribadi dan kebutuhan peran tetap saja berbeda dengan menjadi seorang penyanyi, kan. Banyak pertimbangan yang menjadi perhatian saya selama proses mengerjakan proyek ini, begitu banyaknya sampai seringkali meragukan diri sendiri. Saya sangat puas, dan bahagia, ketika mendengarkan hasil lagu rekaman kami. Tetapi tidak dipungkiri tetap muncul perasaan imposter syndrome pada satu sisi. ‘Oh my God should I really doing this,’ ‘Am I good enough for this.’

Apakah Anda khawatir bilamana musik Anda tidak cukup bagi pendengar?

“Lebih daripada itu, saya khawatir bagaimana jika pendengar tidak memahami lagu kami sesuai harapan kami. Tapi kemudian saya teringat akan alasan utama mengapa saya melakukan ini pada awalnya; I’m doing it for myself, dan saya bangga akan hasil karya yang telah kami buat. Whatever happens, it’s enough for me.”

Rasanya wajar untuk merasa khawatir. Sebab Anda telah menjalani karier keaktoran dengan begitu solid selama satu dekade; sehingga kemunculan Tatjana Saphira di dunia tarik suara menjadi manuver yang, bukannya tidak lazim, hanya sedikit tak terduga bagi publik.

“Saya pikir, sebagai orang kreatif, saya harus berani untuk terus-menerus menantang diri keluar dari zona nyaman; mengasah skill baru, mencoba melakukan sesuatu yang baru dari apa yang telah saya jalani. I don’t wanna be stuck in just one box.”

Apakah Anda mengikuti kelas vokal untuk memaksimalkan kemampuan?

Yes. Saya memang memendam keinginan mengambil les vokal jauh sebelum adanya proyek ini; dan akhirnya sekarang bisa merealisasikannya. Sampai hari ini, sedari sekitar empat bulan atau lebih sebelum rekaman saya latihan vokal secara intensif untuk mengasah skill menyanyi.”


Ceritakan bagaimana proses awal proyek musik Anda.

“Saya telah lebih dulu mengenal Dea sebelumnya, dan memang menyukai karya-karya musiknya. Tapi kali pertama menemui Dea perihal ketertarikan saya akan bermusik, kami tidak langsung setuju memulai rekaman. Selama kurang lebih empat bulan sebelum mulai rekaman lagu pertama di bulan Juli silam, kami lebih dulu berdiskusi tentang visi musik masing-masing; apa yang bisa kami lakukan bersama; dan membangun chemistry. Dalam proyek album musik ini, kami juga melibatkan Adinda Dwimadasari—yang merupakan partner musik Dea di Precious Bloom—sebagai penulis lagu.

Bagaimana keterlibatan Anda dalam penulisan lagu?

“Lagu-lagu dalam album ini ditulis oleh Adinda. Tetapi pemilihan lagu merupakan keputusan bersama. Kami memilah lagu dengan menyesuaikan karakter vokal dan kepribadian saya.”


Lalu bagaimana Anda memutuskan lagu Kemanakah Cinta sebagai debut single?

I’m very grateful that Adinda have trusted me with her songs. Saya menyukai lirik Kemanakah Cinta yang sangat straight forward, tidak berkesan pretentious. Tema ceritanya pun relate dengan semua orang. Kami kemudian bersepakat untuk menjadikannya debut single yang mengawali perjalanan musik ini.”

Anda menggambarkan Kemanakah Cinta selayaknya ironi. Liriknya sedih, namun melodinya mengajak dansa. Apa yang coba Anda perdengarkan di sini?

“Seringkali kita dihadapkan pada satu kondisi, or stage in life, yang membuat kita kurang nyaman atau meragukan diri sendiri. Ketika berada dalam kondisi tersebut, buat saya pribadi, saya akan mengambil waktu sejenak dan menikmati setiap perasaan itu. Ketakpastian dan kegundahan merupakan bagian dari hidup. Terkadang, kita enggak perlu memikirkan segalanya saat itu juga. I learn to not take things too seriously by doing this song. Sebab, apa pun dilema yang sedang kita hadapi akan berlalu pada akhirnya. Menikmati prosesnya mampu membuat kita dapat memahami diri sendiri dan membukakan sudut pandang kita atas apa yang harus kita lakukan."

Do you dance when you have doubt in life?

Me personally, no. Hahaha. Tapi saya menyukai ide tersebut."

Persoalan cinta juga menjadi tema besar dalam minialbum Anda yang rencananya dirilis akhir tahun ini. Mengapa cinta?

“Tidak ada bahasa pun rasa yang lebih universal dari cinta, tidak peduli sekeras apa pun kita berupaya menyangkalnya. Dan cinta itu kan bukan hanya tentang emosi antar manusia dan manusia lainnya, ya. Tapi juga perasaan kita terhadap segala hal; pekerjaan, hobi, karya, keadaan, momen.”


Have you ever been in love

For sure.”

Bagaimana rasanya?

"Berjuta rasanya; when it’s great, it’s great; when it’s not, it’s complicated and complex. I think love is life itself."

Beragam perasaan itu yang ingin Anda utarakan dalam minialbum ini?

I think so. Album ini akan menjadi sebuah journey tentang perjalanan cinta. Bagaimana ketika cinta itu datang dan memberikan perasaan nyaman dan bahagia; lalu rasa cinta memudar dan menimbulkan berbagai komplikasi, kesedihan, hingga akhirnya yang tersisa hanya memori dari perjalanan itu. Makanya minialbumnya sendiri rencananya akan berjudul Memori.”

Kapan Anda akan merilisnya?

Rencananya akhir tahun ini, tapi rasanya terlalu dini untuk saya menyebutkan tanggal tetapnya. Pun saat ini kami masih dalam tahap proses pengerjaan dan mastering beberapa lagu terakhir. Kami telah menentukan deadline, tapi proyek ini terlalu dekat di hati saya dan  kami tidak ingin mengerjakan sesuatu hanya karena dituntut deadline. Kami ingin menikmati menjalani prosesnya, dan menghasilkan karya yang baik; yang membuat kami bangga.