FASHION

2 Oktober 2026

Batik dalam Interpretasi Modern Para Desainer Indonesia


Batik dalam Interpretasi Modern Para Desainer Indonesia

Text by Kayla Shabia (model Dara (2ICONS); styling Ismelya Muntu; photography Anton Ismael; makeup Charles Sebastian; hair Farhan Nabil)

Oktober jadi bulan di mana warga Indonesia memuliakan batik sebagai bagian dari warisan budaya Tanah Air. Momentum ini turut membuka ruang bagi para desainer Indonesia untuk mengeksplorasi batik lewat pendekatan yang lebih modern dan relevan. Hasilnya kerap memaknai batik lebih dari sekadar simbol tradisi. Motif-motif ikonis diterjemahkan ke dalam siluet kontemporer. Terkadang desainnya turut dikombinasi hingga menciptakan corak yang terkesan anyar. Eksplorasinya juga meliputi warna, tekstur, serta teknik konstruksi busana. Seiring perkembangannya, batik hadir kian kaya dalam bahasa mode keseharian masa kini. Berikut deretan koleksi batik teranyar rancangan label batik hingga desainer ternama Indonesia. Simak kurasinya sebagai bahan inspirasi Anda  dalam menginterpretasi semangat berbudaya dalam tampilan sarat modernitas.

Toton



Batik Pekalongan dan Batik Gedog Tuban hadir dalam koleksi terbaru TOTON. Lewat koleksi bertajuk Tempaan Kala, desainer Toton Januar mengeksplorasi motif dan material kain batik ke dalam beragam atribut busana, meliputi legging hingga kain dalam konstruksi drapery. Permainan turut styling menjadi salah satu kekuatan koleksi ini. Legging bermotif batik, misalnya, dikenakan di bawah gaun floral tiga dimensi dengan detail surai. Di tampilan lain, legging tersebut dipadu kain yang dililit menyerupai rok; lalu blazer yang dikonstruksi dengan ikatan obi melengkapi padanan atasannya. Konsep maksimalis ini merefleksikan karakter tradisional dengan pendekatan yang lebih kontemporer.

Didi Budiarjo


Batik Kudus ditoreh ke dalam konstruksi trench coat. Sebuah interpretasi nan atraktif dari pikiran kreatif Didi Budiardjo. Hadir dalam rona pink muda yang subtil, outerwear ini menawarkan tampilan feminin yang sophisticated terhadap kain tradisional.  Di baliknya, gaun crochet berwarna salem memperkuat nuansa romantis. Namun, justru rangkaian bros yang menghiasi keliman kerah coat menjadi detail kecil yang mengejutkan. menyisipkan aksen punk yang tak terduga. Kontras tersebut menyisipkan aksen punk yang memberi karakter ‘rebellious’ pada keseluruhan tampilan.

Rama Dauhan



Berkolaborasi dengan IPMI dan Bakti Budaya Djarum Foundation, Rama Dauhan merancang mengolah Batik Kudus jadi rancangan berestetika modern. Sebuah jaket berpotongan tegas dengan detail ruffle yang dapat dilepas-pasang. Sebagai sentuhan akhir, rangkaian bunga artistik yang dibuat secara manual dari sisa kain batik disematkan pada bagian bahu, memberikan aksen yang mencuri perhatian sekaligus menonjolkan eksplorasi material. Kian menarik karena atributnya didesain tanpa aturan gender. 

Iwan Tirta



UNBOUND: Batik Is Not a Dress didesain Iwan Tirta secara kolaboratif bersama Temma Prasetio. 24 looks yang ditampilkan menawarkan interpretasi teranyar Iwan Tirta terhadap motif batik dalam busana laki-laki modern. Garis rancangnya modern, ringan dan versatile untuk dipadukan dengan berbagai atribut mode.

Ivan Gunawan Deluxe



Garis desain minimalis untuk busana keseharian melandasi eksplorasi teranyar Ivan Gunawan Deluxe terhadap batik.  Alih-alih memenuhi seluruh permukaan busana dengan motif, kain batik hadir secara lebih subtil lewat aksen dan detail yang memberikan sentuhan kemewahan tanpa terasa berlebihan.

Oemah Etnik Signature



Bertepatan dengan Hari Batik, Oemah Etnik Signature meluncurkan koleksi terbaru di mana teknik batik tulis dan cap berpadu secara harmonis. Atributnya menawarkan konstruksi pleats serta drapery yang menghadirkan gerak effortless.