FASHION

10 September 2026

Bvlgari Kaleidos dan Cara Warna Mengingat Dunia Kita


PHOTOGRAPHY BY BVLGARI

Bvlgari Kaleidos dan Cara Warna Mengingat Dunia Kita

Shanghai memiliki cara sendiri untuk memperkenalkan dirinya. Ia tidak datang dengan satu wajah, melainkan dalam lapisan-lapisan yang saling bertindih: kaca dan batu, sungai dan beton, bangunan-bangunan tua yang menyimpan jejak kolonialisme dan gedung pencakar langit yang seolah tidak sabar menuju masa depan. Di kota ini, masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya belajar hidup berdampingan dengan sesuatu yang baru.

Perjalanan menuju Power Station of Art membawa kesan itu semakin kuat. Di tepi Sungai Huangpu, bangunan bekas pembangkit listrik yang kini menjadi museum seni kontemporer tersebut berdiri dengan karakter industrial yang nyaris monumental. Struktur lamanya masih menyimpan jejak fungsi awal—sebuah pengingat bahwa bangunan, seperti kota, dapat berganti kehidupan tanpa kehilangan ingatan tentang siapa dirinya dahulu.


Di sanalah Bvlgari memilih membuka babak terbaru Kaleidos: Colors, Cultures and Crafts. Memasuki ruang pamerannya seperti memasuki dunia yang perlahan kehilangan batas antara perhiasan, seni, arsitektur, dan cahaya. Warna tidak lagi berada di permukaan benda, tetapi hadir sebagai atmosfer.

Lebih dari 300 kreasi dipertemukan dalam pameran yang menempati area seluas 2.300meter persegi di lantai dua Power Station of Art. Ada kreasi High Jewelry, karya dari Bvlgari Heritage Collection, perhiasan dari koleksi pribadi, hingga karya seni kontemporer yang secara khusus diciptakan untuk pameran ini. Namun menyebutnya sebagai pameran perhiasan terasa terlalu sederhana. Kaleidos sesungguhnya adalah sebuah upaya untuk melihat warna sebelum melihat perhiasan—untuk memahami mengapa merah, biru, hijau, emas atau putih dapat membangkitkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kekaguman visual. 


Nama Kaleidos sendiri berasal dari dua kata Yunani, kalos yang berarti indah dan eidos yang berarti bentuk. Di Shanghai, keindahan dan bentuk itu diterjemahkan ke dalam sebuah pengalaman yang terus berubah bergantung pada posisi mata, arah cahaya, dan ingatan orang yang melihatnya.

Ada sesuatu yang menarik dalam cara Bvlgari menyusun pengalaman tersebut. Alih-alih menempatkan sejarahnya secara kronologis, Kaleidos dibagi ke dalam tiga bab: The Science of Colours, Colour Symbolism, dan The Power of Light. Pilihan itu terasa penting. Sebab Bvlgari tidak sedang meminta pengunjung menghafalkan sejarah sebuah Maison; ia mengajak kita untuk mengalami sebuah gagasan. Warna, dalam konteks ini, menjadi semacam bahasa pertama.


Di ruang The Science of Colours, warna mula-mula diperlakukan sebagai fenomena: sesuatu yang dapat dipelajari, diukur, dipersepsikan, tetapi sekaligus tidak pernah sepenuhnya objektif. Pandangan Barat mengenai teori warna—termasuk pemikiran Johann Wolfgang von Goethe dan Michel Eugène Chevreul—bertemu dengan pertanyaan yang lebih luas mengenai bagaimana mata dan pikiran manusia membentuk pengalaman terhadap warna.

Kemudian Colour Symbolism membawa warna keluar dari wilayah sains menuju kebudayaan. Di sinilah pameran Shanghai memperoleh aksen yang tidak dimiliki sekadar pameran keliling. Sistem Lima Elemen Tiongkok atau Wu Xing—kayu, api, tanah, logam dan air—beserta asosiasi warnanya, menjadi salah satu kerangka penting untuk membaca bagaimana warna tidak pernah benar-benar bebas dari konteks tempat ia dilihat.

Dan pada The Power of Light, warna kembali berubah. Ia bukan lagi hanya pigmen atau simbol, melainkan sesuatu yang hidup karena cahaya. Batu permata, pada akhirnya, tidak pernah sekadar memiliki warna. Ia memantulkan, menyerap, membiaskan, dan mengembalikan cahaya dengan caranya sendiri. Dan titik itu menjadi salah satu kunci untuk memahami Bvlgari.


Maison yang didirikan di Roma pada 1884 oleh Sotirio Bulgari, seorang perajin perak asal Yunani, ini sering kali dikenali melalui bentuk-bentuk ikonis seperti Serpenti. Namun sebelum ular tersebut menjadi salah satu simbol paling dikenal dalam dunia perhiasan, Bvlgari terlebih dahulu membangun reputasinya melalui keberanian dalam memperlakukan warna sebagai material artistik. Pada pertengahan abad ke-20, ketika estetika perhiasan mewah masih sangat dipengaruhi tradisi Paris yang mengutamakan berlian dan logam putih, Bvlgari mengambil arah berbeda. Emas kuning, batu berwarna, kombinasi kromatik yang berani dan cabochon cut mulai membentuk apa yang kemudian dikenali sebagai gaya khas Bvlgari.

Menariknya, salah satu akar perubahan tersebut justru dapat ditelusuri pada masa Perang Dunia II. Keterbatasan pasokan platinum mendorong para perajin menggunakan emas kuning. Setelah perang berakhir, ketika banyak rumah perhiasan kembali kepada platinum, Bvlgari memilih mempertahankan kehangatan emas kuning dan mempertemukannya dengan batu-batu berwarna. Keterbatasan material, dengan demikian, tidak menjadi akhir dari kreativitas; tapi justru membuka jalan bagi sebuah bahasa baru.


Bvlgari kemudian semakin berani. Rubi, safir, dan zamrud tidak lagi harus berdiri dalam komposisi konservatif bersama berlian. Tourmaline, rubellite, garnet, peridot, koral, ametis dan batu-batu keras lainnya ikut memasuki palet. Cabochon, yang pada masa itu bukan pilihan lazim untuk batu-batu bernilai tinggi, menjadi salah satu tanda tangan Maison karena kemampuannya membuat warna terasa lebih padat, sensual dan hampir dapat disentuh.  Seolah-olah seorang pelukis menemukan bahwa ia tidak membutuhkan cat, melainkan sebuah batu.

Kaleidos sesungguhnya lebih dari sekadar perayaan atas keahlian Bvlgari. Di Shanghai, Bvlgari tidak datang untuk meletakkan warisan Italia di atas meja lalu meminta kebudayaan Tiongkok menjadi latar belakangnya. Yang terjadi justru sebaliknya: kedua tradisi tersebut ditempatkan dalam sebuah percakapan. “Warna adalah bahasa artistik universal yang melampaui batas negara dan peradaban,” ujar Laura Burdese, CEO Bvlgari, dalam konferensi pers pembukaan. Pernyataan tersebut terdengar sederhana, tetapi menjadi lebih kompleks ketika diterjemahkan ke dalam ruang pamer. Sebab universalitas warna tidak berarti warna memiliki arti yang sama di setiap tempat. Justru perbedaan cara manusia memahami warna itulah yang membuatnya menarik.


Gislain Aucremanne, Direktur Kurator Heritage Bvlgari, menjelaskan bahwa edisi Shanghai secara khusus dirancang untuk berinteraksi dengan konteks lokal. Bagi Bvlgari, perbedaan budaya bukanlah celah yang harus ditutup, melainkan jembatan yang dapat dilalui dari dua arah. Maka hadir giok. Hadir sistem Wu Xing. Hadir simbolisme Tiongkok. Dan hadir pula sejarah yang jauh lebih konkret: hubungan Bvlgari dengan giok telah memiliki jejak dalam perjalanan Maison. Pada masa awal perkembangannya, butik Bvlgari di Via Condotti bahkan memiliki ruang yang menampilkan karya-karya giok dari Tiongkok, beberapa di antaranya kemudian diolah kembali menjadi kreasi Bvlgari.

Salah satu karya yang paling kuat menerjemahkan hubungan tersebut adalah sebuah sautoir dari 1973: emas yang dipertemukan dengan koral, oniks dan berlian, dengan sebuah medali giok berukir sebagai pusat perhatian. Untuk pertama kalinya diperlihatkan kepada publik, perhiasan itu terasa seperti benda yang membawa dua geografi sekaligus. Ia tidak berusaha menyembunyikan asal-usul materialnya; justru identitasnya lahir dari pertemuan tersebut. Timur dan Barat tidak dilebur menjadi sesuatu yang seragam. Mereka dibiarkan tetap berbeda, lalu ditempatkan begitu dekat hingga perbedaannya menjadi sumber keindahan.


Ada alasan mengapa perhiasan terasa berbeda ketika dilihat langsung. Fotografi dapat memperlihatkan ukuran, warna dan detail. Namun ia sulit menangkap bagaimana sebuah batu berubah ketika tubuh pengunjung bergerak beberapa langkah menjauh, bagaimana permukaan cabochon menyimpan cahaya alih-alih memecahnya menjadi kilatan-kilatan kecil, atau bagaimana emas terasa semakin hangat ketika diletakkan bersebelahan dengan warna dingin.

Perhiasan adalah objek tiga dimensi. Ia memiliki volume, berat, tekstur dan bayangan. Ia dibuat untuk bergerak bersama tubuh manusia. Bahkan sejarah Bvlgari memperlihatkan bahwa Maison ini selalu memiliki hubungan erat dengan gagasan tersebut. Pada era Dolce Vita di Roma, butik Via Condotti menjadi tempat yang didatangi bintang-bintang film seperti Elizabeth Taylor, Sophia Loren dan Anna Magnani. Perhiasan tidak hanya menjadi benda yang disimpan dalam kotak; ia menjadi bagian dari kehidupan sosial, tubuh dan citra seseorang.

Namun di Shanghai, pengalaman melihat perhiasan terasa lebih dekat dengan melihat patung. Ada karya yang menyala seperti api kecil. Ada yang tampak hampir arsitektural. Ada yang memperlihatkan bagaimana warna-warna yang secara teori seharusnya bertabrakan justru menciptakan keseimbangan ketika ditempatkan dalam tangan seorang desainer. Itulah keistimewaan Bvlgari: ia tidak selalu mencari harmoni melalui kesamaan. Kadang harmoni justru ditemukan melalui keberanian mempertemukan sesuatu yang tampaknya tidak seharusnya bersama.


Kemudian datang Zhang Ding. Di salah satu ruang Power Station of Art, karya kontemporer seniman Tiongkok ini menciptakan perubahan suasana yang hampir dramatis. The Form of Light tidak mencoba meniru perhiasan Bvlgari. Ia mengambil sesuatu yang lebih mendasar dari dunia perhiasan: cahaya. Panel-panel berwarna emas memancarkan kilau hangat yang terasa seperti datang dari tempat yang tidak sepenuhnya dapat dikenali. Di hadapannya berdiri kepala-kepala manusia dari kaca transparan, permukaannya menyerupai batu permata. Ketika cahaya mengenai bentuk-bentuk tersebut, sosok manusia kehilangan batasnya. Ia berubah menjadi siluet yang menyala, berpendar dan memantulkan cahaya.


Seniman lainnya, Liang Manqi, mengambil jalan berbeda. Melalui Boundless Synesthesia, salah satu lukisannya keluar dari batas kanvas dan berubah menjadi lingkungan tiga dimensi. Merah, hijau dan biru bergerak melintasi permukaan, dinding, bentuk akrilik dan struktur ruang. Geometri tidak lagi berada di dalam lukisan; ia menjadi tempat yang dapat dimasuki. Liang berbicara mengenai warna sebagai perasaan. Baginya, warna dapat menjadi abstraksi dari keadaan batin sekaligus cara mengucapkan sesuatu yang barangkali terlalu sulit diterjemahkan menjadi kata-kata.

Di titik ini, hubungan antara seni kontemporer dan perhiasan menjadi jelas. Keduanya sama-sama bekerja dengan sesuatu yang tidak selalu dapat dijelaskan secara rasional. Sebuah batu dapat dinilai berdasarkan kejernihan, warna, potongan dan kelangkaannya. Tetapi alasan seseorang menginginkannya tidak pernah sepenuhnya dapat dihitung. Ada ingatan di dalamnya, ada hasrat, ada tubuh, ada seseorang yang pernah memakainya. Dan kelak, mungkin, ada seseorang yang akan mewarisinya.


Seperti dikatakan Aucremanne, perhiasan memiliki kualitas yang membedakannya dari banyak bentuk seni lain: ia diwariskan dari tangan ke tangan, membawa kenangan personal, memiliki dimensi tiga ruang, dan merupakan hasil kerja tangan manusia yang sering kali tidak pernah diketahui namanya. Dalam pengertian itu, High Jewelry memang lebih dekat kepada seni daripada sekadar benda mewah. Ia adalah karya yang dapat dikenakan, tetapi juga karya yang dapat menyimpan kehidupan seseorang.

Karena itu Shanghai terasa sebagai pilihan yang tepat. Kota ini sendiri adalah semacam kaleidoscope: sesuatu yang berubah tergantung dari mana seseorang melihatnya. Dari satu sisi, Shanghai adalah kota dengan sejarah perdagangan dan persinggungan budaya yang panjang. Dari sisi lain, ia adalah salah satu wajah paling futuristik China. Jalan-jalannya mempertemukan bangunan kolonial dengan menara kaca; butik-butik mewah berdiri tidak jauh dari pasar tradisional; museum seni kontemporer hidup berdampingan dengan struktur industri yang telah berusia puluhan tahun.


Power Station of Art sendiri terasa seperti metafora yang nyaris terlalu sempurna. Bangunan yang dahulu menghasilkan energi kini menghasilkan pengalaman artistik. Dan Bvlgari, sebuah Maison yang berakar di Roma tetapi berkembang menjadi rumah perhiasan global, datang ke tempat tersebut dengan bahasa yang sama: bagaimana sesuatu yang berasal dari masa lalu dapat terus hidup jika bersedia berubah? Di Roma, Bvlgari menemukan identitasnya melalui arsitektur, sejarah dan cahaya Mediterania. Di Shanghai, identitas itu tidak hilang tetapi diuji oleh perspektif lain.

Kaleidos edisi Shanghai kali ini terasa berbeda. Bukan sekadar perjalanan sebuah pameran dari satu kota ke kota lain, tetapi merupakan pameran yang membiarkan kota tujuan ikut mengubah maknanya.


Pada akhirnya, mungkin sulit mengingat seluruh dari lebih 300 karya yang dilihat di dalam Kaleidos. Tidak semua nama batu akan melekat. Tidak semua bentuk akan tinggal dalam ingatan. Bahkan warna-warna yang begitu kuat pada awalnya akan perlahan kehilangan intensitas ketika seseorang kembali keluar dari ruang pamer. Namun sesuatu yang lain tertinggal. Kesadaran bahwa warna ternyata tidak pernah sesederhana yang kita kira. Merah dapat menjadi api, keberanian, kehidupan, atau kenangan. Hijau dapat berarti alam, pembaruan atau sesuatu yang sakral. Putih dapat terasa murni di satu tempat dan berkabung di tempat lain. Emas dapat menjadi simbol kekuasaan, kehangatan, matahari atau kemewahan. Tidak ada warna yang benar-benar netral karena setiap warna membawa sejarah manusia yang melihatnya.

Bvlgari memahami hal itu sejak lama. Dari emas kuning dan cabochon pada masa pascaperang, dari kombinasi batu yang dahulu dianggap terlalu berani, dari Roma dan era Dolce Vita, hingga Shanghai dan dialog dengan Wu Xing, warna terus menjadi cara Maison ini memperbarui dirinya tanpa kehilangan asal-usulnya.  Di Power Station of Art, perhiasan menjadi sesuatu yang lebih luas daripada benda yang berharga. Ia merupakan sebuah medium untuk membicarakan bagaimana manusia melihat dunia.

Dan mungkin itulah arti sebenarnya dari sebuah kaleidoscope: bukan sekadar menciptakan pola baru dari serpihan yang sama, tetapi menunjukkan bahwa keindahan selalu berubah ketika sudut pandang berubah. Ketika pintu pameran ditinggalkan dan Shanghai kembali mengambil alih pandangan—dengan lampu-lampu kota, permukaan kaca, sungai yang gelap, dan gedung-gedung yang memantulkan warna malam—warna ternyata masih ada di mana-mana. Tidak hanya lagi berada di dalam etalase. Tetapi berada di kota, di cahaya, di mata yang melihatnya, dan mungkin, untuk sesaat, di dalam ingatan. Sebab pada akhirnya, warna bukan sesuatu yang kita miliki, namun sesuatu yang kita bawa pulang.