7 September 2026
Dari Eksperimen Material hingga Etika Mode Berkelanjutan, CENTRESTAGE 2026 Menggemakan Keragaman Mode di Asia
Kit Wan Studios: Mutant // Mythology at CENTRESTAGE ELITES, CENTRESTAGE 2026 (photo DOC. HKTDC)
Paris. Milan. London. New York. Empat kota yang selama puluhan tahun membentuk percakapan mode dunia. Namun pertumbuhan mode sejatinya tidak terpaku hanya pada satu pusaran gravitasi. Kreativitas terus bergerak. Desainer bermunculan dari poros-poros baru. Banyak kota—di luar pilar utama—pun mulai menemukan suaranya sendiri. Hong Kong menawarkan potret pergeseran tersebut. Di kota ini, desainer independen tumbuh berdampingan dengan street culture, seniman visual, dan komunitas kreatif yang tak selalu berkarya dalam batas-batas mode tradisional. Pada pekan pertama awal bulan September silam, berbagai disiplin kreatif itu saling berbagi ruang kembali di CENTRESTAGE 2026.
Digelar pada 2 hingga 5 September silam, CENTRESTAGE mengambil alih Hong Kong Convention and Exhibition Centre. Sekitar 270 label dari 24 negara dan wilayah menyemarakkan edisi ke-11 perhelatan yang diinisiasi Hong Kong Trade Development Council (HKTDC) dengan dukungan Cultural and Creative Industries Development Agency (CCIDA). Skala nan masif ini segera terasa begitu memasuki ekshibisi. Dari satu area ke area berikutnya, alur perjalanan bertransisi dari lanskap craftsmanship yang berakar pada tradisi menuju eksperimen material dan teknologi; lalu beralih pada sensibilitas urban yang lebih dekat street style. Keseluruhan areanya disusun atas tujuh zona tematik: Craftsmanship, Contemporary, Urban, Athleisure, Circular Fashion, Accessories, dan Perfume—yang merupakan kategori baru di tahun ini. Melalui denah pembagian ini, pengunjung diajak memahami mode dari cara masing-masing label memilih untuk bersuara.

photo DOC. ELLE Indonesia
Menjelajah Craftsmanship, perhatian berfokus pada teknik dan keterampilan artisan. Maswira Majid dari Malaysia dan Wanzzz dari Hong Kong menonjol di antara label yang mengisi zonanya. Elemen desainnya lebih eksperimental mengisi wilayah Contemporary lewat nama-nama seperti Studio Ingrid Burgos dari Kolombia, serta Langdeng dari Chinese Mainland. Di lanskap Urban, dinamika yang tampak lebih mengedepankan konsep street style. Beranjak ke area Circular Fashion, isu terkait mode keberlanjutan diterjemahkan melalui pemanfaatan deadstock hingga eksperimen material. Jesse Lee, misalnya, memadukan kain upcycled dengan teknologi 3D-printing untuk menciptakan konstruksi pakaian tiga dimensi.
photo DOC. ELLE Indonesia |
photo DOC. ELLE Indonesia |
Jauh melalui deretan busana dan aksesori perhiasan, area Perfume menawarkan sebuah pengalaman baru bagi para pengunjung memaknai mode. Di sini, aroma diusung sebagai wujud ‘mode’ yang mampu memberikan karakteristik identitas selayaknya padu-padan busana. Lebih dari 20 label fragrance asal Malaysia, Thailand, dan Vietnam melakukan debut retail di Hong Kong melalui ekshibisi ini.

photo DOC. ELLE Indonesia
Semakin jauh menelusuri ekshibisi, kategori-kategori tersebut perlahan membuka peta geografis secara lebih luas. Korea Selatan merupakan salah satu yang menonjol. Untuk pertama kalinya hadir sebagai Featured Partner, Korea membawa 12 label desainer asal Seoul dan sepuluh talenta dari Gyeonggi Fashion Creative Studio. Holynumber7 di antaranya yang menarik perhatian kami. Berakar pada energi hip hop dan street culture, kreativitas labelnya cenderung menitikberatkan etika berkelanjutan lewat penggunaan eco-leather, surplus leather, deadstock, overstock fabrics, serta komponen material daur ulang dan ramah lingkungan. Tidak jarang juga koleksinya bereksperimen mengolah material tak lazim, seperti Korean paper leather.
photo DOC. ELLE Indonesia |
photo DOC. ELLE Indonesia |
Di luar wilayah Asia, label premium desainer perempuan mendominasi lanskap mode Kanada dengan pendekatan desain minimalis, etika berkelanjutan, serta tailoring. Debut partisipan Austria mengusung konsep sustainable; Cape de Coeur termasuk di antara tujuh label yang berangkat.
photo DOC. Kit Wan Studios/HKTDC |
photo DOC. Kit Wan Studios/HKTDC |
Dari lantai ekshibisi, dialog mode kemudian beranjak ke panggung runway. Di arena CENTRESTAGE ELITES, Kit Wan Studios, yang dipimpin Creative Director dan Visual Artist Kit Wan, menggelar pertunjukan bertajuk Mutant // Mythology yang luar biasa imajinatif. Koleksinya disusun dalam tiga babak, bergerak dari futurisme industrial menuju alam, sebelum akhirnya tiba pada romantisisme. Di balik dunia futuristis itu terdapat gagasan yang justru sangat tua: mitologi. “Koleksi ini adalah tentang kepercayaan kolektif yang kita miliki sebagai manusia terhadap mitologi. Suatu keyakinan yang sesungguhnya telah hidup turun-temurun dari para leluhur,” ungkap sang desainer.
Di tangan Wan, gagasan tersebut berkembang melalui siluet scultural dan proporsi dramatis, metalwork, struktur mekanis, permukaan taktil, serta detail yang membuat tubuh tampak seolah sedang mengalami mutasi. Aliran avant-garde yang memengaruhi 36 tampilan karyanya kemudian diseimbangkan oleh bentuk yang wearable, diselingi semburat warna-warna cerah. Pendekatan semacam ini telah lama menjadi bagian dari praktik Wan. Karyanya bergerak lintas disiplin artistik yang mengaburkan batas antara mode, kostum, dan seni.

Pertunjukan mode Z I D I Fashion Hong Kong Runway Show, CENTRESTAGE 2026. (photo DOC. ELLE Indonesia)
Pertunjukan Mutant // Mythology mengawali rangkaian lebih dari 30 peragaan yang mengisi panggung mode CENTRESTAGE. Memasuki hari kedua, perhatian beralih pada Fashion Hong Kong Runway Show. Mengusung tema Hong Kong Dopamine, peragaan ini mempertemukan empat label lokal, di antaranya 112 mountainyam, Angus Tsui, Arty: Active, dan Z I D I. Masing-masing menerjemahkan identitas kota melalui interpretasi desainnya sendiri. Jalanan, arsitektur, memori budaya, hingga energi urban Hong Kong menjadi titik inspirasinya.
Angus Tsui (photo DOC. ELLE Indonesia) |
(photo DOC. ELLE Indonesia) |
Di hari ketiga, Hype² mengungkap sisi lain dari street culture Hong Kong dengan pendekatan yang lebih playful dan kontemporer. Lebih dari sepuluh label streetwear yang digawangi selebritas dan KOL lokal mengambil alih runway. Di sini, batas antara desainer, entertainer, kreator digital, dan entrepreneur terasa sangat cair. Pengalaman berlanjut ke paviliun Hype², di mana pengunjung ekshibisi bisa melihat lebih dekat sekitar 30 koleksi teranyar sekaligus edisi terbatas setiap label.
CENTRESTAGE tetap berakar sebagai sebuah pameran dagang. Namun, di balik fungsi komersialnya, CENTRESTAGE menangkap satu lanskap perubahan yang menarik. Mode Asia tumbuh semakin saling terhubung. Desainer dan label dari berbagai penjuru Asia—bahkan belahan dunia Timur dan Barat—datang membawa perspektif masing-masing, bertukar gagasan, lalu bersinggungan dengan kreativitas yang tumbuh dari kota tuan rumah. Sebuah keragaman yang menegaskan betapa kaya percakapan mode yang kini tumbuh dari Asia.







