FASHION

4 Agustus 2026

Cita Tenun Indonesia Hadirkan Ekshibisi ‘Art Tenun Living’ di Lomma Space


PHOTOGRAPHY BY Cita Tenun Indonesia

Cita Tenun Indonesia Hadirkan Ekshibisi ‘Art Tenun Living’ di Lomma Space

Text by Varisha Wira

Selembar kain tenun tak pernah berhenti setelah benang terakhir ditenun. Ia berpindah tangan, berpindah makna, dan pada titik tertentu berpindah ruang, dari peti simpanan pusaka keluarga, ke atas meja rias, hingga akhirnya menjadi bagian dari cara seseorang menata rumahnya sendiri. Pergeseran semacam ini yang belakangan kian ramai dirayakan di ranah desain interior dan gaya hidup, tempat wastra tak lagi dipandang sebagai artefak yang mesti disimpan, melainkan bisa disentuh dan dipakai sehari-hari.

Gagasan itulah yang diwujudkan Cita Tenun Indonesia (CTI) melalui Art Tenun Living: From Fabric to Space di Lomma Space, pada Rabu, 29 Juli 2026. Berlangsung selama pukul 13.00 hingga 20.00 WIB. Mengusung gagasan yang memindahkan tenun dari bingkai dua dimensi menuju pengalaman ruang yang dapat dihuni dan dijalani sehari-hari, pameran ini menempatkan kain tenun berdampingan dengan instalasi seni, furnitur, dan berbagai elemen gaya hidup dalam satu narasi yang menyatu.


Di titik masuk pameran, pengunjung disambut lebih dulu oleh sudut kurasi Cita Tenun Indonesia—sebuah etalase retail yang menggantung kain tenun ikat ditemani tas anyaman serta selendang panjang. Di depannya, dua kotak menopang beberapa kain bercorak, dari ikat navy kuning hingga kain hijau-biru. Di sudut yang sama, sebuah manekin mengenakan atasan oversized two-tone cokelat karamel bertabur motif bunga putih, menegaskan bagaimana wastra Nusantara, lewat kurasi CTI, bertransformasi menjadi gaya hidup sehari-hari.

Di tengah sudut Lomma space, terdapat jantung dari pameran ini yang merupakan instalasi site-specific karya Alexander Sebastianus, seniman, penenun, sekaligus etnografer yang dikenal dengan pendekatan personalnya terhadap tenun ikat.

Bagi Sebastianus, proses ia berkarya menjadi sebuah teknik yang ia maknai layaknya melukis, hanya saja kanvasnya adalah benang yang kelak menyatu di atas alat tenun. Proses tersebut konsisten dengan jejak karyanya selama ini, yang kerap menyelami ritual dan makna eksistensial lewat tenun ikat yang diperlakukan layaknya kanvas, bukan sekadar tekstil. Setiap karya, menurutnya, adalah interpretasi dari syair atau puisi pribadi tentang memori yang perlahan memburam, sehingga yang tersisa di atas kain hanyalah esensi dari perasaan itu sendiri.


Tepat di antara instalasi utama, sebuah meja pamer menghadirkan sisi lain dari gaya hidup yang terinspirasi dari kerajinan tangan Indonesia, memuat koleksi dari beberapa label lokal. Klove, label leather goods besutan Colleen Hawana dan Natalia Gunarso, memajang koleksi tas bertekstur kulit buaya dalam palet gelap. Di sampingnya, label tam.illi yang identik dengan tas-tas berhias manik dan kelopak-kelopak resin, melengkapi meja tersebut dengan warna yang lebih hidup.


Pameran ini turut menghadirkan brand gaya hidup lainnya yang mewakili Cita Tenun Indonesia (CTI), yakni ESS Deco, IKYK, Jil Gyung Yi, Mote Mote, Neo Wellness, dan Oaken. Suasana sore itu turut disempurnakan oleh sajian kudapan dan racikan minuman khas Lomma space, mengajak pengunjung untuk tak hanya menyaksikan, namun juga menyesap dan meresapi kembali makna warisan dalam keseharian.