FASHION

28 September 2026

ELLE Mempersembahkan ‘Perempuan’ yang Menampilkan Laurencia Irena, Felicia Budi, dan Nila Baharuddin di Fashion Nation 20th Edition di Senayan City


PHOTOGRAPHY BY MOCHAMAD RIZKI ADITYA

ELLE Mempersembahkan ‘Perempuan’ yang Menampilkan Laurencia Irena, Felicia Budi, dan Nila Baharuddin di Fashion Nation 20th Edition di Senayan City

Apa arti perempuan? Untuk menjawab pertanyaan besar itu, ELLE mengundang tiga orang desainer perempuan untuk menginterpretasikan arti perempuan bagi diri mereka masing-masing. Lewat serangkaian peragaan mode yang dihelat di Atrium Senayan City, bertepatan dengan perayaan hari jadi ke-20 tahun Fashion Nation—salah satu ajang mode tahunan paling bergengsi di ibukota—para desainer pun unjuk gigi menampilkan sosok ‘perempuan’ masing-masing.







Bagi Laurencia Irena, yang untuk pertama kalinya mempresentasikan koleksi busananya lewat format show, koleksi terbarunya kali ini merupakan kelanjutan dari koleksi sebelumnya dan menjadi babak penutup trilogi koleksi tersebut; di mana sang desainer mengeksplorasi ketangguhan, konfrontasi, dan proses untuk kembali menemukan jati diri. Bertajuk ‘Final Round’, koleksi ini didedikasikan bagi para perempuan yang telah berjuang dalam pergulatan hidup mereka sendiri, terus melangkah maju, dan bangkit dengan pribadi yang telah bertransformasi namun tetap sepenuhnya menjadi diri mereka sendiri. 

Siluet romantis, material kain yang lembut, serta aksen mawar dan ruffle berpadu dengan elemen visual olahraga tinju. Sentuhan atletis, aksesori yang menyerupai pelindung tubuh, dan proporsi yang lebih tegas mendobrak pakem feminitas tradisional, menciptakan ketegangan antara kelembutan dan kekuatan, kerentanan dan sikap pantang menyerah. Koleksi ini seolah menjadi refleksi mengenai babak-babak sulit yang membentuk karakter perempuan, serta bagaimana perjuangan tersebut pada akhirnya membawa mereka lebih dekat dengan jati diri yang sesungguhnya.







Lain lagi halnya dengan Felicia Budi, yang menyoroti keragaman sosok perempuan Indonesia lewat lini busana siap-pakainya, fbudi. Bertajuk ‘Peta Perempuan’, 13 tampilan pun dipersembahkan untuk mengilustrasikan keragaman tekstil, wastra, dan ritual Tanah Air; mulai dari Aceh, Batak Toba, Minangkabau, Jawa Keraton, Betawi, Peranakan Tionghoa, Bali, Dayak, Bugis, Toraja, Maluku, Sumba, hingga Papua Pegunungan. Bak sebuah perjalanan dari barat ke timur, Felicia Budi memberangkatkan koleksinya dengan satu kepercayaan, bahwa perempuan Indonesia bukan lah sekadar penjaga rumah, melainkan rumah itu sendiri. 

Alih-alih menyusun koleksinya lewat lensa etnografi, Felicia Budi membayangkan bagaimana setiap busana tradisional dan wastra tersebut dapat dikenakan oleh semua perempuan dan tidak dibatasi oleh etnis tertentu. Siluet busana yang terinspirasi oleh pakaian tradisional pun hadir dengan sentuhan kontemporer, berpadu dengan warna gading, cokelat, hijau sage, dan krem ​​yang terasa membumi. “Setiap tampilan adalah sebuah dunia,” tutur sang desainer. “Bersama-sama, mereka adalah satu peta—bukan peta geografi, tapi peta tentang apa artinya menjadi perempuan di tanah yang bernama Indonesia.”







Desainer ketiga yang unjuk kebolehan menginterpretasikan sosok perempuan adalah Nila Baharuddin. Menghabiskan 17 tahun hidupnya di Jepang, Nila mengeksplorasi daya tarik penuh misteri sosok kunoichi—ninja perempuan dan praktisi ninjutsu dan ninpo—melalui bahasa desain yang mengedepankan volume sculptural serta keahlian kriya yang intricate. Siluet pahatan pun berpadu dengan seni macramé yang detail, elemen yang terinspirasi dari obi, serta hiasan kepala yang mencolok; menciptakan nuansa khas Jepang di mana struktur bertemu dengan keluwesan.

Menampilkan sosok feminin yang berkarakter kuat dan berani, koleksinya kali ini menyeimbangkan kesan tangguh dan anggun melalui proporsi yang tegas serta detail yang digarap dengan cermat. Menurut Nila, sosok perempuan ini tak perlu bersuara lantang agar terlihat. Perempuan-perempuan ini memancarkan kekuatannya melalui cara ia bergerak, berdiri, dan memilih untuk menjadi dirinya sendiri meski dalam keheningan dan kegelapan.

Felicia Budi, Laurencia Irena, Kenichi, dan Nila Baharuddin.