LIFE

9 Oktober 2026

Dikta dan Keberanian untuk Tidak Berhenti Belajar


PHOTOGRAPHY BY Norman Fideli

Dikta dan Keberanian untuk Tidak Berhenti Belajar

styling Ismelya Muntu; fashion

Ada satu hal yang agaknya semakin dipahami Pradikta Wicaksono seiring bertambahnya usia: hidup tidak selalu harus dipaksa menuju suatu tujuan. Ada hal-hal yang memang akan datang pada waktunya, sementara sebagian lainnya barangkali memang tidak ditakdirkan untuk terjadi. “Kalau memang harus terjadi ya terjadi. Kalau tidak terjadi ya tidak apa-apa,” katanya. Setelah hampir dua dekade dihabiskan di musik, ia terdengar jauh lebih lapang terhadap kemungkinan-kemungkinan itu. Bukan karena kehilangan ambisi, melainkan karena ia mulai tahu mana yang layak dikejar dan mana yang cukup dilepaskan.

Yang menarik, ketenangan tersebut tidak membuatnya kehilangan rasa lapar. Justru sebaliknya. Ia mengaku memiliki satu ketakutan yang terdengar berlawanan dengan ketenangan itu: merasa nyaman. “Saat merasa sudah enak, sudah aman, lalu sudah tidak perlu berbuat apa-apa lagi,” ujarnya. Baginya, kenyamanan dapat menjadi jebakan ketika rasa nyaman itu membuat seseorang berhenti bertanya, berhenti belajar, berhenti melihat kemungkinan lain. Karena itu, Dikta memilih untuk tetap cair—membiarkan dirinya berubah, beradaptasi, dan sesekali masuk ke wilayah yang belum dikenalnya.

Barangkali itulah yang menjelaskan mengapa perjalanan terbarunya dalam musik tidak terdengar seperti upaya menemukan kembali masa lalu, melainkan keberanian untuk membuka pintu lain. Unapologetic, mini album enam lagu yang dirilisnya tahun ini, lahir dari keinginan yang sebenarnya telah lama ada. Ia sudah lama ingin membuatnya, tetapi terlalu banyak berpikir: bagaimana konsepnya, akan seperti apa lagunya, ke mana arahnya. Semakin lama dipikirkan, semakin jauh pula karya itu dari kemungkinan untuk benar-benar selesai. Sampai akhirnya timnya mendorong melakukan satu hal yang sederhana: mulai saja.

fashion Hermès (atasan rajut); Artkea Stripes (tapered pants).

Proyek yang sempat terlalu lama tinggal di kepala itu justru selesai dalam waktu sekitar dua bulan. Pengerjaannya berlangsung cepat, mepet, bahkan cukup chaos. Kurang tidur menjadi bagian dari proses. Tekanannya, menurut Dikta, justru lebih besar dibanding ketika ia masih berada dalam sebuah band. Tetapi di tengah semua itu, ada sesuatu yang kembali ia temukan: kesenangan. “Unapologetic itu lebih seperti cara saya untuk bersenang-senang,” katanya. “Lewat mini album ini, saya bisa lebih mengeksplorasi, lebih bisa detail, lebih bebas.” Enam lagu di dalam Unapologetic bergerak dengan warna yang berbeda, dari persoalan menjadi people pleaser dalam Stop Bilang Iya, refleksi mengenai lingkungan dalam Hujan, hingga kisah-kisah personal yang berangkat dari pengamatan terhadap hubungan manusia. Ia tidak sedang menciptakan sebuah manifesto tentang dirinya; ia hanya memberi ruang kepada berbagai kemungkinan yang selama ini belum sempat dicoba. Bahkan ritme kerjanya menemukan bentuk baru. “Kalau bikinnya terlalu lama bisa-bisa malah jadi bosan di tengah jalan,” ujarnya. Spontanitas, yang bagi sebagian orang mungkin terasa seperti musuh dari ketelitian, justru menjadi energi kreatif baginya.

Ada sebuah metafora yang pernah digunakan Dikta ketika menjelaskan perubahan musikalnya: bukunya mungkin masih sama, aturan dasarnya tetap sama, tetapi tulisan tangannya berubah. Ia tidak sedang berusaha menjadi orang lain. Ia hanya menemukan cara baru untuk menuliskan sesuatu yang sejak awal sudah menjadi bagian dari dirinya. Musik yang ia dengarkan pun semakin beragam. Ada masa ketika ia mengulang Sombr selama sebulan penuh, pada masa lain Tame Impala mengambil alih daftar dengarnya. Ia menyebut The 1975, The Strokes, Radiohead, hingga pengaruh atmosfer Stranger Things sebagai bagian dari lanskap referensinya.

Semakin jauh bermusik, semakin ia menyadari bahwa selama ini perhatiannya terlalu banyak tertuju pada nada dan melodi. “Musik itu jantungnya ada di lirik,” katanya. Kini ia melihat lagu sebagai tempat pengalaman manusia mendapatkan bentuk. Stop Bilang Iya, misalnya, lahir dari pengalamannya sebagai seseorang yang terbiasa mengatakan iya. Aku, Kamu, Kita berangkat dari relasi yang mulanya hanya hubungan tanpa status tetapi berkembang menjadi perasaan sungguhan. Sementara Kita Cari Cara berbicara tentang dua orang yang sebenarnya tahu hubungan mereka telah berakhir, tetapi tetap berjalan karena tidak tahu bagaimana mengakhirinya. Pengalaman pribadi menjadi bahan mentah, tetapi tidak berhenti di sana. Ia mengolahnya, mengamatinya kembali, lalu mencoba memahami mengapa sebuah perasaan dapat mengena pada manusia lain.

fashion Lanvin (atasan).

Hubungan Dikta dengan musik dimulai jauh sebelum publik mengenal namanya. Ayahnya, Dicky Sulaksono, adalah seorang musisi dan pemain bas. Musik hadir di rumah sejak ia kecil, tetapi ada paradoks yang membentuk perjalanan hidupnya. Ketika Dikta kecil meminta diajari gitar, sang ayah justru menolak. Ayahnya khawatir kehidupan sebagai musisi tidak memiliki masa depan yang cukup jelas dan tidak ingin anaknya menjadikan musik sebagai jalan hidup. Ia lebih berharap Dikta memilih jalan untuk menjadi atlet. Musik, dengan demikian, bukan sesuatu yang diwariskan begitu saja. Ia justru menjadi sesuatu yang harus dicari sendiri. “Sampai lima tahun pertama belajar sendiri,” kata Dikta.

Ia mulai bermusik sejak SMA, membentuk band bersama teman-temannya, meski pilihan itu sempat tidak mendapat restu sang ayah. Ironisnya, dunia yang dulu dikhawatirkan ayahnya justru kemudian menjadi salah satu bahasa paling penting dalam hidup Dikta. Bertahun-tahun kemudian, musik kembali menjadi tempat pertemuan dengan sosok ayahnya dalam bentuk yang jauh lebih personal. Ayahnya meninggal pada 2016. Dalam Unapologetic, Dikta menulis Papa Tenang Aja—sebuah lagu yang berangkat dari kehilangan terhadap seseorang yang sejak awal hidupnya menjadi bagian dari perjalanan musikal tersebut. Musik yang dahulu justru ingin dijauhkan darinya oleh sang ayah, pada akhirnya menjadi medium untuk menyimpan percakapan yang tidak lagi bisa dilakukan secara langsung. Ada sesuatu yang melingkar di sana: seorang ayah yang memperkenalkan dunia musik, seorang anak yang sempat dilarang masuk ke dalamnya, lalu seorang anak dewasa yang mengabadikan ayahnya melalui lagu. Barangkali memang demikian cara ingatan bekerja. Tidak selalu tinggal dalam foto atau benda. Kadang ia menetap dalam nada, lirik, dan suara.

Meski telah nyaris dua dekade menjalani profesi ini, Dikta tidak terdengar seperti seseorang yang merasa sudah sampai. Justru sebaliknya. “Semakin tua saya justru semakin merasa saya harus mengejar kemampuan,” katanya. Ia ingin bisa memainkan lebih banyak alat musik, membuat nada, menulis lirik, dan memahami musik dengan lebih baik. Dorongan tersebut sebagian berakar dari kakeknya, yang sejak dulu menanamkan gagasan bahwa seorang laki-laki harus mau mencoba banyak hal, bersedia gagal, dan tidak buru-buru mengatakan tidak bisa. Sosok sang kakek menjadi semacam contoh konkret: bahkan di usia 70 tahun, ia masih bugar, bermain musik, dan aktif melakukan banyak kegiatan. Dari sana, kemampuan bukan lagi sekadar soal pencapaian. Ia menjadi cara untuk terus menjaga rasa ingin tahu.

fashion Hermès (atasan rajut); Artkea Stripes (tapered pants).

Itu sebabnya Dikta tidak hanya melihat musik sebagai satu-satunya wilayah yang ingin ia kuasai. Ia sempat berbicara tentang bisnis—sesuatu yang dengan ringan ia akui sebagai kelemahannya. “Saya terlalu seniman,” katanya. Ia memiliki sebuah kedai kopi di Bali, tetapi menyadari bahwa bisnis tersebut tidak berkembang maksimal karena ia sendiri tidak cukup menyelaminya. Alih-alih berhenti pada ketidaktahuan, ia justru melihatnya sebagai sesuatu yang perlu dipelajari. Hal serupa terjadi pada film. Setelah pernah tampil di depan kamera, kini rasa penasarannya justru bergeser ke belakangnya. Ia ingin mengetahui bagaimana sebuah film dibuat: bagaimana cerita dirancang, plot disusun, naskah ditulis. Ia bahkan ingin membuat film pendek sendiri. Bukan semata-mata karena ingin memperpanjang daftar profesinya, melainkan karena ia penasaran pada proses penciptaannya. “Saya ingin tahu bagaimana cara dan proses kreatif bikin film?” Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun di dalamnya ada karakter Dikta yang paling jelas: ia lebih tertarik pada proses daripada label.

Pandangan itu juga terbawa ke caranya memahami menjadi laki-laki. Di usia 40, ia tidak melihat maskulinitas sebagai kompetisi tentang siapa yang lebih kuat. “Laki-laki dan perempuan itu setara,” katanya. “Kita sama-sama manusia.” Baginya, tuntutan bahwa laki-laki harus kuat, tidak boleh menangis, tidak boleh mengeluh, atau selalu memiliki kendali justru terlalu menyederhanakan pengalaman manusia. Menjadi laki-laki, dalam pandangannya, tidak seharusnya berarti harus terus-menerus membuktikan kekuasaan. “Yang lebih penting adalah kemanusiaan itu sendiri: menjadi seseorang yang beradab, beretika, adil, memiliki empati, dapat dipercaya, dan dapat diandalkan. Kita ini manusia,” ujarnya. Kalimat itu sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya ia terasa kuat. Ada keinginan untuk mengembalikan diskusi tentang laki-laki pada sesuatu yang lebih mendasar daripada konstruksi tentang kekuatan. Manusia bisa kuat sekaligus lemah. Bisa yakin sekaligus ragu. Bisa bahagia, putus asa, menangis, lalu bangkit kembali. “Namanya manusia sah-sah aja menangis,” katanya. “Manusia idealnya sesekali lemah, tidak kuat, merasa lelah.”

Mungkin di situlah definisi kekuatan yang kini terasa lebih masuk akal baginya: bukan kemampuan untuk selalu berdiri tegak, tetapi keberanian untuk mengakui ketika seseorang sedang lelah. Menariknya, gagasan tentang kemanusiaan itu tidak membuat Dikta menjadi seseorang yang sepenuhnya tidak peduli terhadap orang lain. Ia justru mengaku masih memiliki kecenderungan untuk menyenangkan orang. “Saya senang untuk bikin orang lain senang, bikin orang lain senyum,” katanya. Tetapi ada perbedaan penting antara menyenangkan orang lain dan membutuhkan persetujuan mereka. Yang pertama adalah bentuk perhatian; yang kedua dapat berubah menjadi ketergantungan. Dikta tampaknya telah belajar membedakan keduanya. “Masalah orang lain suka atau tidak, percaya atau tidak, bukan lagi ranah saya,” katanya.

Baginya, selera adalah sesuatu yang subjektif. Tidak semua hal perlu diperdebatkan, apalagi dijadikan ukuran atas nilai diri sendiri. Mungkin karena itu ia bisa mengatakan bahwa masa untuk membuktikan sesuatu telah lewat. Ia tidak lagi merasa harus menunjukkan kepada orang lain bahwa ia mampu. Ia hanya ingin melakukan sesuatu karena memang menyukainya.

fashion Hartono Gan.

Namun paradoksnya kembali muncul: tidak lagi ingin membuktikan bukan berarti tidak memiliki ambisi. Ia masih ingin membawa musiknya ke luar negeri. Ia sedang mencari jalan untuk dapat tampil di Amsterdam dan Jepang. Sebagai musisi independen, ia menyadari jalannya tidak sesederhana artis yang memiliki label besar di belakangnya. Ia mencari koneksi sendiri, bertanya kepada teman-teman, mencoba memahami bagaimana semuanya bekerja. Dan ia punya satu syarat: kalau jadi pergi, ia ingin melakukannya dengan proper, bukan sekadar asal tampil. “Saya bahkan belum tahu apakah musik saya sudah benar-benar menjangkau pendengar di luar Indonesia,” katanya. Yang ia tahu, ia ingin mencoba. Ia melihat generasi musisi seperti Niki Zefanya, Baskara Putra, Sal Priadi, dan Barasuara, namun tidak merasa terancam oleh pencapaian mereka. Sebaliknya, ia mempelajarinya. Bagaimana musik bisa diterima begitu luas? Bagaimana seorang musisi dapat membawa identitasnya sendiri sekaligus berbicara tentang persoalan yang lebih besar? Bagaimana karya dapat menemukan pendengarnya?

Jika ada satu hal yang kini paling ia hargai, jawabannya bukan ketenaran, pencapaian, atau bahkan kebebasan. “Kesehatan,” katanya. Kemudian ia menyebut sesuatu yang lebih abstrak tetapi mungkin lebih mahal: waktu. “Apapun bisa balik lagi ke diri kita, kecuali waktu.” Kesehatan sering baru terasa sebagai kemewahan ketika tubuh mulai sakit. Waktu pun serupa. Selama masih tersedia, ia mudah dianggap sebagai sesuatu yang tak terbatas. Baru ketika kita sadar bahwa ia terus bergerak tanpa bisa dipanggil kembali, nilainya terasa. Karena itu Dikta tidak ingin hidupnya menjadi terlalu nyaman. Bukan karena ia ingin terus berlari. Bukan pula karena ia merasa harus mengejar sesuatu sebelum terlambat. Ia hanya ingin memastikan bahwa rasa ingin tahunya tetap hidup. Di hadapannya masih ada musik yang ingin dipelajari, lirik yang ingin ditulis, film yang ingin dibuat, bisnis yang ingin dipahami, panggung-panggung baru yang ingin didatangi. Banyak di antaranya bahkan belum memiliki bentuk yang pasti. Dan untuk seseorang yang dulu bisa terlalu lama berpikir sampai sebuah gagasan tidak kunjung diwujudkan, ketidakpastian itu sendiri kini merupakan bagian dari kebebasan.

Di usia 40, Dikta tidak terdengar seperti seseorang yang sedang mencari kesimpulan. Ia justru tampak bersedia membiarkan bukunya tetap terbuka—dengan tulisan tangan yang mungkin telah berubah, tetapi rasa ingin tahu yang belum selesai. Sebab mungkin, pada akhirnya, yang membuat seseorang terus bergerak bukan kepastian tentang ke mana ia akan sampai, melainkan kesediaan untuk tetap bertanya apa yang masih mungkin ditemukan.