LIFE

15 Oktober 2026

Lutesha Bergerak dalam Filosofi Hidup Mengalir


PHOTOGRAPHY BY Ikmal Awfar

Lutesha Bergerak dalam Filosofi Hidup Mengalir

styling Alia Husin; fashion Sapto Djojokartiko; makeup Adit Vagueskin; hair Cosmellynn

Pembawaan diri Lutesha penuh ketenangan. Intonasi bicaranya lembut, bahkan saat percakapan kami memasuki ranah-ranah yang butuh penegasan. Sesekali kisahnya diselingi humor dengan menempatkan dirinya sebagai sasaran. Misalnya, tatkala menyoal reputasi perempuan badass yang melekat padanya. “Tak jarang orang-orang perceive pribadi saya serupa peran yang saya mainkan. Tidak masalah. Saya anggap pujian, terima kasih,” kata Lutesha. Ia tersenyum sebelum berceloteh, “Meski rasanya tidak ada yang badass dari gerak-gerik saya yang lemas begini. Anda bahkan bisa tahu kalau saya bukan orang yang rajin berolahraga.” Gelak saya pecah mendengarnya.

Lutesha berperawakan ramping. Tidak kekar, memang, tapi juga jauh dari kesan tak bertenaga sebagaimana ia gambarkan. Pada hari itu kami bertemu, setidaknya, ia tampak bugar. “Okay, saat ini saya sedang dalam proses persiapan proyek film laga,” akunya, “Jadi mungkin lebih fit karena sedang rutin olahraga, ditambah banyak latihan koreografi dan teknik bela diri.” Saya menduga proyek yang dimaksud adalah sekuel The Big 4. Beberapa unggahan sutradara Timo Tjahjanto di media sosial belakangan memberi cukup alasan untuk ‘mencurigainya’. Lutesha tertawa mendengar kecurigaan saya. “Sang sutradara membagikan progres penulisan naskah sekuel The Big 4. He teases us a lot,” timpalnya. Perihal nasib Alpha (karakter peran Lutesha) dan apa yang menanti kawanannya di masa depan, kami sepakat untuk membahasnya di lain waktu. “Nanti saya cerita lebih banyak,” kata Lutesha.

Segera kembalinya Alpha praktis akan semakin mengukuhkan reputasi badass pada sosok Lutesha. Peran yang mengantarkan ia memperoleh nominasi di berbagai ajang penghargaan perfilman Indonesia itu sarat energi meledak-ledak, impulsif, dan bicaranya lantang. Pun Alpha bukan satu-satunya plot yang mengonstruksi citra tangguh Lutesha. Dalam 13 Bom di Jakarta, ia mengemudikan mobil untuk aksi drifting. Kita juga telah melihat bagaimana wujudnya mengembangkan seorang pemberontak di Ali Topan. Cukup banyak karakter perempuan berwatak kuat telah meminjam figur Lutesha di layar, sehingga lumrah bila publik membangun persepsi sebagian watak itu bersemayam dalam pribadinya.

fashion Adrian Gan.

Dibaca berdasarkan karakter bukan pengalaman baru bagi Lutesha. Semasa awal karier ia sempat berkutat dengan tipe perempuan yang berbeda. Ia dicap judes, depresif, dan cenderung dingin. Perannya bervariasi, tetapi kesan ‘si murung’ dan ‘si ketus’ tekun mengikutinya. Perempuan kelahiran bulan Juni tahun 1994 itu menerima setiap ‘pujian’ dengan geli. Lagi pula, ada nasib yang lebih buruk bagi seorang aktor daripada dipercaya kelewat meyakinkan selaku orang lain.

“Apa mungkin karena saya Cancer, ya,” celoteh Lutesha, “Sehingga tampaknya keras dari luar, padahal lembut di dalamnya.” Teori astrologi ini mencuat sebagai selingan. Meski begitu, semakin jauh ia bercerita, analoginya justru menemukan relevansi sendiri. Di balik pembawaan yang kerap tampak kuat, Lutesha mengaku “mellow hingga gampang menangis.” Kemiripan yang lebih menarik muncul ketika Lutesha mulai bercerita tentang perjalanan hidupnya. Langkahnya cenderung mengalir.

Sejumlah persimpangan penting dalam hidup Lutesha kerap datang tanpa aba-aba. Diajak orang, ia coba; kesempatan terbuka; lalu keingintahuan membuat ia menelusuri ke mana arah jalannya. Modeling datang atas dorongan teman. Akting berawal dari permintaan manajer mengikuti audisi. Diantaranya, Lutesha sempat singgah kerja kantoran di sebuah galeri seni, marketplace untuk preloved fashion, hingga menekuni desain grafis di bawah rumah kreatif fotografer Lenny Han. Tidak ada cetak biru besar yang menetapkan alurnya. “Tidak ada yang rugi dari mencoba,” demikian prinsipnya setiap kali mengeksplorasi.

fashion Adrian Gan.

Mengalir, dalam kasus Lutesha, bukan berarti tidak memiliki kehendak. Jika ditarik garis dari berbagai persinggahannya, benang merahnya cukup jelas: dunia kreatif. Hanya—tampaknya—ia tak begitu terobsesi menetapkan entitas akhir. Modeling, pekerjaan di galeri seni dan agensi, hingga perfilman memberikan medium yang berbeda untuk ia menajamkan naluri artistik, sekaligus memperluas cara memahami manusia.

Jauh sebelum kini sosoknya familier di layar sinema Indonesia, Lutesha bahkan tak pernah membayangkan akan nyaman berhadapan dengan kamera. Ide untuk mengikuti kompetisi GoGirl Look—yang mengawali jalannya menuju industri kreatif—di tahun 2013 mencuat dari dorongan teman-temannya. “Sama sekali kala itu tidak terbesit pikiran ingin menjadi model. Bahkan saya jarang bercermin, apalagi kepikiran melakukan pose di depan kamera,” kenangnya. Yang memotivasinya kemudian lebih kepada keingintahuan.

Anak kedua dari tiga bersaudara ini tumbuh besar dengan menganggap dirinya selalu di posisi tengah. “Semasa duduk di bangku sekolah, saya tidak merasa memiliki bakat yang benar-benar menonjol. Ada orang yang jago gambar, menyanyi, pintar eksakta, cepat berhitung matematika; saya merasa kadar kemampuan saya berada di tengah untuk segalanya,” katanya. Ia tertawa ringan tanpa terdengar minder menceritakan observasi—yang tampaknya sudah lama ia terima—sebagai bagian dirinya. Modeling pun menjadi semacam salah satu eksperimen bagi Lutesha menemukan posisinya di dunia.

Pada tahun-tahun awal modeling, Lutesha yang berusia 19 tahun sempat mengira industri hiburan adalah habitat para ekstrover. Mereka yang luwes berbicara dan tahu cara menempatkan diri terutama di ruang baru, pikirnya, tentu lebih mudah bertahan. Lutesha bukan salah satunya, sebagaimana pengakuannya. Namun modeling justru mengajarkan ia cara beradaptasi tanpa berarti menjadi orang lain. “Menjadi diri sendiri—saya yang pendiam dan introver—lebih dari cukup untuk menjadi bagian dunia ini,” ujarnya. Modeling belum cukup memberikan jawaban definitif. Meski begitu, dunia tersebut memperkenalkan Lutesha pada kenikmatan berkecimpung di tengah beragam sensibilitas kreatif. Ia menyukai bagaimana gagasan dari berbagai kepala bertemu menghasilkan karya kolektif visual.

fashion Sapto Djojokartiko.

Ketertarikan terhadap seni visual sebenarnya sudah dirasakan Lutesha sejak SMA. Ilmu desain grafis sempat masuk pertimbangannya ketika memilih jurusan perkuliahan; sebelum akhirnya ia putuskan meraih gelar pendidikan Sarjana Sastra Belanda di Universitas Indonesia, “Pilihan Sastra Belanda, sebenarnya, juga dipengaruhi latar belakang keluarga ibu yang memiliki garis keturunan Belanda,” cerita Lutesha. Ia berprinsip, “Minat selalu bisa dipelihara dari berbagai aspek, sementara kesempatan tidak selalu datang berkali-kali.”

Kesempatan masuk dunia peran datang di tahun 2017. Bekal akting Lutesha saat itu nihil. Pengalaman beradegan paling dekat hanyalah tampil modeling iklan komersial. Audisi pertamanya adalah film musikal Galih dan Ratna. Ia diminta bernyanyi. “Saya bisa karaoke,” kata pasangan musisi Cahyo Arswandaru itu tertawa (Lutesha dan Cahyo menikah pada 2022), “Tapi teknik vokal tentu asal.” Kekurangan tidak lekas memukul mundur Lutesha. Ia mengenali batas kemampuannya, namun pantang menjadikannya alasan untuk menjajal pengalaman. Kegagalan, toh, juga berbuah sesuatu: “pengalaman untuk menghadapi peluang berikutnya.” Beberapa kegagalan kemudian, My Generation mempertemukan ia dengan Upi dan sebuah peran bernama Suki. Sebuah debut yang membawa kiprahnya ke jajaran nomine Aktris Pendatang Baru Terpilih Piala Maya.


Akting segera memperkenalkan dunia yang berbeda dari modeling. Jika dalam modeling Lutesha membangun pola pikir selaku kanvas, menghidupkan karakter mendorong ia terlibat sebagai manusia seutuhnya. Ia harus membaca belajar hadir dan membuka diri. Suatu keterampilan adaptasi yang tidak datang secara alami bagi seorang introvert. “Profesi keaktoran benar-benar mengubah hidup saya, terutama cara saya berinteraksi ” katanya.

Lebih dari memperkaya ruang artistik, dunia sinema memperluas cara Lutesha menjalani hidupnya sendiri. Setiap karakter memperkenalkan pada sifat manusia di luar pribadinya. Setiap produksi menempatkan ia pada lingkungan kehidupan yang berbeda dari kesehariannya. Terkadang pengalaman itu sangat harfiah. The Big 4, katanya, menjadi salah satu pengalaman yang paling keras mendorong kemampuan aktingnya ke titik maksimal. “Bermain peran laga benar-benar menguras emosi seluruh jiwa dan raga di saat bersamaan,” katanya. Yang tersisa dari sebuah peran tentu tidak selalu sejelas kemampuan berkelahi. Bertahun-tahun menggali satu karakter ke karakter lain membuat Lutesha semakin akrab dengan cara manusia berpikir, bereaksi, dan menyimpan sesuatu dari dunia. “Akting membukakan akses untuk saya mengecap banyak kehidupan,” timpalnya. Tanpa sadar, kehidupan-kehidupan itu ikut memperkaya memorinya. Sebab itu, Lutesha enggan menetap terlalu lama pada satu jenis karakter.

Reputasi badass yang kini melekat padanya lahir dari upaya melepaskan diri dari citra sebelumnya. Pada awal karier, ia berkali-kali dipercaya memainkan perempuan ketus. Enggan terjebak dalam satu kotak, Lutesha bergerak menuju karakter yang lebih tangguh, tomboi, dan independen. Strategi itu bekerja, barangkali sedikit terlalu baik. Lepas dari stereotipe perempuan murung, industri menemukan Lutesha si badass. “Jadi, setiap tahun saya membuat semacam resolusi untuk mencoba karakter yang berbeda. Saya tidak ingin terlalu lama dikenal melalui satu tipe peran, lalu tanpa sadar membiarkannya menentukan sejauh mana saya bisa bergerak sebagai aktor. Kalau terus begitu, bisa-bisa saya tidak berkembang sebagai seniman,” ujarnya. Manifestasi Lutesha ditoreh lewat deretan penampilannya yang banyak menjelmakan sosok-sosok protagonis ‘vanila’ selama tiga tahun belakangan (Panduan Mempersiapkan Perpisahan, Cinta Tak Seindah Drama Korea, dan rilisan tahun ini, Seni Merayu Tuhan).

fashion Nila Baharuddin.

Repetisi rupanya tidak hanya datang dari jenis peran pilihannya. Saat menyimak kembali beberapa karyanya, Lutesha mulai menemukan pola kecil—dan personal—yang tanpa sadar tersemat dari satu karakter ke karakter berikutnya. “Saya perhatikan ada gestur Lutesha yang repetitif dalam beberapa peran saya,” ungkapnya. Jejak personal yang tak terhindarkan itu, sebetulnya, kerap kita temukan dalam penampilan pemeran lainnya. Bagaimanapun, seorang aktor meminjamkan figurnya sebagai medium bagi kehidupan orang lain. Sulit membayangkan pertukaran itu berlangsung sepihak. Selalu ada sesuatu dari sang aktor yang terbawa ke dalam karakter. Begitu pun sebaliknya, karakter dapat meninggalkan impresi pada sang pemeran. Lutesha tak memungkiri, di saat bersamaan ia sekaligus melatih diri agar batasan antara dunia dalam layar dan realitas pribadi tidak berbenturan. Alasannya sederhana: privasi. “Rasanya memang tidak mungkin seorang aktor bisa bertransformasi seratus persen tanpa ada excess dirinya di dalam karakter. Tetapi saya rasa batasan yang jelas diperlukan agar kehidupan berjalan seimbang,” ujarnya, “Pun, saya pikir, tidak adil juga buat karakternya.” Di titik ini, ‘mengalir’ tidak ia maknai dengan membiarkan diri hanyut. Lutesha terbuka terhadap segala kesempatan. Tapi saat arus mulai berputar di tempat yang sama, ia tahu kapan perlu mengubah arah.

Kini, setelah hampir satu dekade menggeluti dunia peran, resolusi besar Lutesha lebih sederhana. “Saya ingin menjadi aktor yang sustainable,” kata Lutesha, “Yang mampu mengikuti zaman, dan mudah-mudahan bisa berada di industri ini selama mungkin.” Ia tak hanya menyoal usia keaktoran. Gairahnya juga diliputi bertumbuh dalam lanskap ruang lebih lebar.

Belakangan hasrat itu ia wujudkan dengan menjajal kemampuan diri menjadi produser lewat microseries, Pelan-Pelan Sayang. Proyek kolaboratif bersama Rachel Amanda dan Luqman R.V. ini memperkenalkan Lutesha pada dinamika mencipta karya dari balik layar sebagai produser. Tertantang memproduseri film panjang di masa depan? “Sangat mungkin,” katanya, “Tapi pelan-pelan.” Perjalanan Lutesha masih mengalir. Ia terbuka pada segala kemungkinan di depan mata. Namun, ia telah menemukan arah ke mana ia ingin memperluas alirannya.